
"Jadi kamu mati gara-gara ditabrak mobil yang melaju kencang, ya?" Tanyaku sambil menatap iba kearah Aya yang melayang di dekat ku. Rupanya gadis kecil ini tewas karena tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi di dekat taman. Kasihan sekali dia. Padahal ia pergi ke taman untuk jualan kue, gak pergi main seperti kalian, menggantikan ibunya yang sakit-sakitan. Tapi malah ketabrak mobil.
Aku menghela nafas. Entah kenapa aku jadi teringat dia yang jauh di sana. Di tempat asalku. Apa dia baik-baik saja, ya?
"Benar, aku jadi kepikiran bagaimana nasib ibu sekarang." Jawab Aya membenarkan. Ia kelihatan sedih. Mungkin benar-benar mengkhawatirkan kondisi ibunya. Ah, aku jadi kasihan. Meski aku bukan manusia, tapi tentu saja aku mempunyai hati nurani.
"Lalu, apa yang membuatmu memerlukan bantuan Alda?"
Aya tidak segera menjawab. Hantu kecil itu menatapku lamat-lamat. Sepertinya ia sedang mengingat sesuatu. "Maaf, kakak, aku tidak ingat siapa Alda!" Ujarnya sambil memasang wajah murung.
Ohh astaga, bukankah aku sudah menanyakannya beberapa saat yang lalu, ya? Dan jawabannya sama: ia tidak tahu siapa Alda. Ini beneran dia yang meminta pertolongan apa tidak sih? Tapi kayaknya iya. Habisnya, kan ada kasus dimana kita ingat wajah orangnya tapi lupa namanya. Makanya pahat dengan kuat orang lain di hatimu, biar gak lupa.
"Tidak apa-apa, kok!" Idiw, apanya yang tidak ada apa-apa, huh? Jelas-jelas aku lagi kesal sekarang. Sudah satu jam lamanya tapi Alda tidak kunjung datang. Dia pergi kemana sih? Ke dunia bawah atau ke Dunia Arwah? Kalau begini kan repot jadinya. Aku menyayangkan 'si bocah' yang memilih Alda sebagai asistenku. Sudah tahu dia ratu jam karet dan suka keluyuran, masih aja disuruh menjadi guide ku. Itung-itung menebus kesalahan katanya.
Aku menghela nafas. Apa boleh buat, karena aku harus menyelesaikan urusan Aya supaya ia bisa dengan tenang ke alam sana, aku harus segera membantunya.
"Kamu masih punya urusan yang belum selesai, kan? Apa mau kakak tolong menyelesaikannya?"
"Kakak mau menolong Aya?" Tanya Aya. Sepertinya ia tidak yakin karena aku mau membantunya.
Aku mengangguk. Lalu tersenyum meyakinkan. "Tapi dengan syarat, kamu harus mau pergi ke alam sana, ya! Kamu kan sudah mati, jadi tidak mungkin berada di sini terus!"
Sebagai seorang yang sudah mati, Aya jelas tahu dengan maksud ucapanku. Aku juga yakin kalau kalian yang masih hidup juga tahu dengan alam itu. Alam yang di peruntukkan sebagai tempat peristirahatan bagi orang yang telah tiada. Aku tidak tahu bagaimana pasti nya tempat itu karena aku belum pernah kesana. Tapi yang pasti, itu tempat yang nyaman untuk beristirahat bagi orang-orang yang melakukan kebaikan semasa hidupnya.
"Apa pun itu asalkan aku bisa memastikan bahwa ibu akan baik-baik saja setelah aku pergi!" Ucap Aya. Tidak ada nada keraguan padanya. Itu membuatku tersenyum simpul dan memegang pipinya yang masih tersisa. Ingatkan kalau setengah bagian tubuh Aya itu hancur?
Aku menarik tanganku saat melihat tatapan aneh dari Aya, "Kenapa?" Tanyaku. Aya menggeleng. Sepertinya ia heran kenapa aku bisa menyentuhnya. Tidak tembus kayak yang di film-film itu. Jadi Aya ingin memastikan bagaimana keadaan ibunya, ya? Baiklah, kalau begitu sih aku akan pergi ke rumahnya sekarang. Iya, sekarang. Gak mungkin kan kalau tahun depan? Kelamaan!
Aku terus berjalan dan berjalan sedangkan Aya menunjukkan jalan di depan. Sialan nih si Aya, katanya rumahnya gak jauh dari sana, ee sudah dua puluh menit aku berjalan malah gak nyampe-nyampe. Nih anak ngerjain aku atau gimana, ya? Dia mah, enak, terbang dan melayang. Lah aku? Jalan kaki!!!
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami sampai di sebuah kompleks perumahan kumuh yang biasa di huni oleh orang-orang dari kalangan bawah. Jadi Aya tinggal di tempat kumuh seperti ini, ya.
"Jadi yang mana rumahmu?" Tanyaku pada Aya. Aku menghentikan langkahku dengan nafas tersengal. Coba saja kalau ini malam. Pasti aku gak bakalan capek begini.
__ADS_1
Aya membalikkan badannya. Melihatku yang kecapean seperti itu, Aya niatnya sih pengen tertawa mengejek. Namun urung saat sadar kalau aku rela berjalan sejauh ini hanya untuk menyelesaikan urusannya yang belum selesai agar dia bisa pergi ke alam sana.
Hantu kecil itu kembali menatap ke depan. Ia menunjuk ke arah rumah yang paling jelek diantara rumah-rumah yang ada. Bukannya aku mau menghina, rumah itu memang paling jelek kok. Sudah jelek, gak terawat lagi. Persis kayak kandang kambing.
"Rumahmu kok gak dibersihkan sih, Ini kalau Ibu kakak melihat rumah kamu seperti ini, pasti dia akan sibuk berkoar-koar!" Protes ku yang hanya di balas cemgiran oleh Aya.
"Sebenarnya yang bertugas mengurus rumah Aya, kak! Tapi karena Aya sudah nggak ada, makanya gak ada yang membersihkan rumah!"
Oke, oke, lupakan saja dengan rumah yang satu ini. Mengingat keadaan rumah yang sangat memprihatinkan seperti ini, wajar saja kalau ibunya Aya sakit-sakitan. Pasti lingkungan rumah yang kotor mengganggu kesehatannya.
Setelah nafasku kembali teratur, aku segera mengetuk pintu dan mengucapkan salam berkali-kali, namun tidak ada sahutan. Mak-nya Aya mana, ya? Katanya lagi sakit, kok malah gak ada di rumahnya? Apa jangan-jangan dia lagi tidur?
"Ya, coba kamu periksa dalam rumah kamu! Ibu kamu ada gak?!" Perintah ku pada Aya yang ikutan memanggil- manggil Ibunya. Hadehh, kagak ke dengeran manusia biasa kali!
Aya menatap pintu rumahnya yang tertutup rapat, lalu menoleh ke arah ku. "Lewat mana kak? Kan pintunya di kunci?"
Bujubuneng, lu kan hantu dodol! Kan bisa nembus dimana-mana! Pertanyaan lu gak berbobot!
"Kan bisa lewat mana saja, tembus aja semuanya!"
Lah kan, itu kan lain lagi ceritanya! Gak mungkin kan kau bilang kalau aku sebenarnya bukan manusia!
"Jangan banyak ngomong deh! Coba kamu masuk ke dalam, jangan-jangan ibu kamu kenapa-napa!"
Meski agak bingung, Aya akhirnya menerobos pintu rumahnya yang tertutup rapat. Tuh kan bisa! Mana ada hantu yang gak bisa nembus! Kecuali yahh, hantu jadi-jadian, hantu bohongan, atau apalah. Pusing pala Barbie.
Tak kurang dari lima menit kemudian, Aya sudah keluar rumah dengan wajah cemas bin panik. Aku ramal kalau ibunya gak ada di rumah.
"Ibu Aya gak ada di rumah kak!"
Tuh kan, benar! Jinjay, bisa meramal juga nih gue. Hahahaha. Bercanda.
"Terus, ibu kamu dimana?" Tanyaku kalem. Kalem-kalem gini kalau ngomong suka nyelekit lho.
__ADS_1
"Aya gak tahu juga, kak!"
Di tengah kepanikan Aya dan ketidaktahuan ku, ada ibu-ibu yang lewat di depan rumah Aya. Aya yang merasa familiar dengan ibu-ibu itupun berteriak memanggil.
"Buk! Buk Surti! Ibu Aya mana?!"
Aduhh Aya, sadar dong, kamu kan sudah mati. Mana mungkin buk Surti bisa mendengar suara kamu! Kalau dia dengar pasti akan lari, berasa dengar suara hantu. Tapi memang iya kan??
Aku yang sudah gak tahan dengan suara cempreng Aya yang terus-menerus memanggil-manggil ibu itu itu akhirnya berlari menyusul. Setelah dekat, langsung ku tanya deh kemana perginya ibunya Aya.
"Buk Maaf, itu ibunya Almarhumah Aya mana, ya? Saya ada utang kue belum bayar!" Kataku asal.
"Lho, kamu gak tahu, ya? Waktu mendengar kalau Aya mati di tabrak mobil, ibunya kan langsung shock dan di larikan ke rumah sakit. Sampai sekarang katanya masih di rumah sakit. Mau pulang tapi tidak boleh karena belum membawa uang rumah sakit." Jawab ibu-ibu itu. Untung dia gak tanya aku siapa. Hufft. Dia percaya kalau aku ada utang kue kali, ya? Aduhh, di zaman serba canggih ini masih ada juga orang-orang polos yang mudah dibohongi. Jadi gak tega. Hehehehe.
"Oh begitu, ya. Terimakasih, buk!" Kataku. Setelah ibu-ibu itu mengucapkan sama-sama dan berlalu pergi, aku bergegas menghampiri Aya yang semkat menguping pembicaraan kami.
"Kakak ada utang kue sama ibu, ya?" Tanyanya.
PLETAK! Satu jitakan penuh kasih sayang mendarat mulus di atas kepala Aya. Heh, kasih sayang apanya? Benjol kepala dia, nyet!
"Sembarangan aja kalo ngomong. Ibu-ibu tadi bilang kalau ibu kamu di tahan pihak rumah sakit karena tidak membayar biaya perawatan!"
Mendengar penjelasan ku, raut wajah Aya berubah sedih. Ia memikirkan bagaimana keadaan ibunya sekarang. "Terus gimana dong kak, Aya gak mau ibu terus-terusan di rumah sakit!"
"Kamu tenang saja! Kan ada kakak! Kita bisa membebaskan ibu Aya dari Kungkungan pihak rumah sakit!" Kataku menghibur. Aku tahu sekali dengan apa yang dicemaskan Aya. Kalau terlalu lama berada di rumah sakit tanpa membayar uang tebusan, maka nyawa ibunya akan terancam. Bisa-bisa salah satu organ tubuhnya diambil sebagai jaminan! Dan sebagai anak yang baik Aya jelas tidak mau hal itu sampai terjadi pada ibunya. Ibu Aya gak boleh catat!
"Memangnya kakak punya banyak uang? Biaya rumah sakit kan mahal!" Ujar Aya. Dia kelihatan cemas sekali. Bingung. Apalagi khawatir.
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tidak. Hehehe. Hehehe. Bercanda. Tentu saja aku punya! Ayah kan masuk ke dalam jajaran pengusaha sukses di tanah air. Aku sebagai anaknya tentu saja punya banyak uang!
Melihatku yang menggelengkan kepala, Aya tampak kecewa sekaligus sedih. Buru-buru aku mengatakan padanya kalau aku punya uang yang tersimpan di kartu hitam. Raut wajah Aya yang semula muram kembali ceria. Dengan penuh harap ia segera menarik tangaku dan membawaku pergi entah kemana.
Rupanya, Aya membawaku ke sebuah rumah sakit ternama yang ada di pinggir kota. Aku menelan ludah kasar. Biaya di rumah sakit itu kan cukup mahal. Makanya ibu Aya sampai ditahan pihak rumah sakit.
__ADS_1
Aku menghela nafas. Membuang segala kegundahan yang ada. Lalu masuk ke dalam rumaah sakit tersebut. Kalau Ibunya Aya masih belum sembuh, aku bisa membawanya ke rumah sakit milik Ayah.