
Kruyuk. Lagi-lagi ayam yang ada di perutku bunyi. Lapar sekali. Mana semalam aku tidak makan malam lagi. Aku berjalan menuruni tangga sambil menjenjeng tas sekolah lalu menuju ruang makan.
"Bik Leha masih lama, ya, masaknya?" Tanya ku sambil duduk di kursi.
"Aduhh, maaf non, bik Leha tadi bangun kesiangan. Jadi baru masak..." Jawab bik Leha dengan nada tidak enak hati.
Lapar. Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja. Baru kali inilah aku tersiksa gara-gara kelaparan. Kalian sih enak, kalau terdesak seperti ini kan bisa makan mie. Lah aku? Makan mie sesekali, itupun harus kucing-kucingan dengan kak Priatna.
Tuk. Aku menoleh saat merasakan seseorang memukul pelan kepalaku. Ternyata kak Priatna. Kakak ku itu segera duduk di sebelahku.
"Kamu kenapa, Hel? Pagi-pagi sudah lesu seperti ini?" Tanya kak Priatna sambil mengusap rambutku yang sudah tersisir rapi dan di kuncir ekor kuda.
"Helga lapar, kak!" Kataku apa adanya. Kak Priatna menghela nafas, sepertinya ia mau menyalahkan ku yang tidak mau makan malam. Tapi urung saat melihatku tersiksa kayak gini.
"Ya sudah, kita sarapan di luar saja, ya? Mumpung masih ada waktu!" Ajak kak Priatna yang ku balas dengan amggukan kepala. kami berduapun segera berlalu pergi.
Aneh, ini benar-benar aneh. Di tiap-tiap restoran yang kami datangi pasti tutup dengan alasan bahan makanan di curi. Bahkan di supermarket atau di pusat perbelanjaan pun, yang hilang cuma makanan.
Kak Priatna menatap ku yang sejak tadi menundukkan kepala sambil memegangi perut. "Sabar ya, adikku sayang. Coba kamu berangkat sekolah dulu. Kamu 'kan bisa makan di kantin!" Bujuknya.
Aku menggeleng lemah. "Tidak bisa kak. Kemarin bahan makanan di kantin habis di curi. Jadi nggak ada jaminan Hel bisa sarapan di kantin!"
"Hmm, kamu berangkat sekolah sekarang saja, ya? Nanti kakak antarkan makanan ke sekolah. Kamu bisa sabar kan?" Kata kak Priatna lagi.
Aku mengangguk pasrah. Emang dah nasibku kali ya, bergelut dengan rasa lapar?
"Sherlly, pass!"
__ADS_1
Pagi ini, kelasku yang mendapat jatah olahraga melakukan aktivitas pembelajaran sepakbola. Setelah mendapat umpan dari ku, Sherlly pun menendang bola ke gawang dan GOL!
"Hore, gol! Kita berhasil, Helga!" Saking senangnya Sherlly pun menggenggam tanganku erat-erat. Aku juga senang sih. Tapi tidak lama karena aku langsung jatuh tertidur. Teman-teman pun berlari mengelilingi ku yang terlelap di pangkuan Sherlly.
"Pak guru! Baterai Helga Anabelle soak lagi!"
"Lagi-lagi tidur!"
Akupun segera di bawa ke ruang kesehatan.
"Maaf ya, Sherlly. Lagi-lagi aku tertidur!" Kataku pada Sherlly ya Ng sejak tadi menemani ku di ruang kesehatan.
"Kamu tidak apa-apa, Hel? Dari tadi perut kamu bunyi terus, lho!" Tanya Sherlly cemas.
"Aku tidak apa-apa kok. Cuma lapar saja gara-gara tak sempat sarapan!" Jawabku jujur.
Sedang asyik-asyiknya mendengar cerita Sherlly, aku mendengar bunyi endusan. Aku menoleh ke jendela, tampak olehku makhluk bertubuh tinggi dan berleher panjang tengah mengendus sesuatu.
Pintu ruang kesehatan terbuka, menampakkan seorang wanita yang berpakaian rapi dan berambut panjang. "Kalian bisa ikut ibu sebentar?" Tanya wanita itu sambil tersenyum lebar. Kesannya jadi agak menakutkan.
"Si...siapa dia?" Tanya ku pada Sherlly. Yang tadi itu apa, ya?
"Guru muda yang datang ke sini untuk praktek mengajar!" Jawab Sherlly.
Aku dan Sherlly akhirnya mengikuti guru misterius itu yang pergi ke belakang sekolah. Sebenarnya kita mau apa, sih? Guru muda itu seperti mengendus sesuatu. Sekitar kami jadi berkabut.
"Tercium, tercium," guru muda itu perlahan-lahan berubah menjadi sosok menyeramkan yang aku lihat di ruang kesehatan. Sherlly belum menyadarinya karena memperhatikan sekitar kami yang berkabut. "Bau ini...bau moster dan sesama..." Makhluk itu menggigit kukunya yang panjang.
__ADS_1
Sherlly yang terkejut setengah mati langsung berdiri membatu. Sejenak kemudian, ia melakukan takbiratul ihram dan langsung pinsan begitu saja. Aku bengong melihatnya. Bagus, kalau seperti ini sih aku tidak perlu menahan diri lagi. Makhluk itu lebih menyerupai monster, atau lebih tepatnya makhluk jenis baru . Kalau begini sih, aku tidak bakalan menang dengan tangan kosong.
"Baiklah, baiklah, datang untuk mengejar 'duri' ini, ya?" Makhluk itu memanjangkan lehernya dan menoleh ke belakang. Sepertinya makhluk ini sadar kalau aku bukan manusia.
Tidak, tunggu dulu, jangan-jangan...
Makhluk itu dengan cepat melesat ke arah ku dan menyerang. Untung aku bisa menghindar. Ugh, berpikir. Bagaimana caranya aku bisa mengalahkan makhluk seperti ini, ya? Melawan makhluk halus saja aku samoai di buat khawalahan. Lah ini, monster!
"Helga, ini!" Alda yang muncul entah dari mana melemparkan pedang ke arahku. Sepertinya aku pernah melihat pedang ini, tapi di mana, ya?
Tanpa berpikir panjang, aku segera menyerang makhluk itu dengan pedang pemberian Alda. Makan banyak waktu juga sih, tapi akhirnya aku bisa menang juga.
"Yang tadi itu apa?" Tanya ku pada Alda, setelah aku memberinya sebuah jitakan sebagai hadiah karena tidak muncul selama beberapa hari.
"Itu, anu, sebenarnya tuan Jr. Mendapat laporan kalau salah seorang pengendali tanpa sengaja membuka pintu gerbang yang tak di kenal di Rumah perkumpulan . Jadi pengendali itu mendapat tugas untuk menyegel semua siluman yang tidak sengaja ia bebaskan. Karena kamu juga pengendali sekaligus pemurni jiwa, tuan Jr. menugaskan mu untuk menolong pengendali itu." Jelas Alda.
Pengendali adalah sebutan untuk orang-orang yang menguasai kekuatan tertentu berdasarkan elemen (unsur) yang mereka peroleh. Di timur, kami di sebut Sweeper. Dan di barat kami di sebut dengan istilah Mutan.
Rumah perkumpulan merupakan sebuah tempat di mana para Pengendali berkumpul untuk menjalani masa hukuman. Manusia biasa hanya melihat tempat itu sebagai toko buku tua biasa. Tapi aslinya tempat itu sangat luas.
Aku juga pernah tinggal di sana. Kalau tadi Alda bilang ada pengendali yang tidak sengaja membuka gerbang yang tak di kenal, berarti pengendali itu telah membuka Gerbang Segel . Gerbang dimana makhluk seperti siluman di segel. Repot juga kalau harus menyegel mereka satu persatu.
Rumah perkumpulan, ya... Sudah lama aku tidak pergi ke sana!
Oh iya, siluman yang tadi berhasil aku kalahkan itu menjelma menjadi manusia biasa untuk mencuri bahan makanan. Sepertinya dialah yang mencuri semua makanan akhir-akhir ini.
*****
__ADS_1