SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 20: Kesatuan Manusia dan Karang


__ADS_3

   Ekor siluman One bergerak melewati dalam karang hingga menggoreng perut Kamandanu. Dari goresan itu keluarlah darah biru yang menjadi bukti kalau Kamandanu adalah seorang pengendali. Lupa bilang, yang membedakan antara pengendali dan manusia adalah darah yang mengalir di tubuh mereka. Darah pengendali berwarna biru, bukan merah seperti manusia.


    "Bagi aku yang menyatu dengan karang dan bisa bergerak bebas didalamnya, seluruh ruangan ini adalah bagian dari tubuhku! Tidak ada jalan untuk lari!" Kata siluman One.


   "Kamandanu! Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Helga cemas.


   "Jangan khawatir, ini hanya luka gores biasa, kok! Aku cuma agak kaget karena tadi lengah!" Ucap Kamandanu dengan tenangnya.


   "Kamu bisa berlagak kuat seperti itu sampai kapan, hah? Pertarungan seriusnya baru mulai sekarang, lho!" Siluman One memperingatkan. Kali ini seluruh tubuhnya yang tersembunyi ke dalam karang. Dia tersembunyi dengan sempurna. Kalau seperti ini sih tidak jelas dia menyerang dari mana!


   Kamandanu menoleh ke kanan dan kirinya. Lagi-lagi siluman One menyerang dari belakang. Disaat Kamandanu berhasil menghindar, ekor siluman One mencuat ke depan. Kali ini ia menyerang Kamandanu dari depan dan belakang.


   "Kalau kamu terus-terusan mengelak, maka kamu tidak akan bisa menang!" Helga memperingatkan.


   "Ucapanmu memang benar!" Sahut Kamandanu. Ia mengambil sekutum mawar merah dari rambutnya. Tentu saja ini bukan bunga mawar biasa.


   Kamandanu menggerakkan bunga mawar itu hingga kelopaknya berguguran dan beterbangan, menyisakan tangkainya yang berubah menjadi cambuk mawar. Dalam sekejap, ruangan itu jadi wangi mawar. Kamandanu kemayu sekali, jadi tidak suka nih :P.


   "Khukhukhu, bodoh! Kamu kira kamu punya waktu untuk mengayun-ayunkan cambukmu pada lawan yang tidak jelas akan menyerang dari mana?" Ejek siluman One yang sudah kembali tenggelam dengan liciknya.


   "Kalau begitu serang aku dari mana saja!" Tantang Kamandanu.


   "Menarik, akan aku buat kamu tercerai berai dengan satu serangan!" Geram siluman One. Namun, dengan tepatnya Kamandanu bisa menebak kalau siluman itu menyerang dari atas. Kenapa Kamandanu bisa mengetahui posisi siluman One?

__ADS_1


   Jawabannya adalah dari bau. Ruangan itu di penuhi wangi mawar. Jadi aura siluman One bisa tercium dengan amat busuknya. Kena dia. Duri yang menempel pada cambuk itu sama seperti pisau tajam yang mampu membelah baja. Dengan jurus bunga tajam pemotong Kamandanu bisa mencerai beraikan siluman One.


   "Berhasil! Akhirnya siluman One kalah dalam satu serangan!" Kata Helga kagum.


   "Ternyata si jelek itu benar-benar lemah, ya!" Imbuh Chris.


   "Bodoh, karena yang melawannya Kamandanu dia tampak kalah dengan mudah. Kalau kalian yang melawannya dengan serangan pertama tadi kalian pasti sudah mati!" Kata L. Daya hancurnya kuat seperti biasa.


   "Kamu kenapa selalu menyinggung perasaan ku, sih?" Tanya Chris sansi.


   "Mana aku tahu, bodoh!"


   "Hei, kalau tidak serius kalian berdua akan aku hajar, lho!" Helga memperingatkan.


   "Ya, ayo kita pergi!" Ajak Kamandanu.


    "Percuma saja! Berapa kali pun kamu memotongku aku tidak akan kalah." Kata siluman One sambil memasang kembali kepalanya.


   Biarpun sudah dipotong-potong si brengsek ini kembali ke asal. Jangan-jangan dia punya tubuh abadi?


   "Bukan cuma kembali ke asal. Membagi-bagikan tubuhku sendiri pun aku bisa!" Kata siluman One. Benar saja, ia membagi-bagikan tubuhnya dan menyerang Kamandanu. "Seperti ini!  Jurus peluru karang peledak!"


   Kamandanu kembali mencerai beraikan siluman One. Kali ini sampai hancur berantakan. Saat siluman One kembali ke asal, Kamandanu tidak sengaja melihat sesuatu yang bercahaya.

__ADS_1


   "Khukhukhu, sudah aku bilang percuma, kan? Apa kamu tidak mengerti?" Kata siluman One, "Waktu main-main sudah selesai. Matilah kamu!"


   Dengan sisa-sisa tenaganya, Kamandanu kembali menyerang siluman One. Ia terduduk karena kehabisan tenaga. "Akhirnya kamu menggunakan tenaga terakhirmu habis-habisan."


   "Khukhukhu," Kamandanu tertawa sambil memegang perutnya yang luka gores.


   "Hahahaha, apa aku sedemikian menakutkan? Akan aku hilangkan penderitaan mu sekarang juga!" Ucap siluman One dengan percaya diri.


   Mendadak, siluman itu menyadari sesuatu saat melihat Kamandanu. "Ng, kenapa dia terbalik?" Tanyanya heran. Ia terkejut saat melihat bentuk tubuhnya yang tak lagi beraturan. Mirip bola yang besar sekali. "Hah?! Ng, nggak ada? Ka, kamu ... Masa', masa' mengambil milikku itu?"


   "Yang kamu cari ini ya?" Tanya Kamandanu sambil memperlihatkan sesuatu yang tadi ia ambil, "ini Key tone yang berfungsi sebagai pusat komando untuk mengumpulkan tubuhmu yang tercerai-berai jadi semula, kan? Kamu mencoba menyembunyikannya dari mataku dengan cerdik. Tapi aku tetap melihatnya. Sebab, saat kamu mengeluarkan kekuatan ini tampak bercahaya. Menemukan benda yang disembunyikan adalah keahlian ku karena profesi asliku adalah pencuri!"


   "Aah! Tunggu! Jangan apa-apakan itu!" Pinta siluman One.


   "Aku menolak!" Kamandanu melemparkan key stone itu hingga terbelah menjadi dua. Berhasil. Rasakan itu. Kamandanu kembali terduduk. Tubuhnya terasa sakit sekarang.


   "Ah, kamandanu!"


   "Kalau dia berhasil membuat Kamandanu terluka sampai seperti ini ... " L tidak melanjutkan kata-katanya.


   "Biarkan saja! Selanjutnya serahkan saja pada kami!" Kata Helga dengan semangat 45.


   "Ok, selanjutnya biar aku yang maju!"

__ADS_1


*****


  


__ADS_2