SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 7: Permainan Terlarang


__ADS_3

   "Hai kak, ada apa?" Tanyaku pada kak Priatna yang sibuk mengawasi para asisten rumah tangga. Kakak ku nampak santai dengan baju kemeja garis-garis biru dan putih yang kancingnya sengaja tak di pasang, memperlihatkan kaos putihnya yang nampak polos, dan celana bahan warna hitam.


   "Apa maksudmu dengan ada apa, Helga?" Tanya kak Priatna, tampak benar-benar heran. "Teman-teman kampus kakak mau datang ke rumah nanti malam untuk bersenang-senang."


   "Aku boleh ikut, kak?" Tanyaku penuh harap. Kan enak kalau aku diperbolehkan untuk berpesta bersama teman-teman kak Priatna. Tapi sepertinya tidak bisa karena kak Priatna tidak memperbolehkannya.


   "Tidak boleh, kamu masih bocah, Helga. Rasanya tidak pantas kalau kamu berada di tengah-tengah orang dewasa seperti kami!"


   Bocah? Kak Priatna bilang aku masih bocah? Apa orang seperti ku masih pantas di sebut bocah? Aku sudah tiga belas tahun, lho (berdasarkan perhitungan bumi yang ditinggali manusia)! Jadi berhentilah memanggilku dengan sebutan bocah!


   "Aku mengerti," kataku sambil berlalu pergi. Aku tersenyum miris. Mengerti apa? Aku bahkan tidak mengerti apa-apa. Bahkan aku tidak mengerti alasan mengapa aku bisa ada di sini untuk menjadi pemurni arwah.


   Begitu sampai di kamar, aku menutup pintu dengan keras dan menghempaskan tubuhku di atas kasur. Setelah sekian lama, aku akhirnya bisa tahu bagaimana rasanya mempunyai orang yang kalian panggil dengan sebutan 'kakak'.  Tapi kenapa sifat kak Priatna jadi beda waktu Mama dan papa sudah pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama, ya?


   Tak lama kemudian, aku terbangun saat mendengar suara gelak tawa banyak orang di lantai bawah. Sepertinya kak Priat sudah memulai acara kumpul bersama. Aku meringkuk di balik selimut, berusaha untuk tidak terusik dengan keributan di bawah. Aku menghela nafas. Di bawah sana, orang-orang pada bergembira ria, sedangkan aku malah tidur meringkuk di kamar. Ketahuan sekali kalau aku kesepian. Tinggal bersama manusia dan menjalani hidup layaknya manusia biasa membuatku menjadi sosok yang berbeda.


   Rencananya sih, aku mau melanjutkan tidurku. Tapi urung saat tiba-tiba suara ayam diperutku berbunyi. Aku lapar. Aku ingat kalau aku belum makan malam. Dengan malas, aku mengubah posisiku yang semula tiduran menjadi duduk, menggulung rambutku dengan asal, menyibakkan selimut, dan berlqlu pergi keluar kamar.


   Aku kecewa saat tidak mendapati makanan di lemari dan kulkas. Pasti sudah di angkut semuanya sama kak Priatna untuk di sajikan ke teman-temannya.


   "Lho, Non Helga? Non belum makan malam, ya?" Tanya Bik Leha saat melihatku ada di dapur, sedang menutup pintu kulkas yang kosong melompong. Sebenarnya ada bahan makanan sih, tapi aku malas untuk masak.


   "Belum bik, hehe." Jawabku jujur.


   "Yahh, non Helga. Semua makanan kan sudah di angkut sama den Priatna untuk tamunya. Non tunggu sebentar, ya, bibik akan menyiapkan makanan untuk Non Helga!"

__ADS_1


   "Gak usah, Bik. Saya mau kembali ke kamar saja." Tolak ku sambil berlalu pergi. Tapi bukan Bik Leha namanya kalau membiarkan anak majikannya mati kelaparan (yaa, gak sampai mati juga kali).


   Saat menaiki tangga, aku melihat kearah kak Priat dan teman-temannya. Aku langsung kesal saat melihat ada anak perempuan sebaya dengan ku ada di tengah-tengah mereka. Kak Priatnaaa~ sendirinya bilang kalau anak kecil seperti ku tidak pantas berada di tengah-tengah orang dewasa seperti mereka. Tapi lihatlah anak itu. Dia kelihatan akrab dengan mereka semua, apalagi dengan kak Priat. Membuat ku iri saja.


   Prangggggg!


   Aku tersentak kaget saat tahu-tahu aku sudah memukul pegangan tangga dengan sangat keras. Saking kesalnya aku melihat kedekatan kak Priatna sama anak sialan itu. Masa bodoh dengan mereka yang melihat ke arahku. Aku balas menatap kak Priat dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu melenggang pergi begitu saja.


*****


----------------------------------


--- Priatna POV on ---


----------------------------------


   Prangggggg!


   "Yang tadi itu siapa, Na?" Tanya Fatia Utamy, salah seorang temanku dulu saat aku masih duduk di bangku kuliah. Di ruang tamu ini, ada Fatia, Reza, Syam, Arjuna, Faruk, dan Kristy adik Arjuna yang sebaya dengan Helga.


   "Dia Helga, adik ku satu-satunya," jawabku singkat.


   "Kok dia gak ikut kumpul bersama kita, ya? Kan asyik kalau adik ku ada temannya!" Gumam Arjuna. Asyik di kamu eneg di aku.


   "Eh, kita jadi main itu, gak?" Tanya Faruk, mengingatkan.

__ADS_1


   "Ya jadilah! Percuma saja aku membawa alatnya kalau kita gak jadi main!" Sahut Arjuna, ia memperlihatkan gayung yang terbuat dari batok kelapa yang sudah di dandani sedemikian rupa.


   Yaa, rencananya, aku dan teman-temanku mau melakukan sebuah permainan terlarang yang sering di mainkan di seluruh penjuru Nusantara untuk memanggil arwah penasaran. Permainan terlarang yang kami sebut dengan permainan JELANGKUNG.


   Tepat jam sebelas malam, lampu yang menerangi ruang tamu sengaja di padamkan. Digantikan oleh cahaya lilin yang di letakkan di tengah-tengah karpet. Aku dan teman-teman ku  bergegas mengelilingi lilin tersebut. Arjuna dan Faruk bertugas untuk memegang gayung batok kelapa, sedangkan yang lain mengucapkan mantera. Kami semua pun membaca mantera.


   Setelah kami mengucapkan mantra (menyanyikan lebih tepatnya), tak terjadi apa-apa pada batok kelapa tersebut. Aku yang bisa melihat hantu sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda akan kehadiran sosok makhluk di rumah kami.


   "Kok gak terjadi apa-apa, sih?" Tanya Kristy, ia kecewa karena tidak ada aktivitas Supernatural di rumah ku setelah kami menyanyikan mantera pemanggil arwah.


   "Ya iyalah, orang caranya saja salah!"


   Syam Idham samawi, dia satu-satunya teman ku yang sangat fanatic dengan hal-hal berbau mistis. Ku rasa ia mau mencontohkan bagaimana caranya bermain jelangkung dengan benar. Aku jadi berpikir kalau dia harusnya lebih cocok untuk menjadi paranormal atau dukun ketimbang jadi dokter, deh.


   Pukul dua belas tepat. Setelah Syam selesai melakukan ritual pemanggilan arwah melalui media batok kelapa, mulai terjadi keanehan di rumahku. Aku bisa merasakan adanya gumpalan energi jahat yang tiba-tiba memenuhi rumahku. Dan sesuatu yang tidak kami inginkan pun terjadi, Kristy dan Faruk pingsan saat sosok jahat itu menampakkan diri pada kami semua. Arjuna, dan Fatia menggigil ketakutan. Yang paling parah adalah Reza, temanku itu kesurupan dengan makhluk jahat itu.


   "Syam! Kamu tadi memanggil siapa?" Tanyaku pada Syam yang bengong melihat situasi yang kacau ini.


   Syam menoleh ke arahku. Dengan perasaan bersalah dia menyebutkan satu nama padaku. Sial! Sial! Sial! Kenapa Syam malah mengundang makhluk seperti dia, sih? Kalau bebini sih, aku tidak akan bisa menghentikannya sendiri. Akan susah bagiku untuk mengeluarkan makhluk yang sedang merasuki tubuh Reza!


   Astaga...apa yang harus ku lakukan sekarang? Masa'aku harus meminta tolong pada Helga untuk mengembalikan makhluk yang sepertinya lengket sekali dengan Reza ini. Helga kan masih kecil, akan susah baginya untuk melakukan hal yang tidak mudah ini.


------------------------------------


--- Priatna POV'S Off ---

__ADS_1


------------------------------------


__ADS_2