SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 24: Hewan suci terakhir


__ADS_3

Chris, Helga, Kamandanu, dan L terus berlari diantara kilat dan petir yang terus menyambar bersahut-sahutan. Mereka menghentikan langkah saat melihat sebuah menara dari kejauhan.


"Apa itu?" Tanya Chris saat ia dan ketiga rekannya mengamati bangunan menjulang yang terlihat dari kejauhan.


"Tidak diragukan lagi, kunci terakhir pasti ada disitu!" Jawab L.


"Baiklah! Ayo kita ke sana!" Ajak Helga sambil mengepalkan sebelah tangannya. Mereka berempat pun kembali berlari mendekati menara.


"Menara yang menyeramkan!" Ucap Chris saat melihat menara itu dari jarak belasan meter. Disekitar mereka cukup gelap dan hanya diterangi cahaya kilat dan petir.


"Dia ada dilantai paling atas!" Kata Kamandanu memberi tau.


Helga mengangguk. Baiklah. Gadis itu maju ke depan. Baru saja satu langkah ia berjalan, satu persatu pasukan terlatih Quadra mulai berdatangan.


"S, siapa mereka?" Tanya Chris seperti orang yang ketakutan.


Meski pasukan terlatih Quadra memiliki bentuk menyerupai manusia zombie, mereka tidak punya kemampuan untuk berpikir dan tanpa kehendak. Mereka adalah sekumpulan binatang yang akan mengikuti perintah tanpa syarat dari atasannya. Banyak juga jumlah pasukan terlatih yang dikerahkan.


"Mereka banyak sekali. Kalau kita menangani mereka satu persatu maka kita akan kehabisan waktu!" Imbuh Chris.


"Akan sulit bagi kita untuk mengalahkan mereka dan menerobos." Kata Kamandanu.


"Mereka seperti zombie yang tak merasa sakit atau takut." Sahut L.


"Yang mengendalikan mereka pasti punya sifat yang kelewat batas." Timpal Chris.


"Ini terlalu banyak kesulitan!" Geram Helga dengan kesal, "aku akan menggunakan kekuatanku dan membakar merekaΒ  semua!" Imbuhnya.


"Tenanglah!" Kata Kamandanu sambil menepuk pundak Helga yang terbawa emosi.


Helga menoleh dan menatap wajah Kamandanu yang selalu tenang dan tanpa ekspresi. "Kenapa kamu bisa bersikap tenang seperti itu?"

__ADS_1


"Bukan suatu keuntungan kalau kamu menggunakan energi spiritual secara sia-sia. Kalau kamu terburu-buru, pasti kamu akan masuk ke dalam perangkapnya!" Jelas kamandanu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa ada cara lain supaya bisa menerobos mereka?" Helga mulai frustasi.


"Ada." Bukan Kamandanu yang menjawab, tapi L. "Lihat diatas mereka. Kita bisa masuk ke dalam lewat jendela itu."


"Jangan gila! Bagaimana caranya kita melompat setinggi itu?"


"Kenapa kamu ...! Kamu hanya membuat omong kosong saja!" Kata Chris ikutan kesal.


"Aku punya ide." Kata L akhirnya. Ia menjelaskan idenya untuk masuk ke dalam menara lewat jendela


"Aku mengandalkan mu, Chris!' kata Helga setelah mendengar rencana L. Chris mengangguk. Ia mulai berlari menerobos pasukan terlatih Quadra disusul yang lain.


"Dengar, Helga. Ini tanpa latihan, jadi jangan salahkan kami bila terjadi sesuatu yang buruk padamu." Pinta Chris.


"Biar aku yang menanggung apapun itu!" Sahut Helga.


Kini giliran Helga. Gadis itu mengambil ancang-ancang dan menjadikan ketiga temannya itu sebagai pijakan. Saat Helga melambung tinggi, Kamandanu dan L langsung melompat turun. Helga berhasil meraih sisi jendela dengan kedua tangannya.


"Dia melakukannya!" Kata Chris senang.


Helga mengayunkan tubuhnya dan masuk ke dalam menara. Ia berbalik menatap teman-temannya yang akan menghabisi pasukan terlatih mirip zombie itu. "Chris, Kamandanu, L! Terimakasih, ya! Ketika kembali aku pasti akan membayarnya!"


"Jangan mati, ya!"


Helga mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Pasti.Β  Gadis itu berbalik dan masuk ke dalam menara. Ia berlari menaiki tangga spiral hingga sampai diujung.


Helga berhenti saat melihat Quadra duduk sambil meniupkan seruling serangga. Siluman itu berdiri dari singgasananya dan berjalan menghampiri Helga. "Brengsek!" Ucap Helga geram.


"π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘–π‘›π‘‘π‘Žπ’‰ π‘π‘’π‘˜π‘Žπ‘›? 𝐾𝑒 π‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿ π‘Žπ‘˜π‘’ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘‘ π‘›π‘¦π‘Žπ‘›π‘¦π‘–π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ‘› π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘šπ‘’! π΄π‘˜π‘’ π‘π‘’π‘šπ‘–π‘šπ‘π‘–π‘› π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘ π’‰π‘’π‘€π‘Žπ‘› 𝑠𝑒𝑐𝑖, π‘„π‘’π‘Žπ‘‘π‘Ÿπ‘Ž!" Quadra memperkenalkan dirinya. Ia lebih mirip dengan manusia daripada siluman.

__ADS_1


"Kalau kamu mau menyerahkan seruling itu, maka aku tak sampai membuatmu mati." Kata Helga menegaskan.


"π΅π‘Žπ‘”π‘Žπ‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘Žπ‘˜π‘’ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘Žπ‘’?" Tantang Quadra.


"Maka aku akan membunuhmu!"


Sriingg!


Kedua bola mata Helga berubah warna menjadi merah menyala. Meski dulu kemampuannya sebagai pengendali elemen api lenyap, penguasa dunia arwah berbaik hati memberinya kekuatan spiritual berelemen api.


Quadra mengangkat sebelah tangannya sambil memejamkan matanya dan tersambar petir. Lebih tepatnya mengambil petir.


Itulah teknik serangan yang bernama sengatan cepat serangan kegelapan. Menggabungkan kekuatan pencahayaan dengan aura sendiri. Ini merupakan serangan yang menciptakan energi gelap yang bernama gelombang petir spektral. Memancarkan daya yang cukup untuk langsung membuat manusia binasa. Yang tersentuh olehnya akan berubah menjadi arang.


Quadra berlari hendak menyerang Helga. Helga meloncat ke atas, begitu juga dengan Quadra. Meski sudah menghindar, Helga tetap terkena serangan itu dan tersengat aliran listrik berkekuatan sangat tinggi. Gadis itu menjerit kesakitan dan tumbang.


"Dia hanya menyerempet ku, tapi kenapa ada tegangan tinggi saat mengenai ku?" Batin Helga. Ia bangkit sekuat tenaga.


"π»π‘œπ‘œ, π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘– π‘œπ‘™π‘’π’‰ π‘˜π‘’π‘˜π‘’π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘– π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘’π’‰π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘Žπ‘‘π‘– π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘›π‘‘π‘’π’‰ π‘”π‘’π‘™π‘œπ‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘‘π‘–π‘Ÿ π‘ π‘π‘’π‘˜π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘™ π‘˜π‘’, π‘¦π‘Ž?" Kata Quadra. Entah bagaimana caranya supaya Helga bisa menghindari siluman ini.


"πΎπ‘’π‘šπ‘Žπ‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘› π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘› π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘– π‘™π‘Žπ‘”π‘– π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘ π‘’π‘ π‘’π‘Žπ‘‘π‘’ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘™π‘’π‘Žπ‘Ÿ π‘π‘–π‘Žπ‘ π‘Ž. π‘‡π‘Žπ‘π‘– π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘‘π‘– π‘šπ‘’ π‘ π‘’π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ’‰ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ’‰ π‘šπ‘’π‘›π‘–π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘‘ π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘˜π‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘Žπ‘›, π‘π‘Žπ’‰π‘˜π‘Žπ‘› 𝑙𝑒𝑏𝑖𝒉."


"Jangan remehkan pengendali seperti ku!" Helga memperingatkan. Gadis itu melepaskan sepatunya dan dan memakainya ditangan.


"πΎπ‘Žπ‘šπ‘’ π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘‘ π‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘‘π‘Ž, π»π‘’π‘™π‘”π‘Ž π΄π‘›π‘Žπ‘π‘’π‘™π‘™π‘’. π΄π‘˜π‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–π‘šπ‘π‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘’. π·π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘šπ‘’π‘›π‘”π’‰π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘– π‘˜π‘’π‘π‘’π‘‘π‘’π‘ π‘Žπ‘ π‘Žπ‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿ, π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–. π·π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘šπ‘Žπ‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘Žπ‘”π‘–π‘Žπ‘› π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘œπ‘‘π‘œπ’‰. π΄π‘˜π‘’ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘ π‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘šπ‘–π‘šπ‘π‘– π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜ 𝑖𝑑𝑒!"


Quadra melakukan teknik serangannya sekali lagi dan menyerang Helga. Tak disangka, Helga bisa menangkis serangan itu dengan sepatu yang ada ditangannya dan memukuk Quadra sampai siluman itu terpental dan bangkit dengan cepat.


"πΎπ‘Žπ‘šπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘œπ‘›π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘–π‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘˜π‘’π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘›π‘šπ‘’ π‘˜π‘’ π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘˜π‘’π‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘šπ‘’ π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘”π‘’π‘›π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘”π‘Žπ‘– π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ’‰π‘Žπ‘›π‘Žπ‘› π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘”π‘˜π‘–π‘  π‘”π‘’π‘™π‘œπ‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘‘π‘–π‘Ÿ π‘ π‘π‘’π‘˜π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘™ π‘˜π‘’. πΎπ‘’π‘šπ‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’ 𝑖𝑑𝑒 π’‰π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘”π‘Žπ‘– π‘π‘’π‘›π‘”π’‰π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›π‘”!" Kata Quadra.


Helga melepaskan sepatunya dari tangan dan mengepalkan tangannya. Api dengan cepat berkobar dan membentuk lingkaran besar yang mengepung mereka berdua. "Sekarang, aku akan membalaskan serangan mu tadi!"

__ADS_1


__ADS_2