
Meski aku sudah pernah mencicipi naik bis, metromini, dan teman-teman angkot yang lainnya, ternyata aku masih suka nyasar-nyasar juga. Asal ada bis tulisan Blok M, aku naik.
Eh gak tahunya itu bis tujuannya Tanjung Priok. Begitu juga saat melihat metromini Blok M- Kampung Melayu. Aku asal loncat. Ternyata metromininya ke Kampung Melayu. Terus-terusan begitu sampai hari sudah larut malam.
Akhirnya, sekitar jam sepuluh malam, jam di mana para hantu sudah mulai bergentayangan, aku sudah duduk jongkrok karena kecapean di terminal Tangerang. Tiga orang preman bertampang serem mendekatiku.
"Hai cewek, sendirian aja, nih?" Tanya salah seorang dari mereka diiringi gelak tawa kedua temannya.
"Mau kami temani, gak?"
"Jangan malu-malu!"
Idih, siapa juga yang malu-malu? Yang ada aku eneg kali. Aku menatap ketiga preman itu dengan tatapan malas. Lagi ngantuk nih, jadi gak ada niat untuk kelahi. Tapi kalau gak di kasih pelajaran, mereka pasti akan terus mengganggu ku. Gimana dong?
Enaknya mereka dihukum pakai apaan ya? Mau di kasih pelajaran Ipa? IPS? MTK? Bahasa Inggris? Atau kesenian? Canda. Masa' mau ngajar preman sama dengan ngajar anak sekolahan. Ya harus beda lah. Masa' disamakan.
Aku merogoh saku rok ku dan mengeluarkan seluruh uang yang aku punya. Lalu menyerahkannya pada mereka. "Itu semua uang yang aku punya. Ambillah. Tapi jangan ganggu aku lagi." Atau kalian akan menyesal nanti. Kata ku sambil berlalu pergi.
Malam itu aku pulang ke rumah nyater omprengan. Soalnya gak ada lagi angkot yang beroperasi. Sebenarnya ada sih, satu dua. Tapi itu bukan menuju ke Blok M. Waktu omprengan sampe di depan rumah ku, halaman rumah rame sekali. Ada mobil polisi, ada mobil ambulans, dan sekelompok orang yang ngumpul-ngumpul. Begitu aku datang, semua orang gempar. Teriak bareng-bareng, "ITU NON HELGA!!!"
Bik Leha, tukang masak di rumahku langsung menabrak ku, histeris. "Non Helga! Kamu masih hidup, non! Syukur! Syukur! Kita harus mengadakan pesta. Potong satu ekor sapi! Pesta syukuran!"
__ADS_1
Aku bengong.
Giliran Bik Yati, kepala Art rumahku yang maju. Wajahnya kencang banget.
"Tau gak non, udah jam berapa sekarang? Semua orang nyariin non Helga."
"Maaf, saya nggak bawa jam," sahut ku cuek, lalu berjalan menuju ke rumah.
Buk Yati masih ngomel-ngomel. "Telepon, non! Masa' pulang sekolah langsung pergi entah kemana sampai gak sempat nelpon? Non Helga keterlaluan! Saya udah lapor polisi, panggil ambulans, ngerahin siskamling. Semuanya, percuma!"
"Lalu bibik mau apa? Mau saya tinggal nama doang? Gitu?" Komentar ku kesal.
"Ya bukan begitu, non. Tapi non Helga ngomong kek, bilang...."
Di kamar, aku di kejutkan oleh sosok kak Priatna yang berdiri di dalam kamarku sambil melihat ke arah jam weker. Tampang kakak ku yang aslinya ganteng mendadak horor saat melirik ke arahku. Huaaaa, Mama! Bisa mati di tempat aku! Kok kak Priatna tiba-tiba bisa ada di kamarku sih?
"Kemana aja kamu, hah? Pulang sekolah bukannya langsung pulang malah kelayapan! Gak sekalian tuh tidur di jalanan?" Kata kak Priat. Dingin. Inilah yang aku takuti dari kak Priat. Hiks, sungguh teganya kau berkata begitu pada ku.
"Ma, maaf, kak!" Cuma itu yang bisa aku katakan sekarang. Dan sepertinya permintaan maaf ku gak ada gunanya deh. Karena tetap saja kak Priat Marah. Wajar saja, karena aku adik kak Priat satu-satunya. Cewek pula. Makanya kakak sangat-sangat mencemaskan ku.
"Kamu itu cewek, Helga. Kakak tidak tahu alasan apa yang membuatmu sampai pulang selarut ini. Tapi yang jelas kakak tidak mau kalau sampai hal buruk terjadi pada kamu!"
__ADS_1
Aku menundukkan kepalaku. Meski sedang marah, kakak tetap memperlihatkan kasih sayangnya padaku.
"Sekarang kamu ganti baju, terus gosok gigi dan cuci muka. Lalu tidur!" Perintah kak Priat yang segera aku turuti.
Keesokan harinya, aku baru bangun tidur saat jam sekolah menunjukkan pukul setengah tujuh. Wah, gila! Bisa terlambat sekolah aku nanti. Mana aku masih ngantuk berat, lagi. Dengan amat terpaksa, aku segera berjalan menuju ke kamar mandi dan mandi. Lalu ganti seragam sekolah.
Aku ingat satu hal yang membuatku penasaran plus bingung kenapa kakak masih santai-santai saja di rumah. Apa ia tidak pergi ke kantor, ya?
Semenjak Mama dan Ayah pergi ke Amerika dua bulan yang lalu, kak terpaksa mengambil cuti dari pihak rumah sakit tempatnya bekerja karena harus mengawasi perusahaan Ayah yang ada di Indonesia.
"Lho, Kak Priat gak pergi ke kantor?" Tanyaku penasaran.
Kak Priatna menurunkan koran yang sedang di bacanya dan melihat ke arah ku yang sudah rapi siap pergi ke sekolah. Cuma sebentar, lalu kembali melanjutkan kegiatannya membaca koran.
"Kakak gak ke kantor hari ini, jadi kamu bisa pergi ke sekolah sama Mang Ujang, kan?" Tanya kakak yang membuat ku mengangguk. Setelah itu aku berpamitan dan keluar dari dalam rumah.
Awalnya Mang Ujang heran melihatku yang sudah rapi begini siap pergi ke sekolah. Tapi saat teringat sesuatu, ia langsung mengantarkan kan ku.
Sesampainya di sekolah, aku mendapati sekolah benar-benar sepi. Hanya aku saja yang datang ke sekolah. Aneh, kapan aku melewatkan pemberitahuan sekolah, ya? Aku tidak pernah mendengar kalau sekolah ku saat ini sedang libur. Namun tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu. Ini hari Minggu, guys! Makanya tidak ada yang datang ke sekolah - kecuali aku. Benar-benar bodoh! Pantas saja tadi Mang Ujang keheranan karena aku sudah rapi begini dan minta di antarakan pulang ke rumah.
Aku bisa mengerti kenapa Mang Ujang tidak mengingatkan bahwa ini hari Minggu. Tapi kalau kak Priat, aku yakin kalau kakak ku itu lagi memberikan pelajaran padaku. Uggh, sia-sia saja aku bangun pagi-pagi dan datang ke sekolah seperti ini. Awas saja nanti, perbuatan Kak Priat akan aku balas! Seenaknya saja dia membiarkan ku pergi ke sekolah tanpa ada niatan menghentikan ku!
__ADS_1
"Gimana? Enak sekolah sendirian?" Tanya Kak Priat saat aku sudah kembali ke rumah.
Aku tidak menjawab. Hanya menatap kak Priat dengan tatapan malas plus kesal. Au ah, mendingan aku ke kamar, ganti baju, dan kembali melanjutkan acara tidur ku. Abaikan aja kak Priatna Eka Sanjaya ini. Toh gak guna membalas perbuatan kak Priat. Salah-salah aku kualat ntar.