SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 4: Hantu Aya (3)


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam rumah sakit, aku langusng disuguhkan dengan pemandangan yang tidak aku sukai. Bukan dokter atau perawat, juga bukan bau obat-obatan yang menyengat. Apalagi dengan para pasien dan pengunjung rumah sakit ini. Tapi makhluk halusnya!


Ya, makhluk halusnya. Terakhir kali aku pergi ke rumah sakit, kaki ku di cekal suster yang suka ngelesot, atau yang biasa kalian panggil dengan sebutan suster ngesot.


Waktu itu aku pergi ke rumah sakit tempat kak Priat magang. Pas aku lagi jalan-jalan sendirian, kakiku malah di cekal. Jadi susah di gerakin dong. Mau aku tendang nih hantu tapi malah kasihan. Siapa tahu hantu ini punya masalah yang harus diselesaikan.


Untung Alda cepat datang dan menolongku. Kalau tidak auto ketahan aku sampai besok. Karena penasaran, aku pun mulai menggali informasi mengenai suster ngesot tersebut.


Dan saat aku menceritakan pada kak Priatna mengenai suster ngesot itu, kak Priat bilang begini padaku.


"Yang kamu lihat itu hantu Linda, salah satu perawat di sini. Dia meninggal baru-baru ini karena dibunuh oleh pacar dan sahabatnya sendiri!"


"Lah, kok bisa?" Tanya ku waktu itu. Gila aja. Masa' ada yang tega membunuh pacar dan sahabatnya sendiri sih? Kagak punya hati banget. Mereka kemana coba pas pembagian hati nurani?


"Pacarnya itu selingkuh sama sahabatnya sendiri. Terus kepergok sama Linda. Sahabatnya yang tidak terima di katakan menikung teman di belakang langsung menusuk Linda dengan pisau bedah yang kebetulan ada di sana. Pacarnya Linda bukannya merasa iba malah ikut andil dalam pembunuhan itu. Dengan teganya ia menjatuhkan lemari hingga menimpa kaki Linda yang sedang sekarat. Lalu mereka pergi meninggalkan Linda yang menanti ajalnya dengan rasa tak bersalah sama sekali." Jelas kak Priat panjang dan lebar. Ia menyeka sudut matanya yang berair. Kak Priatna memang sensitif sih, makanya ia mudah terharu. Tapi jangan salah, kak Priatna kalau sedang marah lebih serem dari setan lho.


Aku mengangguk-anggukan kepala. Mencerna penjelasan kak Priat yang yang mirip dongeng itu. Tapi sayangnya, dongeng kali ini merupakan dongeng yang mengharukan sekaligus menakutkan. Masa iya pacar yang tega membunuh pacarnya sendiri hanya gara-gara ketahuan selingkuh? Sahabatnya apalagi, kayaknya dia senang karena sudah berhasil menikung sahabatnya sendiri. Kalau sahabat ku seperti itu mah, sudah aku pecat jadi sahabat dari dulu.


Nah, kembali ke inti cerita. Sampai mana tadi? Ah ya, aku ingat. Gara-gara keasikan bercerita masa lalu jadi lupa dengan masa sekarang. Aduhai. Namanya juga pengendali yang dijadikan manusia.


Aku menghampiri dua orang perawat yang berjaga di meja resepsionis. Mbak-mbak perawatnya cantik banget astaga. Ada yang mau gebetan baru gak? Tanya aja sama mereka berdua. Barangkali belum ada yang punya. Terus, kalau ternyata sudah ada yang punya, ikhlaskan saja. Kayaknya gak jodoh kalian. Hehehehe.

__ADS_1


"Maaf, cari pasien atas nama siapa ya, dek?" Tanya salah seorang perawat itu dengan ramah. Wahh, benar-benar calon idaman, nih. Kak Priat mau gak, ya?


"Saya cari pasien atas nama..." Hiks. Rasanya mau nangis darah karena teringat satu hal. Aku lupa nanya siapa nama ibunya Aya! Pinter kamu Helga. Untung Aya ada di sini.


"Reni, kak. Nama ibu Aya, Reni Farida!" Kata Aya tanpa diminta. Kayaknya dia cukup peka deh.


Aku mengangguk. "Saya cari pasien atas nama Reni Farida, mbak. Kira-kira pasien ada dikamar nomor berapa, ya?"


Perawat itu mengotak-atik komputernya. Mencari pasien atas nama Reni Farida. "Buk Reni Farida ada di kamar nomor 113. Dari sini adik lurus, terus belok kanan, belok kiri, terus muter, lalu belok kiri, dan belok kanan lagi, dan..." Membingungkan. Sangat-sangat membingungkan.


Apa saja tadi? Belok kanan? Belok kiri? Muter? Terus apa lagi tadi? Kok aku kagak ingat gini, ya? Au ah burem. Cari kamar nomor 113 aja repot. Akupun berjalan menuju kamar yang di maksud.


Dengan jantung yang berdetak dag, dig, dug, dig, der, aku akhinya membuka pintu kamar tersebut. Rupanya ibu Aya sedang menangis karena teringat sama anaknya yang sudah tiada. Kondisinya terlihat baik-baik saja. Melihat ibunya menangis, Aya jadi tidak tega dan ikutan menangis. Kamar ini kok jadi berisik sekali, ya?


Kalian sih enak, cuma mendengar suara tangis Buk Reni doang. Nah aku? Sudahlah mendengar suara ibunya menangis, ee anaknya juga ikut-ikutan menangis. Dikira nangis itu bisa menyelesaikan masalah kali, ya. Jadi gak betah nih, lama-lama ada disini.


Aku mengetuk pintu, berusaha menarik perhatian wanita yang sedang menangis itu. Buk Reni menoleh ke arah pintu. Cepat-cepat ia menghapus air matanya dan tersenyum ramah.


"Adik siapa, ya?" Tanya Buk Reni saat aku mendekat ke arahnya.


"Nama saya Helga, Bu. Saya temannya Almarhumah anaknya ibuk!" Jawabku sopan. Aku juga tahu bagaimana harus bersikap dan bertindak.

__ADS_1


Buk Reni mengangguk.


"Ibuk apa kabar? Apa ibuk masih sakit?"


"Ibuk sudah sembuh kok. Cuma masih belum bisa pulang!"


"Lho, kenapa?" Pertanyaan bodoh. Sudah jelas karena masalah biaya pengobatan rumah sakit yang relatif mahal.


Buk Reni tersenyum getir. Ia melihat ke arahku dari bawah sampai ke ujung kaki. Masih pakai seragam sekolah lengkap. "Adek baru pulang sekolah, kan? Nggak pulang? Nanti dimarahi ibu kamu, lho!"


Aku tersenyum. Sepertinya buk Reni ingin mengalihkan pembicaraan atau jangan-jangan mau mengusirku? "Tidak apa-apa kok buk. Kan tidak sampai di bunuh!" Kataku dengan nada setengah bercanda, "Ibuk pulang sekarang aja, ya? Nanti biar Helga yang bayar administrasi nya!" Imbuhku.


"Hah?!"


Aku mengangguk mengiyakan. Kalau tidak begini mana mau Aya pergi ke dunia sana? Setelah membayar segala urusan administrasi, aku, buk Reni, dan Aya keluar dari dalam rumah sakit. Sebelum aku berpisah dengan buk Reni, aku sempat memberikan kepadanya beberapa lembar uang seratus ribu untuk jaga-jaga.


Nah, seperti perjanjian sebelumnya. Aya akhirnya mau pergi ke alam sana karena sudah memastikan kalau ibunya baik-baik saja. Ia menghilang dengan lembut setelah mengucapkan terimakasih. Dan aku akhirnya mendapatkan apa yang aku inginkan. Sebuah spirit berbentuk mutiara yang bersinar terang.


Aku melirik ke arah jam tangaku. Gila, sudah jam enam! Aku sampai lupa waktu. Dan yang paling parah, aku ingat akan satu hal. Ini di mana? Aku lupa jalan pulang!


Pikirkan dulu diri sendiri sebelum memikirkan orang lain!

__ADS_1


__ADS_2