SERI HELGA ANABELLE: Jiwa

SERI HELGA ANABELLE: Jiwa
SCENE 14: Arwah boneka di taman ria


__ADS_3

    Saat bangun tidur, tenggorokan ku terasa sakit. Jangan-jangan aku masuk angin? Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamarku yang sepi. Tumben si kecil Citra tidak tidur di kamarku. Biasanya kan anak itu main nyelonong saja tidur di kamarku.


   Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. berhubung hari ini tanggal merah, gak ada salahnya kalau aku cuma gosok gigi dan cuci muka saja, kan? Biarpun gak mandi, aku tetap wangi kok. Kan pakai parfum sebotol :-P


   Selesai cuci muka dan gosok gigi, aku mengganti pakaianku dengan baju lengan panjang berkerah tinggi warna putih, rok selutut warna hitam, dan celana panjang warna hitam. Lalu ke ruang makan untuk menemui Kak Priatna, Tante Risara, dan Citra.


   "Selamat pagi, semuanya!" Sapa ku sebelum duduk di bangku yang biasa aku duduki. Aku melihat ke arah Citra yang sedang di suapi oleh Ibunya, "Selamat pagi, Citra!"


   Aneh, bukannya membalas sapaan ku atau sekedar tersenyum ramah, Citra malah membuang muka dengan memasang wajah masam. Tadi malam dia juga tidak pergi ke kamarku. Hufft. Aku bangkit dan berjalan menghampiri Citra.


   "Citra kenapa? Kamu marah ya, sama kakak?" Tanyaku sambil mengulurkan tangan untuk membelai rambut Citra yang hitam dan ikal. Belum sempat tanganku menyentuh rambut Citra, anak itu malah menepisnya dengan kasar. Aku mengerutkan kening. Oh, ayolah, ada apa dengan anak ini? Baru kali ini dia ngambek padaku.


   "Berisik!" Teriak Citra, aku terperanjat kaget, "Kak Helga jahat! Kakak sudah janji mau menemani Citra main! Citra kira kakak bakal langsung pulang sekolah, tapi kakak malah asyik main hujan-hujanan bareng teman-teman kakak! Citra kecewa dengan kakak!"


   Aku mengerjapkan mata, kemarin kan aku menyelamatkan Chintya dari siluman di bawah hujan, "Citra mau main sama kakak, ya? Bagaimana kalau Citra ikut kakak jalan-jalan ke karnaval taman ria?" Tawarku sambil menaikkan sebelah alis, Citra tidak menjawab. "Kalau tidak mau ya, sudah. Kakak bisa pergi sendiri!"


    Aku mengalihkan pandanganku ke kak Priatna, "Kak, Helga minta izin ke taman ria bareng Sherlly, ya?" Izinku sambil memasang wajah sememelas mungkin.


   "Tidak boleh!" Tolak Kak Priatna, "Hari ini kakak ada kerjaan di kantor, Helga (biarpun tanggal merah?), Tante Risara juga katanya mau pergi kondangan. Kamu tidak boleh pergi tanpa pengawasan kami!"


   "Oh, ayolah, Helga bisa menjaga diri! Lagi pula kami tidak pergi berdua saja, ada Kak Kesya dan Bang Gilang juga!" Kak Kesya dan Bang Gilang itu sepupu Sherlly yang juga teman Kak Priatna.


   "Sekali tidak tetap tidak, Helga. Mereka adapun bukan jaminan kamu akan tetap baik-baik saja, bukan? Lagipula kamu bisa main bareng Citra di rumah!" Kak Priatna masih mementingkan egonya. Aku berdecak sebal bin kesal.


   "Kakak kenapa jadi prosesif banget, sih? Selalu saja membatasi pergerakan Helga dengan alasan demi keselamatan kamu! Mentang-mentang Mama dan Ayah tidak ada di rumah! Pokoknya, dengan atau tanpa izin kak Priatna, aku akan tetap pergi!" Kataku berapi-api. Memangnya cuma kak Priatna saja yang keras kepala? Kalau cuma mementingkan ego, aku juga bisa.


   Kak Priatna menghela nafas, dia tahulah aku itu orangnya kayak gimana, "baiklah, kamu kakak izinkan pergi, tapi dengab satu syarat, kamu harus kembali sebelum jam makan siang. Lewat dari itu, kakak tidak akan segan-segan menghukum kamu, mengerti?"


   Aku mengangguk. Begitu juga boleh, meski cuma sebentar. Tepat jam setengah delapan, Sherlly dan kedua kakak sepupunya datang menjemputku dan Citra. Awalnya aku pikir sepupuku ini tidak mau pergi bersama dengan ku, tapi ternyata dia tiba-tiba bilang mau ikut.


   "Key, Gilang, jaga dua adik saya, ya?" Pinta Kak Priatna. Kak Kesya dan Bang Gilang mengangguk, mereka tahulah kak Priatna kalau marah itu kayak gimana. Kak Priatna mengeluarkan black card nya dan menyerahkannya padaku. Jangan salah, sebenarnya itu kartu punya ku. Tapi karena aku ketahuan main hujan-hujanan (sebenarnya tidak), makanya di sita. Kalau ada ini kan, aku jadi bisa main sepuas-puasnya.


   "Kamu tenang saja, Priatna. Kami berdua bakal menjaga adik kamu, kok!" Jawab Bang Gilang sambil tersenyum lebar.


   "Ya udah, kami semua pergi dulu, ya? Assalamualaikum!" Pamit Kak Kesya. Kami semua pun masuk ke dalam mobil merah milik Kak Kesya.


*****


   Taman ria yang kami datangi sudah banyak didatangi orang meski hari masih pagi. Setelah membeli karcis, kami berlima pun masuk ke dalam taman ria yang baru buka beberapa Minggu yang lalu. Citra yang menggenggam tanganku tampak senang melihat keramaian yang ada. Biasalah, namanya juga anak kecil. Aku tersenyum. Apapun akan aku lakukan untuk menyenangkannya. Melihat Citra aku jadi teringat padanya. Tanpa sadar, aku menekan dadaku yang terasa nyeri. Entah sudah berapa tahun aku tidak melihatnya lagi. Rasanya rindu juga.


   "Kak Helga! Citra mau itu!" Pinta Citra sambil menunjuk ke arah permen kapas yang banyak di jual di tempat hiburan ini. Aku mengangguk. Kami berdua pun membeli permen kapas. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat ini. Pandanganku tertuju kearah Komidi putar yang tak jauh dari tempat kami berada.

__ADS_1


   "Citra mau main Komidi putar tidak?" Tawarku pada Citra. Sebenarnya aku tidak begitu berniat pada permainan berputar seperti itu sih. Tapi aku pikir Citra akan senang. Adik sepupu ku ini mengangguk. Baiklah. "Siap berkeliling dunia, tuan putri?" Candaku saat Komidi putar mulai berputar.


   Ah sial, kepalaku tiba-tiba jadi sedikit pusing. Tapi untuk hari ini, aku rasa aku bisa menahannya. Pengalaman ku dalam menahan rasa sakit bukan cuma kali ini saja.


   "Kak Helga, sekarang giliran Citra yang pilihkan Permainan berikutnya, ya?" Pinta Citra. Aku mengangguk mengiyakan. Mata bulat Citra menatap satu persatu mainan yang akan kami coba. Gadis kecil itu tersenyum jail kepadaku saat menemukan area permainan yang cocok untuk kami, "Kak, kita main itu, ya?"


   Aku menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Citra. Mataku membulat dengan sempurna. Kalian tahu permainan apa yang mau dimainkan Citra? "Tidak! Masa' kakak kamu suruh main pancing ikan sih?" Tolak ku mentang-mentang.


   Gadis kecil, ah tidak, setan kecil ini tertawa senang karena sudah berhasil mengerjai ku, "memangnya kenapa kak? Kan tidak ada masalahnya dengan permainannya?"


   "Permainannya tidak salah, Citra. Hanya saja, orang yang kamu ajak main itulah yang salah!"


    Citra mencebikkan bibir. "Ya udah deh, Kakak main itu saja!" Kata Citra sambil menunjuk permainan lempar kaleng yang aku tidak tahu apa namanya.


   "Kamu mau boneka?" Tanyaku sambil menaikkan sebelah alis. Citra mengangguk sambil tersenyum lebar.


   "Iya!"


   "Main sendiri!" Kataku dengan sadisnya. Raut wajah Citra yang semula ceria berubah mendung seketika. Siap hujan kapan saja. Wahhh, gawat nih. "Bercanda, Citra!" Imbuhku dengan cepat. Bisa gawat kalau Citra menangis di keramaian kayak gini.


   "Kamu mau boneka yang mana?" Tanyaku sambil mengecup lembut pipi Citra.


   "Kak, Citra lapar!" Keluh Citra. Aku melirik kearah jam tanganku yang melingkar di tanganku. Masih ada waktu tiga jam lagi sebelum kami berdua pulang.


   "Ya sudah, kita makan di sana, ya?" Aku menunjuk gerobak yang menjual mie ayam dan bakso. Masa' bodoh dengan perintah kak Priatna yang melarang ku jajan sembarangan.


*****


   "Kita pulang sekarang, kak?" Tanya Citra setelah kami selesai makan.


   "Tunggu, kakak masih mau main satu atau dua permainan lagi!" Tolak ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.


   "Main apa, kak?" Tanya Citra dengah sangat antusias. Dia pikir setelah makan kami akan langsung pulang. Nyatanya tidak. Sudah susah-susah mendapatkan izin main ke sini, sayangkan kalau sampi sini saja perjalanan kami.


   "Bianglala!" Jawab  ku singkat. Aku dan Citra pun berjalan menuju bianglala setelah membeli karcis. Kami berdua pun masuk kedalam salah satu sangkar. Rupanya yang ada didalam sangkar ini hanya aku dan Citra saja. Tapi ada Christian dan Lurge juga. Pertanda buruk nih.


   "Hai, Helga!" Sapa Lurge. Masih ramah seperti biasa. Aku mengulas senyum simpul padanya. Namun, senyumku langisng luntur saat melihat Chris yang menatap ke luar jendela.


   "Dia anakmu, ya?" Tanya Chris yang membuatku refleks melemparkan salah satu boneka Citra padanya. Enak aja dia mengatakan itu! Dia pikir usiaku berapa, hah?


   "Sembarang! Dia sepupuku, Citra!" Jawabku sambil meletakkan kembali boneka yang aku lempar padanya.

__ADS_1


   "Hei, apa itu boneka?" Tanya Lurge pada Citra asik bermain dengan boneka-bonekanya. Citra menatap Lurge dengan seksama. Jangan sampai dia menyadari kalau sebenarnya Lurge juga boneka!


   "Iya, ini boneka yang didapat kak Helga dari pacinko!" Jawab Citra sambil tersenyum. Meski dia masih kecil, Citra ini bisa dengan cepat akrab dengan orang lain. Pacinko itu Permainan adu ketangkasan yang populer di Jepang. Entah dari mana adik sepupuku ini mendapatkan istilah seperti itu.


   Saat bianglala berhenti dan kami keluar, aku menitipkan Citra pada Lurge dan pergi dengan Christian. Menanyakan alasan kenapa dia dan Lurge bisa ada di sini. Jawabannya pun membuatku sangat gregetan.


   Saat disuruh nenek tua Kasumi untuk menyimpan barang toko di gudang terdalam tempat itu. Namanya 'Galeri gerbang antar dan gerbang tujuan' yang terhubung dengan berbagai tempat di Benua Asia. Lurge tanpa sengaja jatuh diruangan yang tak di kenal dan tanpa sengaja membebaskan seekor siluman. Mereka berdua kemudian dituaskan untuk menyegel siluman yang kini berkeliaran di taman ria ini.


   Tiba-tiba, aku merasakan hawa siluman di sekitar kami. Gawat, di sini kan banyak orang. "Kamu juga merasakannya, ya?" Tanyaku pada Christian. Anak itu mengangguk.


   "Sepertinya aura ini berasal dari dekat kincir angin!" Celaka dua belas! Di kincir angin kan ada Citra dan Lurge. Sial! Awas saja kalau Citra kenapa-kenapa. Kami berdua pun bergegas pergi kesana.


-------------------------------------


--- Author POV'S on ---


-------------------------------------


   Setelah kepergian Helga dan Chris, Citra masih asyik bermain dengan bonekanya. Ia tidak sadar kalau ada makhluk menyarankan yang ada didekat mereka. Para pengunjung yang melihat siluman itu langsung lain ketakutan.


   Siluman itu hendak menyerang Citra, namun dengan cepat Lurge berhasil menyelamatkannya. Lurge melihat kearah siluman yang ada di belakangnya. "Kamu...boneka?" Tanya Lurge.


   "Aku manusia!" Jawab siluman itu, lalu berniat untuk menyerang Lurge. Namun segera ditangkis oleh Helga.


   "Lurge! Tolong bawa Citra menjauh dari sini!" Perintah Helga. Gadis itu benar-benar marah karena siluman itu berniat mencelakai adik dan temannya itu.


   "Manusia...hoo...hari ini aku dapat tiga manusia dari tempat lain. Terdengar! Suara manusia!" Kata siluman itu.


    "Bodoh! Perhatikan baik-baik apa yang jadi lawan mu! Kami pengendali!" Chris memperingatkan. Lalu menyerang siluman boneka yang mengincar jantung manusia.


   "Dadaku berbeda, benar-benar punya suara yang indah!" Siluman itu memperlihatkan dadanya yang diisi banyak jantung manusia, "dulu aku juga boneka kayu. Dikendalikan dan menari dipanggung. Tapi saat itu aku memperoleh jiwa, waktu baru memperoleh jiwa, aku disebut 'arwah boneka'  , sekarang aku manusia sempurna yang dialiri darah!"


   Dahulu kala, di perabotan kuno ditanamkan roh dan bergerak. perabotan yang melewati waktu seratus tahun berubah dan memperoleh jiwa. Lalu menipu hati manusia. Inilah yang disebut Perubahan.


   "Di desa yang dekat sudah tidak ada lagi manusia. Sudah ku kumpulkan semua. Berikan suara mu padaku!"


   "Tidak akan!"


   Dengan jimat serangan sembilan ratus teknik rahasia 5 tingkat mantera ledakan siluman itu berhasil di kalahkan. Helga menatap Citra yang masih tidak sadarkan diri. Untunglah ia tidak datang terlambat.


*****

__ADS_1


__ADS_2