
Marsya mematut diri di depan cermin besar. Ia sudah rapi dengan seragam sekolah putih abu-abu. Rambut panjangnya terlihat rapi dan terawat.
"Marsya...." suara mama sudah memanggilnya untuk sarapan bersama. Marsya bergegas menuruni anak tangga menuju lantai utama. Papa dan mama sudah menghabiskan separuh nasi goreng di piring mereka.
"Cepat sayang nanti kamu telat" kata mama sembari menyendokan nasi goreng ke piring Marsya.
"Iya ma..." Marsya meraih sendok dan memeriksa apakah sendok itu steril atau perlu di cuci ulang. Wasti pelayan di rumah itu sudah hapal betul dengan tingkah Marsya. Ia sudah terbiasa jika Marsya memintanya mencuci ulang mangkok, piring atau sendok dan sejenisnya.
"Sya kamu berangkat di antar supir ya, papa buru-buru ada meeting"
"Oke pa"
Selesai sarapan Marsya bergegas berangkat ke sekolah. Ia diantar supir, papa sudah berangkat duluan..Sementara maama bersiap untuk pergi dengan geng sosialitanya entah mau ke acara apa Marsya lupa nanya.
Marsya tiba di pelataran sekolah ia bergegas berjalan memasuki kelas sebelas A. Kelas sebelas A adalah kelasnya anak- anak cerdas seperti Marsya.
Brugh! ..
Seorang siswa menabrak Marsya dan membuat tas Marsya terjatuh ke lantai.
"Ih hati-hati donk kalau jalan! tas aku bisa kotor ini....!" Marsya menggerutu kesal pada siswa itu.
__ADS_1
"Tas kamu cuma jatuh ke lantai, kotor apanya?!" jawab siswa itu.
Marsya meemmandang siswa menyebalkan itu. Ia terlihat dekil dan Kumal. seragam sekolahnya juga tidak di setrika sepertinya. terlihat tidak rapi. Ia juga tidak berbau wangi. Sepatunya apa lagi iehhh lusuh dan kotor seperti tidak pernah di cuci.
Marsya bergegas berbalik dan berjalan menuju kelasnya. Ia bisa alergi jika lama-lama memandang siswa itu. Sebenarnya Marsya mengenal siswa tadi namanya Dovan.
Dovan duduk di kelas sebelas C. Marsya kesal sama Dovan sejak pertama bertemu, ia lusuh dan tidak terawat. Saat perkenalan siswa baru saja Marah ogah salamn sama Dovan.
"Sya....!" Dovan mengejar langkah Marsya.
"Apaan sih?!"
"Nih bolpoin kamu jatuh"
"Kenapa sih Sya pagi-pagi udah cemberut?" tanya Kiki teman semeja Marsya.
"Itu Dovan"
"Haahaa pasti kamu sebel sama Dovan karena dia nggak rapi dan nggak bersih ya?"
"Iya lah..."
__ADS_1
"Sya dia kan anak gunung Sya alias suka naik gunung, kampung, dan sejenis olah raga alam lah. Ya kamu jangan bandingin dia sama Rizki yang resik dan wangi secara dia playboy kelas kadal" kata Kiki sembari tertawa.
"Ah bodo amatlah aku sebel sammaa Dovan nggak mau deket-deket dia untuk kita nggak sekelas"
"Kamu jangan gitu Sya ntar naksir lho sama Dovan biar lecek dan kumel gitu tapi wajah Dovan tu ganteng postur tubuhnya juga tinggi proporsional"
"Apaan? Naksir?! sama Dovan?!! ieeehhhhh"
Bel berbunyi tanda pelajaran akan segera di mulai. Jam pertama sudah di sambut dengan pelajaran matematika. Marsya murid yang cerdas ia tidak perlu takut jika berhadapan dengan mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Karena biasanya kedua mata pelajaran itu yang di takuti para siswa.
Di kelas C Dovan duduk sembari mengamati bolpoin milik Marsya. Ia tersenyum jahil.
"Kenapa senyum-senyum gitu? sinting ya?" Aldi teman sebangku Dovan terlihat heran.
"Tadi nggak sengaja aku nabrak si Marsya bolpoinnya jatuh eh di balikin nggak mau katanya kena kuman lah, kotor lah"
"Cewek nyebelin itu? jelas aja dia kyk gitu si cewek super bersih mana mau Nerima barang yang udah ke pegang sama kamu"
"Emang kenapa?" Dovan masih belum sadar juga.
"Van lu ngaca nggak sih? lu tau kumel nggak rapi jelas aja si Marsya Ilfiel ma lu. coba lu keren wangi kayak si playboy Rizki pasti mau dia deket-deket ma lu!" kata Aldi panjang lebar.
__ADS_1
"Oh gitu ya...." Dovan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia memasukkan bolpoin Marsya ke dalam tasnya. Suatu hari akan ia kembalikan bolpoin itu dan ia Pastika Marsya akan menerimanya.