
Sore itu Arya menunggu Dovan di airport. Ia di tugaskan untuk menjemput Dovan yang kembali ke tanah air setelah menuntut ilmu dan tidak pulang selama empat tahun.
"Bang Arya?" seorang pria muda dengan kaca mata hitam menepuk bahu Arya.
"Mas Dovan?" Arya menoleh dan memandang Dovan dari atas sampai bawah. bahkan sekarang Dovan terlihat lebih tinggi darinya.
"Empat tahun lama juga ya mas, bang Arya sampai pangling"
"Bagaimana kabar yang di rumah bang?"
"Sehat semua mas, bapak juga sehat dan masih rajin berolah raga"
Arya meletakkan koper milik Dovan ke bagasi mobil. keduanya melaju pulang, selama di perjalanan Dovan lebih banyak terdiam mengenang masa sekolahnya yang penuh warna.
Tidak terasa mobil yang di kemudikan Arya tiba di halaman rumah pak jenderal. Dovan segera di sambut oleh bapak dan ibu sambungnya.
"Kamu menepati janji, bapak bangga sama kamu Van" mata pak Jenderal berkaca-kaca. Dovan memeluk tubuh pak jenderal yang semakin menua. hati Dovan sakit membayangkan selama ini ia tidak harmonis dengan bapaknya.
"Van..." Dovan tersenyum dan mengalami ibu sambungnya.
Dovan mengedarkan pandangannya mencari sosok penting dalam hidupnya. yaitu mbok Yem.
"Dimana mbok Yem?"
"Mbok disini mas" Mbok Yem muncul dari arah dapur. Dovan langsung berjalan menghampiri mbok Yem dan memeluknya.
"Mbok udah tua mas, tapi bapak masih mengizinkan mbok tinggal disini"
"Mbok harus Disni nggak boleh kemana-mana, mbok temani Dovan"
Air mata kebahagiaan mbok Yem terlihat di pelupuk matanya yang keriput.
__ADS_1
"Bang Dovan?" Monic berlari menuruni tangga dan berhambur ke arah Dovan.
"Apaan sih lu Mon ngaggetin aja"
"Abang kok nggak bilang kalau mau pulang?"
"Lu sekarang kuliah nggak? apa cuma main nggak penting?!"
"Kuliah dong bang Monic juga nggak mau kalah dong sama bang Dovan"
Dovan mengacak rambut Monic. Adik sambungnya itu terlihat lebih dewasa.
"Oh ya pak Dovan keluar sebentar ya?"
"Baru juga datang, mau kemana lagi Van?"
"Ketemu teman pak"
"Yasudah kalau begitu kita semua makan malam duluan"
"Bang Arya pinjam mobil dong"
"Iya mas, ini kuncinya"
Dovan bergegas pergi dengan mobil milik bapaknya. Ia menuju rumah Fajar.
Setibanya di rumah Fajar disana terlihat sepi dan rumah sederhana itu nampak lama tidak di tinggali.
"Cari siapa mas?" tanya seorang bapak yang rumahnya tepat di samping rumah Fajar.
"Cari Fajar pak"
__ADS_1
"Sudah pindah mas"
"Pindah kemana pak?"
"Kurang tahu, rumah ini sudah diambil sama pemilik aslinya jadi Fajar sama ibunya pergi nggak tahu kemana"
Dovan terdiam, ia pilu mendengar kisah sahabatnya.
Jar gue mesti nyari lu kemana? gue nggak punya nomor telpon apa lagi alamat lu yang baru.
Dovan kembali masuk kedalam mobil sambil berpikir kemana dia harus nyari Fajar.
"Kiki?...yah Kiki pasti tahu dimana Fajar"
Dovan bergegas ke rumah Kiki, setibanya disana Dovan di sambut Kiki dengan senang.
"Van selamatnya ya kamu jadi orang hebat sekarang"
"Hebat apa Ki?"
"Aku sering baca artikel tentang kamu kok"
Dovan tersenyum, menepuk bahu Kiki.
"Ki kamu tahu Fajar dimana? tadi aku ke rumahnya tapi dia udah pindah"
Raut wajah Kiki terlihat muram begitu Dovan bertanya tentang Fajar.
"Van iya benar sih Fajar sudah pindah ke daerah lampu seberang"
"Lampu seberang?" itu adalah sebuah tempat kumuh di belakang pusat perbelanjaan.
__ADS_1
"Oke makasih Ki, aku pergi dulu ya"
"Hati-hati Van"