Si Bersih & Si Jorok

Si Bersih & Si Jorok
Bab 16 Bang Arya


__ADS_3

Arya Wilaga pangkat brigadir, pengawal jenderal. Wajahnya tampan rupawan dan manis karena ia keturunan Jawa tulen.


Postur tinggi tegap dengan otot kering dan terbentuk. Wajahnya selalu serius dan jarang tersenyum tapi itu tidak menyembunyikan ketampanannya.


Sejak pertama melihat Arya di pernikahan ibu dan bapak jenderal Monic langsung jatuh hati pada sang pengawal gagah itu.


Selama ini Monic selalu mendekati Arya tapi Arya cuek dan tidak menggubris Monic. Usia mereka juga terpaut cukup jauh. Strata juga yang membuat mereka berjarak semakin jauh.


Meski hanya anak tiri bapak Jenderal tapi Monic anak kesayangan di banding Dovan.


"Bang Arya ini buat Abang" Monic menyerahkan bungkusan plastik hitam pada Arya yang sedang bertugas di ruang kerja pak jenderal.


"Maaf mbak saya sedang bertugas"


"Yah trus gimana?"


"Memang itu apa?"


"Sate kambing buat Abang"


"Maaf mbak tapi saya sedang bertugas, titip kan saja mbok Yem"


"Iya deh" Monic terlihat kecewa. Sementara Dovan tertawa geli melihat Monic berjalan lunglai ke dapur menyerahkan sate kambingnya pada mbok Yem.


"Centil sih lu, bang Arya nggak mungkin melirik anak kecil kayak lu"


"Apaan sih, minggir ah!" Monic kesal dan berjalan menuju kamarnya.


"Arya kamu boleh kembali ke paviliun saya mau istirahat" kata pak Jenderal.


"Siap!"


Arya bergegas ke dapur menemui mbok Yem dan meminta titipan dari Monic.


"Nih mbok sudah siapin di meja, mas Arya makan dulu".


Arya tersenyum melihat hidangan diatas meja kecil di dapur. Sepiring nasi dan seporsi sate. .


"Sepertinya non Monic suka sama mas Arya" kata mbok Yem sembari duduk menemani Arya makan malam.


"Nggak mungkin mbok, namanya juga gadis remaja ada-ada saja tingkahnya"

__ADS_1


"Tapi mbok bisa lihat kalau non Monic memang suka sama mas Arya"


"Mbok tolong jangan bicara begini lagi ya, saya khawatir bapak dengar"


"Memangnya kalau bapak dengar apa langsung marah Mas?"


"Ya jelas mbok nanti saya bisa kena hukuman berat. Mana ada ajudan berani menyukai anak jenderal itu namanya nggak tahu diri"


"Ya sudah mbok diam"


"Katanya lusa kamu mau mudik ke Jawa"


"Iya mbok mau jenguk orang tua sekalian ada pesta pernikahan kakak saya"


"Mbok nitip salam ya mas sama bapak ibu, mbok nggak bisa hadir, nanti siapa yang masak dan membersihkan rumah"


"Oh iya mbok nanti Arya sampaikan, terimakasih ya mbok. Arya ke paviliun dulu ya"


"Iya mas Arya"


Selesai makan Arya kembali ke paviliun di samping rumah mewah bapak jenderal. Ia beristirahat sembari membayangkan reaksi Monic yang terlihat kecewa.


***


"Monic mau apa ikut ke Jawa segala kamu itu anak gadis nanti orang bisa salah paham"


"Ma ayolah ...Monic ingin ikut jalan-jalan saja kok"


"Monic kalau mama ngasih izin bapak pasti nggak ngasih izin sayang"


"Bang Arya boleh kan Monic ikut ke Jawa?" Monic merengek sembari memegangi lengan Arya.


"Maaf mbak tidak bisa"


"Bang Arya sombong amat sih?!"


"Bukan begitu mbak tapi...."


"Ma bilang sama bapak Monic mau liburan sama bang Dovan ke Jawa ikut bang Arya"


Sialan beraninya si Monic bawa-bawa nama gue!

__ADS_1


Dovan langsung geram dan ikut nimbrung ke pembicaraan Monic dan ibu sambungnya.


"Siapa bilang aku mau ikut?!"


"Bang lu kan tadi mau ikut katanya mau liburan?" Monic mengedipkan mata pada Dovan.


Dovan menggelengkan kepalanya,


"Ayo dong bang pasti seru kalau kita liburan ke Jawa, nanti abang bisa ajak kak Mila"


"Enggak!"


Dovan langsung beranjak pergi kesekolah.


Heran apasih isi pikiran si Monic bisa-bisanya mau ikut ke Jawa.


"Hai Van" sapa Fajar keduanya bertemu di parkiran sekolah.


"Kok Lu nggak sama Marsya ma Kiki?"


"Kiki izin lagi nggak enak badan, Marsya izin lagi ke Jawa ke rumah neneknya"


"Marsya ke Jawa?"


"Iya"


"Jawa nya dimana? maksud gue di kota apa?"


"Kota B"


"Kota B?"


Itukan kotanya bang Arya, apa gue ikut aja ya kegilaan si Monic. Kali aja bisa ketemu Marsya disana.


"Kenapa?" tanya Fajar heran.


"Oh enggak kok, cuma nanya aja"


Dovan menjentikan jarinya dan meraih ponsel di saku celana sekolahnya. Ia sengaja menyingkir dari Fajar karena mau menelpon Monic.


"Halo..." suara Monic terdengar di telepon.

__ADS_1


"Gue ikut rencana lu Mon!"


__ADS_2