
Dovan berhasil menemukan Fajar dan keduanya ngobrol di warung nasi goreng langganan mereka sewaktu masih sekolah dulu.
"Terus sekarang kamu kerja dimana Jar?"
"Masih magang Van belum dapat kerjaan tetap"
"Yaudah kamu ikut ke perusahaan ku aja, itu juga kalau kamu mau"
Fajar menghentikan makan nasi gorengnya dan meletakkan piringnya di atas kursi.
"Yang bener Van? gue seneng banget terimakasih Van! gue nggak nyangka sahabat gue sekarang udah bener-bener sukses dan mandiri"
"Apaan sih lu....udah kalau kamu mau bergabung kita bisa memajukan perusahaan bersama"
"Tentu Van sebagai rasa terimakasih pasti gue bekerja dengan sungguh-sungguh buat perusahaan elu Van"
Dovan mengangguk dalam hati dia juga senang bisa kembali menemukan teman-teman sekolahnya dulu.
"Van lu udah ketemu Marsya?"
"Enggak Jar"
"Tapi lu tahu kabar Marsya sekarang? Marsya udah jadi dokter di salah satu rumah sakit Van"
"Bagus kalau begitu, pas Sama jargon kebersihannya dia"
"Hahaha! bisa aja lu Van, tapi apa gue perlu ngabarin Marsya soal kepulangan lu ini? gue masih berkomunikasi kok sama si marsya"
"Nggak usah Jar"
"Kalau Marsya lihat lu sekarang pastika kaget juga Van"
"Kenapa kaget?"
"Secara lu berubah drastis ...makin cakep Van kalau gue cewek juga gue terpesona sama lu"
"Ah sialan lu Jar bikin gue ilfil aja!"
Keduanya tertawa terbahak, penampilan Dovan memang sudah berubah karena sekarang dia seorang pengusaha dan pemimpin perusahaan. meski perusahaannya belum besar tapi Dovan optimis ia bisa membuat perusahaan nya maju pesat.
__ADS_1
Selesai makan nasi goreng Dovan bergegas pulang ke rumah pak jenderal.
Dovan bicara sama pak jendral untuk sementara mau tinggal di apartemen.
"Kenapa di apartemen? memangnya rumah ini kurang besar?"
"Bukan begitu pak, sekarang Dovan sedang sibuk-sibuknya jadi untuk menghemat waktu perjalanan pulang pergi dari kantor sepertinya Dovan memang harus mencari tempat yang lebih dekat"
"Sudahlah pak kasih Dovan tinggal di apartemen kalau memang itu alasannya, cuma sementara kan Van?" tanya ibu sambung Dovan.
"Iya Bu cuma sementara"
"Baiklah tapi kalau weekend kamu pulang kemari"
"Iya pak"
Dovan ke kamarnya membereskan beberapa keperluannya nanti. Ia sudah dapat apartemen untuk di tempatnya sementara.
"Bang..." Monic berdiri di ambang pintu kamar Dovan.
"Elu lagi...."
Monic melangkah mendekati Dovan dan membantu memasukan baju dan beberapa keperluan Dovan ke dalam koper kecil.
"Monic ikut ke apartemen bang"
"Apa lu bilang? heh Mon lu tuh anak perawan masa lu tinggal sama gue?!"
"Bukan gitu tapi Monic bisa sewa apartemen kayak bang Dovan"
"Siapa yang bayar? kuliah dulu yang bener terus cari kerja nah baru tuh pindah ke apartemen apa ke hotel suka-suka kamu deh kalau kamu udah punya uang sendiri"
Dovan tahu alasan Monic mau ikut ke apartemen biar dia makin leluasa berdekatan dengan Arya.
"Mon apartemen Abang itu nggak sama kayak bang Arya, kita beda tempat"
Monic makin terlihat suram.
"Udahlah kalau jodoh nggak kemana, lagian kok bang Arya nggak nikah-nikah sih apa dia beneran jomblo?"
__ADS_1
Bugh!
Monic melempar guling ke wajah Dovan dan kabur ke kamarnya.
"Sialan lu Mon!" teriak Dovan kesal.
"Dovan! Monic jangan berisik bapak mau istirahat!" kata ibu.
"Iya Bu maaf itu si Momon!"
🍒🍒🍒
Dovan bergegas menuju kantornya sebelum jalanan macet. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan dia tas rata-rata.
Di persimpangan jalan sebuah mobil melaju dari arah berlawanan.
Dengan cepat Dovan berusaha menguasai mobilnya. Kepalanya membentur kemudi dan terluka.
Dovan istirahat sebentar di pinggiran jalan dan memegangi keningnya yang lebam. kepalanya terasa pusing karena membentur kemudi.
Dovan pergi ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan dirinya karena kepalanya pusing.
"Tunggu sebentar ya pak, dokter akan datang" kata perawat.
Tidak berapa lama seorang dokter wanita tiba dan mendekati Dovan. Dovan tahu siapa dokter itu tapi sepertinya dokter itu tidak tahu siapa Dovan.
"Kenapa bisa terluka pak?" tanya dokter Marsya pada pasiennya yang ganteng itu.
"Terbentur kemudi dok"
"Apa terasa pusing?"
"Iya"
Dokter Marsya mengobati luka lebam di kening Dovan dan meresepkan obat untuk menghilangkan rasa pusingnya.
"Terimakasih dok" Dovan meraih jasnya dan berjalan menuju pintu keluar ruang perawatan.
"Sudah lama kembali dari luar negeri?"
__ADS_1
Langkah Dovan terhenti dan mematung sesaat. rupanya Marsya tidak pangling dan tidak lupa padanya.
Dovan sedikit menelan ludah membasahi kerongkongannya yang mendadak kering karena nervous bertemu mantan kekasihnya.