
"Apaan sih" Dovan mendorong Monic yang sedang memegangi lengannya dengan kuat. Keduanya menuju parkiran toko buku.
"Bang jangan bikin ribut di dalam dong! malu ...lagian siapa sih tuh cowok rese banget?"
Dovan hanya terdiam, ia masih kesal dengan tingkah Rizki. Berani sekali Rizki mendekati Marsya dan juga memanfaatkan kebaikan Marsya.
"Marsya siapa sih? Abang suka ma dia?"
"Jangan berisik!" Dovan membuka pintu mobil diikuti Monic yang juga cepat-cepat naik ke dalam mobil sebelum Dovan meninggalkannya di parkiran.
"Abang suka sama cewek bernama Marsya itu?"
Dovan menoleh ke arah Monic dengan geram. Monic langsung terdiam melihat kakak tirinya marah besar.
Sesampainya di rumah Dovan langsung berjalan cepat menuju kamarnya. mama dan bapak memandang keduanya dengan heran.
"Monic ..." panggil mama
"Iya ma" Monic berjalan lalu duduk di samping ibunya.
"Ada apa? kalian dari mana?"
"Dari toko buku ma, aku minta tolong bang Dovan buat ngantar nyari buku"
"Terus kenapa Dovan kelihatan marah gitu? kamu bikin ulah?"
"Ih enggak ma, tadi bang Dovan berantem di toko buku. Temannya di pukul sampai Jontor ma"
"Dovan berantem?" pak Jendral meletakkan ponsel yang sedari tadi ia mainkan.
"Iya pak"
"Masalahnya apa sampai Dovan berantem begitu?"
"Kalau tadi yang Monic lihat sih sepertinya perkara cewek"
"Cewek?" pak Jendral keheranan karena anaknya itu tertutup dan cuek. Ia tidak pernah sekalipun bertanya atau mendengar Dovan punya pacar.
__ADS_1
"Nama cewek itu Marsya, kayaknya mereka beneran rebutan cewek deh pak"
"Hmmmm begitu" gumam pak jendral.
Keesokan paginya di sekolah Rizki dengan wajah lebam di bagian bibir menemui Marsya di kelas. Marsya sedang ngobrol sama Kiki dan Fajar.
"Sya..."
"Lho Riz wajah kamu kenapa kok lebam begitu?"
"Ini kerjaan si kucel tuh"
"Maksud kamu Dovan?" tanya Marsya heran. Kiki dan Fajar langsung ikut menyimak.
"Iya siapa lagi? kemarin malam aku ketemu dia di toko buku. Ditanya baik-baik eh malah mukul orang!"
"Riz jangan ngawur nggak mungkin Dovan ke toko buku" kata Fajar memberi pembelaan pada sohib nya.
"Jar kalau Dovan sendiri emang iya nggak mungkin dia ke toko buku Samapi kiamat juga. Tapi masalahnya dia ma cewek cantik"
"Cewek mana yang mau ma dia?" kata Marsya ketus.
"Aku nggak bohong Sya ceweknya cantik, sok banget dia di depan cewek itu!"
"Kurang ajar tuh Dovan beraninya mukul kamu, benci banget aku sama dia!" Marsya terlihat sangat kesal.
"Sya apa nggak sebaiknya lu juga dengerin dari pihak Dovan. Siapa tahu Rizki ngarang" kata Fajar.
"Iya Sya mending nanti kita tanya langsung ma Dovan" tambah Kiki.
"Ogah ah nanya ma dia, ngelihatnya aja males"
Siang nya waktu jam istirahat Fajar langsung nyari Dovan di kantin. Dovan sedang duduk seorang diri makan bakso.
"Van gue cari-cari lu malah enak-enak makanan bakso"
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tuh si playboy bibirnya dower gara-gara kena bogem mentah lu ya?"
"Tu playboy ngadu ke Marsya ya?"
"Iya Van, emang ada apa sih? trus gue denger lu ke toko buku, ngapain lu kesana tumben bener?"
Dovan masih sibuk dengan makanannya. Ia meminum es teh manis dan baru menanggapi ocehan Fajar.
"Nganter seseorang"
"Lu udah punya cewek Van? kata Rizki lu sama cewek cantik! kog ada yang mau ma lu?"
"Sialan lu! dia Monic"
"Siapa tuh Monic kayaknya di kelas gue atau di kelas lu nggak ada siswi namanya Monic"
"Monic nggak sekolah disini. Dia adik tiri gue"
"Adik tiri lu? kog gue nggak lihat pas kemarin main ke rumah lu"
"Dia lagi pergi pas lu ke rumah gue"
"Oh jadi lu pergi ke toko buku nganter adik tiri lu itu?"
"Iye"
"Wah gue nggak sangka lu Abang yang Baik dan perhatian"
"Ah udah ah, ntar pulang sekolah ngadu yuk" maksud Dovan adalah adu nge game sama Fajar.
"Di rumah lu lagi"
"Iya"
"Boleh deh sekalian penasaran gue sama Monic"
Dovan geleng kepala melihat tingkah Fajar.
__ADS_1