
Stasiun kota B terlihat sesak dan ramai dengan kerumunan orang. Arya turun dari kereta sembari membawa koper milik Monic.
"Wah akhirnya kita sampai juga" kata Monic dengan wajah sumringah.
"Dari sini rumah bang Arya masih jauh ya?" tanya Dovan sembari mengedarkan pandangannya di sekitar stasiun.
"Sekitar satu jam lagi mas, ini kita nunggu di jemput saja. Oh ya tapi naik motor ya soalnya jalannya nggak bisa di lalui mobil"
"Kalau gitu Monic bonceng bang Arya aja ya?"
"Modus lu!" kata Dovan kesal.
"Oh itu mas jemputan sudah datang" Arya menghampiri tiga orang pengendara motor. Ia terlihat berbicara dengan mereka.
Jadilah Arya dan Monic berboncengan. sementara Dovan membonceng salah satu dari pengendara motor itu.
Perjalanan menuju rumah Arya sungguh seru. Pemandangan indah di suguhkan di sepanjang jalan. Sawah hijau terlihat menghampar luas. Beberapa kali melihat anak sungai yang arusnya cukup deras di kelilingi tebing.
Dovan dan Monic terlihat senang menikmati pemandangan yang tidak akan mereka dapatkan di kota besar.
"Sudah sampai" Arya menghentikan motornya di depan sebuah rumah Jawa model joglo.
"Wah rumah bang Arya bagus ya" Monic terkesima dengan tiang kayu jati penyangga rumah. Ubin yang begitu di injak tanpa alas kaki langsung terasa dingin menusuk tulang.
"Mas Dovan yuk masuk"
"Iya bang"
Arya di sambut keluarganya. karena besok akan ada pesta pernikahan jadilah rumahnya sangat ramai dengan kehadiran sanak saudara dan tetangga.
Monic dan Dovan menjadi perbincangan di kalangan ibu-ibu di dapur.
__ADS_1
"Walah kok cantik banget siapa to ini?" ibu Arya terlihat menyapa Monic.
"Saya Monic buk"
"Oh jadi ini mbak Monic sama mas Dovan anak pak Jenderal?"
"Iya buk benar" jawab Dovan.
"Mari sini masuk yuk kita makan dulu"
Dovan memeriksa ponselnya, ia melihat sosial media milik Marsya.
Marsya sudah update beberapa foto. Dovan memperlihatkannya pada Arya.
"Bang Arya tahu nggak ini lokasinya dimana?"
Arya mengamati foto Marsya di ponsel milik Dovan.
Dovan terlihat malu-malu.
"Boleh deh bang"
Arya menggelengkan kepala. Ia tahu kedua anak atasannya ikut karena memiliki niat tertentu. Dovan sudah pasti urusan cewek sementara Monic paling juga modus pingin jalan-jalan jauh dari ibu kota.
Sorenya Dovan bertemu Marsya di tempat yang tadi di perlihatkan Dovan pada Arya.
"Dovan kamu disini?" Marsya kaget melihat Dovan berada di desa itu.
"Iya Sya aku kerumah bang Arya lagi ada acara"
"Oh, sama siapa kamu kesini? orang tua?"
__ADS_1
"Sama si Monic" Marsya sedikit banyak sudah tahu soal Monic adik tiri Dovan yang cantik. Marsya tahu dari Fajar.
"Kamu sendiri kenapa disini Sya?"
"Lagi jenguk nenek,..."
"Besok pagi mau nggak jalan-jalan bareng?" tanya Dovan ragu.
"Boleh"
Marsya melihat penampilan Dovan yang lumayan lebih rapi dari biasanya.
"Memang di rumah bang Arya ada acara apa?"
"Pernikahan adik bang Arya"
"Besok kalau kamu ada waktu datang ya"
"Kok kamu yang ngundang? kan yang punya acara bang Arya"
"Nggak apa-apa lah kalau aku mewakili bang Arya ngundang kamu"
"Oke deh"
Acara pernikahan di gelar lengkap dengan adat Jawa. ramai dengan ritual dan terlihat unik bagi Dovan dan Monic. keduanya mengikuti prosesi dengan kidmat tanpa rewel. Monic nampak cantik dengan kebaya warna ping dan sanggul sederhana. wajah indonya di rias natural. sementara Dovan memakai beskap yang sama dengan Arya karena sudah di anggap keluarga sendiri.
Marsya yang melihat Dovan memakai beskap langsung terpana. Dovan terlihat gagah dan tampan berbeda dari biasanya yang kucel dan pecicilan.
Setelah acara selesai malam harinya masih ada perayaan wayang.
Dovan, Marsya dan Monic melihat pagelaran itu dengan senang meski mereka tidak paham bahasanya. sesekali Monic modus bertanya pada Arya yang duduk disampingnya tentang maksud ucapan pak dalang.
__ADS_1