
Mila memandang Dovan dari kejauhan. ia membidikan lensa kameranya dan mengambil gambar Dovan yang sedang climbing.
Van seandainya kamu tahu seberapa besar rasa suka ku ke kamu.
Senyum Mila memudar ketika melihat Marsya menghampiri Dovan dan menyerahkan sebotol air mineral.
Kenapa kamu milih dia Van?
"Makasih sayang" Dovan meraih botol minuman dari Marsya.
"Nanti pulang sekolah antar aku ke toko buku ya"
"Iya..." kata Dovan sembari membersihkan keringat di dahinya.
"Ih Van ngelap keringatnya pakai handuk bersih dong jangan pakai kaos kamu gitu! itukan kotor Van sama aja kena keringat kumannya banyak!"
"Oh iya lupa sayang nanti aku pakai handuk bersih deh"
Marsya menggelengkan kepalanya kesal lihat kejorokan Dovan.
"Maaf deh, jangan bete gitu dong"
"Oke nanti jangan lupa ya kita ke toko buku, aku masuk kelas dulu"
"Iya Marsya sayang"
Marsya memasuki kelasnya, sebelum duduk ia pastikan meja dan kursinya bersih dari kuman. Marsya sudah membersihkannya dengan tissue basah.
Kiki menggelengkan kepala melihat tingkah Marsya yang semakin hari semakin jadi.
"Sya kamu kenapa sih, kurangin kek kebersihan kamu yang berlebihan itu. lagian kamu kan udah pacaran sama Dovan tuh si raja jorok"
"Kiki apaan sih, Dovan sekarang udah bersih dan wangi juga rapi tau"
"Iya...kena tulah kan kamu akhirnya jadian sama Dovan. makanya jangan suka ngatain orang-orang jorok. untung Dovan ganteng coba kalau nggak malu kan kamu!" cecar Kiki.
"Iya sih untung Dovan aslinya ganteng ya Ki"
"Nggak cuma ganteng Sya dia juga tajir"
__ADS_1
"Iya...tau "
"Oh ya Sya kamu nggak ngerasa apa kalau Mila juga sebenarnya suka sama Dovan?"
"Hah kata siapa?"
"Ya feeling aja kayaknya Mila suka sama Dovan. dia kalau lihatin Dovan tuh kayak gimana gitu"
"Ah masa iya, perasaan kamu aja kali Ki. Udah ah"
***
Monic pulang sekolah berjalan tertatih menyeret sebelah kakinya sambil meringis menahan sakit.
"Kenapa mbak kakinya?" tanya Arya yang juga baru pulang dari mengantar pak jendral.
"Sakit barang jatuh dari motor tadi"
"Coba saya lihat mbak"
Monic duduk di sofa sementara Arya melepas sepatu Monic dan terlihat pergelangan kaki yang memerah dan berwarna ungu gelap.
"Lebih baik kita ke rumah sakit mbak"
"Ouhhhh! sakit tau!" Monic berteriak saat Arya memegang pergelangan kaki Monic.
"Sebentar mbak"
Tidak lama pak jendral dan ibu Monic ke ruang tengah melihat kaki Monic setelah mendapat laporan dari Arya.
"Monic kamu ke rumah sakit sekarang diantar Arya dan mama" kata pak jenderal.
"Iya pak" Kalau sudah pak jendral yang bicara Monic patuh saja.
Arya memapah Monic menuju mobil dan mendudukkannya perlahan di kursi belakang.
"Kemana Mon?" Dovan yang baru saja pulang sekolah melihat Monic memasuki mobil di papah Arya.
"Ke rumah sakit"
__ADS_1
"Ngapain?"
"Bang kaki gue sakit ini mau ke rumah sakit!" Monic kesal kalau harus meladeni Dovan sambil ngrasain sakit di kakinya.
"Modus lu ya?" bisik Dovan di telinga Monic.
"Dovan udah sana kamu masuk mama mau ngantar Monic dulu" kata ibu sambung Dovan.
"Iya..." Dovan memasuki rumah dan melihat mobil yang di kemudikan Arya melaju keluar gerbang.
"Mbok Yem si Momon kenapa sih?" tanya Dovan masih tidak percaya adiknya sakit.
"Habis jatuh mas dari motor kakinya keseleo"
"Trus motor nya nggak apa-apa mbok?"
"Halah mas ini becanda aja masa yang di tanyain motor"
"Hehehe habisnya kan tadi udah lihat Monicnya nggak apa-apa mbok"
"Mas makan siangnya mau di mana di meja makan apa di kamar?"
"Dovan makan di meja makan sama bapak" pak jendral muncul dan membuat mbok Yem ciut.
"Baik pak" Mbok Yem bergegas menyiapkan makan siang.
Dovan terdiam dan meletakkan tas sekolahnya di ruang tengah. Ia makan siang dengan bapaknya.
"Van kamu sudah putuskan mau kemana setelah lulus sekolah"
"Dovan mau kuliah di luar negeri pak, Dovan mau jadi pengusaha"
"Buat apa kamu jauh-jauh seperti itu sekolah lagi?! kamu lebih baik seperti bapak...."
"Pak Dovan sedang tidak ingin mendebat bapak, Dovan janji akan memberikan yang terbaik pak tolong beri Dovan kesempatan" mata Dovan memelas dan terlihat berkaca-kaca.
Pak Jendral meletakkan sendok nya dan berhenti makan. Ia terdiam dan menyadari Dovan sudah dewasa.
"Kamu keras kepala seperti ibu mu" pak Jendral beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Dovan memandang punggung bapaknya. pak jendral sudah tidak segarang dulu lagi.
Bapak sudah semakin bertambah usia, Dovan janji pak nggak akan mengecewakan bapak dan ibu.