
"Sya lagi ada film bagus di puter di bioskop, nonton yuk" ajak Rizki.
"Boleh aku juga pingin nonton udah dari kemarin tapi Kiki lagi nggak bisa"
"Yaudah sama aku aja, besok malam aku jemput ya"
"Iya deh"
"Oh ya Sya ini ada kue buat kamu, aku sengaja mampir toko kue tadi pagi"
"Wah kelihatan enak banget Riz, makasih banyak ya" Marsya menerima kotak kue kecil dari Rizki.
Dovan di kejauhan mengamati Rizki yang sedang melancarkan aksinya pada Marsya.
DOvan menyeringai menatap kotak kue itu. Sepertinya dia tahu dari mana Rizki mendapat kue itu.
"Bukannya itu kue pemberian Winona?" tanya Fajar yang juga mengamati mereka.
"Udahlah bukaan urusan kita, yuk cabut"
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Dovan masuk ke kelasnya sedang Fajar dan Marsya masuk ke kelas mereka.
Jam pelajaran di mulai Marsya terlihat senang dengan wajah cerianya ia memandang kotak kue yang sengaja di letakkan di dalam tasnya.
"Marsya ...kamu maju ke depan"
"Hah kenapa pak?"
"Sudah jangan banyak tanya kerjakan soal matematik di depan"
Marsya mendengus dan berjalan ke depan menuju papan tulis. Ia meraih sepidol hitam di atas meja pak guru. Untung Marsya bisa matematika meski nggak jago.
"Lain kali kalau sedang pelajaran kamu harus fokus" kata pak guru.
"Iya pak"
"Sana kembali duduk"
"Terimakasih pak"
Marsya kembali duduk di kursinya, ia menutup tasnya dan mengikuti pelajaran matematika sampai selesai.
Pulang sekolah Marsya diantar Rizki dengan motor Cbx nya. Para siswi berharap banget bisa di boncengin Rizki dengan motor itu. Rizki kelihatan semakin macho dan ganteng.
"Sya nanti malam jadi ya" kata Rizki setelah menurunkan Marsya didepan gerbang rumah.
"Jadi dong"
__ADS_1
"Aku jemput kamu pakai mobil ya nanti malam"
"Oke deh aku tunggu"
Sementara Dovan sampai di rumah Mbok Yem dan Monic menyambutnya di belakang pintu.
"Eh udah pulang mas" mbok Yem meraih tas ransel Dovan dan membawakannya ke kamar. Monic mengikuti langkah Dovan.
"Apaan sih?!" tanya Dovan kesal.
"Bang ada film baru di bioskop nonton yuk"
"Ogah! lu nggak punya temen sampai nonton aja ngajak gue?"
"Nggak ada bang" kata Monic jujur. Kali ini Dovan benar kasihan pada adik tirinya. Ia tahu Monic pasti nggak punya teman karena nggak ada yang mau berteman dengan anak seorang pelakor.
"Dovan menghela napas dan akhirnya mengangguk setuju. Mbok Yem tersenyum senang melihat kedekatan kakak beradik itu. Seenggaknya Dovan akur dengan Monic meski ia tidak begitu akur dengan ibu tirinya.
Malamnya jam tujuh tepat Rizki sudah berada di rumah Marsya. Seperti biasa Rizki selalu terlihat bersih, wangi dan ganteng.
Marsya juga terlihat cantik dengan dress hitam selutut dan rambut panjang terurai.
"Udah siap Sya?"
"Ayuk berangkat"
Rizki sengaja seperti menawarkan mobilnya pada Marsya. Ia membukakan pintu mobil untuk Marsya.
"Iya baru ganti kemarin aku bosan dengan mobil yang lama jadi sekolah naik motor"
"Oh gitu, hebat ya kamu nggak suka pamer" kata Marsya.
"Iya dong buat apa pamer nggak penting juga kan?"
Rizki mengemudikan mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal. Ia memarkir mobil dan bergegas menuju lantai empat bersama Marsya.
"Riz aku beli makanan dulu ya"
"Eh Sya tapi.." Rizki terlihat merogoh sakunya dan ia tahu berapa isi dompetnya saat ini. Hampir semua makanan yang di jual di bioskop kan mahal.
"Riz kamu mau apa?"
"Oh nggak usah Sya"
"Berapa mas?" tanya Rizki pada mas yang jaga outlet.
"Aku udah bayar kok Riz" kata Marsya seraya membawa minuman di gelas besar dan popcorn manis.
__ADS_1
Ada kelegaan terlihat di wajah si playboy.
"Sya coba lihat deh siapa itu?" Rizki menyeringai dan menunjuk ke arah seseorang. Disana ada Dovan dan Monic yang sedang membeli makanan.
Gila di kucel ceweknya bisa cakep banget gitu. batin Rizki.
Marsya memandang kesal ke arah Dovan dan cewek di sampingnya. Kenapa ia harus bertemu Dovan dimana-mana.
"Sapa dulu yuk Sya"
"Nggak usah males ah..."
"Ayolah" Rizki menggandeng tangan Marsya menghampiri Dovan yang sedang membayar makanan dan minumannya. Tanpa sengaja Rizki melihat uang yang di keluarkan Dovan dari dalam dompetnya.
Uangnya banyak banget, apa dia habis jual mobil bututnya?
"Van lu disini juga?"
Dovan memandang Marsya dan tak menggubris Rizki.
"Sya kamu nonton juga?" tanya Dovan pada Arsya yang terlihat cuek.
"Lu ma cewek lu ya?" tanya Rizki lagi. Kali ini mau tidak mau Marsya ikut melirik ke arah Monic yang cantik dan berwajah indo.
"Ayolah Riz ngapain sih disini?!" Marsya menarik tangan Rizki dan berjalan memasuki bioskop. Sebentar lagi film akan di mulai.
"Oh jadi itu cewek yang namanya Marsya?" Monic menyikut lengan Dovan.
"Jangan banyak omong gue pulang lagi nih!"
"Yah jangan dong bang, masuk yuk"
Sepanjang pemutaran film Marsya juga tidak bisa konsen entah kenapa ia malah kepikiran Dovan dan cewek tadi.
Mana si kucel kelihata beda lagi. Nggak kayak kalau di sekolah. Dovan tadi terlihat rapi dan bersih dengaan kemeja panjang warna navy yang di gulung lengannya. Celana jeans dan sepatu warna putih membuatnya tampil beda.
Yang bikin Marsya galau adalah wajah Dovan yang memasang ganteng seperti yang Kiki bilang.
"Sya....Sya!" Rizki membuyarkan lamunan Marsya.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Oh ngga kog, Riz pulang yuk perut ku sakit"
"Hah pulang tapi kan film nya belum selesai Sya,"
"Perutku sakit, yaudah deh kalau kamu nggak mau nganter biar aku pulang sendiri"
__ADS_1
"Tunggu Sya...."
Sial! manaa tiket di bayar mahal, belum selesai nonton minta pulang!