Si Bersih & Si Jorok

Si Bersih & Si Jorok
Bab 13 Anak Pak Jenderal


__ADS_3

Di rumah pak Jenderal tempat Dovan tinggal semua serba ketat. Sebelum makan semua masakan sudah di cicipi terlebih dahulu oleh para ajudan.


Kecuali Dovan ia lebih suka makan di kamar dan ia tidak peduli jika makanannya ada racun atau sejenisnya. Lagi pula mbok Yem tidak mungkin meracun dirinya.


"Mas Dovan" pintu kamar Dovan di ketuk seraya terdengar suara tegas dari luar kamarnya. Dovan Tahu itu bang Arya ajudan ayahnya.


"Ada apa bang?" Dovan membuka pintu sembari membawa piring makan malamnya.


"Bapak ingin bicara mas"


"Saya sedang makan"


"Maaf mas tapi bapak ingin bicara sekarang"


"Apaan sih orang lagi makan!"


"Maaf mas tolong saya cuma menjalankan tugas"


"Iyeeee!" Dovan meletakkan piringnya dan bergegas menuju ruang tengah di ikuti Arya dari belakang.


"Dovan mulai besok kamu harus makan di meja makan bersama kita. Mau itu sarapan, makan malam atau makan siang jika sedang libur di rumah. Bapak ingin kita berkumpul"


"Buat apa pak? masalah makan dimana aja di ributin"


"Dovan!" pak jenderal marah dan membentak anaknya.


"Sabar pap Dovan kan memang begitu" Ibu sambung Dovan ini memang langganan jadi kompor berbeda dengan anak perempuannya yang selalu simpati sama Dovan.


Dovan berbalik dan bersiap melangkah pergi. Tapi Arya ajudan yang kekar itu mencekal tangan Dovan terpaksa Dovan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Maaf mas bapak belum selesai bicara" kata Arya menatap Dovan.


"Mulai besok ke sekolah kamu akan di kawal Arya"


"Apa ?! nggak mau pak buat apa saya dikawal? saya buka siapa-siapa kenapa harus mendapat kawalan?"


"Kamu jangan membantah! atau kamu langsung bapak pindahkan ke sekolah militer?! kamu pilih sendiri"


"Dovan nggak mau pak, di sekolah nggak ada yang tahu Dovan anak bapak, mereka hanya tahu Dovan anak biasa seperti yang lainnya" wajah Dovan memelas.


"Lagi pula kalau bang Arya mengawal Dovan, bapak bagaimana? kalau ada yang mau mencelakai bapak siapa yang mau menjaga bapak?"


"Baiklah kalau begitu kamu tidak jadi di kawal Arya, tapi kamu harus tinggalkan mobil butut itu. ganti pakai mobil lain di garasi. Jangan seperti orang susah mobil bobrok masih di pakai juga"


"Itu mobil ibu dan Dovan nggak mau ganti mobil apapun selain mobil ibu"


Dovan melepas cekalan tangan Arya dan melirik tajam pada ajudan bapaknya itu. Jika ia harus berkelahi dengan Arya pasti Dovan kalah. tapi siapa yang peduli Dovan bisa saja nekat jika Arya ikut campur.


Pak jenderal menghela napasnya. Memikirkan anak lelaki satu-satunya yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


"Yuk pa kita istirahat di kamar" kata istri pak jenderal.


Monic melirik Arya ia sebenarnya diam-diam suka dengan ajudan tampan itu. Meski usia mereka terpaut cukup jauh.


"Bang Arya, Abang kawal Monic aja"


Arya hanya tersenyum seraya mengacak rambut Monic.


Si Monic tidak perlu pengawalan karena semua orang tahu jika Monic bukan anak kandung pak Jenderal. Yang butuh pengawalan adalah Dovan si keras kepala yang susah di atur.

__ADS_1


Tuk...tuk...


"Apaan lagi sih?!" Dovan membuka pintu kamar dengan geram. Monic berdiri di depan pintu membawa dua gelas jus jeruk.


"Ngegas deh" kata Monic sembari menyerahkan segelas jus jeruk pada Dovan.


"Ngapain kamu kesini? saya mau sendiri"


"Bentar dong bang"..


"Saya nggak mau bantu kamu buat deketin bang Arya"


"Hah Abang tau kalau Monic....." wajah Monic memerah malu-malu.


"Alah banyak tingkah, semua di rumah ini juga tahu kecuali bapak"


"Menurut Abang Monic cocok ngga sama bang Arya?"


"Jangan macam-macam, kamu bisa bikin bang Arya di pecat sama bapak"


"Kenapa?"


"Kamu tanya kenapa? mana ada ajudan yang menyukai anak jenderal? bisa habis dia"


"Tapi Monic kan bukan anak bapak"


"Iya sih tapi kaan kamu anak tirinya"


"Gitu ya..."

__ADS_1


"Iya..." Dovan tersenyum puas bisa mengerjai Monic.


__ADS_2