Si Bersih & Si Jorok

Si Bersih & Si Jorok
Bab 12 PDKT


__ADS_3

"Sya bantuin aku dong" Mila merengek pada Marsya agar di kenalkan sama Dovan.


"Milaaaa please deh! pusing dengernya!"


"Sekali aja Sya bantuin kenalan ma Dovan nanti aku nggak ganggu kamu lagi"


Marsya menghela napas kasar. Ia kesal sekaligus gusar melihat Mila tertarik sama Dovan, cowok yang paling Marsya benci selama ini.


"Van!" Marsya memanggil Dovan yang sedang melintas dengan mobil tuanya.


"Ada apa Sya?" Dovan lurus menatap Marsya Tanpa menghiraukan Mila.


"Van ada yang mau pulang bareng nih" kata Marsya sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Siapa?"


"Aku..." Mila langsung menggeser perhatian Dovan dari Marsya ke dirinya.


"Kamu anak baru ya?" Tanya Dovan kalem.


"Iya aku Mila" Mila mengulurkan tangannya.


"Aku Dovan" Dovan menyambut ukuran tangan Mila.


"Van aku boleh pulang bareng kamu? soalnya Marsya mau pergi sama Rizky"


"Oh gitu, boleh aja tapi mobil ku tua dan kotor, di dalam mungkin juga bau" Dovan melirik Marsya yang pernah mengatakan hal serupa tentang mobil tua Dovan.


"Ah nggak apa-apa kok, yuk" Mila membuka pintu mobil Dovan dan duduk dengan wajah riang. Ia tidak melihat mobil Dovan kotor atau bau, malah sebaliknya mobilnya bersih dan wangi.

__ADS_1


Sepertinya Dovan baru saja mencuci mobilnya dan memberi pewangi.


"Kamu udah lama kenal sama Marsya?"


"Udah dari kecil dia emang suka gitu sok bersih kamu maklum aja ya"


Dovan mengangguk dan tersenyum, ia pikir Mila sama aja sama Marsya ternyata mereka berbeda. Meski sama-samma cantik tapi Mila nggak belagu kayak Marsya.


"Van kamu suka ke gunung ya?"


"Iya kok kamu tahu?"


"Tadi pagi aku lihat kamu lagi climbing, keren banget pasti kamu anak gunung"


"Bisa aja, kalau kamu suka kemana?"


"Wah hebat dong, lain kali deh kita tanding bulu tangkis"


"Kamu bisa Van?"


"Ya nggak jago sih, tapi kalau buat salam perkenalan sih nggak malu-maluin juga kayaknya"


Mila terkekeh ia semakin suka dengan Dovan. Anaknya asyik dan nyambung di ajak ngobrol ini itu. Marsya aja yang berprasangka buruk terus sama Dovan.


"Udah sampai nih Mil" Dovan menghentikan mobilnya di depan rumah Mila.


"Kamu mau mampir nggak?"


"Makasih Mil, lain kali ya aku ada janji sama Fajar soalnya"

__ADS_1


"Siap deh lain kali kamu mampir ya, makasih ya Van"


"Oke Mil"


Benar dugaan Dovan kalau Mila memang anak orang kaya. Rumahnya gedongan Sam kayak Marsya. Tapi Mila versi lebih menyenangkan. Dovan tersenyum sembari mengemudikan mobilnya menuju rumah pak jendral yang nggak kalah gedong.


Sesampainya di rumah Dovan sudah di sambut Bapak dan ibu tirinya.


"Dovan bapak mau bicara"


Dovan terdiam dengan wajah muak. Ia melepas tas ranselnya dan duduk di sofa.


"Selepas sekolah menengah kami segera daftarkan diri ke militer"


"Dovan sudah bilang pak kalau nggak mau terlibat kegiatan militer apapun"


"Kamu itu anak jendral dan kamu harus meneruskan kebanggaan bapak!"


"Dovan nggak mau pak"


"Kamu ini selalu saja membantah! emang mau jadi apa kamu?!"


"Sabar pa kayak nggak tahu aja kelakuan anak lelaki papa" ibu tiri Dovan ikut memanasi. Monic dan mbok Yem menguping dari balik dinding ruang tengah.


"Kasihan ya mbok bang Dovan"


"Iya non, selalu saja di marahi bapak padahal juga nggak salah apa-apa"


Monic menghela napas dan menyandarkan wajahnya ke dinding sembari terus menguping pembicaraan di ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2