
Aku menghela nafas lelah di atas tempat tidurku, baru saja pulang dari Edensor. Hari ini adalah hari yang cukup menyenangkan. Entahlah, rasanya sedikit berbeda dari hari sebelumnya, karena ada suatu kejutan tidak terkira yang kualami.
Senyum Baekhyun.
Ya. Senyumnya ternyata begitu manis walau ia hanya tersenyum simpul. Walau ini kedua kalinya aku melihat senyum pria itu, rasanya hari ini senyumnya lebih terlihat tulus dari sebelumnya. Aigoo... kenapa aku jadi memikirkan pria itu sekarang? Dan bodohnya, sekarang aku sedang senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi siang.
Suara telepon tiba-tiba membuyarkanku. Aku merogoh tas kecilku dan mengambil handphone-ku.
"Sohyun!" panggil pria dengan suara bass-nya yang kukenal.
"Oh, Taehyung. Ada apa?" tanyaku.
"Besok ada acara festival fashion! Kau mau ikut tidak?" tanyanya padaku.
Aku mengernyitkan dahiku, "Bukankah festivalnya sudah lewat sekarang?" tanyaku. Aku sempat melihat surat kabar bahwa beberapa hari yang lalu festival mode sudah diadakan di Oxford Street.
"Ini lain tema. Jika kemarin temanya adalah Glamour in Autumn, sekarang adalah tema fashion dari barang bekas. Memang sudah umum, tapi tetap saja menarik. Dan kali ini festival di adakan di dalam ruangan. Apa kau mau? Besok kita berangkat jam satu siang. Aku akan menjemputmu."
Aku terduduk dari posisi tidurku. Aku sangat ingin pergi dan pikiran pertama yang terlintas di kepalaku adalah mengajak Baekhyun. Namun perkataan Taehyung selanjutnya membuyarkan rencanaku.
"Aku hanya membeli dua buah tiket untuk pergi nanti. Satu untukmu dan satu untukku. Harga tiketnya sedikit mahal jika aku harus mengajak Chanyeol, Baekhyun, Sehun, Lay, dan Kyungsoo," ujar Taehyung.
Aku tersenyum kecil mendengar perkataannya yang masih memikirkan kelima pria itu, "Mereka sudah pulang ke Korea minus Baekhyun."
"Hah?! Benarkah?!" seru Taehyung terkejut, "Aish! Kapan mereka pulang? Kenapa kau tidak memberitahu aku akan hal itu?!"
"Kemarin. Maafkan aku, kemarin aku pergi bersama Baekhyun ke Edensor, jadi tidak kepikiran untuk mengabarimu."
"Kau ke sana lagi hanya berdua dengan Baekhyun?" tanyanya. Ia terdengar kaget ketika bertanya seperti itu.
"Ya. Aku pergi dengannya berdua kemarin. Ada apa?"
Hening sebentar di seberang telepon.
"Aku hanya tak menyangka sosok Baekhyun ternyata sangat bertolak belakang dengan sikapnya di atas panggung. Aku begitu terkejut ketika kau ternyata dekat dengannya."
Aku tersenyum lagi. Entah mengapa perkara soal Baekhyun kini membuatku sering tersenyum.
"Ya, begitulah. Pria itu cukup temperamental," jawabku.
"Jadi, bagaimana? Apa kau mau?" ajaknya lagi.
"Baiklah, aku mau."
"Nanti kukabari jika akan menjemputmu, ya!"
Aku mematikan sambungan teleponku dan memutuskan untuk mandi lalu tidur lebih cepat.
***
Festival busana ini diadakan di gedung home shopping yang ada di London. Banyak orang-orang yang datang ke acara ini. Kebanyakan orang-orang yang datang adalah masyarakat kelas atas namun tidak sedikit masyarakat awam yang ikut menyaksikan festival ini. Usai menunjukkan tiket, Taehyung membawaku menuju ruangan besar dengan lantai catwalk berwarna merah yang menjadi pusat dari ruangan ini. Suasana sudah mulai ramai dengan orang-orang yang perlahan mengisi kursi penonton. Taehyung membawaku menuju kursi VIP di mana kursi tersebut berada paling depan.
"Kau membeli tiket VIP untukku?!" seruku terkejut ketika kami sudah duduk.
Taehyung tersenyum, "Siapa tahu kau akan lebih suka melihat penampilan dari jarak dekat. Tak apa jika untuk dua orang, aku masih bisa membeli tiketnya. Kuharap hal ini bisa jadi bahan tulisanmu."
Aku tertegun melihatnya sangat antusias dengan festival ini. Kenapa ia mau melakukan hal ini demi aku teman yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu.
"Harusnya kau tak perlu melakukan ini. Tiket ini mahal dan kuyakin itu akan menghabiskan separuh gajimu. Aku akan menggantinya nanti," ujarku. Taehyung dengan cepat menoleh padaku dan menggeleng dengan keras.
"Tidak perlu, Sohyun. Aku melakukan ini murni kemauanku. Kau temanku dan aku hanya ingin membantumu. Jadi tolong nikmati festival hari ini tanpa perlu memikirkan biaya tiket yang aku keluarkan." Ia menatapku dengan wajah serius yang membuatku akhirnya menghela nafas dan menganggukkan kepalaku.
Festival dimulai dan pembawa acara menyampaikan acara hari ini. Tak lama kemudian, fashion show yang sebenarnya di mulai. Dari model wanita hingga pria memamerkan busana unik yang didaur ulang dari sampah dan menghasilkan karya yang sangat menarik! Semua pakaian tersebut bernilai sangat mahal dan sebanding dengan pakaian mewah yang dibuat dengan bahan terbaik. Aku banyak mengambil foto untuk jadi bahan ceritaku.
Usai acara tersebut, Taehyung mengajakku berkeliling gedung yang kembali memajang pakaian-pakaian untuk dijual dengan harga lebih murah dari biasanya. Ia menjelaskan padaku semua pakaian pada ruangan besar ini terbuat dari kualitas barang terbaik. Selain itu, ada juga yang berasal dari Korea. Mode fashion di Korea juga tak kalah menarik dengan fashion di sini.
"Taehyung!" panggil seorang pria dari jauh ketika kami sedang melihat-lihat pakaian yang dipajang. Kami berdua menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok yang tidak asing bagiku.
"Oh, Seokjin! Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini!" ujar Taehyung menyalami pria berwajah campuran kaukasia dan asia itu. Seokjin tersenyum kemudian ia menoleh padaku.
"Ah, Sohyun. Kau datang juga ke sini bersama dengannya. Sudahkah Taehyung mengenalkan produk pakaian dari Korea?" tanyanya tersenyum.
Aku menganggukkan kepalaku, "Ya. Baru saja ia mengajakku melihat-lihat. Terlihat mewah dan pantas bersanding dengan mode lainnya."
Seokjin mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian beralih kepada Taehyung, "Apakah kau tidak memberi hadiah kepada Sohyun dengan pakaian mewah itu? Ayolah, Tuan Muda Kim! Kau harus bisa bersikap seperti seorang pria dengan seorang gadis!"
Tuan Muda Kim?
Aku menatap Taehyung yang kini berwajah masam dan terlihat kesal sembari menatap Seokjin.
"Yak! Kenapa kau memanggilku seperti itu?!" kata Taehyung kesal.
Seokjin tertawa dan kini ia kembali menatapku. Ia menutup mulutnya dan melirik Taehyung lagi.
__ADS_1
"Ia belum tahu siapa dirimu?" tanya Seokjin.
"Ayolah, ada apa ini? Kenapa kalian membicarakan hal yang tidak aku mengerti? Tuan Muda Kim? Apa maksudnya itu, Taehyung?" tanyaku pada akhirnya karena terlalu penasaran dengan apa yang mereka katakan.
"Biar aku yang jelaskan," ujar Seokjin tersenyum lagi, "Kim Taehyung adalah putra pewaris Kim Group, pemilik home shopping terkenal di Korea. Pakaian dari Korea yang ada di sini merupakan kirimannya yang juga ikut berkontribusi dalam festival."
Aku membelalakan mataku sembari kembali menatap Taehyung yang kini tampak pasrah dan ia menghela nafas. Ia putra pewaris home shopping terkenal di Korea?!
"Benarkah?!" seruku.
"Ah... itu--"
"Wah, kau salah satu gadis beruntung yang bisa dekat dengan Taehyung. Padahal sudah banyak gadis yang berusaha menjadi kekasihnya," kata Seokjin lagi sambil sedikit tertawa.
"Yak! Bisakah kau berhenti membahas hal tidak penting seperti itu, Seokjin? Kau ini benar-benar..."
"Tapi itu kenyataannya, Taehyung. Ya sudah, aku harus mengurus beberapa hal lagi di sana. Aku permisi!" kata Seokjin mengakhiri pembicaraannya. Ia melirik padaku sekilas sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan kami.
"Aku minta maaf atas temanku tadi. Dia itu suka asal bicara," ujar Taehyung menghela nafas.
"Ya. Cukup terkejut karena kau ternyata seorang chaebol. Kau tidak menceritakannya padaku," jawabku. Wajah Taehyung berubah menjadi benar-benar cemberut sekarang.
"Hei, aku tidak berniat memberitahu hal itu padamu karena menurutku itu tidak penting," ujar Taehyung.
"Ya sudah. Aku tidak mempermasalahkan kau berasal dari mana. Yang jelas sekarang kau temani aku berkeliling lagi," ujarku tersenyum lalu berjalan mendahuluinya untuk melihat-lihat lagi.
Ketika berjalan menuju salah satu tempat pakaian, atensiku teralihkan pada pajangan syal yang ada di sana. Berbagai macam warna dan bahan ada di sana dan aku tertarik untuk melihatnya.
"Wah, syal ini lembut sekali!" seruku takjub seraya memegang bahan syal berwarna soft cream.
"Ya. Syal ini terbuat dari kain wol terbaik. Hangat dan lembut serta tidak mudah rusak ketika dicuci," jelas Taehyung. Aku manggut-manggut dan melirik harga syal itu. Ketika melihatnya, reflek aku melepaskannya.
"Kenapa?" tanya Taehyung kaget dengan sikapku.
Aku meringis, "Harganya mahal sekali!"
Pria itu terkekeh kecil karena sikapku.
"Kau ingin itu?" tanya Taehyung.
"Yah... aku ingin memberikan syal ini sebagai hadiah," ujarku.
"Biar aku yang belikan," kata Taehyung yang dengan cepat kutolak.
"Kain dengan bahan terbaik tidak akan datang dua kali di sini, Sohyun. Kurasa aku perlu memberikanmu dua. Satu sebagai hadiah, dan satu untukmu."
Sebelum aku mulai membantah lagi, Taehyung memanggil pelayan dan berbicara padanya untuk mengambil dua syal berwarna cream yang aku pegang sebelumnya dan berwarna putih. Ia tidak memberiku celah untuk berbicara karena dengan cepat ia mengeluarkan kartu kredit. Tapi yang membuat mataku terbelalak adalah, kartu tersebut bukan kartu biasa. That is unlimited card! Dan hanya konglomerat yang memiliki itu!
Tampangku bisa kalian katakan konyol karena melihat kartu itu.
"Ini, ambillah." Taehyung menyodorkan dua tas kertas berwarna hitam itu padaku.
"Taehyung, biarkan aku membayarmu untuk syal berwarna cream ini. Aku mohon. Ini hadiah untuk orang lain dan biarkan aku menggunakan uangku. Syal putih untukku, terserah padamu," ujarku memohon.
Taehyung berpikir sebentar lalu akhirnya ia menghela nafas.
"Baiklah. Syal cream itu kau yang bayar, dan yang putih ini aku yang bayar."
"Terima kasih banyak, Taehyung. Aku janji akan membalasnya!" jawabku tersenyum sembari menundukkan kepalaku sedikit.
Taehyung tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Tidak usah seperti itu, Sohyun. Baiklah. Ayo kita makan. Waktu sudah malam sekarang," ujar Taehyung. Ia meraih tanganku dan mengajakku ke sebuah restaurant yang tidak jauh dari gedung home shopping. Usai makan, Taehyung mengantarkanku pulang. Kali ini, ia membawa mobil.
"Terima kasih sudah mengantarkanku pulang," ujarku ketika sampai di depan rumah.
"Sama-sama. Kalau begitu, aku permisi dulu. Terima kasih karena sudah menemaniku hari ini," kata Taehyung.
"Aku yang harusnya berterima kasih, Tuan Muda Kim," kataku sembari tersenyum, kontras dengan wajah Taehyung yang kini ditekuk.
"Jangan panggil aku seperti itu," jawabnya kesal yang membuatku terkekeh.
"Baiklah, maafkan aku! Kalau begitu hati-hati."
Ia pun melambaikan tangannya dari dalam mobil dan melaju meninggalkan perumahan. Aku menatap tas hitam dengan syal berwarna cream. Syal ini ingin kuberikan pada Baekhyun. Syal hitamnya menurutku terlihat aneh untuknya. Aku mengetuk pintu rumah Baekhyun dan menekan belnya namun tak kunjung ada jawaban. Aku memperhatikan mobilnya yang ia parkir, dan sepatunya yang masih ada di depan rumahnya.
Tiba-tiba panik menyerangku. Aku takut terjadi apa-apa padanya seperti beberapa hari lalu. Apakah Baekhyun merasa tertekan lagi hari ini?! Harusnya ia merasa lebih baik mengingat sikapnya kemarin! Aku kembali menekan bel dan mengetuk pintu, berharap Baekhyun segera membuka pintunya.
Tiga menit.
Lima menit.
Aku berusaha membuka pintunya dan terbuka! Ia lagi-lagi tidak mengunci pintunya.
__ADS_1
Jika ada pencuri yang masuk bagaimana?!
"Baekhyun!" panggilku ketika masuk ke rumahnya. Hening. Tidak ada orang. Aku berlari menuju kamarnya yang tertutup. Baekhyun ada di dalam dan ia mengunci pintunya.
"Baek! Buka pintunya, ini aku, Sohyun!" panggilku seraya mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban.
"Oh, sial!" umpatku lalu berlari ke lantai bawah dan mengambil kunci cadangan yang ada di laci dapur. Chanyeol sempat memberitahuku soal kunci cadangan yang dibuat.
Dengan cepat aku membuka pintu dan netraku mendapati Baekhyun yang tengah mabuk dan meminum alkohol.
"Baek! Kau mabuk-mabukkan lagi?!" seruku terkejut melihat keadaan kamarnya yang berantakan dengan botol alkohol serta bir berserakan. Aku bersimpuh di dekatnya yang duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidur.
Baekhyun menoleh padaku dengan wajah memerah.
"Oh, ada Sohyun. Sedang apa kau di sini? Ingin menghakimi aku juga, huh?" ujarnya dengan keadaan mabuk.
Aku mengernyitkan dahiku mendengar apa yang ia katakan.
"Mereka semua hanya menghakimi aku yang lari dari hukum. Kasus itu sendiri juga sudah ditutup dan semua ini karena Tuan Jung!" katanya lagi.
Aku melihat handphone yang ada di dekat Baekhyun dan meraihnya. Ia sedang melihat berita dan komentar netizen yang berbicara dengan sangat kasar dan menyakitkan. Aku menghela nafas dan melihat Baekhyun.
"Baek, kau tidak perlu peduli dengan perkataan mereka jika kau memang tidak bersalah," ujarku mencoba menenangkannya dengan memegang pundaknya. Namun dengan cepat Baekhyun menepis tanganku, membuat aku tertegun.
"Kau baik padaku karena kau kasihan padaku, kan? Kau juga pasti sama seperti mereka jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku! Semua orang membenciku!"
Aku terkejut dan sedikit terpukul. Sungguh! Kenapa Baekhyun bisa berpikir demikian?
"Aku tidak akan menghakimimu, Baek," jawabku berusaha tenang.
"Kau akan melakukan itu, Sohyun!" bentaknya. Matanya memerah dan rahangnya mengeras, "Kau pasti akan membenci diriku. Kau baik padaku karena permintaan Lay, benar bukan?!"
Aku terdiam.
Semua yang Baekhyun katakan benar.
Semua yang aku lakukan selama ini hanya menepati janjiku pada Lay. Namun kenapa hati kecilku berusaha memberontak?
Ingin aku katakan bahwa itu tidak benar.
"See... kau mengakuinya." Baekhyun menatapku seraya tersenyum sinis. Kurasa ia setengah tersadar dari mabuknya.
"Baek, aku--"
"Berhentilah pura-pura peduli padaku! Untuk apa selama ini kau berusaha menyembuhkan rasa traumaku jika akhirnya kau--"
Plak!
Sebuah tamparan kulayangkan kepada wajah mulus Baekhyun, membuat pria itu sadar dari mabuknya dan ia menatapku dengan kilatan marah.
"Hentikan perkataanmu yang melantur! Kau mabuk, Baek!" kataku marah. Air mataku menggenang sekarang. Sedetik kemudian aku sedikit merasa bersalah karena menamparnya.
Baekhyun mendengus, "Aku tidak mabuk ketika mengatakannya, Sohyun. Aku mengatakan yang sesungguhnya dengan penuh kesadaran. Bukankah begitu? Aku tahu ini dari Lay. Ia memberitahu semuanya!"
Aku terperanjat. Benarkah apa yang ia katakan?
"Jika Lay tidak keceplosan saat bicara padaku, aku mungkin takkan tahu hal lain di balik sikap baikmu padaku, Sohyun. Aku membencimu!"
Hatiku rasanya sakit mendengar hal itu. Ibarat luka yang ditabur garam, perih.Air mataku terbendung lebih banyak lagi di pelupuk mataku.
"Jadi lebih baik jangan pernah ganggu hidupku lagi!"
"Baik!"
Aku meledak. Suatu emosi yang tidak bisa kubendung lagi akhirnya meledak. Dengan sialnya, setitik air mata meluncur dari mataku.
"Baik, Byun Baekhyun. Benar! Aku melakukan ini karena Lay memohon padaku. Awalnya aku tak peduli padamu. Benar katamu jika aku tahu apa yang terjadi padamu, aku takkan mau dekat denganmu. Apa kau tahu kalau Lay menceritakan masa lalumu padaku? Apa pria itu keceplosan juga soal itu?!"
Wajah Baekhyun pias. Ia terkejut. Kurasa ia tidak tahu poin itu.
"Ya! Lay cerita padaku soal masa lalumu! Aku tahu semuanya! Tapi apa? Aku masih sampai sekarang peduli padamu! Aku mau berteman denganmu dan aku ingin bisa membantumu sembuh dari trauma berat yang kau alami!" kataku sambil menahan tangis yang sialnya lebih kuat dari tekadku untuk menahannya.
"Aku peduli padamu, Baekhyun! Kau temanku! Tapi kau berkata seperti itu tanpa bertanya baik-baik padaku. Sebenarnya di sini siapa yang menghakimi lebih dulu, hah? Jawab aku!"
Baekhyun diam. Wajahnya kini menampakan perasaan bersalah yang amat sangat. Namun semua itu kini tak berarti lagi bagiku.
"Baiklah jika kau membenciku. Aku takkan peduli lagi padamu. Besok aku akan kembali ke Canada. Jadwalnya aku percepat seminggu agar tidak mengganggu hidupmu lagi. Selamat malam, Tuan Byun. Aku permisi."
Aku melempar tas hitam yang kubawa tadi ke lantai kamarnya dan berlari keluar dari sana.
***
__ADS_1