SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 31 [Baekhyun's Eyes 9]


__ADS_3

"Kasus korupsi? Kau yakin itu, Lay?"


Pria itu menganggukkan kepalanya, "Kau tahu? Berita itu pernah muncul di media sosial. Namun entah mengapa menghilang begitu saja."


Baekhyun berpikir keras berusaha mengingat apa yang dikatakan Lay. Ah, benar juga. Saat itu Baekhyun baru saja debut. Namun karena Baekhyun terlalu fokus pada karir debutnya, ia tidak terlalu memperhatikan perkembangan berita tersebut.


"Dengan kembali beredarnya berita tentang korupsi itu, aku yakin Hangeum tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dengan begitu, kau dan Sohyun aman." Lay menyandarkan tubuhnya di kursi. Saat ini mereka berdua bertemu di salah satu kafe di daerah Gangnam. Baekhyun seperti biasa, mengenakan pakaian tertutup dengan topi dan masker yang melindungi wajahnya. Sedangkan Lay, tampak biasa saja namun tampan dengan kemeja dan celana jeans itu. Tidak akan ada yang menyangka jika Lay adalah seorang psikiater.


"Aku yakin kau akan segera menyelidiki kasus itu, Baek. Tapi kuharap kau berhati-hati. Kurasa Hangeum memiliki koneksi yang banyak. Jika kau salah langkah sedikit saja, karirmu dan Sohyun akan terancam juga."


Baekhyun menganggukkan kepalanya dan ia bertekad. Ia akan melakukan apapun jika itu bisa melindungi Sohyun.


Sebenarnya, cara satu-satunya untuk melindungi gadis itu adalah menjauhinya. Namun Lay berkata seharusnya Baekhyun berusaha untuk mengejar gadis itu dan mencari cara bagaimana caranya mereka bisa bersama. Dan sekarang, Lay juga dikejutkan dengan kabar bahwa Sohyun pacaran dengan Taehyung.


"Kau ini mencintai Sohyun, bukan? Kenapa kau pasrah sekali ketika Sohyun jadi milik orang lain?!" ujar Lay menatap Baekhyun dengan kesal, tidak habis pikir dengan temannya satu ini. Jika Lay adalah Baekhyun, ia akan melakukan segala cara agar Taehyung tidak mendekati Sohyun semeter pun!


"Kurasa dengan bersama Taehyung, gadis itu akan aman jika aku melakukan pemberontakan. Benar kata Sehun, aku tidak bisa jadi robot pria itu terus," ujar Baekhyun.


"Aish, kau ini menyebalkan," ujar Lay. Tak lama kemudian, pria itu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas jinjing yang dibawa olehnya.


"Ini suplemen untukmu. Kudengar kau akan melakukan pemotretan di Pulau Jeju."


Baekhyun tersenyum dan menerima kotak itu, "Terima kasih, Lay."


***


Perjalanan ke Pulau Jeju cukup membosankan bagi Baekhyun. Ditambah lagi dengan adanya Yuri yang ikut berangkat bersama ke sana. Yah, sekali lagi, mereka di minta menjadi model dalam sebuah iklan pariwisata Korea.


Sejak kejadian beberapa hari lalu, Yuri jadi tidak banyak bicara dengan Baekhyun. Gadis itu lebih sedikit menghindari pria itu. Tapi sesekali Baekhyun menangkap basah Yuri sedang menatap dirinya.


"Pemotretan akan berlangsung besok pagi. Kalian bisa istirahat dan bersantai malam ini," ujar produser pemotretan. Seluruh tim pun bubar malam itu untuk istirahat di penginapan yang seperti perumahan. Perumahan tersebut bertingkat karena dibangun di atas bukit. Pemandangannya tidak main-main walau malam hari. Bintang-bintang bersinar cukup terang, dan angin berhembus cukup kencang.


Baekhyun memutuskan untuk berjalan-jalan, berniat mengurangi rasa stresnya.


Ah, apa kabar Sohyun hari ini? Baekhyun merindukannya. Angin malam dan suhu musim gugur memang bukan perpaduan yang baik. Sangat dingin dan Baekhyun yakin, tanpa suplemen dan vitamin yang diberikan Lay, besok ia pasti masuk angin.


Ia hanya ingin menenangkan pikiran saja. Biarkan angin malam yang dingin ini menusuk tulangnya hingga ia melupakan sejenak akan Sohyun karena ia menyerah.


Ah,...


Lebih tepatnya, berusaha menyerah.


Baekhyun masih mencintai Sohyun.


Tidak mudah baginya menyerah begitu saja.


Pria itu berjalan menaiki bukit dan ketika hendak sampai ke atas, ia melihat siluet seorang gadis. Walau gelap dengan sinar remang-remang dari lampu jalan, ia bisa mengenali punggung itu.


Jantung Baekhyun berdetak kencang, darahnya berdesir, dan tubuhnya kaku mendadak. Ia harap apa yang ia lihat benar adanya.


Jika benar itu Sohyun, Baekhyun bertekad mengurungkan niatnya untuk menyerah.


Jika kali ini ia kembali bertemu dengan gadis itu, ia akan meyakini bahwa semesta memang menciptakan Sohyun untuknya, dan Baekhyun tidak akan menghindar lagi.


Cukup lama Baekhyun terdiam, menantikan momen si gadis berbalik. Tepat setelah lima belas menit menunggu, gadis itu bergerak dan berbalik. Wajahnya tampak terkejut dengan mata membesar dan tatapan mata yang tajam. Begitu pula dengan Baekhyun. Ingin rasanya pria itu menarik gadis itu dan memeluknya.


Yah, inilah jawaban semesta.


"Hai."


Gadis itu terlihat gagu hendak mengucapkan sesuatu.


"Byun Baekhyun,..."


Hening mendera beberapa detik kemudian.


"Pe-permisi!" seru Sohyun lalu dengan cepat berlari menuruni bukit, meninggalkan Baekhyun yang terkejut karena gadis itu berlari cepat sekali. Sedikit kecewa karena reaksi Sohyun yang menghindar ketika bertemu dengannya.


Namun perlahan Baekhyun tersenyum simpul. Ini kesempatan terakhirnya jika ia ingin meraih Sohyun kembali.


***


"Sebentar lagi akan pemotretan. Siapkan diri kalian!" ujar PD. Semua kru tim menjawab kompak. Sementara Baekhyun dan Yuri sedang di make up sekarang.


"Sebentar lagi Ketua Lee akan kemari, Baek," ujar Sangjin. Baekhyun hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan manajernya.


"Terima kasih informasinya, Manajer Yoo!" jawab Yuri yang duduk di sebelah Baekhyun. Gadis itu tersenyum manis pada Sangjin. Pria berkaca mata itu hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Baekhyun kembali diam sembari memainkan handphone-nya.


"Cuaca hari ini dingin sekali ya, Baek! Untung saja kita mengenakan mantel untuk pemotretan kali ini," ujar Yuri membuka percakapan. Baekhyun hanya melirik gadis itu, lalu kembali pada aktivitasnya.


Bisa Baekhyun ketahui gadis itu kini tengah menggigit bibirnya, entah gadis itu kesal atau gemas, Baekhyun juga tidak terlalu mau tahu.


"Kalian akan terlihat serasi nanti, Yuri," komentar penata rias Park sembari tersenyum. Yuri ikut tersenyum mendengar pujian itu lalu mengucapkan terima kasih. Sementara Baekhyun sama sekali tidak peduli.


Penata rias Baekhyun, Somin, baru saja selesai mengoleskan bedak pada Baekhyun.


"Wah, hari ini pengunjungnya cukup ramai ya," komentar Somin, membuat Baekhyun mengangkat kepalanya melihat sekeliling. Namun pandangan Baekhyun terkunci kala ia melihat seseorang. Detik berikutnya, Baekhyun bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju sosok itu.


"Hei, Baekhyun! Kau mau kemana? Pemotretan sebentar lagi di mulai!" seru Somin melihat artisnya pergi begitu saja begitu ia selesai mengoleskan make up terakhir.


Baekhyun tidak peduli dengan suara panggilan penata rias dan Yuri di belakang. Selama belum ada manajer dan ketua agensi, Baekhyun harus mengejar Sohyun dan menyelesaikan urusannya.


Baekhyun cukup terkejut ketika melihat Sohyun bersama seorang pria, dan pria itu kini merangkul gadisnya lalu pergi dari sana. Dengan cepat Baekhyun berusaha mengejar mereka. Sialnya, entah mengapa Sohyun dan pria itu cepat sekali!


"Kim Sohyun, berhenti!" seru Baekhyun sembari mengatur nafasnya yang tersengal karena berlari.


Bagus.


Sohyun dan pria itu berhenti!


Dilihatnya kini Sohyun membalikkan tubuhnya dan menatap Baekhyun dengan tatapan kesal. Ah, Baekhyun tidak suka itu.


"Kita perlu bicara,"


"Baiklah, bicara saja sekarang,"


Baekhyun mendengus, lalu menatap pria di sebelah Sohyun, "Hanya kau dan aku, tanpa pria itu."


"Baiklah, baiklah. Aku pergi. Aku beri kau waktu lima menit untuk bicara dengan Sohyun-ku!"


Sohyun-ku katanya?!


Baekhyun kembali mendengus dan sekarang ia kesal. Ia berjalan mendekat ke arah Sohyun dengan tatapan mengintrogasi.


"Siapa pria itu?" tanya Baekhyun.


"Ada apa? Kau tidak perlu menanyakan siapa pria itu. Langsung saja ke intinya saja ada apa kau ingin bicara denganku?" tanya Sohyun.


"Aku perlu tahu siapa pria itu dan kenapa kalian bisa berduaan di sini! Waktu itu kau bersama Taehyung, dan sekarang siapa pria itu?!"


"Heol, kenapa kau jadi marah seperti ini, eoh?" tanya Sohyun yang juga tidak habis pikir dengan tingkah Baekhyun sekarang.


"Bagaimana aku tidak marah?! Kau sudah punya kekasih tapi kau malah berjalan dengan pria lain di sini. Bagaimana jika–"


Baekhyun menghentikan ucapannya. Ia hampir saja keceplosan.


"Jika apa?" tanya Sohyun penasaran dengan ucapan Baekhyun.


Bagaimana jika aku yang jadi kekasihmu, Sohyun? Apakah kau akan jalan dengan pria lain juga seperti ini?


Ingin rasanya Baekhyun berkata demikian. Namun mulutnya berkata lain.


"Lupakan."


"Dia sepupuku. Ia mengajakku liburan ke sini," jawab Sohyun.


Baekhyun menggertakkan giginya.


Bagus, sekarang ia cemburu pada sepupu gadis ini. Ah, melihat Sohyun bersama pria lain membuat Baekhyun gila!


"Putuskan hubunganmu dengan Taehyung."


Yup, Baekhyun puas bisa berkata demikian. Baekhyun puas pada akhirnya setelah melewati beberapa perdebatan, Baekhyun bisa mengungkapkan isi hatinya.


Harusnya ini dilakukan dengan cara yang romantic. Namun jika begini keadaannya, mau bagaimana lagi?


Baekhyun memiliki alasan kenapa ia harus berpacaran dengan Yuri. Sulit sekali rasanya melihat air mata Sohyun yang menggenang kembali.


"Apakah kau juga menyukaiku, Sohyun?" tanya Baekhyun. Ingin sekali Baekhyun mendengar kata 'iya' dari bibir Sohyun. Namun belum saja Sohyun membuka bibirnya, sebuah suara memanggil Baekhyun dari kejauhan.


"Kuharap jawabannya adalah iya," ujar Baekhyun sembari mengusap kepala Sohyun, "Aku mencintaimu."


***

__ADS_1


Bagaimana rasanya digantung?


Tentu saja tidak enak bukan.


Begitu juga dengan Baekhyun. Ia merasa kesal digantung seperti ini. Dan semua ini karena gadis bernama Yuri, yang mengacaukan momen terpenting yang ingin Baekhyun ketahui. Namun gangguan tersebut sebenarnya membantu Baekhyun. Benar saja, Lee Hangeum mencari mereka berdua. Dan yang Baekhyun dengar dari Somin, Yuri mengulur waktu cukup lama ketika Baekhyun menghilang mencari Sohyun.


Pria itu tidak tahu harus berterima kasih, atau kesal dengan Yuri.


"Hei, jangan pasang wajah kesal seperti itu. Maaf jika aku mengganggu kencanmu," sindir Yuri ketika mereka selesai pemotretan.


Baekhyun mendengus. Ia merasa aneh dengan Yuri. Kemarin-kemarin gadis itu mengejarnya mati-matian. Sekarang ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Setidaknya berterima kasihlah," ujar Yuri lagi.


Baekhyun akhirnya menatap Yuri. Gadis itu cukup terkejut karena Baekhyun menatapnya lagi seperti biasa.


"Terima kasih," ujar Baekhyun datar.


Yuri tersenyum, "Bagaimana jika ucapan terima kasihmu diganti dengan menemaniku jalan-jalan malam ini? Ini hari terakhir kita di Pulau Jeju."


Baekhyun ingin menolak. Namun ia tahu Yuri memiliki rencana lain jika Baekhyun tidak menurutinya. Gadis ini ternyata lebih menyebalkan dari yang Baekhyun kira.


"Jika kau tidak menemaniku, mudah saja. Aku akan menceritakan apa yang terjadi tadi pada Ketua Lee."


Benar saja.


Baekhyun tersenyum sinis. Akhirnya, dengan satu tarikan nafas, Baekhyun menyanggupi ajakan itu.


Yuri dan Baekhyun kini berjalan berdua dari penginapan pedesaan yang ada di perbukitan, menuju pantai–seperti yang Yuri inginkan. Baekhyun hanya diam sembari berjalan, sementara Yuri banyak bicara. Menceritakan keadaan ayahnya yang berangsur membaik, dan segala macamnya yang tidak ingin Baekhyun dengar. Ia hanya ingin mendengar suara Sohyun, atau paling tidak mendengar suara ombak dan angin malam ini.


"Baek! Kenapa kau diam saja, huh? Apakah yang kuceritakan tidak menarik?" tanya Yuri sembari menghentikan langkahnya. Gadis itu melirik Baekhyun dengan kesal.


"Aku hanya menemanimu. Tidak perlu menanggapi apa yang kau bicarakan, bukan?" ujar Baekhyun.


"Tapi setidaknya hargai apa yang aku bicarakan. Aku hanya ingin mengobrol denganmu, Baekhyun,"


Baekhyun tersenyum sinis, "Seharusnya kau yang menghargai aku karena aku sudah mencintai orang lain. Bisakah kau berhenti mendekatiku?"


"Aku tahu ini salah, tapi aku menyukaimu."


"Kenapa?"


Yuri menutup matanya sejenak, lalu menatap Baekhyun kembali, "Baek, kita sudah dua minggu berkencan! Apakah mungkin aku tidak jatuh padamu sekarang?!"


"Dan lagi, kau orang yang mengerti keadaanku. Kau orang yang selalu memberikanku semangat setiap harinya. Apakah salah jika aku menyukaimu?!


"Aku tidak suka kau memperlakukan Sohyun seperti tadi siang. Kau hanya boleh memperlakukan aku seperti itu!"


"Berhentilah bertingkah bodoh, Yuri." Baekhyun pun hendak berjalan kembali meninggalkan Yuri. Namun detik berikutnya, Yuri menarik tangan Baekhyun dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun.


Pria itu tidak bodoh dengan apa yang hendak Yuri lakukan. Tepat sebelum bibir itu menyentuh bibirnya, Baekhyun mendorong tubuh Yuri dengan memegang kedua pundak gadis itu.


Yuri terperanjat, antara terkejut dan malu.


"Aku sudah mencium gadis lain."


Yuri menatap Baekhyun marah. Sungguh gadis itu terlihat menyeramkan.


"Jangan bilang kau mencium Sohyun!" seru Yuri.


Baekhyun melepaskan tangannya dari pundak Yuri, dan ia tersenyum sinis.


"Sayangnya memang iya. Aku sudah mencium gadis itu."


Baekhyun berjalan meninggalkan Yuri yang kini kembali menangis. Pria itu tidak mau peduli lagi. Karena malam ini, ia mendengar sesuatu yang menarik dari salah satu rumah penginapan.


"Aku akan melakukan investasi untuk pembangunan perusahaan itu, Tuan Oh. Kau sudah pasti tahu uang itu aku dapat dari mana. Anak-anak itu terlalu mudah untuk aku tipu. Mereka sangat bodoh. Melakukan latihan bertahun-tahun sebelum debut?! Aish, itu hal konyol yang pernah kudengar.


"Mengapa mereka rela menyusahkan dirinya demi menjadi idol? Padahal aku tidak menjanjikan itu. Jika mereka berhasil debut pun, gaji mereka takkan seberapa.


"Baekhyun? Ah, hanya dia dan Yuri yang aku andalkan sekarang,... mereka hanya alatku. Tak lama lagi pembiayaan itu akan aku cabut, dan Yuri harus bekerja lebih keras."


Baekhyun mengepalkan tangannya. Sebelah tangannya mematikan rekaman suara yang ia dapatkan dengan handphone-nya.


"Sebentar lagi kau akan hancur, Lee Hangeum."


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2