
Musim panas kali ini benar-benar mempesona. Sinar matahari tampak terang menyinari pepohonan. Gedung-gedung tampak lebih berkilat. Jika kau melihat kilatan itu, matamu akan langsung menyipit dan rasanya akan panas sekali. Suhu di sini bisa mencapai empat puluh derajat celcius! Cukup panas sekali!
Namun di saat inilah, liburan sebenarnya di mulai. Banyak orang-orang pergi ke pantai untuk sekedar menghitamkan kulit mereka. Bagi mereka, kulit hitam itu nampak seksi.
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun berlalu, aku kembali menginjakkan kakiku ke London kembali. Helena mengajakku menginap di rumahnya kali ini, masih sama alamatnya, yaitu Perumahan Stainford.
"I'm miss you so much, Sarah!" ujar Helena memelukku kala aku sampai di bandara internasional, "Bagaimana perjalananmu kemarin dari Swiss?"
Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum riang, "Sungguh menyenangkan! Aku bisa menulis bukuku lagi."
Kami pun berjalan beriringan menuju mobil Helena.
"Bukumu belum kelar juga selama dua tahun ini?" ujar gadis itu. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Helena menghela nafas. Ada guratan ragu di wajahnya.
"What's wrong?" tanyaku.
Helena tampak terkejut dan ia menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak apa-apa. Ayo kita ke rumahku, lalu kita jalan-jalan sesuai dengan destinasi yang kau inginkan itu."
Ada banyak yang berubah ketika aku memasuki perumahan itu. Beberapa bangunan sudah dibenahi dan dipugari agar lebih terlihat menarik dan modern. Tidak ada lagi kesan angker ketika pertama kali waktu itu aku menjejakan kaki di sini. Aku tersenyum kembali mengingat kenangan itu.
Kami akhirnya sampai di depan rumah Helena. Masih sama bentuknya, hanya saja cat rumahnya sudah diganti.
"Welcome back to Stainford, Sarah!" ujar Helena sembari membuka pagar dan pintu rumahnya. Sembari menunggunya, aku hanya tertawa mendengar ia berkata demikian. Aku pun mengedarkan pandanganku, mencari rumah lamaku waktu itu. Aku tersenyum ketika mendapati rumah itu sudah dicat baru dan sudah ada pemilik yang meninggali rumah itu.
Mataku lalu tertuju pada rumah di seberang. Seingatku, rumah itu dulu memiliki warna cokelat keabuan dengan sebuah pohon palm di depannya. Masih kuingat tiang pintu rumah itu dulu berwarna cream keputihan. Sekarang semuanya sudah berubah.
"Mengenang masa lalu, huh?" tanya Helena melihatku terdiam menatap rumah itu.
Aku kembali tersenyum mendengar tegurannya, "Yah, sudah lama sekali aku tidak ke sini. Makanya aku melihat-lihat."
"By the way... apa kau masih berhubungan dengan Baekhyun?" tanya Helena. Kurasa inilah yang menjadi pikirannya sejak tadi karena gadis ini bertanya dengan sangat hati-hati.
"Sudah tidak lagi. Aku kehilangan kontaknya, sehingga aku tidak bisa menghubunginya lagi. Namun aku masih berkomunikasi dengan teman-temannya."
Helena menghela nafas, "Kenapa kau tidak mencoba menghubungi pria itu lagi?"
Aku masih mempertahankan senyumku, "Aku hanya sibuk dengan kegiatanku. Tidak sempat hanya untuk bertanya kontaknya."
Helena pun tersenyum. Mungkin ia menyadari sikapku yang tidak ingin membahas itu. Ia lalu mengajakku masuk ke rumah itu.
"Istirahatlah, Sarah. Besok kita akan pergi menuju Edensor." Helena tersenyum padaku. Aku hanya mengangguk dan berterima kasih. Gadis itu pun pergi meninggalkan aku di salah satu kamar di rumahnya itu.
Aku merebahkan tubuhku dan memejamkan mata. Yah, perjalanan kali ini cukup menyenangkan dan melelahkan tentunya. Aku pun mengeluarkan handphone-ku dan mengecek beberapa pesan yang masuk. Ada dari Mr. Kelly, teman-teman kantor, serta Kyungsoo, Lay, Sehun, dan Chanyeol. Aku masih berkomunikasi dengan mereka. Cukup baik, karena mereka selalu mengirimiku pesan, dan terkadang beberapa informasi mengenai Baekhyun.
Aku membuka media sosialku, dan aku melihat Kyungsoo memposting foto di sana. Foto yang membuat detak jantungku berdegup cukup tidak karuan. Yah, itu hanya foto selfie biasa, namun untukku itu tetap saja mendebarkan karena aku sudah lama tidak melihatnya.
Aku menghela nafas dan menutupnya tidak lama kemudian, melempar handphone ke ranjangku sekenanya dan kembali memejamkan mata. Informasi tentang mundurnya Baekhyun dari agensi dan dunia hiburan cukup menggemparkan dua tahun lalu tidak hanya di Korea, tetapi juga di seluruh dunia. Semua fans patah hati, dan keberadaan Baekhyun menghilang begitu saja.
Informasi tentang Baekhyun hanya dapat diketahui dari beberapa postingan teman-teman Baekhyun, baik itu Chanyeol, Sehun, dan Kyungsoo. Sehingga, jumlah pengikut mereka bertiga naik berkali lipat. Lay juga memposting, hanya saja tidak terlalu tampak. Hanya aku yang tahu tentang hal itu karena pria itu bercerita langsung padaku apa saja yang terjadi pada Baekhyun. Tentu saja karena ia tidak ingin diganggu oleh para fans yang masih mencintai Baekhyun itu. Namun aku tidak tahu apa kegiatan Baekhyun sekarang. Mereka tidak mau menceritakannya padaku.
Semua kenangan itu kembali terbayang di kepalaku. Semuanya tentang Baekhyun. Bagaimana kami bertemu pertama kali, semua perjalanan yang sudah dilalui, kebersamaan yang walau hanya sebentar itu. Tidak kusangka semuanya masih tersimpan indah di memoriku.
Aku bangkit dari posisiku, mengambil tasku dan mengeluarkan sebuah buku.
Make Your Dream With Your Passion.
Ah, gara-gara buku ini, aku benar jadi tidak bisa melupakan Baekhyun. Kubuka tiap lembar bukunya. Di setiap halaman dengan foto tempat-tempat itu, kutempelkan note di sana. Semua kegiatan, semua perasaan yang kualami, kutulis di sana. Aku memulai perjalanan travelling-ku ketika pertengahan musim dingin, Januari 2018.
Sudah hampir keseluruhan tempat di buku ini, aku kunjungi. Terakhir, aku pergi ke Swiss dan mengikuti paket perjalanan di sana, tentu saja sembari menulis blog, dan bukuku.
Aku tersenyum sembari membaca tiap catatan yang kuberikan di buku itu. Dan di dua halaman terakhir, aku menemukan foto sebuah desa. Salah satunya, tidak asing lagi bagiku. Edensor akan menjadi destinasi selanjutnya dan akan kujalani besok.
Yah, aku masih jatuh cinta.
Jatuh cinta pada pria Byun itu. Walau aku tahu sepertinya aku jatuh cinta sendirian. Akan butuh waktu lama untuk melupakannya, entah kapan, aku juga tidak tahu.
Tiba-tiba kudapati sebuah notifikasi di e-mail milikku.
From : Kimchilovers
Message :
Hai, Sohyun. Kau sudah sampai di London sekarang?
Aku tersenyum membaca pesan itu. Aku tidak tahu itu siapa, yang jelas, orang ini adalah fans yang selalu berkomentar pertama kali di blog yang aku tulis. Tentang perjalananku, ia selalu bertanya. Sehingga akhirnya, ia meminta kontak e-mail lewat blog dan aku dengan senang hati memberikannya. Dan jadilah kami teman lewat e-mail itu. Sudah setahun lebih aku dan orang ini berhubungan lewat e-mail. Hanya satu hal yang membuatku kesal adalah, ia tidak mau memberitahu identitasnya. Ia hanya berkata bahwa ia salah satu fans dan menyukai tulisanku.
KimSH
Yah, seperti itulah...
Kimchilovers
Kutunggu update dari blogmu! Aku sungguh menyukainya.
KimSH
Tentu saja. Terima kasih sudah menunggu dan menyukai tulisanku!
Kimchilovers
Yup!
Aku menghela nafas dan tersenyum. Yah, setidaknya inilah hiburan sedikit untukku. Aku tidak peduli sosok seorang Kimchilovers itu laki-laki atau perempuan. Hanya menyenangkan bisa bercakap-cakap dengan orang yang menyukai karya-karyaku.
***
Edensor tidak ubahnya seperti negeri dongeng bagiku. Tempat itu masih sama, masih indah. Setiap tempat di desa itu membuatku memutar memori kecil tentang Baekhyun.
__ADS_1
Ah, sial.
Aku jadi merindukan pria itu.
"Kurasa kau masih mengingat jalannya dengan baik, Sarah?"
Aku menoleh pada Helena, aku berterima kasih padanya karena ia membuyarkan lamunanku akan Baekhyun.
"Yah, aku masih mengingatnya. Tempat ini tetap indah, tidak ada yang berubah. Bagaimana aku melupakannya?" ujarku.
Kami pun sampai di sebuah rumah dengan halaman bebatuan di depannya. Ah, tempat ini waktu itu adalah tempat festival. Sekarang tidak ada festival yang diselenggarakan di desa ini. Tempat ini menjadi sedikit lebih sepi. Aku mengedarkan padanganku kala Helena mengambil foto pemandangan yang ada di sini. Masih kuingat di ujung jalan berbatu itu, aku menatap seorang Baekhyun yang penuh kesedihan, sedang menatap hamparan rumput di depannya.
Masih kuingat netra hitamnya yang terlihat penuh harap padaku waktu itu. Membiarkan diriku menelaah lukanya.
Aku menghela nafas, lagi.
"Ayo, Sarah! Kita berkeliling lagi!"
Kami berdua kembali berjalan menaiki sebuah bukit. Dari puncaknya, kami bisa melihat pemandangan desa Edensor, lengkap dengan Menara gereja St. Peter itu. Masih megah seperti sebelumnya.
Aku tanpa sadar tersenyum tipis mengingat tempat ini. Tentunya, lagi-lagi tentang Baekhyun.
Aish, tempat ini membuatku selalu memikirkan Baekhyun.
"Helena, aku ingin pulang," ujarku pada gadis itu ketika selesai memotret. Aku tidak sanggup harus memikirkan pria itu terus menerus.
Gadis kaukasia itu cukup perasa dan ia mengerti apa yang aku pikirkan sekarang. Namun ia menghargai perasaanku untuk tidak membahasnya.
"Alright, kita pulang sekarang!"
***
"London, 20 Agustus 2019.
Hari ini aku mengunjungi kembali tempat yang tidak asing lagi bagiku bersama temanku. Sesuai dengan jurnal perjalananku, Edensor kembali menyapaku setelah dua tahun aku tidak ke sana.
Semua masih terlihat sama. Hanya musim yang membedakannya.
Edensor di musim panas terlihat cerah, namun tetap sejuk karena rerimbun pohon yang masih menghiasi tempat itu.
Aku selalu merasa berada di negeri dongeng kala melihat tempat itu.
Seolah-olah, ia membangkitkan kenangan indah yang pernah kumiliki.
Tempat itu, mengingatkan aku bagaimana rasanya jatuh cinta.
Namun sayangnya, aku ingin sekali melupakan perasaan itu karena mencintai seseorang itu melelahkan.
Mungkin sekian dulu penjelasanku tentang perjalananku hari ini. Foto-foto perjalanan dan penjelasannya akan aku posting beberapa hari lagi!
Salam,
Aku melepaskan kaca mataku ketika selesai menulis di blogku. Tidak lama setelah upload, sebuah pesan masuk melalui ponselku.
Kimchilovers
Wah, kenapa fotonya belum kau kirimkan? Padahal aku menunggu hal itu!
Aku mendengus kecil membaca pesan dari orang ini.
KimSH
Aku terlalu lelah. Beberapa hari lagi, aku akan menjalankan traveling terakhirku. Aku butuh istirahat malam ini. Aku janji secepatnya akan mengupload fotonya.
Kimchilovers
Oh, baiklah. Aku menunggumu...
Kalau boleh tahu, apa destinasi traveling terakhirmu?
Aku tersenyum, rupanya ia penasaran juga.
KimSH
Aku tidak akan memberitahumu. Kau akan tahu setelah aku memposting di blogku.
Kimchilovers
Wah, tidak adil! Kau curang! Biasanya kau memberitahu aku destinasimu selanjutnya......
Kembali aku tertawa membaca pesannya. Wah, kurasa dia ini perempuan. Sangat banyak emoticon di pesannya.
KimSH
Baiklah, aku akan memberitahumu. Tapi dengan satu syarat.
Kimchilovers
Apa?
Sebuah ide melintas di kepalaku. Dengan cepat kuketik pesan padanya.
KimSH
Tunjukkan padaku identitasmu. Tidak adil jika hanya kau yang tahu identitasku.
Aku menunggu jawabannya dengan tidak sabar. Pesan itu sudah sampai padanya, namun belum ada balasan. Aku menunggu selama sepuluh menit, dan sebuah pesan pun masuk.
Kimchilovers
__ADS_1
Baiklah. Aku akan menunjukkan identitasku.
Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum menang. Aku sangat penasaran dengan sosok pecinta kimchi itu. Yah, sebaiknya aku tidur karena memang mataku telah berat. Angin malam ini berhembus cukup kencang. Kabarnya, suhu panas mulai turun untuk menyambut musim gugur yang akan terjadi beberapa hari lagi.
***
Welcome, Autumn!
Itu sebuah tulisan di sebuah banner yang mengiklankan sebuah tempat wisata. Dengan mengikuti petunjuk traveling di internet, akhirnya aku menjejakkan kakiku di sebuah desa yang indah di sebuah negara bernama Austria.
Hallstatt.
Sebuah desa indah dengan pegunungan dan danau yang menjadi pusat keindahannya. Menakjubkannya, danau biru itu seolah berpadu dengan warna jinga keemasan dari pepohonan yang ada di sini. Yah, musim gugur baru saja tiba dengan beberapa perubahan yang cukup signifikan.
Pegunungan Alpen yang membentang terlihat jelas, memanjakan mataku saat melihatnya. Danau Hallstattersee juga seolah menyambutku dengan sukacita karena indah sekali! Pedesaan bak negeri dongeng dengan ornament kayu yang indah dan bebatuan, membuatku terpesona dan tidak berkedip sama sekali. Ada seorang tour guide ketika aku dan beberapa rombongan tiba di desa ini. Aku menyiapkan kameraku dan mulai berkeliling sambil memotret pemandangan desa ini.
Aku pun iseng, memotret selfie lalu memposting di media sosial. Banyak yang berkomentar dan terkejut aku sudah sampai di desa Hallstatt.
Begitu juga dengan teman-temanku. Mereka sangat senang mengetahui informasi terbaru dariku.
Aku memandangi pemandangan itu sejenak.
Inilah destinasi terakhirku.
Aku kembali memikirkan perkataan Baekhyun dua tahun yang lalu, lewat suratnya.
Jika kami memang berjodoh, kami akan bertemu lagi di destinasi terakhir buku ini. Benarkah akan terjadi? Rasanya tidak mungkin.
Mungkin hanya aku yang mengharapkan itu terjadi. Tapi aku tidak yakin akan dia. Aku yakin ia telah melupakanku, dan meniti kehidupan lainnya. Sekali lagi, hubungan kami tidak terlalu istimewa. Hanya aku yang sangat menikmati hubungan itu sehingga akhirnya aku yang terluka sendirian karena mencintai seorang Baekhyun.
Aku masih gadis bodoh seperti dua tahun lalu.
Aku pun menuju sebuah kafe setelah selesai memotret pemandangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 GMT. Ah, sangkin senangnya aku berkeliling desa ini, aku sampai lupa untuk memesan penginapan di sini.
Sesudah aku menyesap kopiku, aku akan segera mencari penginapan. Sedang asyiknya menyesap moccacino kesukaanku, aku mendapat sebuah pesan.
Kimchilovers
Sekarang kau di mana? Kenapa tidak memberi tahu aku destinasi wisatanya?
Ah ya, aku lupa.
KimSH
Aku sedang di Hallstatt. Ayo, katanya kau ingin menunjukkan identitasmu?
Tidak lama kemudian, pesan kembali masuk.
Kimchilovers
Kebetulan, aku juga sedang berada di Hallstatt! Mau bertemu sekarang?!
Aku membesarkan mataku membaca pesan itu. Wah, bertemu fansku secara langsung? Ini cukup membuatku deg-degan sekaligus senang!
KimSH
Benarkah?! Baiklah! Kita bertemu di tepi danau, bagaimana?
Kimchilovers
Oke....
Aku pun keluar dari kafe setelah membayarnya tanpa menghabiskan kopi itu. Rasa senang dan penasaranku lebih besar daripada keinginanku akan kafein.
Aku pun berjalan menuju tepi danau Hallstattersee, sembari mencari orang yang kira-kira memegang handphone dan memiliki tingkah laku yang sama denganku. Setelah menunggu cukup lama, aku pun mencoba mengirim pesan lagi pada orang itu.
KimSH
Kau di mana? Aku sudah menunggu di sini!
Ia tidak kunjung membalas pesanku, apakah ia menipuku?!
Tidak lama kemudian, kurasakan pesan masuk.
Kimchilovers
Berbaliklah, aku di belakangmu.
Ah, pasti dia seorang gadis cantik, yang juga merupakan seorang traveller! Aku berharap bisa berkenalan dengannya.
Dengan cepat aku berbalik untuk mendapati sosok misterius pemilik akun ini. Senyum kupasang lebar-lebar untuk bertemu fans-ku itu. Namun ketika aku berbalik, aku merasa waktu berhenti sejenak dan senyumku mendadak pudar. Semua melambat entah mengapa, semua terlihat samar. Mataku hanya terkunci pada satu titik. Radius 100 meter dariku, bisa kukenali sosok dengan jaket biru ber-hoddie. Ia memegang handphone, dan ia tersenyum menatapku.
Tidak, tidak.
Dua tahun tidak bertemu dengannya, tidak membuatku melupakannya dengan mudah apalagi senyumnya itu!
Dengan slow motion, kurasakan ia berjalan mendekat, masih dengan senyum di wajahnya. Berbanding terbalik denganku, aku hanya diam mematung. Sungguh, aku tidak bisa bernafas karena aku menahannya. Mencoba mengendalikan degup jantungku yang mendadak abnormal dan darah berdesir dengan cepat. Beberapa hormon merangsang kelenjar air mata untuk mengeluarkannya dan mengumpulkannya di pelupuk mataku.
Kini, ia berada di depanku, dan aku masih membeku. Semilir angin dan sebuah suara akhirnya menyadarkanku. Suara yang kurindukan selama dua tahun ini.
"Lama tidak bertemu, Kim Sohyun."
"Baekhyun..." gumamku perlahan.
***
__ADS_1