SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 24


__ADS_3

"Sohyun? Kau tak apa?" panggil Junmyeon dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamarku. Aku sendiri sekarang sedang menahan tangis sembari memeluk lututku.


Ya, aku juga sudah bosan merasa seperti ini.


Menurutmu apa yang aku lakukan ketika bertemu Baekhyun tadi?


Aku tidak berkata apa-apa lagi. Dengan cepat aku permisi dan turun dari bukit tersebut. Tidak kuhiraukan panggilan pria itu dari jauh.


Kenapa pria itu ada di sini, eoh?! Kenapa dunia ini sempit sekali!


Kenapa aku selalu bertemu dengannya padahal aku berusaha mati-matian menghindarinya dan melupakannya,... walaupun aku merindukannya.


Aish! Aku bisa gila kalau begini terus!


"Sohyun, jawab aku atau aku dobrak pintu kamarmu!" panggil Junmyeon lagi. Dari nada bicaranya, ia tidak main-main sekarang. Tak mau mencari masalah, aku pun bangkit dengan lesu dan membuka pintu. Tampak wajah Junmyeon yang terlihat kesal.


"Siapa pria tadi yang membuatmu menangis, huh? Perlukah aku menemuinya sekarang agar ia berhenti mengganggumu?!"


Aku menenangkan diriku dengan berusaha menarik nafas dalam-dalam.


"Aku tidak apa-apa. Pria itu tidak menyakitiku tapi aku yang menyakiti diriku sendiri," jawabku, "Kau mungkin melihat kami. Jelas ia tidak melakukan apapun padaku tapi aku langsung pergi meninggalkannya dan berakhir seperti ini."


Junmyeon menghela nafas, "Kau ingin cerita padaku siapa pria itu?"


Malam ini, ditemani dengan bintang-bintang yang cukup terang dan angin laut yang kencang, aku menceritakan semuanya pada Junmyeon. Pria itu tampak lebih serius mendengarkan semua ceritaku. Bermula dari pertemuan kami di London sampai sekarang, semuanya aku ceritakan tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Pantai malam ini sudah sedikit sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu yang dapat mengancam kesehatanmu jika kau nekat untuk keluar malam hari di musim gugur seperti ini.


"Jadi pria itu yang ada di televisi, yang membuat kau patah hati hingga bersedih seperti itu?" tanya Junmyeon dan aku hanya menganggukkan kepalaku.


Junmyeon menghela nafas panjang lagi dan ia menyandarkan tubuhnya di kursi balkon yang ada di luar. Kami sendiri memakai pakaian tebal hanya untuk udara segar malam ini.


"Cukup membingungkan. Jika ia sudah memiliki kekasih, kenapa tatapan matanya padamu seperti itu tadi?" tanya sepupuku itu.


Aku menggelengkan kepalaku tidak tahu, "Aku lelah, Junmyeon. Aku lelah mencintai seseorang seperti ini sementara ada orang lain yang menunggu jawabanku."


Alis Junmyeon terangkat sebelah, "Ada orang lain lagi? Siapa?"


"Kim Taehyung, putra pewaris perusahaan home shopping terbesar di Korea. Kami juga bertemu di London dan beberapa waktu yang lalu, ia mengutarakan perasaannya dan ingin menjadi kekasihku."


"Wah, tidak kusangka kau ternyata laku juga," komentar Junmyeon yang membuatku mendadak kesal.


"Kau pikir aku tidak menarik, huh?!" kataku kesal. Junmyeon pun terkekeh kecil.


"Aku bercanda. Sifatmu itu terkadang membuatku ragu kalau aku sedang bicara pada seorang wanita. Kau itu sangat galak!"


Aku mendengus mengalihkan pandanganku ke arah laut. Junmyeon kembali menjadi orang yang menyebalkan, dan ia tertawa.


"Lebih baik kau tenangkan pikiranmu dulu. Jangan menyakiti hati seorang pria yang menunggumu. Jangan terima pria itu jika kau tidak mencintainya. Itu akan melukainya kelak," ujarnya. Aku kini hanya terdiam dan tidak berkomentar apa-apa. Junmyeon pun berdiri dan menepuk pundakku pelan dan ia masuk ke dalam penginapan.


***


Junmyeon hari ini mengajakku ke Seongeup Folk Village. Desa ini sering menjadi destinasi wisata di Jeju karena selain tempat dan udaranya bersih, nilai estetika yang ada di sini sangat kental dapat membuat kami bangga memiliki budaya ini. Sedang asyik-asyiknya memotret tempat-tempat di sini, kulihat Baekhyun dan Yuri tak jauh dari kami.


Tunggu dulu,


Baekhyun dan Yuri?!


"Hei, itu pria yang kemarin membuatmu menangis, bukan?" kata Junmyeon. Aku hanya bisa tercengang melihat hal itu dan aku merasa tidak suka kembali. Baekhyun dan Yuri terlihat bersiap-siap di make up untuk pemotretan di sini.


Kesekian kalinya, kenapa dunia ini kecil sekali?!


"Biarkan saja. Masih banyak hal menarik yang harus aku potret," ujarku pada Junmyeon.


"Hei, Baekhyun! Kau mau kemana? Pemotretan sebentar lagi di mulai!" teriak penata riasnya dari jauh yang sangat terdengar dengan radius 50 meter.


"Dia mengikuti kita!" seru Junmyeon tertahan kala melihat Baekhyun tengah berjalan ke arah kami dan ia merangkulku, mengajakku berjalan cepat meninggalkan tempat itu karena ia tahu aku sedang berusaha menghindari Baekhyun. Kami berjalan cukup cepat dan cukup jauh dari tempat itu. Aku pikir Baekhyun tidak akan mungkin mengejar karena kami mencari jalan yang berkelok-kelok mengitari desa ini.


"Kim Sohyun, berhenti!" seru Baekhyun yang terdengar kelelahan karena mengejar kami. Aku pun terkejut dan langkahku terhenti karena mendengarnya berteriak, tidak kusangka ternyata ia mengejar kami.


"Kenapa kau berhenti?" tanya Junmyeon.


Aku menghela nafasku dan menatap Junmyeon, "Aku harus menyelesaikan semuanya sekarang."


Aku berbalik dan kulihat pria itu terlihat mengatur nafasnya. Matanya tajam menatapku, terutama menatap pundakku.


"Kita perlu bicara," kata Baekhyun.


"Baiklah, bicara saja sekarang."


"Hanya kau dan aku, tanpa pria itu," kata Baekhyun lagi. Wajahnya terlihat tidak suka kepada sepupuku.


"Baiklah, baiklah. Aku pergi. Aku beri kau waktu lima menit untuk bicara dengan Sohyun-ku!" kata Junmyeon lalu melepaskan rangkulannya dariku dan menjauh. Kulihat wajah Baekhyun semakin tertekuk mendengar panggilan yang Junmyeon berikan padaku. Ia berjalan mendekat.


"Siapa pria itu?" tanya Baekhyun sangsi.


"Ada apa? Kau tidak perlu menanyakan siapa pria itu. Langsung ke intinya saja ada apa kau ingin bicara denganku?" tanyaku.


"Aku perlu tahu siapa pria itu dan kenapa kalian bisa berduaan di sini! Waktu itu kau bersama Taehyung, dan sekarang siapa pria itu?!"


Aku membelalakkan mataku. Untuk kedua kalinya kulihat Baekhyun semarah ini padaku.


"Heol, kenapa kau jadi marah seperti ini, eoh?" ujarku.


"Bagaimana aku tidak marah?! Kau sudah punya kekasih tapi kau malah berjalan dengan pria lain di sini. Bagaimana jika--"


Baekhyun menghentikan ucapannya dan wajahnya perlahan memerah.


"Jika apa?" tanyaku penasaran.


Ia mendengus dan memalingkan wajahnya dariku, "Lupakan."

__ADS_1


Orang aneh.


"Dia sepupuku. Ia mengajakku liburan ke sini," jawabku. Ia menatapku cepat dengan wajah yang sedikit bersalah.


"... b-bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan suara lembut.


Aku menatap matanya yang kini menatapku intens dan menganggukkan kepalaku akhirnya.


"Aku baik. Kurasa kau juga terlihat baik," jawabku. Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Ah ya, selamat atas hubunganmu dengan Yuri! Aku kemarin lupa memberimu selamat," ujarku dengan senyum yang kupaksakan dan aku menyodorkan tanganku hendak menjabatnya. Namun sampai detik ke lima, Baekhyun tidak menyambut tanganku.


"Aku tidak mau menerima ucapan selamatmu," ujar Baekhyun dengan senyum yang pudar. Aku terdiam dan kuturunkan tanganku.


"O-oh, baiklah," jawabku canggung.


Angin perlahan berhembus dan beberapa daun dari pepohonan di sini berguguran. Keheningan kami diisi dengan suara angin yang menyentuh dedaunan, gemerisik.


"Putuskan hubunganmu dengan Taehyung."


Aku kembali menatap Baekhyun dengan terkejut. Apa mau anak ini?!


"Apa maksudmu?" tanyaku sambil tersenyum miring, "Kenapa kau menyuruhku putus dengan Taehyung?"


"Aku tidak suka kau bersamanya," ujar Baekhyun. Pria itu kembali menatapku dengan tajam.


Aku mendecih sambil menahan tawa sinisku melihat sikap Baekhyun yang entah kenapa sangat menyebalkan!


"Apa hakmu?" tanyaku, "Apa kau cemburu?"


"Ya aku cemburu!" seru Baekhyun, "Aku cemburu kau bersama sepupumu, apalagi kau pacaran dengan Taehyung!"


"Lucu sekali! Kau sudah memiliki kekasih tapi kau melarangku pacaran dengan pria lain. Kau hanya temanku, Baek. Kita tidak memiliki hubungan apapun selain itu tapi kau berlaku seperti–"


"Aku akan jadi kekasihmu!"


Ucapanku terhenti dan jantungku berdetak cepat sekali.


"Aku akan jadi kekasihmu,... kalau aku bisa, Sohyun,"


Tanpa kusadari air di mataku semakin banyak, terkumpul banyak sekali lalu tidak dapat terbendung lagi.


"Apakah kau menyukaiku, Baek?"


Ia diam dan menatapku dalam. Itu adalah pertanyaan bodoh. Apakah mungkin Baekhyun menyukaiku padahal ia sudah memiliki seorang kekasih? Apakah ia hanya cemburu karena aku menjauhinya? Apakah ini hanya keegoisannya belaka?


"Aku menyukaimu, Sohyun."


Sebuah pengakuan yang membuat hatiku berbunga-bunga. Seharusnya aku senang akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi entah mengapa aku merasa sakit.


"Lalu kenapa kau berpacaran dengan Yuri jika kau menyukaiku?"


"Jangan egois, Baek. Pikirkan perasaan Yuri," ujarku.


"Aku tidak egois, Sohyun. Aku memiliki alasannya," jawabnya.


"Jelaskan alasannya padaku!"


"Aku tidak bisa,"


"Kenapa?!"


Hening. Baekhyun membisu dan ia terlihat putus asa. Aku menghela nafasku, sungguh lelah seperti ini.


"Baiklah jika kau tidak bisa menjelaskan alasannya. Jika kau sudah memiliki Yuri, tolong hargai perasaannya. Aku berterima kasih jika kau menyukaiku," jawabku terkesan bijak. Mati-matian aku melawan egoku yang semakin memuncak!


"Aku harap kau mau menungguku. Ada banyak hal yang harus aku ceritakan padamu."


Baekhyun adalah definisi keegoisan yang sangat hakiki!


"Apakah kau juga menyukaiku, Sohyun?"


Bibirku hendak mengeluarkan silabel namun semuanya terhenti karena sebuah suara.


"Baekhyun!"


Aku dan Baekhyun menoleh ke sumber suara. Yuri tengah berdiri di sana dan mengatur nafasnya, "Ayo cepat, Ketua Lee mencarimu! Aku tidak bisa menahannya lagi!"


Tanda tanya besar sekarang menggantung di kepalaku.


Ada apa ini sebenarnya?


"Kau bisa menjawabnya nanti. Aku harus pergi," kata Baekhyun padaku dan perlahan ia mengusap kepalaku dan membisikan kata-kata yang hanya dapat aku dengar.


"Kuharap jawabannya adalah iya," ujar pria itu, "Aku mencintaimu, Sohyun."


Ia pun berjalan menghampiri Yuri dan pergi menuju tempat pemotretan mereka.


***


"Ah, di sini kau rupanya!" seru Junmyeon terdengar kesal, "Aku pikir pria bernama Baekhyun itu menculikmu!"


Aku hanya menghela nafas sembari duduk dan melihat pemandangan susunan rumah-rumah pedesaaan di bawah sana.


"Apa yang pria itu katakan padamu sampai membuatmu seperti ini lagi?" tanya Junmyeon mulai emosi.


"Berhentilah marah, Oppa. Dia tidak menyakitiku. Tapi aku yang menyakiti diriku sendiri," ujarku. Berkat ucapanku, kurasakan sebuah benda melayang di kepalaku dengan cukup keras.


"Yak!" seruku dan kulihat Junmyeon memukul kepalaku dengan topi yang ia kenakan sebelumnya, "Kenapa kau memukulku?!"

__ADS_1


"Karena kau bodoh!" jawab Junmyeon, "Kenapa kau mau menyakiti dirimu sendiri dengan pria yang sudah memiliki kekasih, eoh?!"


Aku terdiam dengan masih mengusap kepalaku dan menunduk. Apa yang Junmyeon katakan memang benar adanya.


"Ia bukan pria yang baik untukmu, Sohyun. Jika ia menyukaimu, tidak seharusnya ia berpacaran dengan gadis lain," kata sepupuku, "Bagaimana jika ia berpacaran denganmu? Mungkin ia akan mencari wanita lain!"


Aku terdiam tidak bisa membantah maupun mengiyakan. Semuanya memang benar namun rumit bagiku. Dan lagi, aku merasa ada hal aneh yang Yuri dan Baekhyun tutupi saat ini. Tapi apa?


Aku pun bangkit dari dudukku, "Aku ingin pulang."


Junmyeon menghela nafas dan menganggukkan kepalanya, "Ayo pulang."


***


Aku merebahkan tubuhku di tempat tidurku. Rasanya lelah sekali. Baik fisik maupun mentalku, semuanya terasa lelah. Kuhirup nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Pikiranku kembali berkelana dan menembus waktu. Kembali aku teringat akan pengakukan Baekhyun. Demi Tuhan, sekali lagi aku sangat bahagia ketika mendengar kata bahwa ia mencintaiku! Tapi entah mengapa, kenapa aku merasa tidak enak? Aku memikirkan Yuri yang melihat Baekhyun mengusap kepalaku. Wanita mana yang tidak cemburu melihat kekasihnya menyentuh wanita lain dengan sayang?


Lamunanku buyar ketika kudengar suara handphone-ku. Aku menghela nafas melihat nama pemanggilnya.


"Halo?"


"Hai, sedang apa?"


"Bersantai saja. Ada apa, Tae?"


"Aku hanya merindukanmu, Sohyun," jawab Taehyung.


Aku diam karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Yah, aku tahu kau tidak merindukanku. Ah, menyakitkan sekali rasanya tidak dirindukan oleh kekasihku sendiri!" kata Taehyung dengan nada bercanda. Aku tersenyum mendengarnya.


"Kita tidak pacaran, Taehyung," ujarku.


"Kita akan pacaran, Sohyun. Berita tentang kau dan aku berpacaran sudah banyak yang membicarakannya," kata Taehyung yang membuatku sedikit terkejut.


"Be-benarkah beritanya menyebar?"


"Tentu saja," jawabnya, "Jadi,... kau mau jadi kekasihku?"


Aku terdiam sebentar lalu menghela nafasku, "Beri aku waktu lagi, Tae. Rasanya baru kemarin kau membahas hal itu padaku."


Kudengar Taehyung tertawa kecil, "Ah ya, baiklah. Jika kau mau, kau bisa menelponku. Aku harap begitu."


"Hm, baiklah."


"Kalau begitu, kau istirahatlah terlebih dahulu. Aku ada urusan sedikit yang harus dikerjakan," kata Taehyung.


"Eoh."


Aku pun mematikan sambungan dan kembali menatap langit-langit kamar. Perkataan Junmyeon kembali terngiang di kepalaku. Jika kau tidak menyukai seseorang, jangan pernah menerima perasaannya karena itu hanya akan melukainya kelak. Ya, hatiku masih tertambat pada sosok bernama Baekhyun. Aku harus menjawab pertanyaannya bahwa aku menyukainya.


Aku beranjak dari kamarku dan pergi keluar. Kudengar Baekhyun menginap di penginapan yang tidak jauh dari tempatku menginap. Aku harus menemuinya malam ini sebelum aku menyesal. Penginapan Baekhyun terletak agak sedikit menanjak karena dekat dengan bukit yang kemarin aku datangi bersama Junmyeon. Sebentar lagi akan sampai namun langkahku terhenti kala aku mendengar sebuah percakapan.


"Aku tahu ini salah, tapi aku menyukaimu."


Aku berusaha mendekat mendengar suara seorang wanita yang terdengar di sebuah belokan jalan. Ketika aku mengintipnya, kulihat Baekhyun dan Yuri di sana. Aku tahan niatku untuk bicara dengan Baekhyun dan kudengar percakapan mereka.


"Kenapa?" tanya Baekhyun.


"Baek, kita sudah dua minggu berkencan! Apakah mungkin aku tidak jatuh padamu sekarang?!"


Baekhyun diam dengan wajah yang sangat datar, sama sekali tidak menjawab Yuri lebih lanjut. Gadis itu terlihat sangat sedih dan kesal, ia mengusap wajahnya kasar karena sikap Baekhyun yang seperti ini.


"Aku tidak suka kau memperlakukan Sohyun seperti tadi siang. Kau hanya boleh memperlakukan aku seperti itu!" kata Yuri.


"Berhentilah bertingkah bodoh, Yuri." Baekhyun hendak pergi meninggalkan Yuri namun dengan cepat gadis itu menahan lengan Baekhyun dan ia mendekatkan wajahnya ke Baekhyun.


Aku membuang wajahku dengan cepat karena terkejut melihat itu semua. Semuanya sangat jelas. Yuri menyukai Baekhyun. Entah ada rahasia apa yang terjadi pada mereka, kurasa aku tidak perlu mengetahuinya. Dapat kubayangkan sekarang Yuri mencium Baekhyun walau aku tak melihat mereka, terlalu menyakitkan.


Bayang-bayang akan ungkapan cinta dari Baekhyun perlahan menguap dari pikiranku. Semuanya pasti akan berubah. Aku tidak ingin menyakiti Yuri yang kini mencintai Baekhyun. Dan aku siap menelan perasaanku bulat-bulat.


Aku berjalan cepat menuruni perbukitan dan berjalan pulang ke penginapan. Aku berusaha keras menahan air mataku agar tidak tumpah karena memikirkan itu. Junmyeon yang tengah mengerjakan sesuatu dengan laptopnya di teras penginapan tampak sangat terkejut melihatku. Dan sialnya, aku tidak bisa membohongi sepupuku yang satu ini.


"Kenapa kau menangis, Sohyun?" tanya Junmyeon terkejut dan langsung menghampiriku.


Aku diam, berusaha mengendalikan emosiku.


"Baekhyun lagi? Oh, apa lagi yang pria itu lakukan padamu, hah?!" seru Junmyeon marah.


Pria itu hendak pergi menuju tempat Baekhyun menginap namun aku menahan lengannya kuat.


"Apa lagi? Kau ingin membela si brengsek itu setelah kau diperlakukan seperti ini?!"


"Ia tidak menyakitiku tapi--"


"Berhenti bersikap konyol, Kim Sohyun! Mana ada orang yang mau menyakiti dirinya sendiri?!"


"Memang benar aku menyakiti diriku sendiri! Aku jatuh cinta dengan orang yang salah. Aku sudah mengetahui bahwa itu salah tapi aku masih keras kepala!" jawabku pada Junmyeon.


"Sohyun, tapi--"


"Kumohon,"


Aku menahan lengannya kuat dan menahan air mataku agar tidak tumpah. Namun sayangnya aku kembali gagal. Kutatap sepupuku yang terlihat marah dan serba salah melihatku seperti ini. Sebuah keinginan terbesit di kepalaku. Yah, mungkin ini yang terbaik.


"Kumohon, Oppa. Aku ingin kembali ke Toronto secepatnya."


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2