SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 4


__ADS_3

"Oh, God!" seru Helena di belakangku kala melihat Baekhyun. Dengan cepat aku menghampiri pria itu dan bersimpuh di dekatnya. Kuangkat kepalanya dan kuletakkan di lenganku.


"Baekhyun! Baekhyun, bangun!" seruku panik sambil memukul pelan pipinya.


"Sarah, tenang. Aku ambil peralatan dokterku dulu!" ujarnya lalu pergi meninggalkan aku menuju rumahnya. Ah, hampir saja kulupa jika teman baruku itu adalah seorang dokter!


Aku kembali mencoba menyadarkan Baekhyun. Pelipisnya terluka cukup besar karena ia jatuh membentur sudut tangga. Dan pecahan kaca itu, aku simpulkan berasal dari vas bunga yang ada di meja dekat tangga. Pria ini mungkin tidak sengaja menyenggolnya. Tak lama kemudian Helena kembali dengan peralatan dokternya.


"Kita bawa dia ke kamar," perintahnya. Kami berdua pun memapah Baekhyun dengan susah payah menuju ke lantai atas dengan tangga yang sempit, lalu meletakannya di atas ranjang.


Helena dengan sigap membuka tasnya dan mengeluarkan stetoskop. Sembari ia memeriksa Baekhyun, aku pun mencari ponsel milik pria itu. Pemikiranku adalah ia sekarang seorang diri di sini dan setidaknya, ada sanak saudaranya yang tahu bagaimana keadaannya di sini. Akhirnya aku menemukan ponsel Baekhyun di atas meja di ruang makan. Aku meraihnya dan berharap handphone-nya tidak dikunci. Dan untunglah, Dewi Fortuna berpihak padaku.


Aku mulai mengoperasikan handphone-nya dan mencari nama yang kira-kira merupakan saudara dari pria ini. Mataku tertuju pada satu nama di layarnya--Chanyeol. Tanpa ragu segera aku menekan tanda hijau dan menunggu jawaban. Tak lama kemudian terdengar jawaban dari seberang.


"Baekhyun! Kemana saja kau selama ini?! Kenapa baru menghubungiku?!" serunya dari seberang dengan suara khas orang bangun tidur.


"Ha-halo, apakah benar ini salah satu keluarga Baekhyun?" tanyaku gugup.


Terdengar hening cukup lama dari sana lalu ia menjawab, "Aku temannya. Kau siapa dan kenapa handphone-nya bisa ada padamu?"


"Maafkan aku sebelumnya. Baekhyun sekarang mengalami kecelakaan kecil. Ia jatuh dari tangga dan sekarang ia tak sadarkan diri," jawabku.


"APA?!" serunya dengan suara bass yang nyaris memekakan telingaku.


"Begini. Aku akan mengirimkan alamat ini padamu dan kuharap kau segera ke sini. Ia seorang diri dan kurasa ia butuh teman atau keluarganya," kataku pada pria bernama Chanyeol ini.


"Kau sedang tidak menipu bukan?!" tanya Chanyeol.


"Apakah aku terlihat main-main sekarang, Mister?" jawabku tak kalah seriusnya.


"Baiklah! Cepat kirimkan padaku!" serunya lalu mematikan sambungan. Aku lalu mengirimkan alamat rumah Baekhyun ke kontaknya. Aku pun kembali ke kamar dan kulihat Helena sedang mengobati luka di kepala Baekhyun.


"Bagaimana keadannya?" tanyaku.


"Ia anemia, kelelahan, infeksi lambung dan usus, dan kurasa ia juga insomnia," jawab Helena yang membuatku berdecak terkejut.


"Wah, bagaimana bisa pria itu mengalami komplikasi, huh?" tanyaku heran dan duduk di sofa yang ada di kamar pria ini.


"Kurasa ia stres dan depresi. Makanya mempengaruhi kesehatannya dengan sangat parah," ujar Helena. Gadis itu mulai menutup luka itu dengan kain kasa dan di perban sedikit. Kemudian ia memberikan infus pada Baekhyun. Aku sendiri heran bagaimana kantung infus itu ada dalam tasnya yang notabene khusus di rumah sakit.


"Aku sengaja membawa satu kantung infus beserta peralatan lainnya. Ini hanya sekali pakai untuk menggantikan cairan tubuhnya yang hilang mengingat keadaanya seperti ini," kata Helena seolah bisa membaca pikiranku. Kantung infus itu ia gantungkan pada gantungan yang terdapat tepat di atas kepala Baekhyun.


Aku menghela nafasku sedikit lega, "Terima kasih, Helena."


Ia tersenyum lalu mendekatiku, "Terima kasih untuk apa?"


Aku menatap Baekhyun dengan iba sekarang. Andai saja ia orang yang menyenangkan, mungkin aku tak akan banyak mengumpat soal dirinya yang menyebalkan.


"Terima kasih karena sudah menolong temanku," jawabku pada Helena. Gadis itu terkekeh kecil.


"Temanmu itu temanku juga. Apa kalian sudah baikan?" tanya Helena yang kujawab dengan gelengan kepala.


"Kami berasal dari negara yang sama. Wajar saja di negara jauh seperti ini aku menganggapnya teman."


Helena tersenyum lalu memegang pundakku, "You're a nice person, Sarah."


"Thanks... ah, kurasa aku harus menemaninya di sini," ujarku.


Gadis itu menganggukkan kepalanya, "Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu, okay? Jika kau melihat kantung infusnya telah habis atau ia telah sadar, kau bisa menghubungiku meskipun itu tengah malam atau subuh."

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku dan membiarkannya membereskan peralatan dokternya, kemudian ia pergi pamit pulang ke rumahnya. Aku melihat pecahan kaca yang ada di lantai dan aku mulai membereskannya.


Kembali memasuki kamarnya, aku kembali terduduk di sofa. Rasa kantuk mulai menyerangku dan kini tanpa terasa pandanganku mulai gelap.


***


Aku terjaga dari tidurku di sofa kala aku mendengar sebuah benda jatuh. Aku mengerjapkan mataku dan mendapati Baekhyun yang tersadar dari pingsannya. Ia terlihat heran melihat selang infus berada di tangannya. Ia terlihat ingin mencabut selang itu.


"Kau sudah sadar?" ujarku berjalan menghampirinya. Ia menatapku dengan terkejut.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan sinis. Ah, saat sakit pun ia tetap tidak bersahabat.


"Menurutmu apa yang aku lakukan di sini setelah melihatmu terkapar di lantai dengan kepala berdarah, huh?" tanyaku balik. Niatku pagi ini untuk lebih baik padanya menjadi runtuh karena sikapnya yang masih arrogant dan tak bersahabat. Rasanya ingin kucakar saja wajahnya itu. Namun aku masih manusia normal dan punya pikiran. Untung saja aku tidak merusak wajah tampan ciptaan Tuhan itu.


"Pergilah aku sudah tak apa," jawabnya lalu berusaha bangkit dari duduknya. Namun ia mengeryitkan dahinya dan mengurungkan usahanya karena rasa sakit yang masih mendera.


"Jangan membuatku kesal denganmu, Baekhyun. Kau belum baik-baik saja dan aku takkan membiarkanmu sendiri," jawabku lalu mengambil handphone-nya yang ada di lantai karena terjatuh. Jam menunjukkan pukul enam pagi. Aku pun menghubungi Helena karena Baekhyun sudah sadar. Usai menghubungi Helena, aku menatap Baekhyun yang kini membuang muka dariku.


"Aku akan membuatkan sarapan dan kau harus makan. Kau tahu keadaanmu sangat-sangat buruk?" ujarku berjalan menuju pintu kamar. Tak ada jawaban darinya. Aku hanya menghembuskan nafasku dan berjalan menuju dapurnya untuk membuatkan bubur.


Tak lama Helena datang dan aku membukakan pintu.


"Ia sudah sadar?" tanya Helena segera naik ke kamar Baekhyun.


Aku mengekorinya sembari menunggu bubur yang di masak. Baekhyun masih diam dengan pandangan menatap jendela. Sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kami.


"Kupikir kau akan bersikap baik ketika sakit, Baekhyun," kata Helena dengan sedikit kesal. Ia lalu mengambil infus dan meraih tangan Baekhyun untuk melepas infus itu. Setelahnya Helena memberikan kapas untuk menutup bekas infusnya. Pria itu masih diam usai Helena mengobatinya.


"Yak, ucapkan terima kasih setidaknya dengan tulus. Jika kami tidak merawatmu, mungkin kau sudah kehabisan darah semalam!" ujarku kesal padanya.


Baekhyun menoleh padaku dengan tatapan seolah aku adalah orang yang menjijikan dan mengganggu hidupnya. Aku tidak takut meskipun ia kini marah padaku. Kupikir ia akan mulai berkata dengan sinis lagi, namun di luar dugaanku, ia menghela nafas dan berkata dengan pelan walau masih terkesan tak bersahabat.


Aku pun mendengus dan berjalan meninggalkan kamarnya diikuti Helena. Baiklah jika ia ingin sendirian. Aku menghargai permintaannya karena ini juga rumahnya. Namun tiba-tiba terdengar suara gedoran di depan pintu kamar Baekhyun dan suara pria yang terdengar ramai.


"Baekhyun! Ini aku Chanyeol dan teman yang lain!" seru pria itu dari luar.


***


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Baekhyun yang kedua kalinya dengan ekspresi lebih terkejut lagi ketika melihat empat pria tampan memasuki kamarnya. Kami berdua yang masih terpukau kala melihat keempat pria jelmaan malaikat di pagi hari pun hanya diam mengekori mereka dari belakang.


Pria paling tinggi itu langsung menghampiri Baekhyun dan mengukung leher Baekhyun dengan kuat, membuat pria jelmaan Hitler itu meringis kesakitan.


"Yak! Lepaskan aku! Uhuk!" seru Baekhyun merasa lehernya tercekik.


"Jika kau ingin bunuh diri kembali saja ke Korea! Jangan bunuh diri di sini. Kami akan kesulitan mengangkut mayatmu, bodoh!" seru pria itu dengan nada kesal dan makin erat mengukung leher Baekhyun.


"Hei, Chanyeol, hentikan. Kau ingin membuatnya benar-benar mati di sini, huh?" ujar pria tinggi lainnya dengan kulit seputih susu. Ia menatap Chanyeol dan Baekhyun dengan tatapan setenang air. Ah... aku merasa melihat vampire tampan kala melihat pria itu.


Pria yang bernama Chanyeol itu pun melepaskan tangannya dari leher Baekhyun dan mendengus. Ia pun menuju sofa yang ada di kamar itu.


"Kalian tetangga Baekhyun?" tanya pria dengan wajah tirus dan tatapan matanya lebih menyeramkan dan tajam karena ia sipit dari pada pria berkulit putih susu itu. Hanya saja, dibalik wajah tampannya yang menyeramkan, ia memiliki suara yang halus sekali. Ia menoleh padaku dan Helena yang masih bagai orang udik yang baru pertama kali bertemu titisan Apollo.


"Ah, ya. Kami tetangga Baekhyun," jawabku.


"Siapa nama kalian?" tanya pria dengan postur pendek kali ini bersuara.


"Aku Kim Sohyun, dan ini temanku, Helena Jossie," ujarku memperkenalkan Helena yang tersenyum ramah.


"Terima kasih karena sudah menolong teman kami," ujar pria berkulit putih susu itu, dan ia tersenyum. Aku dan Helena yakin jantung kami berdebar kencang sekarang. Bagaimana tidak jika orang setampan itu tersenyum?! Catat sekali lagi, ia tersenyum tipis dan ia terlihat manis sekali!

__ADS_1


Tiba-tiba Helena meraih handphone-nya yang bergetar dan membaca sebuah notifikasi di sana.


"I'm sorry. Aku harus pamit karena ada operasi mendadak!" seru Helena panik.


"Kau seorang dokter?" tanya Chanyeol dari sofa sedikit takjub. Helena hanya tersenyum dan mengangguk lalu menatap Baekhyun.


"Baekhyun hanya butuh istirahat dan makan yang banyak. Jangan minum alkohol atau bir yang dapat memperparah keadaan usus dan lambungmu. Kalau begitu aku permisi," ujarnya lalu membereskan tasnya dan kembali menatap Baekhyun yang terkesan tak peduli, "Cepat sembuh!"


Usai Helena pergi, hanya tinggal aku dan keempat pria tampan di kamar ini. Baekhyun juga tampan, tapi ia tidak masuk hitungan karena sikapnya yang menyebalkan.


"Hei... ini bau apa?" tanya pria pendek itu sambil mendengus.


Aku membelalakan mataku terkejut.


"Astaga, buburnya!" seruku teriak dan langsung berlari meninggalkan kamar menuju dapur. Dan benar saja, buburnya gosong karena tidak teraduk sempurna. Aish! Sial sekali. Kenapa aku harus mempermalukan diriku di depan mereka?


"Perlu bantuan?" tanya pria pendek itu yang tahu-tahu sudah berada di sebelahku. Ia menatap buburku yang gosong.


"Ah, tidak perlu, aku bisa membuatnya lagi," jawabku tersenyum padahal dalam hati aku meringis.


Ia mengambil sendok makan dan mengambil sedikit bubur yang tidak gosong lalu mencicipinya, "Ini pasti untuk Baekhyun, kan? Ia takkan mau makan bubur seperti ini sekalipun yang kau buat tidak gosong," komentarnya ironi. Aku meringis membayangkan wajah Baekhyun yang menolak mentah-mentah bubur yang kubuat.


"Apakah rasanya tidak enak?" tanyaku terkejut.


"Rasanya enak, tapi kau tahu, pria itu pemilih," jawabnya tersenyum, "Kau bantu aku untuk menyiapkan bubur untuknya. Aku yang akan memasak karena ia adalah pelangganku."


"Pelanggan?" tanyaku heran ketika ia mulai menggulung lengan panjangnya sampai ke siku.


"Aku seorang chef dan aku teman baik Baekhyun. Namaku Do Kyungsoo. Salam kenal, Kim Sohyun!" jawabnya tersenyum padaku. Ah, senyum pria ini unik sekali.


"Maafkan aku jadi merepotkanmu," ujarku tersenyum tipis yang dijawab Kyungsoo dengan tawa kecil. Akhirnya aku membantu Kyungsoo memasak bubur untuk Baekhyun.


Sembari membantu, ia bercerita soal Baekhyun yang tidak mau makan masakan lain selain masakannya karena menurut pria jelmaan Hitler itu, rasa masakan Kyungsoo adalah yang terbaik. Kyungsoo sendiri juga adalah kepala chef di suatu restoran bintang lima. Suatu prestasi yang membanggakan mengingat Kyungsoo masih muda untuk memegang jabatan itu. Melihatnya memasak bubur dengan profesional pun membuat aku membayangkan betapa lezat masakan yang ia buat.


Sekitar beberapa menit kemudian, buburnya sudah jadi dan tugasku adalah mengantarkannya ke kamar Baekhyun. Namun langkahku terhenti kala aku mendengar percakapan mereka.


"Kuharap kau dapat kembali ke Korea lagi, Baekhyun. Kasus itu sudah lama di tutup dan kuharap kau tidak memikirkannya lagi," ujar pria berkulit putih yang kuketahui dari Kyungsoo bernama Sehun.


"Aku lebih tahu diriku dan kalian tidak perlu menyusulku seperti ini," jawab Baekhyun.


"Kau teman kami! Mana mungkin kami tidak datang ke sini ketika mendengar kabar kau jatuh dari tangga, huh?" jawab Chanyeol dengan kesal.


"Berterima kasih lah pada Sohyun. Jika ia tidak menelpon Chanyeol, dan merawatmu, bisa kukatakan kau kritis sekarang," ujar pria bermata sipit bernama Lay.


Kudengar Baekhyun mendengus, "Bisakah kalian berhenti membicarakannya? Dia itu tidak lebih dari seorang gadis pengganggu yang sempat aku manfaatkan."


Degup jantungku terasa lebih cepat dan mendadak dadaku sesak mendengar apa yang dikatakan Baekhyun. Perlahan mataku mendadak panas. Ah, aku tidak tahu kenapa seperti ini. Setelah apa yang aku lakukan padanya dan apa yang ia lakukan padaku kini cukup membuatku tahu diri. Permintaan maafnya waktu lalu hanya omong kosong. Dan di sini, aku sadar, perbuatan baikku tidak akan pernah berkenan di hatinya. Percuma aku merelakan tubuhku sakit tidur di sofa malam ini demi menunggunya sadar, memaafkan dirinya yang membuat harga diriku tercabik kala ia 'menciumku' di balik maskernya, menangis karena ketakutan ketika aku ditinggal di tempat rawan kejahatan sendirian. Dan inilah imbalan yang kudapat.


Aku tak lebih hanya seorang gadis pengganggu yang pernah dimanfaatkan olehnya.


"Sohyun, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau harus memberikan buburnya pada Baekhyun?" kata Kyungsoo tiba-tiba lalu mendorongku kecil untuk masuk. Sontak seluruh mata menatapku terkejut. Aku berusaha menahan air mataku untuk tidak tumpah namun sial, aku gagal. Setetes air mata jatuh ke pipiku. Air mata yang tak sepantasnya turun untuk menangisi orang macam Baekhyun.


"Sohyun..." kata Chanyeol terkejut dan berusaha menghampiriku. Mereka tahu aku mendengar apa yang Baekhyun katakan. Aku dengan cepat meletakkan bubur itu di nakas dan menatap Baekhyun sekilas. Wajah pria itu nampak kaget melihatku yang kini menangis. Namun kurasa itu hanya wajah palsunya.


"Sarapanlah. Ini Kyungsoo yang buat. Aku mau pulang," ujarku lalu dengan cepat meninggalkan rumah Baekhyun tanpa mempedulikan mereka yang memanggilku.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2