SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 14


__ADS_3

Aku tertegun ketika mendengar pengakuan aneh pria itu.


Merindukanku, katanya?!


"Jangan bercanda," ujarku tak suka. Perkataan manisnya tidak akan meluluhkan hatiku lagi.


"Apakah kedatanganku ke sini adalah sebuah gurauan?" jawab Baekhyun masih dengan mata yang menatapku dengan intens.


"Kau tidak ada kerjaan, huh, sampai harus ikut menyusulku ke Toronto?"


"Memang tidak ada karena aku masih liburan."


Aku berdecih lalu berjalan lagi meninggalkannya. Sejak kapan Baekhyun jadi pintar bicara sekarang? Kudengar langkah kaki di belakangku yang bisa kusimpulkan Baekhyun mengekoriku.


"Berhenti mengikutiku, Tuan!" seruku kesal karena lima menit berlalu dan ia masih setia berada di belakangku. Ia hanya diam dan menatapku kala aku menoleh padanya. Aku kembali melanjutkan jalanku begitupun dia.


"Tuan, kenapa kau terus mengikutiku, huh? Kau bisa kembali naik taksi ke tempat tinggalmu, bukan?" ujarku sewot dengan tingkah pria itu yang kini sangat menyebalkan karena ia hanya diam.


"Aku lupa jalan kembali ke apartemen," jawabnya yang membuatku nyaris terpekik, antara terkejut dan kesal. Aku menghentikan langkahku dan memutarkan tubuhku untuk menghadap Baekhyun. Pria itu juga ikut berhenti.


Terkejutnya aku adalah Baekhyun kini tinggal di Toronto dengan menyewa sebuah unit apartemen. Dan kesalnya adalah kenapa ia bisa sampai di sini jika ia sendiri lupa jalan pulang?!


"Jadi sedari tadi bagaimana bisa kau menuju ke taman ini, hah?!"


Ia melirik sekelilingnya untuk menghindari kontak mata denganku. Baekhyun kini benar-benar seperti pria innocent. Ia juga sedari tadi tidak mengatakan maaf untuk perkataannya yang telah melukai hatiku waktu itu, ia bersikap padaku seolah tidak terjadi apa-apa. Sangat menjengkelkan!


"Apa? Kenapa kau menghindari kontak mata denganku?" tanyaku lagi masih dengan kesal. Perlahan tapi pasti, Baekhyun mengucapkan pengakuan yang nyaris membuatku ingin memukulnya.


"Aku mengikutimu dari tadi, tapi aku tidak menyangka akan sampai sejauh ini," kata Baekhyun mengakui, "Handphone-ku habis batre dan aku tidak bisa membuka peta. Aku juga tidak mudah percaya dengan supir taksi, jadi aku tidak mau naik taksi sendirian."


Aku ternganga melihat pria di depanku. Speechless. Aku menghela nafas berat dan memijit pangkal hidungku.


"Kenapa kau bisa mengikutiku?" tanyaku baik-baik sekarang. Aku lelah marah-marah.


"Tempat tinggalku sekarang dekat dengan tempat kerjamu. Ketika aku keluar dari apartemen, aku melihatmu keluar dari sana. Jadilah aku mengikutimu karena ingin bertemu denganmu," jawab Baekhyun lagi yang membuatku kembali terperangah tidak percaya.


Bagaimana ia tahu kalau aku bekerja di penerbitan itu?! Aku berusaha membuka ingatanku kembali ketika kami di London, mencari informasi di memoriku apakah aku pernah memberitahu alamat lengkap tempat kerjaku.


"Kau stalker?!" seruku lagi.


"Jika berhubungan denganmu, kurasa iya,"


God, kill me now!


"Aku tahu tempat kerjamu dari novel yang Taehyung bawa waktu itu," kata Baekhyun lagi yang membuatku kembali terdiam. Salahkan Taehyung kenapa ia membawa novel itu!


Aku menghela nafas kasar dan berusaha meninggalkannya lagi, namun hal yang membuatku terkejut kembali adalah Baekhyun menarik tanganku dan membawaku ke pelukannya. Aroma tubuhnya langsung memenuhi indra penciumanku dan tubuhku menegang. Ini pertama kalinya aku dipeluk seorang pria selain ayahku! Aku tidak bisa berontak ataupun melawan sangkin terkejutnya.


"Aku minta maaf, Sohyun," ujarnya. Suara beratnya membuatku merinding karena sangat terdengar jelas di telingaku.


"Aku tahu aku salah. Maafkan aku menyakitimu," katanya lagi, "Aku benar-benar kacau waktu itu karena aku tertekan. Semua orang membenciku dan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya tentang diriku, membuatku lupa diri karena emosi dan berkata seperti itu padamu. Kau orang yang berarti bagiku. Jangan membenciku, Sohyun."


Aku diam. Sungguh, pengakuan selanjutnya cukup mengejutkan. Bisa kalian katakan aku mudah terhasut karena sekarang perasaan kesal dan marahku menguap digantikan dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang dan kuharap, Baekhyun tidak merasakannya. Pria itu kini melepaskan pelukannya dan menatapku.


"Kau mau memaafkanku?" tanyanya.


"Apakah aku sebegitu penting bagimu?" tanyaku balik dengan sedikit malu-malu. Aish... kenapa aku jadi penasaran apa maksud perkataannya?


Baekhyun terdiam lalu ia mengangguk pelan, "Karena kau temanku. Kau mau menerima keadaanku dan berusaha membantuku. Jelas saja kau berarti, bukan?"


Ah... itu maksudnya. Kenapa aku berekspetasi hal-hal yang aneh? Sohyun, ada apa denganmu?!

__ADS_1


"Jadi... kau mau memaafkanku?" tanya Baekhyun lagi. Pria ini tidak sabar sekali! Akhirnya aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum kecil sembari menatapnya, begitu juga Baekhyun yang juga ikut tersenyum.


"Ya sudah, aku antar kau pulang," ujarku lalu meraih tangannya. Aku mengajaknya berjalan kaki sebentar lalu menaiki bus kota yang masih beroperasi siang menjelang sore hari ini. Tak lama kemudian, hujan mengguyur Toronto dengan cukup lebat.


"Kenapa kau memilih London waktu itu padahal Toronto seindah ini?" tanya Baekhyun tiba-tiba. Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan dan mendapati Baekhyun yang sedang melihat pemandangan karena posisi duduknya di dekat jendela.


"Hanya menenangkan pikiranku. Sekarang sudah lebih baik," jawabku pada Baekhyun yang terlihat enggan mengalihkan matanya dari pohon-pohon maple yang berdaun merah itu.


Keheningan kembali menyelimuti kami dengan suara hujan yang terdengar dari dalam bus. Ketika kami sampai di pemberhentian, aku hendak mengeluarkan payung yang selalu aku bawa di dalam tas. Namun sial, aku tidak menemukannya dan kurasa tertinggal di apartemenku.


"Pakai payungku saja," ujar Baekhyun di sampingku yang sudah membuka payungnya. Aku tertegun karena tidak menyangka Baekhyun akan mempersiapkan payung seperti itu.


"Aku menonton ramalan cuaca hari ini bahwa akan turun hujan, jadi aku membawanya," kata Baekhyun. Pria itu menarik tanganku untuk mendekat ketika kami berjalan dari halte pemberentian bus ke tempat kerjaku atau lebih tepatnya aku mengantarkannya pulang ke apartemen tempat ia tinggal. Aku banyak menjelaskan jalan-jalan untuk menuju ke apartemen di dekat tempat kerjaku. Payung milik Baekhyun tidak terlalu besar. Ia memiringkan sedikit payung itu untuk melindungi tubuhku namun tidak dengannya, sehingga pundaknya basah.


"Hei, kau tidak apa? Pundakmu basah. Jangan terlalu mengarahkan payung kepadaku, kau juga perlu melindungi tubuhmu," ujarku menatapnya.


"Aku tidak apa," jawabnya singkat.


"Tapi aku merasa tidak enak, Baek! Kau bisa sakit karena cuaca dingin seperti ini,"


"Baiklah." Baekhyun menggerakkan tangannya ke pundakku dan menarikku untuk merapat padanya. Singkatnya, ia merangkulku, membuat aku sedikit terkejut. Berjalan dengan posisi sedekat ini dan ia merangkulku erat membuat aku kehilangan fokusku. Aroma tubuhnya kembali tercium olehku dan membuatku semakin gugup. Tidak sedikit pun aku berani untuk melirik ke atas untuk menatap wajahnya. Sungguh, ini adalah situasi yang sangat canggung!


"Kenapa kau diam? Ayo jelaskan lagi daerah di sini, aku tidak mudah mengingat jalannya," kata Baekhyun. Aku pun kembali menjelakan dan memberitahu daerah tempat tinggalnya, namun tetap saja, aku kehilangan fokusku dan berapa kali salah menjelaskan. Salahkan pria aneh di sampingku yang kini masih merangkulku erat!


Akhirnya kami sampai di apartemen tempat Baekhyun tinggal. Gedungnya cukup besar dan bagus. Harganya juga pasti selangit. Tidak seperti apartemenku, sebuah tempat tinggal yang kecil dan sederhana, memudahkanku untuk membersihkannya tiap minggu. Aku dengan segera melepaskan diri dari rangkulan Baekhyun ketika aku sampai di lantai dasar apartemen itu.


"Terima kasih. Kau mau mampir dulu?" ajak Baekhyun yang langsung kutolak dengan gelengan.


"Tidak usah. Aku langsung pulang saja. Lagi pula ini sudah sore," jawabku.


"Kau tinggal di mana?"


"Kalau begitu antarkan aku ke tempat tinggal milikmu."


Aku membelalakan mataku karena terkejut, "Untuk apa kau tahu tempat tinggalku?"


"Aku harus tahu tempat tinggal temanku, bukan?" jawab Baekhyun.


Aku menghela nafas dan akhirnya kami berjalan lagi menuju tempat tinggalku. Tidak terlalu jauh menurutku dan hanya memakan waktu lima belas menit untuk berjalan. Sepanjang jalan aku kembali menjelaskan jalan kepada Baekhyun agar ia bisa berjalan pulang sendiri nanti.


"Apartemen ini lumayan juga," kata Baekhyun ketika kami sampai.


"Tempat tinggalmu masih lebih bagus daripada ini," jawabku.


Ia tersenyum, "Benarkah?"


Aku menganggukkan kepalaku, "Tentu saja! Itu apartemen elit asal kau tahu. Yah, pekerjaanmu sebagai seorang penyanyi memang menjamin kehidupanmu. Kau pasti banyak uang."


"Ya begitulah. Aku tidak boros dalam menggunakan uang. Hanya untuk hal penting saja aku baru menggunakannya."


Hal penting?


"Seperti contoh kau liburan ke sini?" tanyaku yang dianggukinya.


"Untuk merilekskan pikiranku sebelum aku kembali dengan kehidupanku sebagai seorang public figure."


Aku menganggukkan kepalaku pelan. Pikiranku tadi mulai melayang tidak jelas sebelum mendengar penjelasan dari Baekhyun. Aish...


"Kalau begitu aku pulang dulu," kata Baekhyun pamit.


"E-eoh, baiklah. Hati-hati."

__ADS_1


Setelah Baekhyun pergi, aku pun langsung menuju unit apartemen tempat aku tinggal. Usai mandi, aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur. Sedikit senang karena ia sudah minta maaf padaku perihal masalahnya kemarin. Ketika aku sedang beristirahat, aku mendapatkan sebuah notifikasi e-mail di handphone-ku.


From: zhangyxing


Sohyun, bisa kau berikan aku nomor teleponmu? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.


Aku terkejut mendapat pesan ini. Seingatku, Lay tidak pernah mendapatkan kontak e-mail-ku sama sekali. Aku pun mengirimkan nomor teleponku dan tidak lama kemudian, sebuah telepon masuk ke handphone-ku.


"Halo?"


"Sohyun, ini aku Lay," ujarnya dengan suara yang lelah.


"Bagaimana kau tahu e-mail punyaku?" tanyaku.


"Aku mendapatkannya dari internet. Ketika kau promosi mengenai bukumu di internet, kau mencantumkannya. Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu mengenai Baekhyun. Mumpung ini giliranku untuk istirahat setelah mengunjungi tempat konsultasi," kata Lay.


"Baekhyun di Toronto sekarang. Ia tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku," ujarku langsung padanya.


"Benarkah?! Wah, anak itu. Aku dan yang lainnya nyaris menyusulnya ke London! Ia susah dihubungi sejak beberapa hari lalu. Semua salahku. Apa kau kena masalah lagi dengannya?" tanya Lay dengan helaan nafas di sana.


"Ya, sedikit. Hal itu yang membuatku pulang ke Canada lebih cepat. Aku tidak menyangka Baaekhyun akan menyusulku ke sini. Kenapa kau memberitahu Baekhyun bahwa kau meminta tolong padaku untuk membantunya?"


"Sepertinya aku salah bicara. Aku mengatakan padanya bahwa kau menjalankan tugasmu dengan baik karena kau menjaganya dan ia terlihat senang saat itu. Maksudku, tidak ada hal aneh ketika kau mendengar aku bicara seperti itu, bukan? Tapi tidak dengannya.


"Baekhyun sepertinya merasa aneh jika aku mengatakan hal itu. Aku menyadari nada bicaranya yang tidak enak. Aku bermaksud menjelaskan karena aku tahu mental Baekhyun belum baik benar dan ia sangat sensitif. Baekhyun langsung marah, dan ia mengira kau baik padanya bukan dari hatimu, tapi karena aku minta tolong padamu," kata Lay panjang lebar yang membuatku mengernyitkan dahiku bingung.


"Hanya itu?" tanyaku ketika hening dari seberang telepon.


"Ya. Hanya itu."


Aku menghela nafas dengan kasar. Baekhyun marah padaku hanya sebuah permasalahan aneh karena Lay salah bicara? Sungguh relasi yang cukup membingungkan.


"Aku tahu kau bingung, Sohyun. Begitu juga denganku. Tapi terlepas dari apapun itu, kurasa Baekhyun mulai menyukaimu."


"Menyukaiku?"


"Tentu saja. Buktinya ia sampai menyusulmu ke sana. Aku tidak menyangka Baekhyun akan melakukan hal gila seperti itu hanya karena seorang gadis. Ia tidak pernah seperti ini ketika ia dengan mantan kekasihnya."


Aku tersenyum miris. Perkataan Lay soal Baekhyun menyukaiku bukanlah statement yang tepat.


"Ia menyusulku karena ingin minta maaf karena aku temannya. Bukan suka dalam artian lain," jawabku.


"Hm, terserah padamu, Sohyun. Kumohon sekali lagi, tolong jaga Baekhyun di Toronto. Ia tidak mudah beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru. Jangan sampai ia tersasar, bisa repot."


Aku nyaris tertawa karena mendengar perkataan Lay.


"Oh, baiklah. Kuharap kau tidak salah bicara lagi dengan Baekhyun. Kau benar, dia itu sangat sensitif!"


"Aku mengerti. Kalau begitu, selamat malam untuk di sana, Sohyun. Karena di sini sudah jam tiga pagi," kata Lay.


"Selamat pagi untuk di sana, Lay."


Ia pun memutuskan sambungannya. Aku menghela nafas lagi. Rasanya hari ini sangat melelahkan. Tidak bisa kujelaskan dengan silabel yang tepat karena aku sendiri kehabisan kata-kataku. Aku hanya bisa memejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba pikiranku terbayang akan Baekhyun. Entah mengapa aku jadi memikirkannya sekarang. Sikap Baekhyun selama ini, alasan aneh pria itu marah padaku, dan perkataan Lay, semuanya membuatku bertanya-tanya.


Benarkah Baekhyun menyukaiku?


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2