
"Benarkah?!"
Aku berseru sambil menatap Baekhyun yang terlihat terkejut dengan nada suaraku yang meninggi karena senang.
"Aku berjanji akan membantumu, tapi tidak sekarang. Aku masih butuh waktu untuk bisa bernyanyi lagi," jawabnya dengan wajah yang kembali datar seperti biasa. Ah, senyumnya itu bisa kukatakan sangat langka untuk dilihat. Aku harus mengabadikannya kapan-kapan!
Aku menghela nafas kecil mendengarnya, padahal aku ingin ia bisa bernyanyi lagi seperti yang ia inginkan. Namun aku mengerti keadaannya sekarang. Baekhyun butuh waktu untuk bisa melakukan semuanya seperti dulu.
"Baiklah, aku akan menunggumu!" jawabku tersenyum lalu kembali menatap buku di etalase, "Kau mau membelikan buku itu untukku?"
Ia menatapku lalu menatap buku itu, "Tidak."
Aku hanya bisa menatap Baekhyun yang kini berjalan meninggalkanku dengan tidak percaya. Wah, dia itu pelit sekali! Rasanya tadi ia bertanya padaku apakah aku menginginkan buku itu. Harga buku ini tidak seberapa dari gajinya sebagai artis yang terlebih ia tabung selama ia debut. Sungguh, sikap Baekhyun memang tidak berubah. Aku pun berjalan cepat untuk menyusul Baekhyun dan mensejajarkan langkahku dengan langkahnya.
Hening kembali menyelimuti kami, dan suasana sedikit sejuk.
"Baek, Taehyung akan ke sini nanti," ujarku memecah keheningan di antara kami.
"Benarkah? Dalam rangka apa dia ke sini?" tanya Baekhyun.
"Pekerjaan. Dia itu putra dari pemilik Kim Group, pemilik home shopping terkenal di Korea. Kau tahu itu?" tanyaku pada Baekhyun. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku mengenal Tuan Kim karena ia salah satu rekan kerja dari agensi musik tempatku bekerja. Tapi aku baru mengetahui bahwa Taehyung adalah anaknya," jawab Baekhyun.
"Wah, aku sempat tidak menyangka kalau dia itu chaebol!" kataku lagi dengan semangat. Kulihat Baekhyun masih datar tanpa ekspresi.
"Nanti malam, ia mengajakku bertemu,"
Kurasakan langkah kaki Baekhyun sedikit melambat dari sebelumnya. Aku menoleh dan menatapnya, "Kenapa?"
Ia diam lalu menatapku dan kembali melanjutkan jalannya, "Kau langsung saja ke tempat kerja. Aku mau langsung istirahat."
Baekhyun pun mengambil langkah cepat menuju apartemennya yang memang sudah tidak jauh lagi dari posisi kami berjalan, meninggalkan aku yang masih merasa heran dengan tingkah ajaib dari Baekhyun. Sebesar apapun aku berusaha untuk memahami sikapnya, sampai sekarang pun aku masih tidak tahu apa yang ingin ia sampaikan lewat ekspresinya.
Aku pun kembali ke kantor penerbit dan melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda tadi. Bekerja seperti ini terkadang membuatku lupa waktu, sampai sebuah telepon menginterupsi kegiatanku.
"Halo?" jawabku tanpa melihat nama di handphone-ku.
"Sohyun! Kau di mana? Aku ingin bertemu denganmu!" seru Taehyung semangat. Dia ini selalu dengan sedikit teriakan jika bicara denganku.
"Aku masih di tempat kerjaku. Sebentar lagi aku selesai. Kita bertemu saja di café Barnyard. Bagaimana?" tawarku yang langsung disetujui oleh Taehyung dengan cepat.
Aku pun mematikan sambungan dan menghela nafas sembari menyandarkan tubuhku di kursi. Kulirik jam kecil di meja kerjaku yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ini memang sudah waktunya jam kerja berakhir.
Udara malam ini memang cukup dingin dan aku pun memutuskan untuk naik bus menuju tempat yang sudah aku dan Taehyung janjikan malam ini. Sepuluh menit kemudian, aku pun sampai di café Barnyard. Kafe itu sendiri cukup besar dan ramai jika malam menjelang. Karena selain menyediakan kopi, mereka juga memiliki bar di sana. Aku berjalan masuk ke dalam kafe itu dan memilih tempat duduk di sudut ruangan di dekat jendela. Alasannya agar aku langsung bisa melihat Taehyung jika pria itu datang.
Sembari menunggu minumanku datang, aku mendengar tiga gadis dan satu pria berwajah asia yang sedang berbincang-bincang tak jauh dari posisiku duduk. Yang membuatku sangat tertarik adalah, mereka menggunakan bahasa ibuku.
"Kurasa berita soal idol itu tidak akan ada habisnya. Kemarin ia dikabarkan sedang berkencan dengan seorang perempuan di London. Sekarang ia kabarnya terlihat sedang berada di sini!" seru salah satu gadis itu.
"Apa bagusnya pria itu? Aku justru merasa aneh dengan kecelakaan yang ia sebabkan setahun yang lalu. Setelah ia mengalaminya, tak lama kemudian pria itu mengeluarkan album barunya," jawab salah satu yang lain dari mereka sembari menyesap kopi yang ia pesan.
"Kurasa ia sengaja melakukan itu demi mendongkrak popularitasnya yang sempat redup. Lagunya juga tidak bagus. Kenapa semua orang sangat menyukainya?" komentar pria itu kali ini.
"Yah... sekarang ia sedang vakum. Mungkin tidak lama lagi namanya akan menghilang dari dunia hiburan."
Aku terdiam.
Mendengar perkataan mereka membuat hatiku merasa tidak nyaman dan kesal.
"Hei, lihat! Ini berita soal Baekhyun!"
Mereka berempat terpaku pada tablet yang diletakkan di atas meja, "Foto Baekhyun bersama seorang wanita!"
"Wah... dia bersama gadis yang kemarin di London. Wajah gadis itu cukup terlihat dari samping. Aku penasaran siapa orang yang berhasil memotret mereka dari sudut sebagus ini!"
__ADS_1
Aku menelan salivaku dengan berat. Tubuhku menegang dan aku merasa tidak aman sekarang. Posisi dudukku sangat dekat dengan mereka dan jika aku menoleh sedikit saja, mereka mungkin akan langsung mengenaliku. Aku berusaha untuk menghindari masalah dan dengan perlahan, aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu keluar. Namun sial, sebuah suara menghentikan langkahku dan membuat darahku berdesir cepat.
"He-hei... bukankah dia gadis itu?" tanya pria itu.
"O-oh! Kau benar! Itu gadis yang bersama Baekhyun!"
Sial!
Dengan cepat aku berlari keluar dari kafe itu dan kudengar langkah kaki yang mengikutiku.
"Yak! Berhenti!" teriak wanita di sana dengan kencang.
Tidak! Aku tidak bisa berhenti. Apa yang akan mereka lakukan padaku jika berhasil menangkapku?! Mereka akan mengambil fotoku, lalu mereka akan membuat skandal secara mereka tidak menyukai Baekhyun dengan menyebar gosip di media sosial. Aku akan diteror oleh fans Baekhyun, dan pria itu akan terkena masalah dengan agensinya. Aku tidak mau pria itu terkena masalah karena skandal bersama seorang gadis sepertiku.
Dan aku masih ingin hidup tenang!
Ketika aku berlari melewati sebuah belokan, sebuah tangan menarikku dan membekap mulutku. Aku terperanjat dan sangat terkejut sehingga berusaha memberontak, namun sayang tenaganya lebih kuat dariku. Sosok itu menahanku dengan cepat ke sudut tembok yang ada di sana, menyembunyikan diriku dan dirinya dari empat orang pengejar tadi yang kini berlari ke arah lain.
"Sohyun, tenang! Kau sudah aman."
Aku membelalakan mataku dan menatap pria yang kini terlihat lebih jelas.
"Taehyung! Kau menakutiku!" seruku kesal bercampur lega.
Pria itu tersenyum, "Maaf. Aku hanya ingin menolongmu dari orang-orang itu. Ada masalah apa kau dengan mereka?"
"Hanya masalah kecil. Nanti aku ceritakan. Tapi, ngomong-ngomong kenapa kau tahu kalau aku dikejar oleh mereka?" tanyaku penasaran.
"Bagaimana kalau kita memesan minum terlebih dahulu, setelahnya, kita jalan-jalan. Ada banyak yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Taehyung tersenyum. Setelah melihat keadaan cukup aman, kami kembali ke kafe tadi. Aku mengambil pesananku sedangkan Taehyung memesan minuman. Kami pun keluar dari sana dan berjalan menuju taman yang letaknya hanya sepuluh menit dari sini.
"Jadi, apa kabarmu?" tanya Taehyung menatapku sambil tersenyum ketika kami berjalan.
"Seperti yang kau lihat," jawabku tersenyum, "Hei, kau harus menjawab dulu pertanyaanku tadi!"
"Ah, ya. Aku lupa," jawabnya, "Aku tadi melihatmu berlari keluar dari kafe itu ketika aku berjalan. Ya dengan cepat aku berusaha menyelamatkanmu. Sepertinya mereka ingin bicara sesuatu padamu."
Aku menghela nafasku, "Ya. Berbicara suatu hal yang sama sekali tidak ingin aku bahas."
"Soal apa?"
Kulihat wajah Taehyung yang sangat terkejut, "Benarkah?! Dia sekarang tinggal di sini? Di mana?"
"Tidak jauh dari tempat kerjaku dan tempat tinggalku," jawabku lagi. Taehyung terlihat masih terkejut dan detik berikutnya ia terkekeh kecil.
"Kalian berdua memiliki hubungan yang baik rupanya, sampai ia rela menyewa apartemen dan ikut tinggal di Toronto," ujar Taehyung.
"Tidak juga. Terakhir kali kami bertengkar di London. Hal itu yang membuatku kembali ke Toronto."
Taehyung bergumam sambil menganggukkan kepalanya, "Tapi syukurlah, hubungan kalian baik-baik saja. Dan jujur, aku senang bisa bertemu denganmu lagi di sini, Sohyun."
Aku tersenyum, "Aku juga senang bertemu temanku lagi di sini. Sampai kapan kau akan di sini?"
"Hanya lima hari. Setelahnya aku akan kembali ke London lagi," jawab Taehyung.
Kami pun berjalan sambil bercengkrama. Taehyung bercerita padaku tentang pekerjaannya di London dan beberapa hal kecil seperti para gadis berwajah kaukasia dan seksi yang pernah menggodanya ketika ia mengikuti pertemuan bisnis di sana.
"Kau tahu? Melihat para gadis berpakaian seksi itu membuatku muak. Aku tidak suka melihatnya," kata Taehyung.
"Kenapa? Bukankah itu harusnya menjadi hal yang menyenangkan bagi setiap pria?" komentarku sembari tersenyum mengejeknya.
"Tidak semua pria seperti itu, Sohyun. Aku lebih suka perempuan baik-baik yang berpakaian sopan namun terlihat cantik bagiku. Menurutku, itu lebih seksi," jawab Taehyung dengan wajah polosnya. Sungguh, aku tidak bisa menahan tawaku mendengar perkataannya.
"Kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Taehyung heran.
"Bagaimana bisa kau memikirkan bahwa gadis yang berpakaian tertutup itu seksi?" tanyaku.
Taehyung terdiam sebentar, "Wanita itu tahu bahwa tubuhnya bagus. Jadi untuk apa memamerkannya? Wanita yang menunjukkan lekuk tubuhnya menandakan ia tidak percaya diri dengan apa yang ia miliki. Dan aku tidak suka wanita seperti itu."
Aku menganggukkan kepalaku sambil tertawa sedikit, "Baiklah, aku mengerti."
Taehyung tersenyum lembut kepadaku dan kami sampai di taman. Taman ini kebetulan cukup ramai. Kabarnya ada pesta kembang api di sini. Banyak festival yang dilakukan di Toronto selama musim gugur dan itu menarik.
__ADS_1
"Akan ada kembang api di sini," ujarku.
"Benarkah?" tanya Taehyung dengan wajah terkejut lalu ia terlihat berbinar, "Aku sangat menyukai kembang api!"
Aku menoleh kearahnya dan menatap wajah pria itu. Wajah dengan kontur tegas dan ramah itu sangat tampan. Sikapnya juga menyenangkan. Jika aku selalu bertemu dengannya dan menghabiskan waktu bersama dengannya sesering mungkin, kurasa aku akan jatuh cinta padanya.
"Aku merindukanmu, Sohyun."
Aku terkejut dan tertegun mendengar silabel yang keluar dari mulut Taehyung.
"Hah?"
Ia menolehkan kepalanya padaku. Tatapannya lembut namun intens, membuatku semakin gugup. Terdengar letupan kembang api yang meramaikan taman ini. Seruan kemeriahan mengisi keheningan antara kami yang saling bertukar pandang.
"Aku merindukanmu, Sohyun. Sungguh. Selama di London, aku hanya selalu memikirkanmu."
Aku tergugu dan kehilangan kata-kataku, hanya bisa melihat wajahnya untuk tahu apa maksud perkataannya.
"Aku--"
Tiba-tiba sebuah dering telepon memotong perkataan Taehyung, bunyi handphone-ku. Aku meraihnya dari dalam tas lalu melihat nama pemanggilnya.
"Halo?"
"Sohyun, apa kau bersama Baekhyun sekarang?" tanya Lay di seberang sana dengan suara khawatir. Aku pun mulai was-was mendengarnya.
"Ada apa, Lay? Aku sedang tidak bersama Baekhyun."
"Ia susah di hubungi sekarang. Barusan tadi aku menelponnya dan ia mengatakan ada pekerjaan sedikit yang harus ia lakukan. Tapi sampai sekarang, ia tidak bisa dihubungi lagi. Lebih tepatnya ia tidak mengangkat teleponnya. Aku takut terjadi apa-apa dengannya."
Tubuhku menegang dan entah mengapa panik kini menyelimutiku. Aku langsung mematikan teleponku.
"Taehyung, maafkan aku. Aku harus pergi sekarang!" ujarku dengan panik.
"Hei, ada masalah apa? Perlu kuantar?"
"Tidak perlu! Aku pergi dulu. Sekali lagi aku minta maaf!"
Aku pun berlari meninggalkan taman dan Taehyung yang masih memanggil namaku. Aku tidak mempedulikan hal itu lagi dan kini yang ada di kepalaku hanyalah Baekhyun. Berlari secepat mungkin untuk mencari taksi dan meminta supirnya mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Sesampainya, dengan sigap aku berlari masuk ke apartemen milik Baekhyun.
"Tolong, bukakan pintu kamar pria asia yang tinggal di sini!" seruku pada penjaga yang berjaga di lantai bawah.
"Apartemen nomor berapa, Miss? Pria asia cukup banyak yang tinggal di sini, atau kau bisa menyebutkan nama pemiliknya?" tanya pria itu.
"Byun Baekhyun!"
Ia pun membuka buku catatan dan aku menggigit jariku, "Bisakah kau cepat?! Ini darurat!"
Pria itu menganggukkan kepalanya, "Baik, Miss. Apartemen nomor 204."
Aku dan pria penjaga itu pun berlari ke arah lift dan menuju lantai tujuh. Dengan cepat aku mencari nomor apartemen itu dan menemukannya. Penjaga itu pun membukakan pintu dan aku langsung masuk ke dalamnya.
Aku terkejut bukan main.
Terdapat pecahan kaca di lantai menuju arah dapur yang ada di sana, dan kulihat pria jelmaan Hitler itu meringkuk di sudut ruangan dengan mata kosong.
"Baekhyun!" seruku panik melihat keadannya yang sangat menyedihkan. Aku bersimpuh di dekatnya dan memeriksa tubuhnya.
"Baek, ini aku! Kau tidak apa-apa?!" tanyaku sembari memegang lengannya yang memeluk lututnya. Air mataku terbendung. Sakit rasanya melihat Baekhyun dengan keadaan seperti ini. Ia masih diam dan tidak merespon apa yang aku katakan. Pandangannya benar-benar kosong.
"Baek, jawab aku! Jangan seperti ini!" ujarku dengan sedikit bentakan karena aku sendiri takut bukan main! Tiba-tiba aku tersadar. Pecahan kaca yang ada di tengah dapur membuatku paham keadannya sekarang.
"Baek, tidak apa-apa. Oke? Ada aku di sini. Kumohon tatap aku!" ujarku melembutkan suaraku. Sialnya air mataku menetes. Aku tidak tahan melihat kesedihan dan trauma pria ini. Aku pun meraih wajah Baekhyun dan membuat netranya kini menatapku. Tatapannya ketakutan dengan luka di sana. Ia pasti kembali mengingat kecelakaan setahun yang lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa orang yang ia cintai.
"Tidak apa-apa, Baek, ada aku. Jangan takut."
Perlahan aku membawa Baekhyun ke pelukanku, merengkuhnya dengan kepala berada di dadaku, memberinya kenyamanan dan perlindungan agar ketakutannya menghilang. Tubuhnya perlahan lemas dan ia menangis. Awalnya ia menangis lirih lalu tangisnya semakin keras. Ia membalas pelukanku dan memelukku lebih erat lagi, menumpahkan perasaannya selama ini.
Hanya suara tangis, tanpa silabel berarti untuk saat ini, membuat hatiku tergores dan aku terluka. Aku benci melihat Baekhyun seperti ini.
Tapi aku bersyukur, aku ada untuknya di saat ia terpuruk.
__ADS_1
***