
"Aku mau vakum,"
Pria paruh baya berkaca mata itu terkejut mendengar perkataan Baekhyun. Artisnya sekarang sedang berbaring di kamar rumah sakit karena semalam ia collaps usai mengakhiri konsernya.
"Apa? Tapi kau masih--"
"Aku mau vakum!" ujar Baekhyun lagi membentak ke arah manajernya, Yoo Sangjin. Di sebelahnya, terdapat ketua agensinya yang datang menjenguk.
"Kau benar ingin vakum?" tanya Lee Hangeum, si ketua agensi. Ia bingung dengan Baekhyun karena sikap pria itu kini berubah drastis, "Apa kau masih memikirkan masalah kecelakaan yang menimpa Hyerin? Itu sudah setahun yang lalu--"
"Jangan sebut namanya lagi di hadapanku!!" seru Baekhyun meluapkan amarahnya. Mendadak kepalanya sakit lagi dan Baekhyun menggeram kesakitan sembari memegang kepalanya. Seorang pria dengan jas dokter masuk ke kamar Baekhyun begitu mendengar teriakannya. Lay memeriksa keadaan Baekhyun langsung. Kondisi mental pria itu sangat parah.
"Kau harus memberi Baekhyun waktu untuk istirahat dan vakum dari pekerjaannya selama satu tahun," kata Lay kepada Sangjin dan Hangeum.
"Tapi ia tidak bisa vakum untuk bulan ini. Ia memiliki lima konser yang sudah dijanjikan sebelumnya," kata Sangjin dengan wajah memelas dan ia sendiri juga frustasi.
"Batalkan, atau aku akan menuntut agensi kalian karena menyalahgunakan hak asasi di sini! Kau tahu temanku ini sakit dan terganggu mentalnya dan kalian masih dengan teganya mengatur jadwalnya dengan lima konser?!" tuntut Lay marah. Kedua alis pria tampan itu nyaris bertemu, membuat kedua orang itu terdiam.
Air mata Baekhyun menetes di sela geramannya menahan sakit. Satu nama yang menyiksanya setahun belakangan ini; Jung Hyerin.
***
Baekhyun mengeluarkan tas dan koper dari dalam mobil pribadi yang ia sewa di rental mobil di London. Ia memasuki rumah besar yang ia sewa selama empat bulan di London. Ia memilih perumahan Stainford sebagai tempat tinggalnya karena suasana yang hening di sana. Dengan kasar pria itu memasuki rumahnya dan meletakkan tasnya di kamarnya yang lumayan besar. Baekhyun menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya. Berharap perasaannya lebih baik selama tinggal di London.
Malam di London, ia sedang menyiapkan makan malamnya sendiri. Ia melihat isi kulkas yang sudah penuh dengan bahan makanan. Sebelum ke rumah ini, Baekhyun menelpon landlord untuk dipesankan segala kebutuhan yang ia perlukan. Ia mencoba menenangkan pikirannya dengan memasak sesuatu. Ia mengeluarkan telur, daging asap, bawang putih, pepper, dan sawi. Namun ia merutuki dirinya yang malah bingung mau membuat apa malam ini. Akhirnya dengan kesal ia memasukkan lagi semua bahan yang ia siapkan dan ia membuat ramyeon yang ia bawa dari Korea. Ia membawanya cukup banyak.
Baekhyun menatap ramyeon yang sudah jadi itu sembari bergumam, "Ini pertama kalinya aku makan ramyeon lagi usai debut."
Tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi. Pria itu terkejut. Siapa orang yang mengenalnya hingga ada yang membunyikan bel rumahnya ini. Ia mengintip di balik pintu dan mendapati seorang gadis dengan kotak makan kecil di tangannya.
"Hello, Mister. Perkenalkan aku Sarah Kim, tetanggamu. Rumahku di seberang rumahmu dan kurasa kau orang asia," ujar gadis bernama Sarah itu sambil tersenyum ramah.
Baekhyun diam. Ia mencoba menebak apakah gadis ini tahu identitasnya. Dari wajahnya, gadis ini orang asia. Ia melihat kotak kecil yang ia bawa sekilas, sedikit mengenali isinya sekilas.
"Kau orang Korea?" tanya Baekhyun dalam bahasa Korea yang dianggukki gadis itu dengan semangat dan senyum yang lebar.
Pria itu mulai merasa terganggu sekarang karena seorang gadis yang pura-pura ramah itu. Sedikit banyak Baekhyun bersyukur gadis itu tidak mengenal identitasnya.
"Mau apa ke sini?"
"Ah... ini, aku membawakan kimchi untukmu. Sebagai tanda perkenalan," jawab gadis itu.
Baekhyun menggertakkan giginya. Ia benci gadis ini karena ia mengingat satu hal. Sikap ramah gadis bernama Sarah itu sangat mirip dengan Jung Hyerin.
"Aku tidak biasa menerima pemberian orang asing. Dan lagi, aku tidak suka kimchi."
"Jika tidak ada hal lain, aku tutup pintunya."
Baekhyun menutup pintu dengan kasar dan kembali ke meja makannya. Ia menyantap ramyeon-nya dalam diam dan hening. Ia cukup kelaparan dan dalam hitungan menit, ia selesai makan. Menghela nafas panjang, ia putuskan untuk tidur lebih cepat.
***
Pagi itu Baekhyun kembali melihat Sarah. Gadis itu nampaknya marah padanya karena kejadian semalam. Tapi Baekhyun tidak terlalu peduli karena baginya itu tidak penting. Ia hanya perlu tinggal di sini tanpa harus berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Setelahnya, ia akan pergi dari sini. Ia menyalakan mobilnya dan melesat berkeliling kota London. Ia memarkirkan mobilnya di sekitaran taman di dekat jam Big Ben dan menelusuri jembatan yang ramai.
Kelam kembali menyelimuti hatinya saat ini. Padahal ia harusnya ceria karena langit sangat cerah dengan pemandangan kuning yang menyenangkan.
"Hyerin..." gumamnya sedih dan frustasi. Kecelakaan itu sangat membuatnya terpukul, membuat kesehatan jiwanya juga terganggu. Kepalanya sakit lagi kali ini kala mengingatnya. Ia menyandarkan tubuhnya di pinggir jembatan sembari menenangkan perasaan dan emosinya yang sudah nyaris setahun ini ia lakukan dengan bantuan Lay selaku psikolognya.
Perlahan ia merasakan suatu hal aneh. Ada orang yang menatapnya. Dengan cepat ia menoleh dan tepat ditolehan pertamanya, terdapat gadis tadi. Sarah menatapnya lalu membuang wajahnya dengan cepat lalu berlari menjauh. Baekhyun mendengus. Di sekian banyaknya tempat, mengapa harus bertemu lagi dengan Sarah di sini? Ia butuh menenangkan pikiran dengan sedikit alkohol hari ini.
***
Salahkan kebodohan Baekhyun malam ini. Kenapa ia mau berjalan malam-malam di tempat seramai ini. Ia pikir keramaian akan membantunya kali ini. Namun ia salah besar kala ia mendengar seorang gadis meneriakan namanya diikuti dengan teriakan gadis lainnya. Mereka fans fanatik.
"Sial!" gumam Baekhyun tertahan. Ia mulai berlari lurus dengan cepat diiringi suara kejaran yang semakin keras terdengar. Netranya menangkap satu sosok yang ia kenal. Ini saatnya ia meminta bantuan dari gadis itu.
__ADS_1
"Yak! Lepaskan aku!" seru Sarah kala tangannya ditarik Baekhyun paksa. Pria itu menariknya sambil berlari. Ia membutuhkan gadis ini dan ia akan menjelaskannya nanti. Namun semakin ke ujung, mereka malah menemukan jalan buntu.
"Yak! Kenapa kau membawaku ke sini? Kau siapa beraninya menarik tanganku dengan paksa, eoh?!"
Baekhyun tidak bisa berpikir jernih. Nafasnya juga tersengal hebat dan detak jantungnya berpacu semakin kencang kala Baekhyun mendengar teriakan fans itu. Niatannya untuk menjelaskan pada Sarah pun hilang dan dengan cepat ia memojokkan gadis itu ke sudut dinding.
"Yak, kau mau a-"
"Diam, jika kau ingin selamat,"
Tanpa pikir panjang, Baekhyun mencium gadis itu. Walau dari balik masker, ia bisa merasakan bibir lembut milik Sarah. Perasaan bersalah timbul dalam hatinya kala ia melepaskan ciuman secara tidak langsungnya, lalu dengan teganya meninggalkan Sarah sendirian di sana. Besok, ia harus minta maaf pada Sarah. Itu tekadnya.
***
"Sial!"
Baekhyun menggeram kala ia membaca sebuah artikel kecelakaan yang terjadi setahun yang lalu. Beberapa haters mengomentari soal Baekhyun yang terlepas dari hukum karena pembatalan pelaporan kasus dan hanya membayar semua bencana itu hanya dengan uang. Meskipun itu semua karena bantuan Tuan Jung, ayah Hyerin, ia tetap saja merasa tidak nyaman dan sekarang semua menyalahkan dirinya. Ia melempar handphone-nya kasar ke atas tempat tidur. Baekhyun butuh alkohol lagi sekarang.
Malam hari, perasaannya semakin memburuk. Ia menangis, meraung dan dilanda tekanan sungguh besar. Kenapa di saat ia butuh dukungan dari orang lain, ia malah mendapatkan cacian dari orang lain yang bahkan tidak kenal siapa dia sebenarnya. Semuanya hanya bisa men-judge tanpa mengetahui apa yang terjadi. Ia berniat turun ke lantai utama dan pergi keluar dari rumahnya untuk menenangkan diri. Namun yang terjadi adalah kepalanya sakit, dan ia merasakan sesak luar biasa. Ia kehilangan keseimbangan dan seketika pandangannya menggelap.
***
Baekhyun tertegun karena Sarah sekarang sedang berada di kamarnya dan ia sendiri terkejut karena selang infus yang entah sejak kapan terpasang di tangan kirinya. Jujur ia malu karena diselamatkan oleh orang yang sudah ia buat kesal dua hari yang lalu. Ia hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan tulus pada Sarah dan Helena lalu memintanya keluar dari kamarnya. Ia hanya butuh sendirian lagi sekarang. Namun harapannya buyar karena mendengar suara orang yang sangat ia kenal sedang menggedor pintu rumahnya.
"Ah... apa lagi sekarang?" gumam Baekhyun memijat pangkal hidungnya.
***
"Jadi bagaimana keadaanmu di sini? Kenapa kau baru menghubungi kami dan mengejutkan kami dengan situasimu sekarang?" tanya Lay sambil terkekeh kecil.
"Aku baik, dan kejadian ini di luar perkiraanku," jawab Baekhyun.
"Untung saja ada teman Sohyun yang seorang dokter, dan posisi kami yang sedang berada di Eropa juga. Jadi hanya butuh waktu beberapa jam untuk sampai di London," komentar Lay lagi.
"Jangan bilang itu Sohyun, Baek! Punggung gadis itu mirip sekali!" seru Sehun.
Baekhyun hanya menghela nafas membuat Chanyeol dan Sehun semakin ribut.
"Jadi benar kau dengan Sohyun?! Wah, tidak kusangka kau bisa mengandalkan kesempatan dalam kesempitan!" celetuk Chanyeol yang ditatap Baekhyun dengan tajam.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Jadi aku tarik saja dia. Aku hanya ingin minta tolong padanya untuk menyelamatkanku ketika kami melarikan diri. Tapi ia sangat berisik sehingga aku tidak punya pilihan lain untuk memaksanya seperti itu. Sialnya, kami berakhir pada jalan buntu."
"Lalu bagaimana caranya kalian selamat dari para fans fanatik?"
Blush...
Pipi Baekhyun merah seketika.
"Baek? Bagaimana caranya?" tanya Sehun.
"A-aku menciumnya di sudut dinding agar tidak ketahuan."
"APA?!"
Tawa ketiga orang itu pecah seketika dan wajah Baekhyun lebih merah dari sebelumnya. Bisa kalian bandingkan wajahnya dengan tomat jenis manapun di dunia.
"Kau luar biasa, Baekhyun!" seru Sehun.
"Kau sungguh bisa mengambil kesempatan seperti itu rupanya. Kau sungguh keren!" tambah Chanyeol.
"Sepanas apakah ciuman kalian?" celetuk Sehun lagi dan mereka tertawa semakin keras.
"Hentikan jika kalian tidak mau kuusir dari rumahku!" kata Baekhyun tajam sembari memijit pangkal hidungnya lagi.
"Baiklah, baiklah. Jadi... berapa lama kau akan tinggal di sini?" tanya Chanyeol yang kini sudah mengendalikan tawanya dan ia mengganti topik lebih serius.
__ADS_1
"Empat bulan." Baekhyun menjawab singkat.
"Kau bisa pergunakan waktumu untuk jalan-jalan, Baek," kata Lay, "Jangan mendekam di rumah ini terus."
"Lay benar. Kau ajak saja Sohyun jalan-jalan! Gadis itu terlihat ceria dan mudah diajak bergaul!" seru Chanyeol mulai lagi.
"Bisakah kau berhenti menyebut namanya?!" tanya Baekhyun mulai geram dan kesal. Keadaannya baru saja pulih dan kini teman-temannya menambah status keadaannya menjadi lebih buruk.
"Kuharap kau dapat kembali ke Korea lagi, Baekhyun. Kasus itu sudah lama ditutup dan kuharap kau tidak memikirkannya lagi,"
"Aku lebih tahu diriku dan kalian tidak perlu menyusulku seperti ini."
Perkara itu membuat Baekhyun lebih sensitif sekarang.
"Kau teman kami! Mana mungkin kami tidak datang ke sini ketika mendengar kabar kau jatuh dari tangga, huh?"
"Berterima kasih lah pada Sohyun. Jika ia tidak menelpon Chanyeol dan merawatmu, bisa kukatakan kau kritis sekarang."
Baekhyun merasa kekesalannya sudah di ubun-ubun.
"Bisakah kalian berhenti membicarakannya? Dia itu tidak lebih dari seorang gadis pengganggu yang sempat aku manfaatkan."
Beberapa menit kemudian, Baekhyun menyesali apa yang ia katakan kala ia melihat Sohyun masuk ke dalam kamarnya dengan semangkuk bubur, lengkap dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat bersalah sekarang mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan. Semuanya karena ketiga temannya yang menyebalkan!
Sohyun pergi dengan menangis dan kini Baekhyun menatap Lay, Sehun, dan Chanyeol dengan tajam.
"Hei, apa yang terjadi? Kenapa Sohyun menangis?" tanya Kyungsoo yang tidak mengerti situasinya karena habis dari dapur.
"Kalian semua keluar dari kamarku. Sekarang!"
***
Suara Sohyun adalah suara yang Baekhyun tunggu-tunggu dari tadi pagi. Perasaan bersalah menyelimutinya tapi ia tidak mau mengejar Sohyun karena rasa gengsinya. Ia dengan cepat membuka pintu dan menatap Sohyun yang sudah di depan kamarnya dengan keempat temannya.
Ajakan sebuah perjalanan menuju Edensor.
Baekhyun ragu kenapa tiba-tiba Sohyun mengajaknya.
"Kau harus liburan di luar rumah. Percuma kau jauh-jauh ke Inggris hanya untuk mendekam di rumah ini. Banyak tempat indah di London dan sekitarannya," kata Sohyun.
Baekhyun mencari arti ajakan Sohyun dengan menatap netra gadis itu dalam-dalam. Rasa marah Sohyun sudah hilang sekarang. Ia yakin ini pasti karena Lay. Ia melihat Lay keluar rumah dan mengetuk rumah Sohyun tadi pagi.
***
Pemandangan Edensor memang indah. Baekhyun mengakui hal itu dan ia berterima kasih diam-diam pada Taehyung, teman Sohyun yang juga seorang fansnya. Edensor mengajaknya melupakan semua rasa sakit yang ia rasakan. Ia ingin menangis sekarang namun ia merasa tak sanggup. Baekhyun pun berjalan menuju pinggir padang rumput yang luas ketika sampai di tempat festival. Ia berdiri dan menerawang sejauh mata memandang. Angin berhembus dan menerpa wajahnya.
Dingin.
Sedingin hatinya sekarang.
Sekelebat bayangan akan Hyerin muncul lagi dan ia memejamkan matanya. Kali ini ia merasa siap. Ia siap untuk melupakan sosok Hyerin. Ia ingin berdamai dengan perasaan bersalah dan terluka yang ia rasakan. Walau kini ia kembali ingin menangis, ia menguatkan hatinya.
Ia merasakan suatu sosok menatapnya.
Sohyun. Gadis itu kini menatapnya dan kini netra mereka bertemu.
Baekhyun tidak memalingkan wajahnya begitu juga Sohyun. Gadis itu membiarkan Baekhyun melihat dunia yang ada di mata Sohyun. Dunia penuh keceriaan yang Baekhyun juga impikan seperti dulu. Netra cokelat itu begitu indah.
Baekhyun memantapkan hatinya diam-diam. Ia mengandalkan Sohyun untuk bisa sembuh dari lukanya.
***
__ADS_1