SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 20


__ADS_3

Ini kedua kalinya aku terbangun dalam keadaan terkejut. Bagaimana tidak, ketika aku membuka mataku, hal yang aku lihat adalah wajah Baekhyun yang hanya berjarak sejengkal dariku. Dan lengannya,... lengannya berada di bawah kepalaku! Siapa yang bisa menjelaskan situasi ini?!


Kemana hilangnya bantal pembatas yang aku letakkan semalam? Apakah Baekhyun yang memindahkannya?


Aku terduduk perlahan dan segala spekulasi berputar di kepalaku. Mungkin Baekhyun sengaja memindahkannya karena ia merasa sempit saat tidur. Ah, apa jangan-jangan karena aku nakal ketika tidur?


Hei, nakal di sini aku suka menendang orang lain ketika tidur. Apakah aku melakukannya pada Baekhyun semalam sehingga ia harus menyingkirkan pembatas itu karena porsi tempat tidurnya jadi sempit?


Masalahnya kenapa lengannya bisa berada di bawah kepalaku?!


Aku berusaha berpikiran positif sebelum pikiran negatif mulai hinggap di kepalaku pagi-pagi seperti ini. Lagian tidak ada yang aneh ketika aku bangun hari ini.


You know what I mean, right?


Aku melirik Baekhyun yang masih tertidur dengan tenang. Ah, wajahnya saat tidur sangat tampan. Inikah efek jatuh cinta? Walaupun aku tahu rambutnya tampak berantakan bagai sarang burung yang terkena badai, ia tetap saja bak malaikat.


Ah, sebelum aku meledak karena senang tidur di sebelahnya semalam, aku pun bangun dari tidurku dan membersihkan diri. Setelahnya, aku langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Entah mengapa aku jadi ingin kimchi pagi ini. Jadi aku membuatnya sedikit dengan bahan yang ada di apartemen Baekhyun ini. Satu jam aku membuatkan sarapan ala kampung halaman, Baekhyun pun muncul di belakangku. Ia baru sekali bangun tidur. Dan wajahnya! Aigoo... matanya menyipit, ia mengernyitkan wajahnya, dan itu sangat lucu! Benar-benar khas orang yang bangun tidur dengan terpaksa.


"Kau sedang apa?" tanyanya sambil mengucek matanya ketika aku meletakkan makanan di meja makan.


"Menyiapkan sarapan. Perutku lapar sekali pagi ini karena semalam belum sempat makan," kataku pada Baekhyun. Pria itu pun mengambil handuk lalu mandi. Sementara aku membereskan tempat tidur. Kenapa aku merasa menjadi istrinya sekarang?!


Enyahkan pikiran anehmu, Sohyun! Kau hanya teman yang harus menemaninya melewati masa tersulitnya.


Ah... apakah boleh aku berharap bahwa hubungan kami lebih dari sekedar teman?


Tak lama kemudian, Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Ia pun berjalan menuju meja makan dan duduk di sana. Kami pun memulai sarapan dalam diam.


Namun, ketika makan, suatu hal aneh pun terjadi. Tiba-tiba saja Baekhyun mengambil sepotong kimchi yang kubuat tadi pagi dan memasukkannya ke dalam mulut.


Sekali lagi,


Ia memakan kimchi yang kubuat!


"Kau memakannya? Bukankah kau tidak suka kimchi?" tanyaku heran.


Ia mengunyah dalam diam lalu ia berkata, "Aku tidak suka kimchi bukan karena ada hubungannya dengan mantan kekasihku. Tapi ada suatu tragedi kecil yang menimpaku dulu."


Baik.


Sekarang ia sudah bisa membahas sesuatu yang berhubungan dengan mantan kekasihnya. Apakah efek bernyanyi semalam membuat traumanya sekarang sudah sembuh, huh?


Aku mengangkat sebelah alis mataku, tertarik dengan perkataannya.


"Aku pernah tersedak kimchi,"


Aku membelalakan mataku terkejut.


"Jadi itu alasan selama ini kau tidak mau makan kimchi??"


Ia menganggukkan kepalanya, "Kau orang pertama yang mengetahui hal ini. Tolong jangan cerita kepada keempat temanku. Mereka bisa mengetawaiku sampai mereka gila."


Entah apa yang harus aku ekspresikan. Aku senang menjadi orang pertama yang tahu rahasianya. Namun rahasia kecilnya itu justru ingin membuatku tertawa keras. Sialnya, hormon kebahagiaan itu tidak bisa kutahan hingga akhirnya aku lepas kendali.


Baekhyun terkejut juga melihatku mendadak tertawa keras dan sedikit menundukkan kepalaku agar bisa meredam tawa.


"Kau menertawakanku?" tanyanya merasa kesal padaku.


"Ah... maafkan aku, Baekhyun. Ceritamu itu konyol sekali. Bagaimana bisa seseorang tersedak kimchi?" jawabku sambil meredakan tawaku dan menghirup nafas sebanyak mungkin.


"Potongan kimchi-nya terlalu besar dan akhirnya membuatku tersedak. Rasa pedasnya sampai ke hidungku dan membuatku tidak bisa bernyanyi selama tiga hari. Alhasil, aku harus membatalkan konserku yang ada pada tiga hari tersebut."


Ah, begitu rupanya.


Permasalahannya bukan karena ia takut tersedak kimchi lagi, tapi ia dendam pada makanan itu karena membuatnya membatalkan konser.


Aku menganggukkan kepalaku sambil tertawa lagi.


"Jangan tertawa seperti itu. Kau membuat harga diriku terluka," ujar Baekhyun dengan wajah datar dan kini ia kembali menyantap sarapannya.


"Baik, baik. Aku minta maaf. Dan aku senang bisa menjadi yang pertama mengetahui rahasiamu itu," jawabku sembari tersenyum. Baekhyun melirikku yang berada di depannya, dan perlahan ia tersenyum.

__ADS_1


Seandainya aku bisa melihat senyumnya tiap pagi seperti ini...


***


Pagi ini aku menghabiskan waktu di rumah Baekhyun. Jadwalku hari ini sedang libur dan aku berusaha menulis cerita yang sudah terbengkalai di Word milikku. Aku duduk di meja bar yang ada di dekat dapur Baekhyun dan kulirik Baekhyun yang sedang menonton televisi di seberangku. Ia duduk membelakangiku dan hanya diam sesekali mengganti channel siaran yang kurasa tampak membosankan baginya.


Kudengar ia menghela nafas. Ia pun mematikan televisi tersebut dan berjalan ke arahku. Ia menarik kursi yang tak jauh dari sana dan duduk tepat di depanku. Aku berusaha mengendalikan fokusku untuk tetap menulis, tapi tatapan tajam dari Baekhyun membuat fokusku menghilang entah kemana. Aku melirikkan mataku ke arahnya dan ia tersenyum kecil.


Catat ini, ia tersenyum kecil dan entah mengapa ia manis sekali!


"Kenapa?" tanyaku padanya.


"Kau mau temani aku jalan-jalan?" tanya Baekhyun, "Aku sungguh bosan berada di apartemen seharian ini."


Yah, sepertinya lebih baik aku menemani Baekhyun untuk jalan-jalan hari ini. Siapa tahu aku juga mendapatkan ide cerita dari jalan-jalan. Aku pun mematikan laptopku dan beranjak dari dudukku.


"Ayo kita jalan-jalan!" ajakku tersenyum, ikut senang melihat wajah Baekhyun yang sumringah.


***


Kesan dingin dan tidak peduli yang aku sematkan pada Baekhyun tidak lagi berlaku untuk saat ini. Ia terlihat lebih hangat dan lebih ceria. Mungkinkah ini karakter Baekhyun yang sebenarnya?


Kami sedang berada di CN Tower yang merupakan ikon kota Toronto. Baekhyun terlihat senang sekali ketika melihat pemandangan dari ketinggian 553 meter tersebut. Aku meliriknya dan ikut tertawa kecil. Baekhyun menolehkan kepalanya padaku dengan tatapan tanya.


"Kau kenapa tertawa?" tanya Baekhyun.


"Kau seperti anak kecil, Baek. Kemana predikat Hitler yang aku sematkan padamu?" tanyaku lagi, dan wajahnya berubah datar kembali.


"Apakah salah kalau aku senang hari ini? Rasanya seluruh beban hidupku sudah berkurang separuh dan perasaanku jadi lebih baik sekarang," jawab Baekhyun sembari menatapku dalam.


Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari mata yang hitam itu karena itu akan membuat jantungku berpacu cepat.


"Berkat menyanyi semalam ya?" tanyaku, yang ia anggukki.


"Aku menyanyikan lagu itu untuk seseorang dan dengan hati yang tulus," ujar Baekhyun. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di depannya.


Tubuhku menegang seketika dan degup jantungku berpacu kencang. Mungkinkah lagu itu untukku?


Aku menatap syal cream pemberianku waktu itu. Ah, dia masih mengenakannya sampai sekarang walaupun caraku memberikan syal itu padanya tidak bisa dikatakan baik.


"Kau menyukai syal yang kuberikan?" tanyaku padanya dan ia tersenyum.


"Syal ini hangat dan nyaman, mana mungkin aku tidak menyukainya?" ujar Baekhyun.


Aku tersenyum tipis dan aku mengalihkan pandanganku menatap pemandangan yang menyegarkan mata dan hatiku.


"Sohyun, Baekhyun!"


Sontak kami berdua menoleh ke sumber suara, dan suara itu sangat tidak asing bagiku. Taehyung datang dengan senyum lebar sembari menghampiri kami. Perasaanku tidak enak karena mengingat dua hari lalu aku menolak perasaannya. Sementara Baekhyun tampak biasa saja.


"Oh, Taehyung. Senang bertemu denganmu di sini," jawab Baekhyun menyunggingkan senyumnya dan membalas jabatan tangan dari Taehyung.


Taehyung tersenyum, "Aku tidak menyangka akan bertemu idolaku lagi di sini!"


Pria itu pun menoleh ke arahku, "Apa kabar, Sohyun? Dua hari kau tidak ada kabar semenjak aku mengutarakan perasaanku padamu!"


"Apa?" tanya Baekhyun sedikit terkejut. Raut wajahnya cukup terlihat jelas, dan aku meringis.


"Perlukah kau membahas masalah itu sekarang, Taehyung?" tanyaku pada pria itu.


"Hahaha! Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Wajahmu jangan terkejut begitu, Baekhyun!" jawab Taehyung yang mendadak tertawa melihat ekspresi kami berdua. Kulirik Baekhyun yang berusaha menormalkan ekspresinya kembali.


"Aku tidak terkejut. Hanya tidak menyangka saja kau menyatakan perasaanmu pada Sohyun," jawab Baekhyun.


Ah, hatiku sedikit tidak enak mendengarnya.


"Tentu saja. Pria manapun pasti akan menyukai gadis seperti Sohyun, termasuk aku. Tapi sayang, aku baru saja ditolaknya kemarin. Aku harus lebih gencar lagi untuk mendekatinya!" jawab Taehyung dengan wajah sumringah dan ia melirikku. Ingin kupukul saja pundaknya itu.


"Berhentilah membahas yang tidak penting di sini," ujarku. Taehyung pun tertawa kecil.


"Maaf, aku hanya bercanda!" katanya dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Baekhyun.


"Ada proyek kerja yang harus dilakukan dan tempatnya bertepatan di sini. Aku dan timku sedang mengobservasi tempat," kata Taehyung melihat teman-temannya yang sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang di sini, mereka mengenakan jas hitam yang rapi. Berbeda dengan pria bermarga Kim ini. Ia memakai baju kemeja dengan lengan yang dilipat asal sampai ke sikunya dan celana jeans.


"Enaknya menjadi pengurus perusahaan, kau bisa menggunakan fashion sesukamu!" jawab Taehyung, "Ah, ya. Ngomong-ngomong kau sudah lihat internet?"


Baekhyun mengangkat sebelah alisnya begitu juga aku yang penasaran.


"Video kau bernyanyi di sebuah kafe sudah tersebar di internet, Baekhyun."


Sontak Baekhyun terkejut dan rahangnya mengeras.


"Mereka ramai membicarakanmu di media sosial. Kau harusnya kembali aktif dari cutimu sekarang. Suaramu sangat bagus dan aku menyukainya!" ujar Taehyung lagi tersenyum tulus. Kami berdua sama-sama terdiam. Aku sedikit terkejut melihat reaksi wajah Baekhyun yang terlihat terkejut juga.


"Ah, kalau begitu aku harus kembali bekerja lagi. Sampai bertemu lagi!" kata Taehyung lalu meninggalkan kami.


***


Aku dan Baekhyun kini berada di taman yang tidak jauh dari CN Tower. Kami sedang duduk berdampingan tanpa silabel yang keluar dari mulut masing-masing. Baekhyun memeriksa handphone-nya dan ia terlihat stres. Ia lalu mematikan layar handphone-nya dan menghela nafas dengan kasar.


"Kau baik-baik saja?" tanyaku pada Baekhyun.


Pria itu masih diam. Tatapan matanya lurus ke tanah.


"Apakah kau akan kembali ke Korea karena kau sudah lebih baik?" tanyaku pada Baekhyun.


"Aku memang sudah lebih baik tapi aku belum mau kembali bekerja lagi. Rasanya masih berat."


Ia mengusap wajahnya kasar dan sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan, dan aku kembali diam.


"Jika aku berhenti sebagai penyanyi, menurutmu aku harus bekerja apa?"


Aku menolehkan kepalaku kepada Baekhyun yang terlihat menerawang. Ya, menerawang masa depannya jika ia berhenti menjadi penyanyi.


"Kenapa kau ingin berhenti? Bukankah itu impianmu?" tanyaku padanya.


Ia tersenyum miring dan terlihat pesimis, "Ada saatnya aku jenuh. Setelah berita itu beredar, aku yakin manajerku akan datang ke sini dengan ketua agensiku dan memaksaku untuk kembali ke Korea."


Pria itu menghela nafas lagi, "Sedangkan aku masih ingin di sini."


Aku tersenyum, "Kau bisa ke sini lagi jika kau ingin. Kau harus berkarya lagi. Bukankah kau ingin mengabulkan permintaanku?"


Ia terdiam cukup lama. Dan keheningan menyelimuti kami. Aku sendiri tidak rela mengatakan hal itu. Aku masih ingin ia di sini, aku ingin mengajaknya jalan-jalan lagi seperti kami ke Edensor. Tapi semua demi karirnya. Impiannya adalah bisa bernyanyi lagi dan ketika ia sudah bisa melakukannya, mengapa ia tidak mau sekarang?


Tiba-tiba suara handphone Baekhyun memecah keheningan kami. Ia merogoh sakunya dan menatap layar.


Manajer Yoo is calling...


***


Jantungku berdebar kencang ketika aku dan Baekhyun tiba apartemennya. Dua orang pria sudah duduk di ruang tamu dengan wajah yang tidak bersahabat. Baekhyun menggenggam tanganku dan mengajakku masuk ke sana.


"Jadi dia gadis yang digosipkan bersama denganmu di London? Dan sekarang kau di Canada?!" seru seorang pria terlihat marah. Sementara pria di sebelahnya menghela nafas.


"Seperti yang kau lihat, Tuan Lee. Ada apa?" tanya Baekhyun acuh dengan sikap pria bermarga Lee itu.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Aku akan mengantarnya pulang terlebih dahulu. Tidak akan lama," kata Baekhyun lalu mengajakku ke kamarnya.


Aku pun segera membereskan pakaianku dan Baekhyun mengantarkan aku pulang, dengan jalan kaki, tentu saja.


"Apakah kau akan baik-baik saja? Semua salahku. Gara-gara aku kau jadi kena masalah seperti ini," ujarku merasa bersalah ketika kami sampai di depan gedung apartemenku.


Ia tersenyum tipis, "Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, Sohyun. Aku pasti akan baik-baik saja. Dan aku akan berusaha untuk tinggal di sini lebih lama lagi. Aku berjanji."


Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum, berusaha memberi Baekhyun semangat dan menenangkan diriku sendiri. Perlahan ia pergi meninggalkan aku yang masih berdiri, menatap punggungnya yang perlahan menjauh.


Entah mengapa, aku merasa ia akan benar-benar jauh sekarang.


***

__ADS_1


__ADS_2