SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 32 [Baekhyun's Eyes 10 - The End of Baekhyun's Side]


__ADS_3

Baekhyun menghela nafas. Kini pria itu berdiri menatap rumah penginapan milik Sohyun yang sudah kosong. Kabar yang ia dapatkan dari Lay, Sohyun kembali ke Toronto hari ini. Jujur saja, Baekhyun ingin sekali menyusul. Namun urusannya di sini belum selesai. Dan lagi, pria itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depannya.


Tentang hidupnya, karirnya, dan tentang hubungan asmara yang ia alami.


Jika gadis itu memang untuknya, tentunya Tuhan akan mempertemukan mereka kembali.


"Di sini kau rupanya. Semua orang mencarimu, akan ada acara makan-makan siang ini. Hwang PD mentraktir kita semua," ujar Manajer Yoo menghampiri Baekhyun yang masih terdiam.


Baekhyun menoleh kepada Manajer Yoo, "Ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu, Manajer Yoo."


"Baiklah, ada apa?" tanya Sangjin.


"Tidak di sini. Nanti, setelah kita kembali ke asrama," ujar Baekhyun.


Yoo Sangjin mengernyitkan dahinya bingung dan penasaran. Namun pria itu hanya diam dan menganggukkan kepalanya, sembari menerka apa yang ingin dikatakan Baekhyun.


***


"Hei, Baekhyun!"


Baekhyun terkejut melihat keempat temannya berada di aula asramanya itu.


"Kenapa kau baru pulang sekarang? Sohyun sudah kembali ke Toronto hari ini!" ujar Chanyeol menggebu. Jujur saja Chanyeol adalah shipper Baekhyun dan Sohyun. Menurutnya, Sohyun adalah gadis menarik yang hebat karena bisa meluluhkan hati seorang Byun Baekhyun. Senang juga karena bisa melihat temannya itu jatuh cinta lagi dan traumanya sekarang sudah sembuh total berkat gadis itu.


"Aku tahu. Kebetulan kalian ada di sini, aku juga ingin memberitahu kalian sesuatu. Ayo, kita ke ruanganku," ujar Baekhyun berjalan duluan meninggalkan keempat temannya yang saling pandang. Begitu juga dengan Sangjin yang mengekori Baekhyun.


Ketika semua sudah berkumpul, Baekhyun mengeluarkan handphone-nya.


"Aku mendapatkan informasi penting ketika berada di Jeju. Kuharap kalian mau membantuku. Terutama kau, Manajer Yoo," ujar Baekhyun dengan wajah serius.


"Ada apa? Informasi apa yang kau dapatkan?"


Baekhyun pun memutar rekaman suara yang ia dapatkan, membuat kelima lainnya terkejut dan geram bukan main.


"Dasar atasan gila! Bisa-bisanya ia melakukan hal seperti itu!" seru Kyungsoo dengan mata lebar.


"Untung saja aku dan Sehun berada di agensi berbeda," ujar Chanyeol yang diangguki Sehun.


Lay dan Sangjin terdiam mendengar rekaman itu. Sangjin lalu melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya.


"Kenapa kau berani sekali merekam hal itu, Baek? Jika kau ketahuan, bagaimana?" ujar Sangjin sedikit putus asa. Bantuan apa yang kira-kira bisa Sangjin lakukan untuk membantu Baekhyun? Ini jelas-jelas beresiko.


"Aku tidak peduli dengan karirku jika tidak selamat, Manajer Yoo. Aku hanya ingin membantu teman-temanku yang ditipu oleh pria itu."


Lay yang tadi diam kini angkat suara, "Pencabutan apa yang dikatakan pria itu tentang Yuri?"


"Biaya pengobatan ayahnya," jawab Baekhyun.


"Pengobatan?!" seru yang lain.


"Ayah Yuri sakit apa sampai harus dibiayai pengobatannya oleh agensi?"


"Panjang ceritanya, Manajer Yoo. Akan aku jelaskan kapan-kapan. Aku ingin meminta tolong padamu untuk mencari bukti-bukti dokumen investasi yang dilakukan oleh Hangeum."


Sangjin menarik nafas dalam, "Tapi itu beresiko, Baekhyun. Jika ketahuan, aku juga akan kena imbasnya!"


Baekhyun tersenyum, "Aku tidak akan membiarkanmu dipecat. Aku siap menanggung semuanya."


Semuanya terdiam. Tidak ada yang bisa berkata-kata jika Baekhyun sudah bertekad.


"Aku punya satu pertanyaan," ujar Chanyeol memecah keheningan yang terjadi beberapa detik itu. Semua mata kini tertuju pada pria Park itu.


"Apakah ayahmu terlibat dalam investasi itu, Sehun?!" tanya Chanyeol dengan serius dan dengan hati-hati, membuat semua yang mendengar tergelak, terutama Sehun.


"Yak, orang bermarga Oh itu banyak, dasar bodoh!" seru Sehun kesal sembari memukul kepala Chanyeol, berharap otak pria besar itu berjalan dengan benar.


***


Ternyata, mencari tahu tentang kasus korupsi itu tidak mudah. Apalagi yang ingin diselidiki adalah atasannya sendiri. Baekhyun merasa akan banyak hal yang harus diurus. Walaupun manajernya sudah menemukan bukti investasi dan dokumen kekayaan yang dimiliki Hangeum, tetap saja pria itu curiga.


"Tidak mungkin ia meletakkan dokumen penting di kantor seperti ini, tanpa perlindungan dan dengan ceroboh pula," gumam Baekhyun meneliti surat-surat yang ada di tangannya, yang dianggukki Sangjin.


"Aku punya waktu untuk meng­­-copy data ini. Aku juga curiga, kemungkinan besar Hangeum sudah mengetahui gerak gerikmu, Baekhyun."


Pria itu melepas kacamatanya, "Aku harap rekaman suara itu juga bukan tipuannya."


Baekhyun menghela nafas dan memijit pangkal hidungnya yang terasa berat. Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya.


"Kau ingin bicara denganku, Baek?" tanya Yuri.


Baekhyun menoleh dan mengangguk, "Tolong tinggalkan kami berdua, Manajer Yoo."


Sangjin pun menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruang tamu kamar asrama Baekhyun. Yuri pun duduk di sofa. Gadis itu juga penasaran dengan Baekhyun. Kenapa pria itu memanggilnya setelah beberapa hari lalu, ia mencampakan Yuri.


"Aku ingin minta bantuanmu, Yuri," ujar Baekhyun tanpa basa-basi. Pria itu memutar rekaman suara yang ia dapatkan itu, membuat Yuri membelalakan matanya, dan wajahnya pias.


"Ia tidak bisa menghentikan pembiayaan itu sekarang! Ayahku belum sadar, namun kata dokter keadannya mulai membaik!" seru Yuri hendak menangis.


"Kuharap kau jangan panik. Maka dari itu, aku butuh bantuanmu. Aku ingin kau mencari tahu siapa saja koneksi dari Hangeum. Gunakan kemampuan yang kau miliki untuk mencari tahu. Aku tahu kau sering ke klub yang terkenal di sini. Di sana banyak orang-orang yang kabarnya rekan Hangeum yang memiliki koneksi dengannya," ujar Baekhyun panjang lebar.


Yuri mengambil nafas panjang dan menghembuskannya, mencoba menenangkan dirinya, "Baiklah. Aku akan mencoba semampunya."


Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Kau bisa keluar sekarang. Aku ingin sendirian."

__ADS_1


Yuri terdiam lalu perlahan ia bangkit berdiri. Beberapa langkah ia hendak pergi, gadis itu kembali berbalik.


"Kenapa kau masih mau menolongku setelah aku membuat hidupmu menjadi rumit, Baekhyun?" tanya Yuri.


Baekhyun menatap Yuri datar, "Kau masih rekan kerjaku. Dan lagi, aku juga ingin menyelamatkan teman-temanku yang lain. Mereka berhak mendapatkan imbalan yang layak setelah mereka menjadi anggota latihan dan setelah mereka debut karena menjadi seorang idol itu tidaklah mudah."


Yuri tersenyum tipis, "Kau benar-benar orang baik, Baek. Itulah sebabnya aku jatuh cinta padamu."


Baekhyun terdiam, ia belum pernah mendengar pernyataan seorang wanita yang menyukainya seperti itu.


"Maafkan aku menyusahkanmu. Doakan setelah ini, aku bisa melupakanmu, Baek."


Baekhyun akhirnya tersenyum mendengar perkataan Yuri. Yah, bisa dikatakan ini akhir 'hubungan' mereka.


"Aku akan membantumu untuk melupakanku,"


"Tapi,... kita tetap teman bukan?" tanya Yuri.


Baekhyun mengangguk, "Kau tetap rekan kerja dan temanku, Yuri."


Mata Yuri berkaca-kaca, dan ia tertawa kecil, mencoba menghalau air matanya agar tidak tumpah. Gadis itu mengangguk lalu keluar dari asrama Baekhyun.


Sekali lagi,


Tidak mudah untuk melupakan seseorang yang kita sukai. Begitu juga dengan yang dialami Yuri. Gadis itu menangis usai meninggalkan ruangan Baekhyun.


Patah hati? Tentu saja iya.


Namun gadis itu bersyukur, ia tidak terlalu dalam mencintai Baekhyun. Ia sadar, bentuk rasa sukanya pada pria Byun itu hanya sekedar nyaman karena pria itu bisa memberikan kepedulian yang tidak pernah Yuri rasakan selama ini.


Yuri sadar dirinya juga terlalu jahat. Mencintai seseorang yang sudah memiliki orang lain bukanlah hal yang baik. Namun ia lega sudah mengatakannya pada Baekhyun, walau ia melakukannya dengan cara yang salah.


Baekhyun kini menghela nafas. Baginya, satu masalah yang menjadi pikirannya kini telah usai. Ia tidak membenci Yuri karena gadis itu tidak sepenuhnya salah. Ia hanya menganggap Yuri sebagai rekan kerja dan teman. Ia senang, hubungan palsu mereka bisa berakhir dengan baik dan gadis itu mau membantunya.


***


"Informasi apa saja yang kau dapatkan, Lay?" tanya Baekhyun. Mereka kini berkumpul di salah satu kafe yang sudah sepi pengunjungnya karena sudah lewat pukul sepuluh malam. Kebetulan kafe ini tutup tengah malam.


"Aku dan Kyungsoo mendengar informasi bahwa Hangeum melakukan investasi terhadap suatu perusahaan tambang di luar negeri bersama rekan pengusaha yang lain, serta beberapa investasi yang lain. Yah, pria itu cukup terkenal di kalangan para pengusaha walaupun ia juga ketua agensi artis," jelas Lay panjang lebar.


"Tidak akan mudah untuk mencari bukti lain jika temannya itu para pengusaha besar," ujar Kyungsoo, "Aku yakin jaksa pun akan kalah dalam mengajukan tuntutan karena mereka pasti akan mendapatkan pengacara terbaik."


Tidak lama kemudian, Sehun dan Chanyeol pun masuk ke dalam kafe yang sudah dijanjikan itu.


"Maaf kami terlambat. Ada beberapa hal yang harus kami urus," ujar Sehun lalu mengambil tempat duduk.


"Ada beberapa informasi yang kami dapatkan dari ketua agensi kami," kata Chanyeol, membuat semua mata tertuju pada pria itu.


Selang beberapa menit kemudian, sosok seorang gadis masuk ke dalam kafe itu.


"Woah, sepertinya Yuri sudah tahu masalah itu, ya, Baek?" ujar Chanyeol.


Yuri menatap Chanyeol dengan datar, lalu ia duduk tidak jauh dari Lay, "Aku mendapatkan informasi. Aku tidak tahu ini berguna atau tidak."


Baekhyun dan yang lain menganggukkan kepalanya.


"Kabar yang aku dapatkan, hampir seluruh jaksa dan pengacara adalah koneksi dari Hangeum. Kau tahu, tidak mudah untuk mengajukan tuntutan itu. Semua usaha yang kita lakukan pasti sia-sia dengan kekalahan." Yuri menyandarkan dirinya di kursi dengan wajah lesu.


"Ternyata uang memang segalanya," ujar Kyungsoo sinis.


Baekhyun menghela nafas kasar lagi. Sudah kesekian kalinya ia melakukan hal itu karena ia terlalu kesal.


Lay tiba-tiba tersenyum, membuat semua orang heran dan menaruh atensi pada pria itu.


"Kurasa kita melupakan satu poin. Masih ada orang yang bisa kita andalkan untuk mengajukan tuntutan itu," ujar Lay.


***


"Suatu kehormatan untukku bisa bertemu Anda, Byun Baekhyun. Ada yang bisa dibantu sampai kau harus datang kemari? Untung saja pakaianmu cukup tertutup."


Baekhyun tersenyum, begitu juga dengan Lay.


"Sekarang sedang hujan dan baru saja sudah jam makan siang. Saya tidak ingin merepotkan," ujar Baekhyun.


Kim Minseok kembali tersenyum lalu merapihkan kerah kemejanya, "Ada apa, Lay? Apakah ada kasus baru yang harus kuselidiki?"


Lay tertawa kecil, "Beruntunglah aku mengajukan diriku untuk berkenalan denganmu, Jaksa Kim. Kami ingin mengajukan tuntutan kepada Lee Hangeum, ketua agensi dari perusahaan Baekhyun."


Minseok mengangkat sebelah alisnya, "Ah. Jangan bilang padaku bahwa ini tentang kasus korupsi yang ia lakukan?"


Baekhyun dan Lay tergelak karena terkejut.


"Bagaimana kau bisa tahu itu, Jaksa Kim?" tanya Baekhyun.


"Yah, sedang ramai dibincangkan oleh teman-temanku. Namun mereka tidak berniat mengurusnya karena Tuan Lee memiliki banyak koneksi yang tidak bisa dikatakan main-main. Lagi pula, baru kalian yang melaporkan hal ini."


"Bisa kau tolong kami untuk mengurus hal ini, Jaksa Kim?" tanya Baekhyun, berharap Minseok adalah orang yang ia harapkan.


Pria bermata indah itu pun tersenyum. Walaupun wajahnya sangat tampan dan manis di saat yang bersamaan ketika tersenyum, ada makna tersembunyi di balik senyumnya itu.


"Aku sangat ingin mengurus hal ini jika ada yang mengajukan, Tuan Byun," jawabnya.


***

__ADS_1


Berita tentang tuntutan yang diberikan Baekhyun kepada atasannya cukup menggemparkan. Banyak yang bertanya-tanya ada apa di antara keduanya, mengingat yang mereka tahu hubungan Baekhyun dan ketua agensinya berjalan dengan baik.


Teman-teman yang ada di agensi cukup murka mendengar kasus korupsi itu. Terutama ketika mereka baru mengetahui keadaan rekan mereka, Yuri, yang ayahnya sedang dalam keadaan koma di rumah sakit.


Beberapa informasi dan data sudah diurus dalam waktu beberapa minggu ini. Di masa-masa itu, Hangeum memecat Baekhyun dari agensinya karena alasan melayangkan tuduhan palsu. Tentu saja Baekhyun tahu Hangeum akan mencari pengacara kompeten untuk melawannya.


Hari ini, adalah hari persidangan pemutusan, setelah beberapa persidangan yang telah dilalui. Beberapa kali juga, Jaksa Kim merasa kesulitan karena lawannya membawa pengacara hebat yang bisa memutar balikkan fakta. Baekhyun harap semua berjalan seperti yang ia inginkan.


"Kau sungguh berani, Baek," ujar Jongdae, teman satu agensi dengan Baekhyun. Pria itu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Baekhyun di pengadilan, "Aku tidak menyangka ternyata isu itu benar. Bahkan kau sampai rela dipecat oleh pria itu!"


Baekhyun tersenyum tipis, "Aku hanya berusaha untuk mendapatkan hak-hak yang seharusnya kita dapatkan."


Jongdae menepuk pundak Baekhyun, "Kuharap persidangan terakhir kali ini lancar."


Baekhyun menganggukkan kepalanya dan beranjak ketika Lay dan Manajer Yoo memanggilnya untuk masuk ke ruang sidang. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Semoga saja semuanya selesai sesuai dengan harapan.


***


Hamparan tanah lapang itu terasa sedikit menyeramkan kala matahari mulai berwarna jingga. Perlahan awan berarak terlihat sedikit lebih tinggi karena sinar matahari yang mulai meredup. Tanah itu sebenarnya tidak lapang, terdapat banyak gundukan tanah, dan batu-batu yang tertancap pada setiap gundukan tanah itu.


Baekhyun berdiri cukup jauh dari tempat itu. Di sebelahnya, keempat temannya memberikan dukungan dengan menepuk pundak Baekhyun, begitu juga dengan Sangjin. Pria itu tetap memberikan semangat pada Baekhyun. Semilir angin membelai tubuh Baekhyun. Angin yang sangat dingin memasuki musim dingin. Beberapa hari lalu salju telah turun di Korea. Warna putih mulai terlihat sedikit menutupi rerumputan.


Baekhyun berjalan perlahan sendiri memasuki pemakaman, matanya juga perlahan mencari-cari sebuah nama pada batu nisan itu. Ketika matanya terkunci pada satu fokus, langkahnya juga ikut terhenti. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya sekarang ketika melihat nama yang sudah hampir dua tahun, tidak ingin ia dengar.


Baekhyun pun berjalan mendekat. Hatinya terasa dingin ketika batu nisan itu sudah tepat berada di depan matanya. Ia pun berjongkok dan meletakan sebuah karangan bunga di atasnya.


"Hai, Jung Hyerin. Lama tidak bertemu," ujar Baekhyun berusaha tersenyum. Mentalnya sudah siap kali ini.


"Maafkan aku tidak pernah mengunjungimu dalam waktu dua tahun ini. Ada banyak hal yang terjadi pada diriku."


Baekhyun memaksa tersenyum, mencoba agar tidak meneteskan air mata.


"Aku tidak pernah bisa membencimu, Hyerin. Kau pernah menjadi bagian dalam hidupku, walau itu ternyata sebentar saja. Kau lebih mencintai orang lain daripada aku. Itu seharusnya membuatku sadar bahwa kau harusnya bahagia bersama orang lain.


"Namun karena keegoisanku, aku merenggut hidupmu," ujar Baekhyun. Nada suaranya sudah bergetar sekarang. Ia menangis.


"Maafkan aku,..."


Cukup lama Baekhyun menangis. Angin juga berhembus cukup kencang, seperti ikut bersedih dengan apa yang Baekhyun rasakan. Pria itu akhirnya mengusap wajahnya, berharap rasa sedih berlarutnya itu akhirnya hilang.


Di sini,


Ia harus mengakhiri rasa trauma sebenarnya hari ini, dan saat ini juga.


"Aku ingin bercerita sedikit padamu tentang apa yang aku alami beberapa hari lalu,"


"Atasanku, Lee Hangeum, akhirnya terbukti bersalah atas kasus korupsi yang ia lakukan. Jangan tanya padaku bagaimana prosesnya, itu akan membuat kepalaku pusing karena aku tidak mengerti.


"Semua uang kami yang ia korupsikan, akhirnya dikembalikan dan diberikan kepada kami. Itu adalah hak yang harusnya memang kami dapatkan. Dan yang mengurus semua itu adalah Manajer Yoo. Yah, dia pria yang hebat. Aku kagum padanya karena ia bisa merangkap menjadi apa saja selama menjadi manajerku."


Baekhyun tersenyum. Tangannya memberanikan diri menyentuh batu nisan itu.


"Ada banyak yang ingin aku ceritakan padamu, Hyerin. Tapi rasanya hanya itu dulu. Selain itu, aku ke sini ingin berpamitan."


"Aku sudah melupakanmu dari hatiku. Hari ini, aku mengembalikan 'kunci' yang masih tersimpan di benakku. Perasaan rasa bersalah yang aku rasakan, aku ungkapkan padamu. Dan setelahnya, kita usai."


"Aku akan kembali lagi ke sini suatu hari nanti, sebagai temanmu, Hyerin."


Baekhyun lalu berdoa untuk makam Hyerin. Lalu dengan satu tarikan nafas, ia melangkah meninggalkan makam itu. Dengan hati yang lebih ringan sekarang, semuanya telah usai. Ia tersenyum dengan penuh kelegaan di sana.


Angin kembali berhembus mengiringi kepergian Baekhyun. Dan pria itu merasa, bahwa Hyerin menjawab apa yang ia katakan tadi.


"Sudah selesai, Baek?"


Baekhyun tersenyum dan mengangguk.


"Ayo kita kembali ke asramamu dan bersiap-siap," ujar Lay.


***


Malam ini pesta terlihat meriah di gedung agensi itu. Ada beberapa kamera yang memotret pesta kali ini. Semua merasa bahagia dan berterima kasih kepada Baekhyun dan teman-temannya. Hari ini juga menjadi momen penting.


"Sesuai dengan keputusan yang kita rapatkan bersama, kami sepakat bahwa akan mengangkat Tuan Yoo Sangjin, sebagai ketua agensi yang baru," ujar wakil agensi. Tepuk tangan pun meriah dan blitz kamera mulai benderang berkali-kali. Ini akan menjadi pemberitaan yang cukup ramai nantinya.


Sangjin pun kini naik ke atas panggung untuk memberikan kata sambutan dengan pengangkatan jabatannya sekarang.


"Terima kasih kepada kalian yang sudah mendukungku. Aku memang berasal dari agensi ini yang ditugaskan menjadi manajer Baekhyun. Namun aku bersyukur aku masih bisa menjalankan kinerja dengan baik sebagai manajer Baekhyun. Namun, karena kepercayaan kalian untuk mengangkatku menjadi ketua agensi, dengan terpaksa aku akan menyerahkan jabatan manajerku kepada orang lain. Aku akan membantunya untuk mencari manajer baru."


Tepuk tangan kembali bergemuruh kali ini. Namun tidak dengan Baekhyun, pria itu hanya diam tidak bereaksi. Ia seperti memikirkan sesuatu kali ini.


"Ada apa, Baek?" tanya Kyungsoo melihat reaksi diam dari Baekhyun. Lay, Chanyeol dan Sehun juga saling tatap melihat tingkah Baekhyun yang sedikit mencurigakan.


Perlahan Baekhyun tersenyum.


Yah,... mungkin inilah saat yang tepat. Mengungkapkan keinginannya yang memang sudah lama ia pikirkan.


"Kau tidak perlu mencarikanku manajer baru, Ketua Yoo. Karena aku mengundurkan diri dari agensi ini dan dunia idol."


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2