
"Sarah!"
Aku menoleh ke sumber suara dan terkejut kala kulihat sosok yang tidak kusangka akan berdiri di sini. Ia menghampiriku dengan senyum lebarnya.
"Mr. Kelly!" seruku terkejut, "Bagaimana kau bisa di sini?" tanyaku sembari menjabat tangannya.
"Aku rencana akan ke rumahmu usai aku mengikuti festival di sini. Ada temanku yang menghubungiku untuk hadir di acara ini. Kau sendiri kenapa bisa di sini?"
"Same like you, Mister. Temanku mengajakku ke sini agar aku bisa mendapatkan ide dalam menulis."
"Ah, begitu rupanya."
Aku menganggukan kepalaku pelan. Atensiku kembali tersita pada sosok Baekhyun yang kini sudah menjauh dan ia menyusul Chanyeol yang sedang ada di stan makanan.
"So, how about your work? Apa kau sudah mulai dapat ide?" tanya Mr. Kelly.
Aku menganggukan kepalaku lagi, "Well, sedikit ide untuk saat ini."
Pria berkepala tiga ini menghela nafasnya, "Kuharap dengan liburanmu saat ini, kau bisa menyelesaikan tulisanmu dan kembali ke Canada. Banyak buku yang harus kau edit, Sarah. Aku sudah mulai jengah dengan Mrs. Johnson yang sekarang sering bertanya tentangmu padaku."
"I'm so sorry, Mister. Aku janji aku akan kembali ke Canada lagi nanti. Waktuku di sini tinggal dua minggu lagi," ujarku padanya.
"Alright."
"Kelly!" panggil seroang wanita yang sepantaran dengannya memanggil dari pintu suatu rumah. Mr. Kelly hanya memberi kode lalu ia berpaling padaku.
"Besok aku akan ke rumahmu, setelahnya aku akan pulang lagi ke Canada. Aku pergi dulu," ujarnya yang kujawab dengan anggukan. Usai Mr. Kelly masuk ke rumah itu, Taehyung datang menghampiriku.
"Itu siapa?" tanyanya penasaran.
"Dia editorku," jawabku padanya.
"Wah, kalian bertemu di sini?! Kau pasti langsung tertekan dengan target pekerjaan yang ia minta!" gumam Taehyung, "Siapa namanya?"
"Mr. Kelly Hanson."
Dia mengernyitkan dahinya. Heran bercampur terkejut kala mendengar namanya.
"Kenapa?"
"Namanya seperti nama perempuan!"
Aku memukul pundaknya kecil karena tidak menyangka akan perkataan yang keluar dari mulutnya. Well, itu mengejutkan.
"Kenapa kau memukulku? Bukankah itu benar? Namanya seperti nama perempuan!" ujarnya lagi sambil membelalakan matanya tak terima.
"Baiklah. Terserah padamu. Ayo kita susul mereka di stan makanan!" ajakku pada Taehyung untuk menyusul teman-teman yang lain.
Kami pun memutuskan untuk mencicipi kue-kue yang ada di stan tersebut. Rasanya terasa lebih enak dan perpaduan rasanya sangat unik dan membuatku ketagihan. Untuk teksturya, seperti kue pada umumnya yang terasa garing di bagian luarnya namun lembut di bagian dalam.
Usainya, kami memutuskan makan siang bersama. Kami berjalan ke salah satu rumah yang cukup ramai. Kesan elegan dan klasik langsung menyergap kami dengan aroma daging panggang yang menggugah selera. Rumah ini awalnya rumah penduduk biasa, namun karena ada festival, pemilik rumah mengubahnya menjadi tempat makan kecil-kecilan. Nuansa kayu berwarna hitam putih dan cokelat yang sangat indah dengan perpaduan property kayu dan porselin di sudut ruangan menambah kesan elegan dan klasik.
Kami pun duduk di kursi makan berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu dan memesan makanan yang enak di sini. Sambil makan, aku menulis beberapa poin penting yang akan aku masukkan ke dalam tulisanku nanti.
"Sarah, kau ini penulis ya?" tanya Chanyeol penasaran dengan tulisan yang kubuat. Aku menganggukan kepalaku dan hal itu membuatnya dan Sehun terperanjat.
"Wah! Aku tidak menyangka kau seorang penulis. Apa saja judul bukumu yang sudah terbit?" tanya Sehun.
"Luminati, Jack Browns in The Darkness, dan Hologram," jawabku.
"Woah! Seriuskah kau menulis novel itu?" seru Taehyung, "Aku membaca novel yang berjudul Hologram! Wah itu seru sekali!"
Mataku terbelalak karena senang sekaligus heran, "Kenapa kau tidak mengenali aku yang menulisnya?"
"Karena nama penulis di buku itu Sarah Kim!"
__ADS_1
"Itu nama internasionalnya."
Mata kami terperanjat pada sosok Baekhyun yang akhirnya bersuara setelah nyaris setengah hari ia menutup mulutnya.
"Oh, Baek! Bagaimana kau bisa tahu kalau itu nama internasionalnya?" celetuk Kyungsoo. Kata-kata yang keluar dari mulut Baekhyun kini menjadi sangat keramat. Kami semua menunggunya mengeluarkan suara lagi.
"Ia mengenalkan dirinya seperti itu padaku ketika pertama kali bertemu," jawab Baekhyun lagi.
"Oooohhhh..." kata Chanyeol dan Sehun ber-oh ria dengan tatapan melirik Baekhyun sambil tersenyum.
"Jika ini menyangkut Sarah, kau pasti akan berbicara sesuatu. Sungguh unik!" celetuk Chanyeol. Baekhyun hanya tenang dan melanjutkan makanannya seolah apa yang di katakan Chanyeol tidaklah penting.
"Oh, begitu!" kata Taehyung lagi lalu ia tersenyum antusias padaku, "Kalau begitu aku fansmu, Sohyun! Boleh aku minta tanda tanganmu di bukuku?!"
Taehyung lalu mengeluarkan buku yang berjudul Hologram itu. Aku terperanjat terkejut karena tidak menyangka ia akan membawa buku itu dalam perjalanan ke sini. Semuanya juga tertegun, kecuali Baekhyun. Ia sama sekali tidak berekspresi. Ia hanya melirik buku yang Taehyung pegang sekilas, lalu ia kembali melanjutkan makannya.
Aku geleng-geleng kepala dan meraih buku itu serta menandatanganinya. Taehyung terlihat sangat senang sekarang. Berbeda dengan sikapnya saat bertemu pertama kali denganku, ia kini lebih kekanak-kanakan.
"Kenapa kau waktu itu tidak bertanya buku apa saja yang sudah aku terbitkan? Dan lagi, kenapa kau membawa buku novel itu ketika kita jalan-jalan seperti ini?" tanyaku pada Taehyung.
"Aku juga heran kenapa aku tidak bertanya soal itu padamu. Rasanya saja aku lupa dan terlalu senang mengajakmu keliling London waktu itu. Aku kebetulan sangat menyukai buku ini. Jadi selalu kubawa kemana pun aku pergi," jawab Taehyung.
"Heol..." decak Sehun takjub dengan tingkah Taehyung.
"Kau benar-benar fans dengan banyak idola yang beruntung saat ini," komentar Lay sambil tertawa kecil.
"Ya, benar. Bagaimana bisa ia bertemu dengan keempat idolanya dalam waktu yang bersamaan dan menghabiskan waktu bersama-sama?" tambah Kyungsoo.
Terdengar suara sendok dan garpu yang diletakkan di piring. Kami melirik Baekhyun yang sudah selesai makan. Ia bangkit dari duduknya.
"Hei, kau mau kemana?!" tanya Chanyeol melihat Baekhyun yang berjalan keluar dari tempat makan.
"Cari angin." Baekhyun menjawab singkat lalu ia keluar.
"Anak itu! Masa aku lagi yang harus bayar makanannya?!" decak pria tinggi itu sambil menghela nafas dan melihat isi dompetnya.
Aku pun dengan cepat menyelesaikan makananku dan meletakkan uangku di meja.
"Ingin mencari foto guna referensi tulisanku!" jawabku sambil berlari keluar dari rumah makan.
Niatku sebenarnya adalah mencari Baekhyun. Entah ada angin apa aku ingin mengikuti pria itu sekarang. Langit mendung kali ini mulai sedikit tergerai dengan sinar matahari yang perlahan menyeruak di antara gumpalan awan di langit. Aku melihat sekitarku dan medapati Baekhyun yang kini berjalan menuju perbukitan kecil yang jauh dari perumahan itu. Pria itu berjalan terus sampai ia menemukan sebuah pohon besar di tengah bukit dengan pemandangan rumput yang luas. Sepanjang mata memandang ke arah bawah, terdapat sungai kecil yang mengalir dengan riak air kecil dan air yang jernih.
Diam-diam aku mengekori pria itu. Sekalian dengan kamera aku memotret pemandangan di kanan dan kiriku.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara itu mengejutkanku dengan tiba-tiba. Aku melihat Baekhyun sedang berbalik menatapku datar dari jarak sepuluh meter di depanku. Aku hanya tersenyum meringis mendapati diriku tertangkap basah sekarang.
"Hanya mengambil foto-foto yang bagus," jawabku.
"Haruskah kau mengikutiku juga?"
"Tentu saja! Aku takut kali ini kau akan pingsan dan bergulir jatuh dari bukit dan berakhir di sungai itu," jawabku sekenanya dan kulihat perubahan raut wajah Baekhyun, lebih dingin dan menyeramkan. Aku pikir ia akan mengatakan perkataan sinis yang menyakitkan hati. Namun tidak kusangka ia bertanya pertanyaan yang tidak terduga.
"Kurasa kau ingin menulis novel pembunuhan ya?" ujarnya lalu berbalik dan melanjutkan jalannya ke pohon besar itu.
"Ya! Aku ingin beralih ke sana. Tapi aku sedang dalam projek novel ber-genre romantis!" jawabku sambil sedikit berteriak karena angin berhembus sangat kencang dan Baekhyun berjalan menjauh.
"Aku tidak bertanya soal itu," katanya lagi.
Dia ini sungguh menyebalkan. Ingin sekali, benar, aku mendorongnya dari bukit ini dan melihat dia bergulir jatuh dan berakhir di sungai itu. Namun niat iblisku kali ini harus aku simpan baik-baik. Aku bertekad untuk bersikap baik padanya dan menepati janjiku pada Lay untuk menyembuhkan Baekhyun dari depresi yang ia rasakan. Mendengarnya berkata dengan dingin seperti itu sudah cukup bagiku. Artinya ia berani mengekspresikan dirinya padaku, walau dengan sikap yang sangat menyebalkan.
Aku pun berhasil sampai di pohon besar itu dan kulihat Baekhyun sedang duduk di bawahnya. Ia menikmati pemandangan di sekelilingnya dengan hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Ia lalu mengambil buku sketsa dari dalam tas punggung yang sedari tadi tidak pernah dilepaskannya. Aku memperhatikan dirinya yang kini mulai menggambar.
"Kau bisa menggambar?!" seruku terkejut melihat jari-jemarinya dan pensil itu bekerja sama dengan baik dan membentuk suatu garis abstrak yang sialnya tampak bagus bagiku.
Ia tidak menjawab pertanyaanku, hanya menoleh padaku yang kini memberanikan diri duduk di sebelahnya. Baekhyun juga tidak menolak aku duduk di sebelahnya dan ia kembali fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
Menurutku, menggambar adalah cara seseorang mengekspresikan dirinya. Orang depresi biasanya bisa sembuh perlahan dengan menggambar karena ia meluapkan seluruh emosinya. Pertanyaanku sekarang adalah; kenapa dia tidak mengekspresikan perasaannya selama ini dengan menggambar atau bernyanyi?
"Aku baru bisa melakukannya sekarang," kata Baekhyun tiba-tiba yang membuatku membelalakan mataku. Ia seolah bisa membaca pikiranku dan perlahan aku bergidik.
"Kau cenayang?!" seruku menatapnya dengan tatapan ngeri.
"Wajahmu menunjukkan semua isi kepalamu," komentarnya lagi sambil fokus menggambar.
Aku menekuk wajahku sambil menatap Baekhyun yang tampak tak peduli itu. Perlahan, aku memperhatikan gambar yang dibuat olehnya. Pemandangan yang ia buat dengan pensil itu sangat bagus walau hanya warna hitam putih. Tampak nyata dengan kotras dan bentuk yang hampir menyerupai aslinya dengan gereja St. Peter yang menjadi salah satu objeknya itu.
"Kenapa kau baru bisa melakukannya sekarang?" tanyaku lagi.
Baekhyun menghentikan kegiatan menggambarnya dan kini ia menatapku tajam. Tak lama kemudian, ia menghela nafas dan meletakkan pensilnya.
"Selama ini rasanya terlalu berat. Aku bahkan hanya bisa mengerang kesakitan kala depresiku kambuh. Jika aku melihat buku sketsa dan pensilku ketika aku seperti itu, aku hanya akan menghancurkannya. Bernyanyi pun aku tak sanggup. Itu sangat menyiksa," ucapnya. Aku tertegun. Ia banyak bicara kali ini dan itu cukup membuatku senang.
Aku menganggukkan kepalaku. Pandangan aku alihkan dari netranya yang menatapku intens dan itu membuatku cukup gugup. Edensor dan keindahannya terlalu romantis untuk situasi antara aku dan pria di sebelahku. Salahkah aku kalau aku gugup?
"Aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti! Bagaimana?!" ajakku pada Baekhyun untuk mengusir keheningan antara kami. Aku sangat bersemangat sekarang sementara dia hanya menampilkan ekspresi biasa saja kala aku mengajaknya, menyebalkan.
"Aku tidak mau jalan-jalan denganmu lagi," jawabnya yang membuatku membelalakan mataku tak terima.
"Kenapa kau tidak mau jalan-jalan denganku lagi, eoh?"
"Karena kau berisik."
"Berisik?!"
Nada bicaraku naik satu oktaf. Wah, dia benar-benar...
"Ya. Kau berisik. Sekarang pun kau seperti itu,"
Aku menatap Baekhyun dengan tatapan membunuh. Jika saja malaikat tidak menyadarkanku, aku pasti sudah mendorongnya untuk jatuh ke sungai itu sekarang. Sungguh!
"Aku juga seperti ini karena kau, Byun Baekhyun. Kenapa kau selalu menguji kesabaranku, eoh?!"
Ia menghela nafas lalu menutup buku sketsanya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia membereskannya, lalu bangkit berdiri. Melihat tingkahnya sekarang membuat emosiku makin tersulut.
"Kau mau kemana?!" tanyaku.
"Ke rumah makan," jawabnya dengan wajah datar dan perlahan ia meninggalkanku.
Impian yang sangat aku inginkan sekarang adalah mencakar wajahnya!
***
Kami menghabiskan waktu kami bersama-sama mengelilingi Edensor usai menikmati festival. Waktu sudah beranjak malam dan akhirnya kami memutuskan pulang. Usai sejam diperjalanan dari Edensor ke Sheffield, kami melanjutkan perjalanan selama dua jam menuju London.
Malam ini begitu dingin walau suhu tidak turun menyentuh angka lima derajat celcius. Aku kembali duduk bersama Taehyung, Sehun, dan Chanyeol sementara Baekhyun, Lay, dan Kyungsoo duduk bersama lagi dan posisi kami kembali saling berseberangan. Semua sudah tidur karena kelelahan. Aku sendiri lelah tapi aku tidak bisa tidur. Kembali menekuri pena dan buku catatanku, aku kembali menuliskan cerita perjalanan yang aku lalui hari ini.
Kembali tanpa sengaja kulirik Baekhyun. Pria itu belum tidur dan ia menatap keluar jendela. Walau hanya gelap dan sesekali melihat lampu-lampu jalan yang terlihat cukup terang, ia nampak tidak bosan dan cukup menikmatinya.
Ah, dia itu pria misterius dan wajar saja jika ia suka warna hitam.
Tiba-tiba ia menolehkan kepalanya padaku lagi.
Baru saat ini aku mulai mempertanyakan ada apa antara aku dan Baekhyun sampai sering saling melihat seperti ini. Segera aku memalingkan wajah dengan malu bercampur kesal karena perkataannya tadi siang. Tiba-tiba aku mendengar dengusan halus. Aku menoleh kepada Baekhyun yang kini sedang tersenyum.
Catat ini!
Dia tersenyum!
Aku bisa melihat senyumnya karena syal yang ia gunakan tidak menutupi separuh wajahnya lagi. Ia tersenyum sembari menatap pemandangan malam di luar jendela.
Jika aku bisa bicara pada semesta saat ini, aku ingin mengajukan satu pertanyaan; kenapa jantungku berdegup tidak karuan sekarang?
***
__ADS_1