SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 12 [Baekhyun's Eyes 2]


__ADS_3

Baekhyun mengalihkan matanya dari Sohyun ketika mendengar seorang pria memanggil gadis itu dengan panggilan internasionalnya. Pria itu cukup tua, lima tahun lebih tua dari dirinya dan Sohyun. Pria itu menghela nafas lalu pergi meninggalkan Sohyun dan pria berwajah kaukasia itu sedang berbincang. Ia menyusul kelima pria yang sedang berada di stan makanan.


"Hei, Baek! Coba makanan ini enak sekali. Aku ada membelinya beberapa untuk perjalanan pulang nanti," kata Chanyeol dengan wajah senang memamerkan cookies yang di jual di stan makanan.


"Baekhyun, kau tahu siapa yang bersama dengan Sohyun?" tanya Taehyung tiba-tiba menghampiri Baekhyun. Pria itu menatap Sohyun dengan penasaran, sementara Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya.


"Apakah itu kekasihnya?" ujar Taehyung lagi yang langsung disenggol oleh Chanyeol.


"Pria itu tua sekali, masa iya dia kekasih Sohyun?" komentar pria tinggi itu.


"Menurutku ia belum terlalu tua, awal tiga puluh mungkin. Tapi kelihatannya mereka biasa saja. Aku melihat mereka berjabat tangan tadi. Sepasang kekasih tidak akan melakukan itu, bukan?" komentar Kyungsoo kali ini sambil memegang cookies di tangan dan mengunyah sebagian.


Taehyung menganggukkan kepalanya. Usai pria itu pergi, Taehyung pun menghampiri Sohyun. Mata Baekhyun tidak lepas menatap keduanya. Tanpa ia sadari ia memperhatikan gerak-gerik Taehyung yang terlihat kekanakan itu.


"Mereka berdua terlihat serasi, ya?" gumam Lay kepada Baekhyun. Pria itu merasa tertangkap basah dan langsung memalingkan wajahnya. Sementara Lay hanya tersenyum melihat tingkah Baekhyun.


Sohyun dan Taehyung sekarang menghampiri mereka dan ikut mencicipi kue-kue yang ada di stan. Karena belum kenyang, mereka pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu di salah satu rumah makan. Aroma daging panggang langsung membuat Baekhyun merasa lapar. Ia cukup bersemangat untuk makan daging hari ini. Setelah memesan makanan dan menunggu dengan mendengar percakapan teman-temannya, makanan yang dipesan pun datang.


Suatu kejutan kecil bagi Baekhyun karena ia baru mengetahui pekerjaan Sohyun yang ternyata adalah seorang penulis. Kedatangan Sohyun ke London adalah untuk mencari ide dalam tulisannya. Buku-buku yang Sohyun sebutkan itu adalah buku yang menarik dan Baekhyun pernah membacanya di perpustakaan ketika di Seoul. Sedikit tertegun karena ia baru menyadari nama penulis yang ada di buku yang ia baca itu.


"Luminati, Jack Browns in The Darkness, dan Hologram," kata Sohyun mengenalkan buku karyanya.


"Woah! Seriuskah kau menulis novel itu? Aku membaca novel yang berjudul Hologram! Wah itu seru sekali!" komentar Taehyung dengan semangat.


"Kenapa kau tidak mengenali aku yang menulisnya?"


"Karena nama penulis di buku itu Sarah Kim!"


"Itu nama internasionalnya."


Kegiatan Baekhyun terhenti karena kini seluruh mata tertuju ke arahnya dengan tatapan takjub dan terkejut. Ya, Baekhyun juga sadar bahwa dari tadi ia hanya diam dan mengamati tanpa berniat berkomentar. Tiba-tiba saja kini berkomentar soal nama internasional milik gadis itu.


"Oh, Baek! Bagaimana kau bisa tahu kalau itu nama internasionalnya?" tanya Kyungsoo.


Baekhyun ingin menjawab bahwa ia sudah membaca ketiga buku itu, namun ia urungkan.


"Ia mengenalkan dirinya seperti itu padaku ketika pertama kali bertemu," jawab Baekhyun akhirnya, yang sialnya membuat Chanyeol dan Sehun ber-oh ria dan meliriknya dengan tatapan usil. Jujur ia menjadi gugup karena hal itu, namun ia berusaha terlihat biasa saja.


Percakapan yang ada di meja makan itu membuat Baekhyun bosan. Ia pun bangkit berdiri guna menyendiri dan menghindari percakapan yang tidak penting baginya. Terlebih lagi ketika ia melihat interaksi Sohyun dan Taehyung.


"Hei, kau mau kemana?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun berdiri. Baekhyun sendiri sedikit tak menghiraukan pertanyaan Chanyeol lalu berjalan menuju keluar.


"Cari angin." Pria itu akhirnya menjawab lalu pergi meninggalkan tempat makan itu. Ia berjalan-jalan kecil dan melihat perbukitan kecil yang menggoda kakinya untuk melangkah ke sana. Di puncak bukit itu terdapat pohon yang cukup besar dengan daun yang mulai menguning dan sedikit memerah. Terlihat indah diselingi pemandangan di sekitar bukit yang merupakan rumah-rumah, gereja, dan sungai kecil yang mengalir.


Sedang asyiknya berjalan, Baekhyun kini menyadari ada orang lain selain dirinya yang berjalan ke sini. Baekhyun pun menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Sohyun yang sekarang sedang berjalan di belakangnya sambil memotret. Gadis itu belum tahu kalau Baekhyun kini sudah melihatnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Sohyun terkejut dan menatap Baekhyun dengan mata besarnya. Sedetik kemudian, gadis itu menyengir karena malu tertangkap basah telah mengikuti Baekhyun.


"Hanya mengambil foto-foto yang bagus," jawabnya.


"Haruskah kau mengikutiku juga?" tanya Baekhyun dengan wajah datarnya. Entahlah, hanya itu sikap yang selalu ia tunjukkan pada Sohyun.


"Tentu saja! Aku takut kali ini kau akan pingsan dan bergulir jatuh dari bukit dan berakhir di sungai itu," jawab gadis itu lagi yang membuat Baekhyun sedikit bergidik. Gadis itu punya pemikiran yang menyeramkan. Ya, ketiga novel karangannya bergenre misteri dan romantis.


"Kurasa kau ingin menulis novel pembunuhan ya?" tanya Baekhyun lalu kembali berjalan meninggalkan Sohyun.


"Ya! Aku ingin beralih ke sana. Tapi aku sedang dalam projek novel ber-genre romantis!"


"Aku tidak bertanya soal itu."


Baekhyun sedikit tersenyum ketika melirik wajah Sohyun yang ditekuk. Gadis itu sedikit memajukan bibirnya dengan ekspresi wajah kesal yang sangat lucu. Membuat Sohyun memasang wajah seperti itu sedikit menyenangkan untuk Baekhyun sekarang.


Sesampainya di puncak, Baekhyun memutuskan untuk menggambar pemandangan yang indah di depannya. Dengan buku sketsa dan pensil yang ia bawa di dalam tasnya, ia mulai menggambar.


"Kau bisa menggambar?!" tanya Sohyun seraya duduk di sebelah Baekhyun. Pria itu tidak merasa terganggu namun juga tidak menjawab apa yang Sohyun katakan. Ia hanya menoleh, lalu kembali fokus pada gambarnya. Baekhyun perlahan melirik wajah Sohyun yang kini terlihat berpikir. Pria itu kini berspekulasi bahwa Sohyun tahu keadaannya. Ia pikir Lay menceritakan keadaannya yang tertekan karena pekerjaannya.


"Aku baru bisa melakukannya sekarang," ujar Baekhyun ketika melihat wajah Sohyun yang ekspresif itu.


"Kau cenayang?!"


"Wajahmu menunjukkan semua isi kepalamu."


"Kenapa kau baru bisa melakukannya sekarang?"


Baekhyun kini memberitahu keadannya dengan singkat. Rasa tertekannya selama ini sebenarnya bukan hanya karena pekerjaan melainkan karena gadis bernama Jung Hyerin. Namun Baekhyun sedikit berharap Sohyun tidak tahu masa lalunya. Ah... bukan. Ia berharap Sohyun tidak membencinya jika gadis itu tahu masa lalunya. Kecelakaan yang terjadi satu tahun silam membuat dirinya memiliki haters yang sama banyaknya dengan fans-nya.


Sohyun mengangukkan kepalanya lalu memalingkan wajahnya. Baekhyun kini sedikit senang karena ini untuk kali pertama ia mengamati wajah Sohyun secara dekat. Wajah gadis itu bulat, dengan mata besar, hidung mancung, dan bibir yang sedikit berisi berwarna merah muda natural. Rambut cokelat bergelombang yang digerai dengan poni menghiasi wajahnya, membuat Sohyun nampak manis. Dan Baekhyun baru menyadari hal itu sekarang.


"Aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti! Bagaimana?!" ajak Sohyun terlihat semangat kali ini.


"Aku tidak mau jalan-jalan denganmu lagi," jawab Baekhyun.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mau jalan-jalan denganku lagi, eoh?"


"Karena kau berisik."


"Berisik?!" seru Sohyun dengan nada naik satu oktaf, membuat Baekhyun sedikit terkejut karena suara gadis itu.


"Ya. Kau berisik. Sekarang pun kau seperti itu," jawab Baekhyun lagi.


Pria itu kembali tersenyum ketika ia pergi meninggalkan Sohyun yang masih dalam mode kesal. Sekali lagi, wajah Sohyun yang cemberut seperti itu adalah hal yang menyenangkan bagi Baekhyun.


Malam menyapa dan mereka pulang menuju London. Perjalanan kini mereka tempuh dari Sheffield menuju London. Sudah satu jam lamanya mereka di jalan dan hampir semuanya tertidur di kereta karena lelah. Baekhyun sendiri lelah, namun ia belum bisa tertidur. Ia hanya menatap pemandangan di luar jendela dengan lampu-lampu jalan yang bersinar berikut dengan gedung-gedung kota yang mulai terlihat.


Baekhyun merasa diawasi kali ini dan ia menoleh ke serong tempat duduknya dan mendapati Sohyun yang kini tengah melihatnya. Dengan cepat pula gadis itu memalingkan wajah dengan wajah cemberut dan pipi memerah. Tanpa sadar Baekhyun kini mendengus lalu tersenyum melihat tingkah Sohyun. Ia pun kembali menatap pemandangan malam. Sedikit banyak ia berterima kasih pada Sohyun karena sudah membuatnya senang hari ini.


***


"Baek, kau ingin makan apa?" tanya Kyungsoo sambil melihat isi kulkas di rumah Baekhyun.


"Terserah," jawab Baekhyun singkat. Pria itu sedang menikmati sekaleng bir dan membaca majalah di ruang tamu.


"Ah, bahan makanannya ada yang kurang. Lebih baik aku membelinya dulu," ujar Kyungsoo lalu meraih mantelnya yang digantung di dekat ruang tamu. Tak lama kemudian turun ketiga temannya yang lain dengan pakaian rapi.


"Kalian mau kemana?" tanya Kyungsoo.


"Kami ingin melihat-lihat kafe yang ada di dekat sini. Sehun merengek ingin minum kopi dan Lay malas membuatkannya," kata Chanyeol.


"Ah, kalau begitu aku ikut kalian. Sekalian ingin beli bahan makanan," ujar Kyungsoo.


"Hei, Baek. Itu pria bule kemarin yang bertemu Sohyun di festival," kata Sehun melirik rumah Sohyun yang terbuka pintunya. Mereka terlihat sedang berbincang-bincang di sana.


Baekhyun tidak terlalu peduli lalu ia kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Baek, aku baru menyadari kalau Sohyun itu sangat cantik! Wah... tubuhnya juga bagus," kata Chanyeol tersenyum sambil pura-pura membayangkan Sohyun. Baekhyun perlahan menoleh ke arah Chanyeol dengan sedikit terkejut. Pria itu memasang wajah mesumnya.


"Kau benar, Chanyeol. Gadis itu sangat cantik dan menarik. Uniknya, pipinya selalu memerah jika bertemu denganku. Apakah Sohyun menyukaiku?" kata Sehun kali ini.


"Hei, hentikan pembicaraan kalian. Nanti Baekhyun marah jika kalian mendekati gadisnya kali ini," kata Lay ikut tersenyum.


Baekhyun kini menghela nafas dan berniat meninggalkan ruang tamu serta mengabaikan perkataan teman-temannya yang rada gila dan tidak penting. Namun perkataan Kyungsoo selanjutnya membuat Baekhyun benar naik pitam sekarang.


"Baek! Jika kau tidak keberatan, izinkan aku juga mendekatinya. Aku penasaran bagaimana rasanya mencium gadis seperti Sohyun!" goda Kyungsoo.


"Sialan kalian!" geram Baekhyun marah dan meraih kaleng bir yang sudah kosong isinya. Keempat temannya dengan cepat keluar dari rumah dan tertawa setelahnya. Berlari kecil karena Baekhyun akan melemparkan kaleng minuman itu. Usai mereka pergi jauh, Baekhyun menghela nafas dan kini matanya melirik rumah Sohyun yang pintunya terbuka. Tak lama kemudian, ia masuk ke dalam rumah.


"Aish!" gumam Baekhyun kesal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun memutuskan untuk mandi lalu tidur. Ia tidak mau memikirkan hal itu lagi.


Makan malam hari ini sangat buruk dan kacau. Baru saja Baekhyun senang dengan kehadiran Sohyun untuk makan malam bersama, tapi karena pembicaraan tentang kimchi, semuanya kacau.


"Karena Hyerin?" tanya Chanyeol.


Baekhyun kesal. Emosinya mulai tidak terkendali kali ini. Pikiran akan pertengkaran dan kecelakaan satu tahun yang lalu kini membuat perasaannya tidak enak.


"Bisa kau tidak menyebut nama itu lagi di sini?"


"Hei, aku--"


"Aku sudah kenyang." Baekhyun berdiri dan meletakan alat makannya kasar di atas meja, meninggalkan kecanggungan di meja makan. Ia masuk ke kamarnya dan mendadak kepalanya sakit. Sudah beberapa hari ini ia bisa tidur nyenyak dan tidak pernah sakit kepala lagi. Namun kini hal itu terjadi lagi, hanya karena nama Jung Hyerin yang disebut lagi. Tidak bisa Baekhyun pungkiri perasaan itu masih ada walau ia ingin melupakan gadis itu.


"Baekhyun! Buka pintunya!"


Baekhyun terperanjat karena suara Sohyun kini kembali terdengar dan ia mengetuk pintu kamarnya. Pria itu tidak berniat bertemu dengan Sohyun mengingat keadaannya sekarang yang buruk.


"Izinkan aku bicara sebentar. Ada yang perlu aku sampaikan!"


Baekhyun pun membuka pintu sembari menahan sakit di kepalanya. Sohyun sendiri terkejut akan keadaannya.


"Kau tak apa?"


"Cepat katakan apa yang mau kau bicarakan. Setelahnya kau bisa pulang," kata Baekhyun. Ia ingin cepat mengakhiri pembicaraan ini karena ia ingin istirahat dan menenangkan pikirannya.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan besok. Aku ingin mengajakmu ke peternakan sapi di Edensor."


***


Jantung Baekhyun berdetak kencang saat dirinya memberanikan diri memasang earphone miliknya ke telinga Sohyun. Entah karena hal apa ia berani melakukan hal itu dan mengajak gadis itu untuk mendengarkan lagu. Hatinya menghangat, seolah-olah ia telah berbagi perasaan dari lagu yang didengarkan. Lagu itu memang Baekhyun yang menyanyikannya. Alasan kenapa pria itu menyimpan albumnya sendiri adalah karena ia ingin menguasai lagi emosinya ketika ia bernyanyi, mengingat ia memilih cuti untuk setahun, atau paling cepat beberapa bulan saja.


Baekhyun menikmati wajah Sohyun dari dekat diam-diam. Gadis itu hanya menatap lurus laptopnya seraya mendengarkan lagu. Wajahnya terlihat serius, namun pria itu sadar bahwa Sohyun sendiri kini sedang gugup, sama sepertinya.


Sesampainya di Edensor, Sohyun dengan semangat mengajak Baekhyun menuju Chatsworth House. Tempat itu sangat indah karena berbentuk istana. Baekhyun menyukainya namun ia berusaha mengendalikan dirinya untuk terlihat biasa saja. Berbeda dengan Sohyun yang memang menampilkan ekspresi apa adanya.


Semua kegiatan mereka jalani dan sebenarnya Baekhyun lelah. Namun melihat wajah bahagia Sohyun, ia juga ikutan senang. Baekhyun sering tersenyum walau Sohyun tidak melihatnya. Akhirnya setelah tiga jam berkeliling dan menikmati peternakan yang Sohyun inginkan, mereka kembali menikmati pemandangan di bukit taman. Dengan pohon besar di sekitarannya membuat tempat itu lebih rindang.


Usai makan, Baekhyun kini tertarik lagi untuk menggambar. Ia mengeluarkan buku gambarnya.

__ADS_1


"Kau suka perjalanan hari ini?" tanya Sohyun membuyarkan keheningan di antara mereka.


"Cukup melelahkan," jawab Baekhyun sembari fokus pada gambarnya. Ia diam-diam kembali melirik Sohyun. Aigoo... Baekhyun padahal hanya bicara seperti itu, wajah Sohyun sudah cemberut seperti biasa. Gadis itu manis sekali.


"Tapi aku menyukainya," jawab Baekhyun lagi kali ini mengalihkan pandangannya ke arah depan, menerawang pemandangan yang indah.


"Sudah lama aku tidak jalan-jalan seperti ini. Perjalanan ke Edensor kemarin juga menyenangkan," lanjut Baekhyun.


Perlahan pria itu menoleh dan menatap Sohyun. Gadis itu sendiri sekarang tertegun menatapnya dengan mata besar berwarna cokelat yang indah.


"Terima kasih." Baekhyun mengucapkannya dengan tulus dan ia tidak berbohong akan hal itu.


Ia kembali menggambar namun kali ini keheningan di antara mereka lebih bermakna. Dan Baekhyun menyukainya.


***


"Baek, bagaimana keadaanmu?" tanya Lay dari telepon. Baekhyun yang sedang berbaring siang itu menhela nafas.


"Aku baik-baik saja kau tidak perlu khawatir," jawab Baekhyun.


"Ah... baguslah. Bagaimana jalan-jalanmu dengan Sohyun kemarin? Menyenangkan?"


"Ya begitulah. Aku dapat pengalaman baru kemarin," jawab Baekhyun lagi. Ia sendiri kini senyum-senyum karena membayangkan kegiatan mereka kemarin.


"Baguslah. Sohyun menjalankan tugasnya dengan baik."


Senyum Baekhyun memudar dan keningnya kini berkerut.


"Menjalankan tugasnya dengan baik? Apa maksudnya, Lay?"


Hening lama di ujung telepon. Baekhyun kini merasa tidak enak. Ada perasaan tidak nyaman karena sepertinya Lay menyembunyikan sesuatu darinya, terlebih lagi ini soal Sohyun.


"Ah... tidak. Bukan apa-apa,"


"Jawab aku ada apa antara kau dan Sohyun! Aku tidak bodoh, Lay!" seru Baekhyun kesal. Kali ini ia terduduk dari posisi sebelumnya.


"Baek..."


"Jawab aku sekarang,"


Terdengar helaan nafas berat dari seberang, "Aku meminta tolong pada Sohyun untuk menghilangkan depresimu, Baek."


Baekhyun terdiam. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Perasaannya tidak karuan, namun yang jelas perasaan kecewa hinggap di hatinya.


"Jadi selama ini Sohyun baik padaku bukan karena keinginannya sendiri, tapi karena kau meminta tolong padanya?" tanya Baekhyun.


"Tidak, Baek. Bukan seperti itu--"


Baekhyun langsung mematikan sambungan teleponnya segera. Ia marah dan kecewa sekarang. Dirinya terlanjur bahagia ketika Sohyun selalu peduli padanya. Memikirkan dirinya yang baru saja senang karena kebersamaan mereka kemarin membuatnya merasa bodoh sekarang. Semua spekulasi muncul di kepalanya membuat ia tertekan lagi hari ini. Baekhyun kini membutukan alkohol dan bir lagi.


***


Baekhyun tertegun mendengar perkataan Sohyun malam ini. Ia pias dan terkejut.


"Ya! Lay cerita padaku soal masa lalumu! Aku tahu semuanya! Tapi apa? Aku masih sampai sekarang peduli padamu! Aku mau berteman denganmu dan aku ingin bisa membantumu sembuh dari trauma berat yang kau alami!" kata Sohyun sambil menangis.


Hati Baekhyun retak kali ini. Demi Tuhan, ia merasa sangat bersalah sekarang, apalagi melihat Sohyun yang menangis.


"Aku peduli padamu, Baekhyun! Kau temanku! Tapi kau berkata seperti itu tanpa bertanya baik-baik padaku. Sebenarnya di sini siapa yang menghakimi lebih dulu, hah? Jawab aku!"


Bodoh.


Ya, Baekhyun memang bodoh. Ia merutuki dirinya sendiri dan ia menyesal. Benar apa yang Sohyun katakan bahwa di sini malah dirinya-lah yang menghakimi terlebih dahulu. Ia sama seperti para haters-nya yang menghakimi tanpa mengetahui yang sebenarnya.


"Baiklah jika kau membenciku. Aku takkan peduli lagi padamu. Besok aku akan kembali ke Canada. Jadwalnya aku percepat seminggu agar tidak mengganggu hidupmu lagi. Selamat malam, Tuan Byun. Aku permisi."


Baekhyun seakan runtuh dari pondasinya ketika Sohyun pergi keluar dari rumahnya. Ia tidak punya kemampuan untuk mengejar Sohyun. Ini permasalahan fatal. Ia baru saja kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya karena kebodohannya sendiri. Ia menatap tas hitam yang dilempar Sohyun. Ia melihat isinya dan kembali ia tertegun, dengan perasaan bersalah yang semakin menyayat hatinya. Sebuah syal cream yang sangat indah.


***


Baekhyun meringkuk di kamarnya sembari memeluk syal itu. Ia ingin bertemu Sohyun namun sialnya ketika pagi menjelang, Sohyun sudah tidak ada di rumahnya lagi. Gadis itu benar-benar pergi dan Baekhyun tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ia tidak tahu Sohyun tinggal di mana jika di Canada. Baekhyun benar-benar galau. Ia ingin menelpon gadis itu namun ia tidak tahu nomor telepon gadis itu. Keempat temannya juga tidak tahu.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Pikirannya terpusat kembali pada kenangannya beberapa hari lalu. Ia ingat ketika ia melirik novel karya Sohyun, ia sempat sekilas membaca nama penerbitan di buku itu.


Penerbitan Great Read, Toronto, Canada.


Ia cepat meraih handphone-nya dan mulai mencari tahu tempat itu. Setelah ia menemukan informasi yang ia cari, ia pun menelpon seseorang.


"Manajer Yoo, tolong pesankan tiket pesawat ke Toronto, Canada, sekarang. Dan urus kepindahanku dari sini ke sana, carikan juga tempat tinggal di sana. Aku mohon secepatnya, terima kasih!"


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2