
"Selesaikanlah urusan kalian," ujar Baekhyun padaku. Aku dan dia sekarang berdiri di dalam kafe. Sedangkan Taehyung menungguku, duduk di salah satu kursi yang ada di toko di seberang kami. Sementara Yoohan, gadis itu berdiri tidak jauh dari Taehyung.
Aku melirik Baekhyun, ia tidak menunjukkan ekspresi berlebih. Datar seperti biasa, namun ia tahu bahwa aku masih memiliki urusan dengan Taehyung.
"Tidak enak rasanya meninggalkan suatu urusan. Temuilah mantanmu dan selesaikan semuanya,"
Aku terdiam namun terkejut. Darimana Baekhyun tahu aku dan Taehyung pernah berpacaran?
"Kau... tahu dari mana?" tanyaku dengan suara kecil. Baekhyun meletakkan telapak tangannya di puncak kepalaku dan tersenyum.
"Aku punya mata-mata."
"Kau tidak marah?"
Ia menghela nafas, "Yah, mau bagaimana lagi. Pertamanya aku senang ternyata kalian tidak pacaran. Namun yang kedua kalinya, kalian benar-benar berkencan. Aku sempat menyalahkan diriku sendiri karena membiarkanmu pacaran dengannya. Tapi sekarang tidak ada yang perlu dipikirkan. Pergilah, Sohyun. Selesaikan urusanmu dengannya."
Aku menatap matanya, mencari nada keraguan dari sana. Namun rasanya hal itu tidak kunjung muncul. Baekhyun masih dengan senyumnya.
"Aku percaya padamu, Sohyun."
Akhirnya aku menganggukkan kepalaku, dan pergi keluar dengan dukungan dari Baekhyun.
"Kau ingin bicara denganku?" tanyaku pada Taehyung ketika aku tiba di tempatnya.
Taehyung hanya tersenyum tipis, lalu menatap Yoohan.
"Pergilah dulu. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan teman lama," ujar Taehyung. Yoohan terdiam sebentar sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kami.
"Yoohan-ssi," panggilku, "Masuklah ke kafe bunga itu. Dan berbincanglah dengan barista-nya. Ia calon suamiku. Ia akan senang berbicara denganmu."
Gadis itu mengangguk sopan. Lalu pergi ke kafe Baekhyun.
Hening. Tidak pernah seperti ini sebelumnya jika aku bertemu dengan Taehyung.
"Apa kabarmu, Sohyun?" tanya Taehyung pada akhirnya memulai pembicaraan.
Aku tersenyum, "Aku baik. Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat." Pria itu mulai tersenyum tipis, "Tidak kusangka kau dan Baekhyun akhirnya bersama lagi."
Aku tersenyum tipis. Gemerisik angin mengisi keheningan yang kembali terjadi.
"Maafkan aku, Taehyung."
Pria itu mendongak dari tunduknya, merasa heran.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Untuk semuanya."
Ia menatap manik mataku dalam sekali. Raut wajahnya serius dan seperti akan ada kemarahan yang keluar dari sana.
Namun sedetik kemudian, ia terkekeh kecil.
"Kau tidak perlu takut seperti itu, Sohyun. Lagipula, aku sudah melupakan semuanya."
Ia membenarkan posisi duduknya dan menerawang jauh.
"Kupikir, semua ini adalah takdir. Aku pernah berkesimpulan, bahwa ini semua tentang waktu. Aku yakin, waktu akan mempertemukan kita kembali di saat yang tepat. Mungkin itu adalah rasa yang paling sakit yang pernah kualami. Aku benar-benar menghilang dari hidupmu, begitu juga kau.
"Dan sekarang, inilah waktunya. Untukku bisa melepaskan semuanya, begitu juga denganmu."
Aku tersenyum mendengar perkataan Taehyung. Ia masih Taehyung yang kukenal. Taehyung yang bijaksana, dan Taehyung yang baik hati.
"Kurasa kau benar. Bukan berarti kita harus mengungkit rasa sakit yang pernah kita alami di masa lalu," tambahku yang dianggukinya.
"Kita lebih dewasa sekarang, Sohyun. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula,..."
Pria itu mengalihkan matanya ke arah kafe di seberang kami. Melalui pintu kaca yang tembus pandang itu, bisa kusimpulkan objek yang ia lihat.
"... Aku sudah menemukan 'penyembuh'-nya. Sama seperti kau, Sohyun. Dia 'menyembuhkan'-ku."
__ADS_1
Aku kembali tersenyum. Indah sekali melihat wajahnya yang merona karena melihat sosok dia itu.
"Mau berbagi cerita bagaimana kau bisa jatuh padanya?" tanyaku menggoda.
Ia melirikku, lalu kembali pada objeknya, "Nanti saja. Kisah kami terlalu panjang. Kau harus menulisnya dalam sebuah buku jika ingin tahu kisah kami."
Aku tertawa kecil mendengar penuturannya.
"Aish, dia tertawa dengan Baekhyun. Ayo kita kembali. Lama-lama aku panas melihatnya," ujar Taehyung bangkit dari duduknya dengan wajah kesal. Kembali aku tertawa, Taehyung malah heran menatapku.
"Kau tidak cemburu?!"
Aku mengendikkan bahuku, "Karena aku percaya padanya."
Taehyung tersenyum, begitu juga denganku.
Kami kini memiliki pemikiran yang cukup dalam tentang seseorang yang kami sayangi. Langkah kami beriringan dan terasa ringan. Denting lonceng yang kami bunyikan membuat Baekhyun dan Yoohan sama-sama menoleh pada kami. Seperti teman lama, Baekhyun dan Taehyung bertegur sapa kembali. Kami berempat berbicara cukup banyak, dan untungnya Bibi Youngil mengerti.
Setelah pembicaraan antar wanita dan pria yang kami lakukan, Taehyung dan Yoohan pamit.
"Jaga Sohyun untukku, Baek. Jika tidak, kau akan kuhabisi!" seru Taehyung tersenyum pada Baekhyun.
"Tentu saja. Aku menjaganya untuk diriku sendiri. Bukan untukmu," ujar Baekhyun, membuat Taehyung menghela nafas.
"Terserah. Kalau begitu kami pamit dulu!" seru Taehyung. Yoohan membungkukkan tubuhnya sopan lalu berlalu bersama Taehyung.
"Taehyung menyukai gadis itu," gumamku. Baekhyun melirikku dan ikut tersenyum.
"Oh. Kurasa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan," jawab Baekhyun, lalu pria itu berlalu meninggalkanku.
Aku tersenyum kecil. Perlahan aku merasakan betapa indahnya hidup yang kumiliki. Dengan segala kejadian yang sudah pernah aku lalui hingga akhirnya aku bertemu Baekhyun.
Kuamati perlahan pepohonan di sekitarku. Daunnya menguning, dan beberapa perlahan mulai jingga. Angin sejuk berhembus menyentuh daun-daun yang perlahan bergoyang, menciptakan suara gemerisik yang menenangkan hati.
Musim ini adalah musim yang paling kusukai.
Ada yang merayakannya beramai-ramai bersama orang-orang tercinta, ada juga yang menikmati keindahannya sendirian, dibalik kertas putih, dan secangkir kopi hangat.
Musim gugur memberikan kesan keindahan misterius bagiku. Bagaikan keheningan yang memberikan banyak kebahagiaan tanpa disadari.
Aku melihat dirinya lagi di dalam kafe. Tak pernah hentinya aku tersenyum melihat pria itu.
Ia hanyalah sosok rapuh yang berusaha menjadi orang paling dingin dan menyebalkan di dunia. Entah bagaimana bisa aku bertemu dengannya ketika ia menyembunyikan dirinya di kota London dengan nuansa kuning musim gugur. Dibalik rasa kesalku padanya, terkadang ia mengajarkanku apa arti kesendirian dan kesedihan yang menderanya sekian lama karena sebuah perasaan bersalah. Sebuah perasaan yang tidak pernah kualami sebelumnya.
Ia mengajakku menyelami perasaan luar biasa yang tanpa kusadari, membuatku tak mau jauh darinya.
Dan satu hal yang membuatku takjub, adalah senyumnya. Senyum indah dengan nuansa lembut miliknya, membuat seluruh atensiku tertarik padanya, membuatku melupakan sejenak betapa menyeramkan dan menyebalkannya dia.
Satu titik di mana kusadari, aku mencintainya, begitu pula dia.
Kami sama-sama mencintai, dalam sebuah keheningan, tanpa kata-kata. Karena kami terkadang tidak membutuhkan itu. Lewat tatapan, senyum, dan semua gerak gerik kami, bahkan hati kami. Mereka yang bekerja kala ungkapan tidak dibutuhkan.
Kulihat itu pada dirinya. Seorang lelaki yang rela bertaruh dan meninggalkan apapun demi orang yang ia cintai. Tanpa banyak bicara, ia menunjukkan perasaannya.
Laki-laki yang mencintai seseorang dalam diam bagiku adalah laki-laki paling hebat di dunia karena ia harus menahan kegalauan, kerisauan, dan rasa cemburu, karena ia tidak bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya dengan ribuan kata manis dari seluruh dunia.
Hanya dalam diam, ia mencurahkan kasih sayangnya pada orang yang ia cintai dengan tindakan manis tak terperi.
Dan itulah, seorang Byun Baekhyun.
Aku terdiam dan kembali tersenyum menatap pemandangan yang terlihat di sisi ini. Terbesit sebuah ide yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Tentang tulisanku yang terbengkalai tanpa sebuah makna tak berarti. Akan kutuliskan kisah hidupku di sana, kisahku bersama dia yang aku cintai. Agar semua orang tahu, betapa bahagianya aku bisa memiliki dia sebagai sahabat hidupku kelak.
***
20 Februari 2020.
Musim semi menampakan keindahannya. Setelah lama melihat benda berwarna putih terus menerus, akhirnya dunia kembali memunculkan beragam warna dari beragam bunga.
Taman menjadi salah satu tempat yang bisa dikunjungi orang-orang jika ingin melihat bunga-bunga itu, terutama bunga Sakura. Walau memang bunga ini berasal dari Jepang, namun di Korea juga tumbuh bunga ini.
Taman di salah satu tempat di Seoul ini juga sedang ramai. Semua orang mengenakan pakaian formal. Ada sebuah altar, dan bangku-bangku yang disusun sedemikian rupa. Namun taman ini tidak di tempat terbuka, sepertinya acara ini diselenggarakan hanya untuk orang-orang terdekat saja.
Seorang pria berdiri di depan altar dengan diam. Tingkah kikuknya membuat keempat pria lainnya tertawa geli.
__ADS_1
"Yaa, uri Baekhyun! Kau tampan sekali dengan tuxedo putih itu!" seru Chanyeol sembari mengarahkan kamera ke arah temannya, Baekhyun.
"Tidak kusangka kau akan menjadi pion utama dari kita," ujar Sehun.
"Kau tampan, Baek!" seru Kyungsoo ikut tertawa.
Lay hanya mengacungkan jempolnya.
Baekhyun melirik teman-temannya dengan kesal, sedikit berterima kasih mungkin karena mereka meredakan gugup yang ia rasakan. Orang-orang sudah berkumpul di tempat ini. Kedua orang tuanya menatapnya dengan bangga dan penuh kebahagiaan. Ditatapnya seluruh tamu undangan terdekat yang ia undang. Sepupunya, Hyesung dan Hana duduk sambil berfoto ria di salah satu kursi. Teman-temannya di agensi dulu. Jongdae dan Yuri duduk berdampingan, dan Yoo Sangjin tentu saja. Ia menatap Baekhyun dengan bahagia.
Teman-teman Sohyun juga datang. Gadis asal Belanda bernama Helena itu jauh-jauh datang dari London untuk pernikahannya dan Sohyun, dan lihatlah seorang Park Chanyeol. Pria itu kini menatap Helena sembari tersipu dari jauh. Ah, katanya ia masih menyukai gadis berambut pirang itu. Jangan lupakan juga seorang pria kaukasia yang datang bersama istri dan anaknya. Baekhyun mengenalnya sebagai Mr. Kelly. Tapi jujur saja, Baekhyun lebih suka memanggilnya Mr. Hanson. Taehyung pun datang, bersama Yoohan tentunya. Baekhyun tersenyum, mengingat percakapannya dengan wanita itu. Ah, tidak perlu diceritakan di sini. Panjang urusan nanti.
Seorang pria kini menghampirinya.
"Kudengar kau bekerja sebagai designer ya?" tanya Junmyeon, sepupu Sohyun.
"Ah, ya, Hyung."
"Kalau kau mau, kau bisa bekerja denganku. Jangan bekerja di London lagi, terlalu jauh. Lebih baik di sini saja," ujar Junmyeon tersenyum sembari menepuk pundak Baekhyun.
Baekhyun pun hanya mengangguk dan tersenyum. Ia cukup gugup.
"Jaga sepupuku, Baekhyun. Ia sungguh mencintaimu."
"Pasti, Hyung. Aku akan menjaganya."
"Mempelai wanita tiba!" seru salah satu tamu.
Semua bersiap-siap, begitu juga dengan Baekhyun.
Perlahan ia bisa melihat sosok dengan gaun putih berjalan ke arah altar. Digandeng ayahnya dengan lembut, Sohyun nampak seperti bidadari. Sohyun sendiri juga terpana melihat Baekhyun yang tampak gagah dan tampan dengan tuxedo putih itu.
Baekhyun nyaris menangis sungguh. Ia terharu. Segala yang ada di pikirannya kembali berputar. Memorinya menceritakan sejenak kisahnya sebelum akhirnya sampailah Sohyun di pertengahan altar. Baekhyun turun, dan Tuan Kim menyerahkan tangan putrinya pada Baekhyun.
"Jaga putriku, Baekhyun."
Pesan yang selalu ia ingat-ingat dari setiap orang yang mencintai gadis ini.
Berjalan beriringan, mengucapkan sumpah pernikahan dengan penuh kesungguhan, serta sebuah ciuman manis pertanda mereka kini resmi menjadi sepasang suami istri.
Pesta yang diselenggarakan tidak seberapa dan orang-orang berkumpul untuk makan-makan dan mengobrol.
"Selamat, Sohyun dan Baekhyun, atas pernikahan kalian," ujar Chanyeol memeluk Sohyun.
"Hei, kenapa dia saja yang kau peluk? Kau ingin di pukul mempelai pria, huh?" komentar Kyungsoo datar.
"Biar saja. Ia takkan bisa marah karena Sohyun menyayangiku," ujar Chanyeol dengan yakin, "Benar, kan, Sohyun?"
Gadis itu tertawa kecil, "Iya. Aku menyayangimu, Chanyeol. Kau temanku."
"Akan kuceritakan kisah lucu tentang Baekhyun jika kau ingin mendengarnya, Sohyun," kata Lay tersenyum manis sembari melirik Baekhyun.
"Ya, terus saja goda istriku," ujar Baekhyun kesal.
"Ada yang marah," ujar Sehun tertawa kecil.
"Ceritakan pada kami nanti malam pertamamu, Sohyun," bisik Chanyeol pada Sohyun, membuat Baekhyun geram dan mengejar Chanyeol yang sedetik tak lama dari itu langsung berlari menghindar.
Semuanya tertawa. Semuanya bahagia.
Sesuatu yang indah, tidak akan dengan mudah kita raih. Akan ada banyak halangan dan rintangan yang harus kita hadapi. Namun jika kau ingin berjuang, kau pasti akan mendapatkan dan merasakan kebahagiaannya. Terkadang, berdamai dengan masa lalu bukanlah hal sulit untuk dilakukan.
Ingatlah sekilas, lalu tersenyumlah walau itu menyakitkan. Maka kau akan berdamai dengan hal itu.
Yang perlu kau fokuskan sekarang adalah masa sekarang. Lakukan hal yang lebih baik dari masa lalu, untuk mempersiapkan masa depan.
Begitulah Baekhyun dan Sohyun. Pertemuan mereka tidak terduga dengan berbagai masalah.
Cinta yang diam, cinta yang tidak butuh kata-kata.
Kau hanya perlu merasakannya. Dan jika terdengar suara 'klik'... maka itulah cinta.
__ADS_1
- THE END -