
Toronto pagi ini cukup menyenangkan. Matahari cukup bersahabat dan meninggalkan rasa hangat pada musim gugur kali ini. Sama seperti halnya dengan London dan wilayah sub-tropis lainnya, warna hijau pada pemandangan kini perlahan menguning dan kemerahan, meninggalkan kesan lembut, kesendirian, dan romantika musim gugur. Beberapa mahasiswa yang tinggal di daerah sini terlihat sedang berjalan kaki mencari kendaraan umum dan menuju kampus mereka. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar negeri untuk menempuh pendidikan di Canada.
"Are you serious?! Kau pulang ke Canada tanpa bicara padaku dan sekarang kau baru menelponku?!" seru Helena di seberang telepon.
Aku menghela nafasku.
"I'm sorry. Masalahnya rumit. Akan aku ceritakan nanti jika kau punya waktu kosong," jawabku.
"Aku akan ke Canada lusa besok karena pertemuan kerja. Kita bertemu dan kau harus cerita padaku. Mengerti?" kata Helena.
"Okay."
"Kalau begitu sampai nanti, kini giliranku bertugas lagi," kata Helena lalu menutup sambungan.
Aku meletakkan handphone-ku di nakas dekat tempat tidurku. Perlahan aku membuka jendela di dekat tempat tidur dan menikmati pemandangan musim gugur di pagi hari dari apartemenku.
Ya.
Aku sudah di Canada.
Malam itu, aku langsung memesan tiket VIP untuk kembali ke Canada. Tidak peduli berapa mahal yang aku bayar untuk tiket pesawat itu yang penting aku kembali ke sini dengan cepat. Semua urusan di London aku selesaikan, termasuk masalah tempat tinggal di sana, dan aku sudah berada di apartemen sejak kemarin.
Aku merasa senang bisa kembali ke rumahku, tempat tinggalku selain di Korea. Namun entah mengapa rasanya hatiku terasa hampa. Aneh.
Tidak lama kemudian, sebuah panggilan masuk kembali ke handphone-ku.
"Hello?"
"Sohyun! Kau pulang ke Canada?!" seru Taehyung dari seberang, sama kagetnya dengan Helena yang kukabari tadi.
"Ya, begitulah. Kau tahu dari mana?"
"Tetanggamu. Ia bilang kau sudah pulang ke Canada kemarin. Aku sekarang di depan rumahmu. Kenapa kau tidak mengabariku, hah?!" seru Taehyung lagi. Kenapa pria itu jadi kesal?
"Tetanggaku?" tanyaku.
"Eoh. Wanita tua yang tinggal di sebelah rumah Baekhyun. Oh ya, Baekhyun juga baru saja pergi dari rumah itu. Kurasa ia akan pindah dari sana. Wah, kenapa kalian kini meninggalkanku?" kata Taehyung lagi yang kini membuatku menaikkan sebelah alis.
"Pergi dari rumah itu?"
"Ya. Ia membawa tas dan kopernya. Ia benar-benar meninggalkan London. Ia bersama dengan seorang pria cukup tua, yang kurasa adalah manajernya," katanya lagi.
Aku menghela nafas dan menggelengkan kepalaku. Untuk apa aku memikirkan pria itu lagi?
"Oh, baiklah kalau begitu. Maafkan aku baru mengabarimu sekarang, Taehyung. Keadaanku kacau," jawabku.
"Apakah ini masalah pekerjaanmu? Kau dipaksa pulang oleh editormu?"
"Bukan. Aku hanya merasa kalau aku sudah terlalu lama berlibur dan aku harus kembali bekerja,"
Taehyung menghela nafas, "Jangan paksakan dirimu jika kau tidak sanggup, Sohyun. Kau perlu santai dalam pekerjaanmu. Jika aku sempat ke Canada, aku akan mengabarimu. Kita perlu bertemu dan berbincang."
Aku tersenyum, "Eoh. Baiklah."
Ia mematikan sambungan dan kembali aku dilanda hening. Namun tidak butuh waktu lama, kini bel apartemenku berbunyi. Aku menghela nafas sekali lagi. Disaat aku merasa terlalu hening, aku kesepian. Dan ketika ada gangguan sedikit saja, aku merasa pusing dan ingin ketenanganku kembali.
Kenapa aku jadi seperti ini sekarang?!
***
"Kau kembali ke Toronto kemarin? Kenapa baru mengabariku hari ini?" tanya Mr. Kelly yang kini sedang duduk di sofa ruang tengah apartemenku.
Aku meletakkan jus jeruk kemasan di meja, "Untung saja aku masih mau mengabarimu pagi ini. Tidak kusangka kau akan datang lebih cepat, Sir."
"Bagaimana aku tidak datang dengan cepat ketika mendengar kabar tiba-tiba seperti ini? Apakah di sana ada masalah sehingga membuatmu cepat kembali ke sini?" tanya Mr. Kelly.
Masalah, huh?
"Tidak. Aku hanya bosan jadi aku memutuskan untuk kembali lebih cepat."
Mr. Kelly menyipitkan matanya, menatapku dan berusaha mencari ketidakjujuran yang mungkin tersimpan di mataku.
"Are you serious, Miss? Kau sungguh mencurigakan," katanya lagi.
"Yes, I am. Semua tempat menarik di London sudah aku singgahi dan sekarang keadaanku lebih baik. Aku bisa menulis lagi nanti," jawabku tersenyum.
Mr. Kelly menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya, "So, kapan kau akan masuk kerja lagi?"
__ADS_1
"Mungkin dua hari lagi. Aku butuh bersantai sejenak."
"Kau masih ingin bersantai setelah nyaris tiga minggu di London?!"
"Hei, jatah cutiku masih ada seminggu lagi, dan aku memangkasnya menjadi dua hari lagi, apakah salah? Ini bentuk pengabdianku akan pekerjaan, Mr. Kelly yang terhormat!" jawabku menampilkan cengiran percaya diriku.
"Alright. Up to you, Miss. Kutunggu kau di kantor, dan siapkan mentalmu untuk menemui Mrs. Johnson. Beliau ingin mendengar presentasimu mengenai tulisanmu kali ini."
Aku mendesah dan menganggukkan kepalaku, "Baiklah."
Mr. Kelly pun bangkit dari duduknya dan pamit pulang. Keheningan kembali menyapa diiringi detik jam yang berbunyi. Aku kembali ke kamarku dan meraih handphone-ku. Kuputuskan untuk berselancar di dunia internet dan membaca berita. Yah, sudah lama sekali aku tidak membuka internet. Sedang asyik berjelajah, netraku terpaku pada sebuah web dengan nama Baekhyun di sana. Kasus kecelakaan waktu itu, sudah cukup lama. Pikiranku kembali tersita dan rasa sesak menyelubungi dadaku.
Sial.
Kenapa aku harus merasakan hal ini jika berkaitan dengan pria itu walau aku tahu ia sendiri kini membenciku?
Aku menggelengkan kepalaku dan menutup internet, guna berhenti memikirkan Baekhyun. Aku berusaha berpikir positif dan menyemangati diriku sendiri. Ah ya, aku masih punya waktu libur selama dua hari. Waktu yang tersisa ini akan aku habiskan untuk jalan-jalan di sini dan menyiapkan presentasi.
Well, hidupku akan baik-baik saja setelah ini.
***
"Presentasimu bagus sekali," kata Mrs. Johnson, kepala penerbit di kantorku. Kami baru saja selesai melakukan rapat masalah naskahku, "Aku selalu menyukai ide-ide dan karyamu, Sarah. Kenapa harus sebulan cuti?"
Aku tersenyum manis, "I'm sorry, Mrs. Johnson. Aku benar kehabisan ide dan merasa jenuh waktu itu. Makanya aku meminta cuti."
Mrs. Johnson menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Welcome back, Sarah. Aku menunggu proses penulisan naskahmu sampai selesai."
Ia menepuk pundakku lembut lalu berlalu. Mr. Kelly kini menghampiriku dan menyenggol sedikit lenganku.
"Well, kau menyelamatkan aku hari ini. Jika kau tidak siap dengan presentasimu, dapat aku pastikan kita berdua tamat hari ini," katanya.
Aku terkekeh kecil mendengar perkataannya, "Aku tidak mungkin menghancurkan karirku sendiri, dan tidak mungkin menyulitkan editor kesayanganku."
Ia memasang wajah jijiknya padaku, "Aku tidak menyayangimu, Sarah."
Aku kembali tertawa dan ia tersenyum.
"Setelah ini kau ada pekerjaan lain?" tanya Mr. Kelly.
Ia menganggukkan kepalanya, "Baiklah."
Aku pun pamit dan keluar dari kantor penerbitan yang menjadi tempat kerjaku, dan langsung menuju kafe yang tidak jauh dari tempat kerjaku. Helena mengajakku bertemu di sana karena ia baru saja selesai dari pertemuannya di rumah sakit.
"Sarah!" panggilnya dengan wajah sumringah dan ia memelukku erat.
"Sudah lama menunggu?" tanyaku sembari kami duduk.
"Baru saja. Dan well, bagaimana kabarmu? Kenapa kau kembali ke Toronto mendadak, huh? Ada masalah apa?" tanya Helena tanpa basa-basi. Gadis ini memang tidak sabaran jika ia sangat penasaran akan satu hal.
"Tidak ada," jawabku, "Aku hanya sudah bosan liburan, jadi aku memutuskan untuk kembali bekerja."
"Tidak mungkin kau buru-buru pulang seperti itu jika sudah bosan liburan, bukan? Biar aku tebak, apakah ini karena Baekhyun?"
Aku terdiam tanpa bisa menjawab. Mendengar namanya lagi kali ini cukup membuat perasaanku tidak enak.
"Aku curiga terjadi sesuatu pada kalian, karena Baekhyun juga pergi dari London."
Aku menghela nafasku, "Hanya keributan kecil." Aku mengakuinya kali ini karena percuma aku tutupi lagi jika lawan bicaraku adalah Helena. Ia juga ahli dalam memainkan psikologi seseorang.
"Keributan kecil? Karena apa? Apa kali ini ia melakukan hal yang lebih buruk padamu dari pada meninggalkanmu di tempat sepi seperti kemarin?" tanya Helena. Wajah gadis itu nampak kesal yang membuatku menyunggingkan senyumku.
"Tidak perlu dibahas lagi, Helena. Aku malas. Yang penting sekarang urusanku dan dia telah selesai, dan aku tidak mau memikirkannya lagi."
Helena menghela nafas dengan tatapan matanya yang masih menuntut penjelasan lebih dariku. Namun ia tidak mau memaksa karena ia memahami privasiku.
"Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau kau menemaniku jalan-jalan di Toronto?" ujarnya yang membuatku kembali bersemangat. Helena adalah teman yang baik. Kapan-kapan aku ingin mengenalkannya pada Yoojung, sahabatku. Berbicara soal Yoojung, ia baru saja dilamar oleh kekasihnya, Kim Minseok. Mereka akan menikah enam bulan lagi. Kami memang jarang berkomunikasi via telepon, namun ia sering mengirimkan e-mail padaku.
Aku dan Helena pun memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia sangat menyukai pemandangan di Toronto. Aku pertama mengajaknya menuju Toronto City Hall yang merupakan ikon utama di kota ini, lalu mengajaknya jalan-jalan ke Chinatown. Di tempat ini merupakan dunianya belanja karena kita bisa membeli segala macam di sini, namun yang paling banyak dan terkenal adalah makanan dan pernak-pernik di sini.
Helena bercerita padaku tentang laki-laki mantan pasiennya di rumah sakit yang kini sedang dekat dengannya. Ia sendiri juga tertarik dengan pria itu yang katanya sangat tampan dan baik. Helena terlihat berbunga-bunga kala menceritakan hal itu yang membuatku tersenyum kecil.
Sedikit sedih karena aku harus membatalkan niatku menceritakan soal Chanyeol pada Helena. Ah, sayang sekali pria itu harus patah hati.
"Hei, Sarah, kapan kau akan punya kekasih?" tanya Helena sembari tersenyum. Aku tahu ia sedang meledekku.
"Aku belum berminat pacaran dan aku masih menikmati masa sendiriku," jawabku.
__ADS_1
"Are you sure? Kau pasti nanti akan membutuhkan seorang pria di sisimu, Sarah. Kau normal bukan?" tanyanya yang kujawab dengan tatapan mendelik padanya.
"Hei, aku masih normal. Aku masih suka yang berdada rata dan bidang," ujarku yang ditimpali kekehan kecil oleh Helena. Yah, apa yang ia katakan ada benarnya. Ada kalanya aku juga ingin punya kekasih. Sedang asyiknya kami berjalan, tanpa sengaja aku menolehkan kepalaku ke belakang dan netraku menangkap sosok yang nampak tidak asing bagiku. Sosok itu berada di arah jarum jam empat namun ketika aku berbalik untuk memastikan, ia menghilang di belokan jalan tak jauh dari kami.
"Ada apa?" tanya Helena yang mengetahui gerak-gerikku yang aneh.
Aku kembali pada Helena dan tersenyum, "Tidak, aku hanya melihat seseorang yang mirip orang yang kukenal."
Ia hanya ber-oh ria lalu kami melanjutkan perjalanan kami melihat-lihat sekeliling di Chinatown. Namun pikiranku tetap tidak tenang dan merasa aneh.
Apakah benar yang kulihat tadi adalah Baekhyun?
Aku menggelengkan kepalaku kecil. Kau pasti berhalusinasi, Sohyun!
***
Destinasi wisata terakhir adalah Queen's Park. Tempat ini tidak terlalu jauh jalurnya dari Chinatown tadi. Taman hari ini cukup sepi karena langit sekarang sedikit terlihat mendung. Orang-orang yang tadi sedang menikmati cuaca hangat musim gugur perlahan bangkit meninggalkan taman. Cuaca kali ini terlihat tidak menentu dan hujan bisa saja tumpah saat ini juga. Namun tetap saja, di balik sinar matahari yang masih tersisa, daun-daun maple yang merupakan lambang negara Canada ini masih terlihat indah. Daun-daun berguguran menampilkan warna cokelat kemerahan.
"Wow, di sini lebih menarik dari pada di London," ujar Helena takjub melihat pemandangan yang memerah.
Aku menganggukkan kepalaku dan kami pun duduk di kursi taman untuk beristirahat.
"Terima kasih sudah menemaniku, Sarah. Besok aku akan kembali lagi ke London. Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini. Jika kau kosong, kunjungi aku kapan-kapan." Helena menggenggam tanganku lembut dan menatapku dengan mata cokelatnya yang indah.
Aku menganggukkan kepalaku, "Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi, Helena. Kau salah satu teman terbaikku yang aku miliki di London!"
"Kau punya sahabat di Korea?"
"Tentu saja. Ia enam bulan lagi akan menikah dengan kekasihnya," ujarku yang membuat Helena kembali tersenyum.
"Nah. Aku sendiri sekarang sudah ada gebetan. Giliranmu kapan?" tanya Helena. Aku cemberut karena ia kembali bertanya kapan giliranku memiliki kekasih.
"Hei, Sarah. Aku percaya jodoh itu adalah takdir. Aku yakin kau akan menemukannya, atau mungkin kau sudah menemukannya tanpa kau sadari," ujar Helena.
Aku menghela nafasku. Bertemu jodohku tanpa aku sadari? Itu adalah hal aneh yang ia katakan.
Ia menepuk-nepuk pundakku kali ini dan ia bangkit berdiri.
"Kalau begitu aku harus kembali ke hotel, Sarah. Aku harus istirahat malam ini dan besok subuh aku kembali lagi ke London."
Aku pun bangkit dan memeluk Helena dengan erat. Ia tersenyum lalu melambaikan tangannya ketika sebuah taksi berhenti di dekat kami. Aku kembali sendirian kali ini dan aku berjalan menikmati taman ini. Sudah lama tidak ke sini, ternyata sudah ada sedikit perubahan. Beberapa bangunan kecil seperti air mancur sudah dipugari dan diperindah.
Kembali aku berkeliling, netraku menangkap sosok yang lagi-lagi kukenal. Pria yang tampak seperti Baekhyun itu kini berdiri di depanku dan menatapku tajam. Aku terkejut, namun aku berusaha mengendalikan diriku. Belakangan ini aku kurang tidur dan mungkin aku berhalusinasi akan sosok itu. Aku memejamkan mataku dan menunduk serta menggelengkan kepalaku, meyakinkan diriku bahwa itu adalah ilusi.
Namun seluruh sugesti yang aku lakukan runtuh ketika kutatap sepasang kaki kini sedang berdiri tepat di depanku. Aku mendongakkan kepalaku dan mendapati Baekhyun sedang berdiri dengan menatapku dalam. Sosok yang kemarin bilang bahwa ia membenciku, kini sedang berada di depanku!
"Kau tidak berhalusinasi, Sohyun. Aku di sini," katanya dengan suara berat. Kali ini benar bukan mimpi! Syal berwarna cream yang melingkar di lehernya membuatku yakin bahwa ini nyata.
"Kau..."
"Aku di sini, untuk menemuimu," katanya lagi.
Perasaan marahku muncul lagi. Untuk apa ia kini menemuiku setelah ia sendiri berkata bahwa ia membenciku?!
"Untuk apa?" tanyaku sinis padanya, "Bukankah kau membenciku? Kenapa kau ingin bertemu denganku? Kau ingin memarahiku lagi, huh?!"
Ia masih diam dengan netra yang terpaku padaku. Raut wajahnya memang terlihat bersalah kali ini namun aku takkan goyah dengan wajahnya. Walaupun terkadang setiap malam pahatan dan garis wajah itu memang terbayang ketika aku hendak tidur.
Sial...
"Jika tidak ada alasan, lebih baik jangan temui aku lagi. Karena aku tidak punya alasan untuk bertemu denganmu lagi," ujarku lalu melangkahkan kaki berusaha meninggalkannya.
"Aku ada alasan ketika aku ke sini,"
Langkahku terhenti dan aku membalikan tubuhku dan menatap Baekhyun yang juga membalikkan tubuhnya menghadapku. Netra kami bertemu dan aku melihat ia menatapku dengan sendu. Perlahan ia tersenyum tipis, membuat darahku berdesir karena jantung memompanya lebih cepat.
"... karena aku merindukanmu." ujarnya.
***
__ADS_1