
Malam sudah semakin larut dan waktu menunjukkan pukul 23.00 waktu Canada. Aku sedari tadi tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana keadaan Baekhyun di sana. Aku ingin sekali menelponnya tapi handphone-nya tidak aktif. Perlukah aku ke apartemennya malam-malam seperti ini?
Akhirnya, aku pun memutuskan untuk pergi ke apartemen Baekhyun. Tepat setelah aku siap dengan coat cokelat dan baju tebalku, bel apartemenku pun berbunyi. Dengan cepat aku membuka pintu dan kudapati Baekhyun berdiri di sana. Ia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan sebelumnya.
"Baek! Aku baru saja hendak ke apartemenmu, habisnya kau tidak bi--"
Baekhyun tiba-tiba memelukku dengan erat. Kurasakan suara hembusan nafasnya yang terdengar gusar. Kurasa ada yang tidak beres kali ini.
"Kau kenapa?" tanyaku membalas peluknya.
"Maafkan aku..."
Aku pun melepas pelukannya dan mengajaknya menuju ke dalam apartemenku. Kududukan Baekhyun di sofa.
"Apakah mereka memaksamu untuk kembali ke Korea?" tanyaku padanya. Baekhyun menganggukkan kepalanya kecil dan ia terlihat sangat tertekan.
"Maafkan aku tidak bisa menepati janjiku, Sohyun."
Aku menghela nafas dan tersenyum, berusaha untuk menenangkannya walau sebenarnya aku kecewa.
"Tidak apa-apa, Baek. Kau bisa berlibur ke sini kapanpun kau mau, bukan?" ujarku padanya.
"Aku hanya takut tidak bisa bertemu denganmu lagi," kata Baekhyun.
Aku meraih tangan Baekhyun dan menggenggam tangannya erat.
"Hei, aku akan pulang ke Korea tiap bulan, Baek. Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu sesering yang aku bisa. Oke?"
Ia menatapku dengan matanya yang terlihat berharap, "Benarkah kau akan sering pulang ke Korea?"
Aku mengangguk mantap, "Jadi tenang saja ya. Kau harus kembali ke Korea dan bekerja lagi. Aku menunggu penampilanmu di atas panggung!" ujarku memberi semangat.
Ia menghela nafasnya kasar dan keheningan menyelimuti kami. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Mengajaknya makan dengan aku yang memasak? Kurasa ini bukan jam yang tepat untuk makan. Mengajaknya nonton? Ah, aku tidak menyimpan film yang cocok untuk ditonton ketika malam hari. Koleksi film yang kumiliki lebih ke genre misteri. Tidak mungkin, 'kan, kami akan berteriak ketika melihat hantu tersebut muncul di layar televisi. Bisa-bisa kami diusir dari apartemen nanti.
"Bolehkah aku tidur di sini malam ini?" tiba-tiba Baekhyun memecah kebisuan dengan pertanyaannya yang membuat jantungku berdegup kencang.
"Ah, ya... boleh," ujarku lalu bangkit dari dudukku hendak ke kamar mengambilkannya bantal dan selimut.
"Bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?"
Langkahku terhenti karena terkejut dan jantungku tiga kali berdegup lebih kencang.
"Kenapa kau ingin tidur denganku?" tanyaku lalu menoleh padanya yang kini sedang menatapku dengan lembut. Heol... kakiku lemas ditatapnya seperti itu!
"Aku takut akan merindukanmu ketika besok aku harus pulang ke Korea," ujar Baekhyun.
Bolehkah aku berteriak sekarang juga?! I'm blushing right now! Kenapa dia berbicara seperti itu, huh?!
"Merindukanku? Yang benar saja. Kau bisa menelponku nanti," ujarku pada Baekhyun.
Ia masih menatapku sebentar dengan matanya yang sedikit mengantuk namun masih ia paksakan untuk menatapku dengan penuh harap, "Aku tidak mau tidur di sofa hanya dengan selimut di malam sedingin ini. Aku ingin tidur dengan penghangat ruangan. Lagipula, aku ingin banyak berbincang denganmu malam ini."
Aku menghela nafasku, "Baiklah. Ayo tidur. Tapi jangan ambil bantal pembatas yang aku letakkan di tengah-tengah. Kau membuatku jantungan ketika aku bangun tadi."
Ia pun berdiri dari duduknya mengekoriku ke kamar dengan senyum simpul di wajahnya.
Aigoo... ingin kucium dia!
Aish,
Enyahkan pikiran gilamu, Sohyun!
Kami pun kini sudah berbaring bersama di atas tempat tidurku, tentunya dengan bantal sebagai pembatas. Semoga saja, bantal itu tetap ada sampai besok pagi. Kami sama-sama tenggelam dalam keheningan, menatap langit-langit kamar yang bercorak menarik itu.
"Sohyun,"
Aku menoleh ke arah Baekhyun yang masih menatap ke atas.
"Ceritakan padaku tentang dirimu."
Aku tertegun mendengar apa yang ia katakan. Apa maksudnya ia bicara seperti itu?
"Pertemuan pertama kita terkesan tidak baik. Maaf membuatmu kesal waktu itu," kata Baekhyun sembari tersenyum lalu ia menolehkan kepalanya padaku.
"Itu karena aku belum mengenalmu, Baek," jawabku tersenyum juga. Pria itu memutar posisinya menjadi menghadap padaku.
"Jadi, ceritakan tentangmu padaku. Aku ingin mengenalmu lebih baik."
Kami berbincang cukup banyak. Mulai dari kehidupanku sampai bagaimana cerita Baekhyun mengejar impiannya menjadi seorang penyanyi. Cukup lama perbincangan yang kami lakukan sehingga salah satu dari kami tertidur. Baekhyun lebih dulu tertidur. Kutatap wajahnya yang lelah itu. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku merapikan selimut yang kami kenakan, dan perlahan memberanikan diri mengecup keningnya.
"Selamat tidur, Baek."
***
__ADS_1
Musim gugur perlahan melewati pertengahan bulan kedua. Toronto semakin menguning kemerahan dengan dedaunan yang mulai gugur lebih cepat. Proses adaptasi tumbuhan tersebut membuat mata tidak henti-hentinya menatap dengan kagum. Aku dan Baekhyun sekarang sedang berjalan-jalan di sekitar bandara internasional Pearson. Dua orang pria yang tak lain adalah manajer dan ketua agensi tempat Baekhyun bekerja, juga ada di sini. Mereka sedang menikmati secangkir kopi hangat dan membaca koran. Waktu pemberangkatan masih sejam lagi, dan pria ini sengaja mengajakku serta pergi lebih cepat, hanya untuk berkeliling bandara.
"Mereka sepertinya tidak menyukaiku," ujarku pada Baekhyun.
Baekhyun melirikku, "Manajer Yoo dan Tuan Lee? Mereka memang seperti itu orangnya."
"Tapi, sepertinya mereka kesal padaku, karena aku adalah penyebab gosip tentangmu di internet," ujarku lagi pada Baekhyun.
Baekhyun tersenyum, "Jangan seperti itu, kau membuat aku merasa tidak enak. Ini bukan salahmu, tapi salahku. Harusnya aku tidak menyeretmu dalam keadaan seperti itu. Hidupmu juga tidak akan tenang karena berurusan dengan idol sepertiku."
Aku menghela nafas, "Sudahlah. Aku tidak suka mendengar kau berbicara seolah kau adalah pembuat masalah."
Ia tersenyum menatapku dan kami kembali melanjutkan berkeliling. Bandara ini cukup luas dan ramai. Setelah nyaris satu jam kami berkeliling dan melihat-lihat diselingi dengan makan camilan, terdapat pemberitahuan bahwa pesawat akan take off sebentar lagi. Saat itu, kami sudah kembali ke kantin yang ada di bandara, lengkap dengan dua orang pria yang sudah siap.
"Sudah saatnya. Siapkan barang-barangmu. Jangan sampai ada yang tertinggal." Pria berperawakan kurus dengan wajah yang dingin berkata kepada Baekhyun. Pria itu mengacuhkannya dan berpaling ke arahku.
Cukup sesak sebenarnya. Belum juga ia masuk ke pesawat, dadaku sudah bergemuruh hebat.
"Aku pulang dulu. Jika ada waktu, kita akan bertemu lagi. Entah itu di sini, atau di Korea. Kuharap kau mau mengunjungiku jika kau tidak sibuk," ujar Baekhyun merapikan syal yang melingkar di leherku.
Ah, sial.
Air mataku rasanya ingin tumpah.
Aku menganggukkan kepalaku dan menunduk, takut Baekhyun akan melihat bendungan air di mataku.
Perlahan ia membawaku ke pelukannya. Ia memelukku erat dan mengusap punggungku. Wajahku tenggelam di dadanya dan aroma tubuhnya langsung menyergap indraku, membuat air mata yang kubendung tak bisa lagi tertahan.
"Aku akan merindukanmu, Sohyun," bisiknya pelan.
Begitupun aku, Baek.
Aku akan sangat merindukanmu.
"Ekhem,"
Baekhyun pun melepaskan pelukannya bersamaan dengan aku yang mengusap mataku. Pria berkaca mata dengan perawakan lembut, menatap kami.
"Sudah waktunya kita berangkat, Baekhyun."
Pria bermarga Byun di sebelahku menganggukkan kepalanya, dan menepuk pundakku lembut sebagai tanda perpisahan, yang kuangguki pelan.
Kutatap punggung Baekhyun yang menjauh sembari menyeret koper miliknya. Sebelum ia menghilang di balik jalan menuju kabin pesawat, ia menolehkan kepalanya padaku dan tersenyum, hingga akhirnya ia benar-benar menghilang.
Belum beberapa menit, aku sudah merindukan pria itu.
***
Hujan mengguyur Toronto, membuat cuaca kembali dingin. Aku menikmati secangkir kopi hangat di sebuah kafe dengan laptop di hadapanku, kembali ke kebiasaan awalku. Senja yang sudah mulai tiba membuat langit semakin menggelap diiringi dengan awan yang dengan setia masih berada di sana. Tidak sedikitpun angin menyentuhnya.
Sudah seminggu berlalu.
Seminggu aku hanya dapat melihat foto Baekhyun dari laptopku. Foto saat kami bersama-sama di Edensor. Wajah datarnya membuatku rindu.
Aku tidak bisa menghubunginya karena beredar kabar, ia sedang dalam latihan untuk merilis single terbarunya. Kabar kembalinya Baekhyun ke Korea dan siap untuk comeback membuat separuh dunia gempar. Secara ia adalah bintang terkenal. Kami masih berkomunikasi, tapi hanya lewat aplikasi chatting saja. Dan itu pun memakan waktu yang berbeda. Perbedaan waktu yang sangat jauh antara Canada dan Korea cukup mengganggu. Sesekali aku melihat internet hanya untuk tahu kabar pria itu, tapi tetap saja, tidak ada hal baru yang dapat kuketahui.
Rinduku membuncah, sungguh. Aku rindu akan sosok Baekhyun yang menyebalkan. Aku rindu sikapnya yang perhatian diam-diam, dan aku rindu akan senyumnya. Aroma tubuhnya masih terasa di mantel yang kukenakan. Parfum miliknya menempel dengan baik di syal putih ini.
"Kau melamun lagi, huh?"
Pikiranku buyar karena mendengar suara seorang gadis menghampiriku dengan segelas cokelat panas di tangannya. Hyesung pun mengambil tempat duduk di hadapanku.
Aku tersenyum kecil menanggapinya, "Aku hanya sedang memikirkan ide tulisanku."
"Jangan bohong padaku, Sohyun. Kau memikirkan Baekhyun, bukan?"
Aku tergugu. Silabelku tenggelam begitu saja begitu mendengar nama Baekhyun.
"Ah, dasar pria menyebalkan. Ia bilang ia akan merindukanmu tapi menelponmu saja tidak pernah!"
"Mungkin ia sibuk," jawabku, meraih kopi milikku.
"Sesibuk apapun dia, seharusnya ia menghubungimu, Sohyun."
Aku kembali tersenyum, "Kami hanya teman, Hye. Kurasa Baekhyun tidak perlu menelponku sesering itu."
Ya.
Kenyataan yang sekali lagi membuat aku tidak percaya diri. Baekhyun dan aku hanya sebatas teman. Tidak seharusnya aku berharap ia akan menelponku sesering yang aku harapkan.
Gadis bermarga Byun itu menghela nafasnya, "Aku harap kalian lebih dari itu."
Aku tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa, huh? Aku berkata dengan sungguh-sungguh karena aku menyukai sosokmu sebagai teman baruku. Kau dan Baekhyun sangat cocok!" seru gadis itu sembari mendengus, "Lagipula memang Baekhyun itu menyukaimu."
"Kurasa setelah ini tidak," jawabku membuat gadis di hadapanku menatapku tidak suka.
"Kenapa?"
"Kami jarang berbicara. Sesekali hanya lewat pesan saja. Dan perbedaan waktu antara di sini dan Korea juga sangat jauh. Saat aku hendak tidur, Baekhyun baru saja akan memulai aktivitasnya. Ketika aku memulai hariku, mentari sudah tenggelam di Korea. Di sana, banyak gadis yang lebih cantik dan menarik daripada aku. Sudah pasti Baekhyun tidak akan menyukaiku lagi."
Dadaku sesak. Mengakui sebuah kenyataan seperti itu membuat aku tersadar dari euforia akan perasaanku pada pria itu.
"Apakah kau juga menyukai Baekhyun?" tanya Hyesung, membuat emosiku membuncah. Tidak perlu silabel yang jelas. Hanya air mata yang kini perlahan mengalir sebagai tanda betapa aku merindukan pria itu.
"Ah... dasar pria itu menyebalkan. Perlukah aku memarahinya untuk menelponmu sesering mungkin??" ujar Hyesung mulai kesal.
Aku tersenyum kecil dan menghapus air mataku, "Kau tidak perlu melakukan itu. Aku akan menunggu kabarnya."
"Kenapa kau tidak ke Korea saja? Kau bisa izin bekerja untuk pulang, bukan?"
Tentu saja.
Tanpa perlu izin pun, aku bisa melakukan pekerjaanku di mana saja. Hanya saja, aku berharap Baekhyun yang memintaku datang ke Korea. Sekarang ia adalah sosok public figure yang terkenal. Seluruh kegiatannya pasti akan diawasi. Sekalipun aku berusaha untuk menemuinya, itu tidak akan mudah. Bagaimana bisa ia bertemu gadis biasa seperti aku?
Namun seluruh silabel itu kembali tenggelam dalam keheningan. Lagi-lagi aku hanya bisa diam.
"Jika menurutmu untuk bertemu dengan Baekhyun itu susah, aku bisa menjadi perantaranya!" kata Hyesung membuat perasaanku membaik. Gadis ini sangat baik padaku.
"Nanti saja. Masih banyak pekerjaan di sini. Aku akan ke Korea jika aku sempat untuk berlibur," jawabku. Hyesung pun menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.
Setidaknya, malam ini perasaanku bisa menjadi lebih baik berkat Hyesung.
***
Satu minggu lagi berlalu.
Dua minggu terburuk yang aku rasakan karena rindu, dan aku sudah jarang sekali berkomunikasi dengan Baekhyun.
Terakhir Lay menghubungiku dan berkata pria itu memang sibuk sekali. Kegiatannya benar-benar tidak bisa diganggu gugat. Mereka berempat yang notabene sahabat dekat Baekhyun saja tidak bisa menemuinya dengan mudah. Kuharap Baekhyun bisa lebih baik kali ini dan traumanya sepenuhnya hilang.
Selama ini aku berusaha mencari kesibukan yang akan membuatku bisa melupakan Baekhyun perlahan, namun sialnya perasaan itu tidak bisa dihilangkan begitu saja! Aku malah semakin merindukannya jika aku berusaha melupakannya. Jadilah kinerjaku selama dua minggu ini benar-benar buruk hanya karena pria bermarga Byun itu!
Aku mencuci wajahku ketika bangun pagi dan mengecek internet. Sedikit terhenyak karena pada kolom berita pertama, berita tentang Baekhyun terpampang dengan fotonya bersama seorang gadis. Kubaca beritanya, dan kuketahui nama gadis itu adalah Min Yuri. Mereka sedang berpose dengan serasi untuk iklan pakaian.
Aku kesal melihatnya, sungguh! Padahal itu adalah pekerjaannya sebagai seorang artis. Seharusnya aku tidak boleh merasa seperti ini.
Ah, aku seperti ini karena aku menyadari, bahwa gadis itu lebih cantik dan menarik daripada aku. Ia juga seorang public figure yang terkenal seperti Baekhyun. Apalah daya diriku hanya seorang penulis dan blog traveller?
Tidak mungkin juga, 'kan, Baekhyun menyukaiku?
Tiba-tiba suara bel berbunyi, menandakan ada sebuah kiriman yang masuk ke apartemenku. Sistem penerimaan barang di sini yang pertama lewat penjaga apartemen akan membunyikan bel yang terhubung dengan setiap apartemen. Aku pun turun ke lantai bawah dan mendapati sebuah surat bermotif berbeda, berada di kotak suratku. Aku pun mengambilnya kembali ke apartemenku.
Di dalam kamar, baru kusadari ada sebuah tulisan nama di sana dengan huruf hangul.
"Kepada: Kim Sohyun.
Hai, apa kabarmu?
Kuharap kau baik-baik saja.
Sepulangnya aku di Korea, jadwalku langsung menumpuk. Ingin sekali aku menolak seluruh jadwal yang langsung diberikan padaku untuk merilis single dan beberapa pemotretan. Tapi aku kembali teringat pada dirimu yang selalu memberikanku semangat untuk kembali bekerja."
Tanpa kusadari, jantungku berdegup sangat cepat membaca tiap huruf dari surat itu.
"Aku sangat ingin menghubungimu, tapi aku tidak bisa. Aksesku untuk membuka handphone sangat terbatas dan itu sangat menyebalkan. Aku harap kau mau mengerti keadaanku.
Lima hari lagi, akan diadakan konser single terbaruku. Kuharap kau mau datang nanti dan menyaksikan penampilanku di atas panggung. Aku sengaja mengirimkanmu surat, karena dibalik surat ini ada sebuah benda yang wajib kau bawa. Benda itu terbatas dan aku memberikan cetakan pertamanya kepadamu."
Aku membuka kembali amplop surat tersebut dan terdapat sebuah tiket konser di sana. Konser milik Baekhyun yang akan diadakan lima hari lagi.
"Kuharap kau datang. Ada banyak hal yang ingin aku katakan denganmu."
Nafasku tercekat dan terasa berat ketika membaca tulisan akhir dari pria itu.
"Aku merindukanmu, Sohyun. Lebih banyak dari yang kau pikirkan.
...
Baekhyun."
"Aaaaahhhh!" seruku bahagia sembari memeluk surat dari Baekhyun dan berguling-guling di tempat tidurku. Ah, gila rasanya setelah tahu ia masih memikirkanku. Dengan tiket ini di tanganku, akan lebih mudah untuk bertemu dengan Baekhyun kali ini!
Segera mungkin aku menyusun pakaianku di koper dan menelpon Mr. Kelly.
"Hello? Mr. Kelly! Aku akan pulang ke Korea besok. Tolong katakan pada Mrs. Johnson bahwa aku akan berada di sana selama dua minggu! Thank you, Sir!"
__ADS_1
***