SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 23


__ADS_3

"Sohyun, bangun! Kau ini sudah tiga hari mengurung diri di kamar. Ada apa sebenarnya?"


Lagi.


Kurasa aku mengalami déjà vu.


Lagi-lagi aku mengurung diriku dari beberapa hari lalu dan aku lupa akan keadaan tubuhku yang melemah karena kekurangan asupan karbohidrat dan lain-lain. Aku hanya menegak air putih dan makan ramyeon jika aku lapar, dan aku pun keluar dari kamarku diam-diam sehingga ibu dan ayahku tidak perlu menegurku. Kemarin juga Yoojung mendatangi rumahku dan ia marah-marah karena perubahan sikapku. Namun aku tidak menghiraukannya.


Semua ini karena pria bernama Byun Baekhyun.


Kalian bisa katakan aku bodoh karena aku masih memikirkan pria itu sekalipun sudah kuketahui dia sudah berkencan dengan Min Yuri, artis baru yang sedang naik daun di agensi tempat Baekhyun bekerja. Ya, mereka pacaran dalam satu lingkup agensi. Berita tentang hal itu di televisi membuatku benar-benar patah hati.


"Sayang, Ibu tahu kau tidak tidur! Ayo bangun dan makan siang bersama kami. Kau tidak merindukan ayah dan ibumu, huh?" tanya ibuku dari luar kamarku. Kurasa itu volume maksimal yang bisa beliau keluarkan. Namun tetap saja, jika dihitung satu sampai sepuluh, volume suara maksimal milik ibuku hanya bernilai lima.


Aku perlahan bangkit dari kasur kesayanganku dan membuka pintu. Tampak sosok wanita yang sangat aku cintai sedang berdiri di depanku. Ia langsung memelukku dan mencium pipiku. Wajahnya tidak banyak perubahan. Tetap lembut dan penuh ketegasan. Hanya saja keriput mulai menghiasi ujung matanya karena suka tersenyum.


"Kau tidak merindukan ibumu, ya?" tanyanya.


"Maaf, Bu. Aku ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi aku harus menyelesaikannya selama tiga hari berturut-turut," jawabku lalu bersama dengan ibuku berjalan menuju lantai bawah.


"Tapi setidaknya kau harus bertemu kami pagi ini," katanya. Kulihat ayahku sedang membaca koran tadi pagi sembari menunggu aku dan ibuku turun ke bawah.


"Maaf, Bu." Hanya itu yang bisa kuucapkan dengan mengulas senyum tipis. Jujur, perasaanku tidak membaik dari semalam.


"Halo, Ayah," sapaku. Ayahku langsung menoleh dan berdiri sembari menghampiriku. Beliau mencium keningku dan memelukku erat.


"Apa kabarmu, Hyun?" tanya ayahku tersenyum.


Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum tipis sembari berjalan ke meja makan.


"Hm, bisa kusimpulkan tidak kalau begitu," jawab ayahku.


Aku mengangkat kepalaku untuk melirik ayahku yang sedang mengambil nasinya.


"Tumben kau pulang, ada hal apa memangnya? Apakah Mrs. Johnson mengizinkannya?" tanya ibuku.


Aku menganggukkan kepalaku saja.


"Kurasa putriku sedang patah hati rupanya,"


Aku tersedak saat menegak air putih kala mendengar ucapan ayahku.


"Eh, pelan-pelan!" seru ibuku terkejut sementara ayahku tertawa kecil.


"Ayah, bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu??" ujarku tidak terima. Aku malas sekali membahas masalah seperti ini.


"Kau putriku, dan aku tahu bagaimana jika kau sedang patah hati. Kau sungguh mirip aku soalnya," ujar ayahku lagi sambil tersenyum.


Mau tidak mau senyumku mengembang mendengarnya. Sedangkan ibuku mulai misuh-misuh dan pembicaraan selanjutnya adalah bagaimana cerita tentang ibu dan ayahku ketika masih muda dulu.


Ayahku adalah seseorang yang pendiam dulu, dan ia sangat menyukai ibuku namun tidak pernah berani menyatakan perasaannya. Mereka bertemu ketika berada di kereta api. Ayahku sering melihat ibuku pergi bekerja dengan naik kereta api. Jatuh cinta pada pandangan pertama, kalau kata ayahku. Ibuku orang yang tenang dan terkadang sangat apa adanya. Tak jarang jika kau meminta pendapat ibuku mengenai gambarmu yang jelek, ia tidak akan segan mengatakan kalau itu jelek.


Singkat cerita, ayahku sering mengikuti ibuku ketika pulang bekerja hanya untuk menjaga ibuku sepanjang jalan setelah turun dari kereta. Ibuku akhirnya menyadari ada yang selalu mengikutinya ketika pulang dari bekerja. Beliau yang mengira ayahku adalah penjahat langsung melemparkan batu ketika melihat ayahku. Meskipun pertemuan nyata mereka tidak dengan cara yang manis dan terkesan aneh, dari situlah romansa mereka di mulai.


Ah... seandainya kisah cintaku semanis itu...


***


"Ibu dan Ayah harus bekerja lagi, tapi nanti malam kami pulang. Nanti Junmyeon akan ke sini menemanimu."


Aku mengangkat alis mataku, "Junmyeon oppa? Kenapa dia bisa di Korea? Bukankah seharusnya dia di New York?"


"Dia mendapat pekerjaan di sini dan akhirnya pindah," jawab ayahku.


Aku menganggukkan kepalaku dan menemani mereka sampai pintu keluar. Tidak lama setelah kedua orang tuaku pergi, kulihat sebuah mobil masuk ke pekarangan rumahku. Lamat-lamat kulihat sosok pria yang cukup kurindukan, sekaligus menyebalkan itu.


Ia keluar dari mobilnya dan tersenyum lebar sekali kala melihatku berdiri di pintu masuk.



"Hoi, Kim Sohyun!" teriaknya dari tempat ia memarkirkan mobil, "Apa kabarmu?!"


See, dia menyebalkan bukan?


"Berhentilah berteriak! Jika ingin bicara masuk terlebih dahulu, dasar menyebalkan," ujarku ketika Junmyeon berjalan cepat ke arahku.


"Oho, kau sekarang sudah berani mengatai sepupumu seperti itu, huh?" ujar Junmyeon.

__ADS_1


Aku menghela nafasku lalu berjalan masuk.


Kim Junmyeon adalah sepupuku. Ayahnya adalah kakak dari ayahku. Usia kami terpaut empat tahun, namun sikap kami layaknya teman sebaya. Junmyeon adalah orang yang cukup diam jika pertama kali kau mengenalnya. Namun jika kau sudah mengenalnya cukup lama, kau akan mengetahui bahwa Junmyeon adalah orang yang sangat menyebalkan.


Dan lagi, sebenarnya ia lebih suka aku memanggilnya Suho dari pada Junmyeon. Entah mengapa. Kurasa ia mendapatkan nama aneh itu ketika bekerja di salah satu perusahaan design di New York. Tapi tetap saja, aku menghormati nama pemberian pamanku untuknya. Jadi aku tetap memanggilnya Junmyeon sekalipun ia merengek minta dipanggil Suho.


"Hei, kenapa kau tidak semangat melihat kedatanganku, huh?"


Aku tersenyum tipis, "Aku masih sangat lelah. Jadi aku ingin beristirahat terlebih dahulu."


Junmyeon pun mengikutiku sampai di kamar dan ia berdiri tepat di pintunya ketika aku langsung merebahkan tubuhku bagai karung beras. Terkapar dengan posisi wajah menghadap ke bawah, dengan resiko kekurangan oksigen dan menghirup debu tersembunyi.


"Aigoo... kenapa kau seperti ini, huh? Benarkah yang dikatakan Paman bahwa kau sedang patah hati?" tanya Junmyeon. Aku tidak menghiraukannya karena aku benar-benar dalam perasaan yang buruk.


"Bagaimana kalau aku mengajakmu jalan-jalan untuk mengusir permasalahanmu sejenak?"


Aku pun memutar tubuhku dan terduduk untuk melihat Junmyeon. Pria itu mulai tersenyum karena aku mulai tertarik.


"Memangnya kita mau liburan kemana?" tanyaku padanya.


Junmyeon mengeluarkan senyum andalannya, senyum yang bisa menghipnotis seluruh wanita, kecuali aku.


"Pulau Jeju. Siapkan pakaianmu dan kita akan berangkat nanti malam,"


Aku membelalakan mataku.


"Nanti malam katamu?!"


***


Pria Kim ini benar-benar tidak bercanda dengan apa yang ia katakan. Ia benar memesan tiket penerbangan ke Pulau Jeju secara cepat. Setelah pamit dengan kedua orang tuaku, kami berangkat ke bandara.


"Kau benar-benar mengajakku berlibur ke Jeju, huh?"


"Tentu saja, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," ujar Junmyeon, "Kau terlihat tertekan. Maka dari itu aku dengan cepat harus membawamu berlibur."


Aku berdecih dan pandanganku beralih sejenak pada televisi yang ada di bandara sembari menunggu penerbangan. Perasaanku menjadi tidak baik karena di acara yang disiarkan di televisi, terdapat Baekhyun dan Min Yuri. Mereka berdua duduk berdampingan dalam beberapa wawancara, salah satunya yaitu tentang hubungan mereka. Baekhyun tampak tersenyum begitu juga dengan Yuri.


Ah, mereka serasi sekali...


"Wah, ekspresinya bagus sekali!" seru Junmyeon ketika melihat acara yang aku tonton. Aku menoleh ke arah pria itu yang terlihat sedang manggut-manggut.


"Ekspresinya bagus sekali? Apa maksudmu?" tanyaku sembari melihat Junmyeon dan televisi gantung itu bergantian.


"Eiii, apakah kau tidak melihat kalau ekspresi pria itu sungguh palsu? Senyum itu bukanlah senyum aslinya! Dan aku salut ia bisa memberikan ekspresi wajah demikian," kata Junmyeon.


"Kau bukan peramal, Oppa," ujarku.


"Aku memang bukan peramal, tapi aku bisa membaca wajah seseorang. Walau pekerjaanku sebagai seorang design grafis, aku juga belajar menilai karakter seseorang dari wajahnya. Dan pria itu, ... pria itu terlalu banyak menggunakan topeng dalam hidupnya."


Aku tercenung mendengarnya. Aku memang tidak pernah melihat wajah Baekhyun yang seperti itu. Apakah benar yang dikatakan Junmyeon kali ini?


"Ayo, pesawat kita akan berangkat sebentar lagi. Siapkan kopermu jangan sampai ada yang tertinggal," kata Junmyeon lalu bangkit berdiri.


Aku menghembuskan nafasku, lalu membawa tasku mengekori Junmyeon.


Korea menunjukkan pukul tujuh malam ketika aku dan Junmyeon tiba di bandara Jeju. Jika orang-orang melihat kami, pasti mereka menganggap kami adalah sepasang kekasih. Ah, biar saja, toh mereka tidak mengenaliku.


Junmyeon memesan resort penginapan yang cukup terkenal di Jeju dan memesan dua kamar dengan fasilitas lengkap. Aku terbelalak kagum melihat kamarku yang sangat menarik. Resort ini merupakan rumah yang berderet di sekitaran pantai di Jeju.


"Kau suka?" tanya Junmyeon tersenyum ketika melihat aku mengelilingi kamarku.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Baiklah, kau istirahat dulu, setelahnya aku akan mengajakmu berkeliling di sini," kata Junmyeon.


Aku menganggukkan kepalaku dan menghela nafas ketika Junmyeon pergi. Well, kurasa ini adalah jalan terbaik yang harus aku lakukan. Dari pada bersedih karena seorang pria, lebih baik aku memperhatikan diriku sendiri.


Tiba-tiba kurasakan handphone-ku bergetar. Ah, ini sudah kesekian kalinya benda ini mengganggu ketenanganku. Akhirnya aku membuka handphone ini. Terdapat banyak notifikasi, terutama dari Lay, Sehun, Chanyeol, dan Kyungsoo. Mereka bertanya tentang keadaanku dan dimana aku sekarang. Notifikasi dari Taehyung juga tidak kalah banyak. Namun tidak ada satupun notifikasi dari pria bermarga Byun itu. Menyebalkan.


Taehyung is calling...


Aku menggeser tanda hijau dan langsung kudengar suara berat pria itu.


"Kau di mana sekarang?" tanyanya, "Kenapa kau susah sekali dihubungi selama tiga hari ini, huh?"


Aku tersenyum kecil mendengar suaranya yang terlihat panik itu.

__ADS_1


"Aku sedang berlibur dengan sepupuku di Jeju."


Terdengar helaan nafas berat dari sana.


"Kau ini,... kenapa tidak memberiku kabar, huh?! Kau tahu tidak betapa aku mengkhawatirkan keadaanmu semenjak kejadian itu?!"


"Maaf, harusnya kau tidak mengkhawatirkan a--"


"Bagaimana aku tidak memikirkan orang yang aku suka, Kim Sohyun?!"


Stagnan. Bibirku kelu hendak mengucapkan sepatah silabel. Perasaan bersalah mendadak hinggap di hatiku.


"Maaf..."


Taehyung menghela nafas lagi, "Kapan kau akan pulang ke Seoul?"


"Tiga hari lagi mungkin," jawabku.


"Baiklah... kuharap kau bisa berlibur dengan baik. Dan soal perkataanku waktu itu,... aku tidak main-main."


Pikiranku kembali melayang akan kejadian tiga hari lalu.


"Aku ingin kau jadi kekasihku, Sohyun. Aku menunggu jawabanmu."


Aish... kenapa jantungku berdegup tidak tenang begini?!


"E-eoh..."


"Baiklah. Selamat berlibur dan selamat malam, Sohyun."


Aku pun memutus sambungan terlebih dahulu. Dan rasanya beban pikiranku kembali bertambah.


Kenapa masalah perasaan bisa serumit ini, eoh?!


***


Junmyeon mengajakku berjalan kaki mengitari pantai Jeju yang sangat indah. Suasana cukup ramai rasanya karena kulihat beberapa orang terlihat sibuk menyiapkan sesuatu di sini. Ada mobil van yang cukup besar yang tertangkap penglihatanku. Kabarnya ada pemotretan di sini.


"Orang-orang itu melihat kita. Mereka pikir pasti kita sepasang kekasih," komentarku ketika melihat sekelompok gadis terlihat berbisik-bisik melihat kami.


Junmyeon tersenyum dan dengan sengaja merangkul leherku, dengan tidak ada lembutnya sama sekali!


"Tentu saja. Mereka membicarakan ketampanan Oppa-mu ini!" katanya sambil sumringah.


Ingin kuceburkan dia ke air laut.


Kami lalu berkeliling lagi ke perbukitan yang letaknya di belakang penginapan. Terdapat jalan setapak dengan hamparan rumput di sana. Aku menatap bintang malam ini sangat terang. Dan jangan lupakan suhu dan angin malam ini. Aku sampai memakai tiga lapis mantel sekarang. Namun, walaupun begitu, aku menyukainya. Pemandangan malam hari cukup menyenangkan dari sini. Mungkin pemandangan di pagi hari lebih menarik.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


Aku menoleh dan menatap Junmyeon yang sedang melihatku. Aku tersenyum dan menghela nafasku, merasakan angin malam yang dingin.


"Sudah lebih baik sekarang. Terima kasih untukmu," jawabku tulus.


Ia mengusap kepalaku lembut, "Jika kau memiliki masalah, kau harus cerita padaku. Dan jika ada pria yang menyakitimu, adukan padaku! Mengerti?"


Aku terkekeh kecil dan menganggukkan kepalaku. Semenyebalkannya Junmyeon, ia adalah kakak yang selalu bisa aku andalkan.


"Ayo turun!" kata Junmyeon lalu berjalan ke belakang untuk menuruni bukit.


"Kau duluan saja, nanti aku menyusul!" teriakku. Pria itu mengacungkan jempolnya dan berjalan menuruni bukit.


Ah, keheningan ini sangat menyenangkan bagiku. Kututup mataku perlahan dan merasakan hembusan angin malam. Aku tidak peduli jika besok aku masuk angin, yang penting aku menikmati momen ini. Ketika waktunya sudah cukup, aku pun berniat turun ke bawah dan kembali ke penginapan.


Namun aku terkejut bukan main ketika aku berbalik. Aku melihat seseorang, dan sosok yang kulihat kali ini adalah sosok yang kurindukan sekaligus ingin kuhindari mati-matian. Ia berdiri menatapku dengan tatapan sendu.


"Hai."


Netraku membesar. Kupikir aku berhalusinasi namun ia ternyata nyata.


"Byun Baekhyun..."


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2