
Aku meringkuk di kamarku sambil menangis. Ah, bodohnya aku kenapa harus menangis karena pria macam Baekhyun? Pria yang tidak punya hati dan pria arogan! Harusnya semalam kubiarkan saja dia mati kehabisan darah di rumahnya itu. Para fans di Korea harusnya berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan idola mereka. Ah, apakah perlu aku menelpon Yoojung dan memberitahunya kalau idolanya sekarang tinggal di dekat rumahku?
Namun aku masih ingin hidup tenang. Aku tidak mau ditelpon terus menerus hanya karena ia menanyakan Baekhyun yang katanya pria ramah, manis, dan tampan. Buang semua pujian itu jika berurusan denganku karena aku sudah muak dengan pria itu. Kurang lebih dua minggu lagi aku akan kembali ke Canada dan aku tidak akan bertemu dengan pria itu lagi.
Sebuah bel berbunyi, diiringi ketukan halus dari sosok di depan rumahku. Aku menyeka air mataku kasar dan turun ke bawah untuk membuka pintu. Aku bungkam kala melihat sosok Lay di depan rumahku dan ia tersenyum.
"Boleh aku masuk, Sohyun?" tanyanya kala aku hanya membuka pintu dengan kecil dan mengintipnya dengan sebelah mataku, layaknya orang ketakutan. Akhirnya kubuka pintu dan membiarkan Lay masuk ke dalam rumahku.
"Mau apa kau ke sini? Bilang pada temanmu aku takkan mengganggunya lagi," ujarku sinis.
Lay pun duduk di sofa dan menatapku, "Aku minta maaf atas itu. Sebenarnya itu salah kami karena kami menggodanya. Ia jadi kesal dan akhirnya berkata seperti itu."
"Tapi haruskah dia berbicara seperti itu dan merendahkanku, huh? Kau tahu itu sangat menyinggung perasaanku!"
"Dia pernah menciummu?"
Pertanyaan Lay yang tiba-tiba dan terkesan aneh membuatku terbatuk karena tersedak air liurku sendiri. Aku membelalakan mataku dan menatap Lay yang kini tersenyum padaku.
"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyaku terkejut dan sedikit malu. Kembali kuingat secara teknis pria menyebalkan itu menciumku, walaupun bibir kami terhalang oleh masker yang ia kenakan. Oh, ayolah, Sohyun! Berhenti memikirkan hal itu!
"Berita soal Baekhyun berada di London sudah menyebar di media sosial. Beberapa fans memotretnya berlari di jalanan dan foto terakhir, ia menarik seorang gadis yang tampak seperti kau," jawab Lay.
"Benarkah?!" seruku terkejut. Dengan cepat aku membuka handphone-ku dan mencari tahu soal berita itu dan sialnya, memang benar. Banyak situs web dan media sosial yang membicarakan Baekhyun dan seorang gadis yang tak lain adalah aku! Spekulasi aneh vakumnya Baekhyun karena seorang gadis adalah trending topic di negaraku dan beberapa negara di dunia!
Kurasa hidupku takkan aman sekarang.
"Kami bertanya pada Baekhyun bagaimana kalian bisa selamat kala itu dari para fans fanatik? Dengan wajah merah, ia berkata ia menciummu di sudut dinding di jalan buntu itu." Lay tersenyum menatap wajahku yang perlahan memerah. Baekhyun jadi beranggapan bahwa itu adalah ciuman, huh?!
"Secara teknis kami berciuman," jawabku sambil menahan malu setengah mati, "Tapi tidak langsung karena ia mengenakan masker."
Lay tertawa kecil mendengar apa yang kukatakan, "Kumohon maafkan dia. Aku yakin ia tidak bermaksud berkata seperti itu tadi. Semua salah kami yang meledeknya dan membuat wajahnya semerah buah delima. Maka dari itu akhirnya ia mengatakan hal yang tidak sepantasnya ia katakan. Dan kini ia mengusir kami dari kamarnya dan ia ingin sendirian usai berkata seperti itu padamu. Aku takut akan terjadi hal aneh mengingat keadaan mentalnya tidak baik."
Aku terdiam mendengar apa yang Lay katakan. Kenapa dari ceritanya, Baekhyun bukanlah orang yang menyebalkan?
Pria itu mendesah dan melanjutkan, "Ia menderita Posttraumatic Stress Disorder."
Aku tertegun dan terkejut mendengar pernyataan Lay. Ini adalah informasi yang baru kuketahui.
"Aku dokter psikologi pribadi sekaligus sahabat lama Baekhyun. Jadi aku tahu keadaannya," jawab Lay, "Namaku Zhang Yixing, tapi aku biasa dipanggil Lay. Kau boleh memanggilku seperti itu."
"Kenapa ia bisa menderita penyakit seperti itu?" tanyaku pada Lay. Aku mulai tertarik pada bahasan ini dan aku mendekati sofa dan bermaksud untuk duduk.
"Aku akan menceritakannya, tapi... bolehkah aku minta segelas air putih? Kurasa ini adalah perbincangan yang panjang."
Aku menepuk dahiku dan dengan cepat ke dapur untuk membawakan segelas air putih, meletakkan segelas air itu dan ia meminumnya sedikit. Sohyun, kau bukan tuan rumah yang baik!
Lay mulai bercerita seiring aku duduk di sofa, "Baekhyun mengalami trauma hebat pasca kecelakaan setahun yang lalu. Cukup parah dan itu sempat menjadi berita besar di Korea. Menewaskan sepuluh orang karena itu adalah kecelakaan beruntun, dan salah satu korbannya adalah kekasihnya."
Aku kembali tertegun mendengar berita ini karena aku memang tidak tahu kabar yang terjadi di Korea mengingat aku tinggal di Canada dan tidak sempat membuka internet barang sekalipun di malam hari.
Lay melanjutkan, "Mereka sedang ribut di mobil. Ya, kekasihnya bersama Baekhyun waktu itu. Mereka debat panjang sampai akhirnya Baekhyun tidak fokus pada jalan dan sebuah truk melintas dari sisi kanan mobil mereka. Kau pasti tahu siapa yang terhantam terlebih dahulu?
"Baekhyun selamat sementara menurut kabar, kekasihnya kritis. Terlebih lagi keadaan wanita itu sangat buruk. Luka di sekujur tubuhnya dan kakinya patah. Baekhyun sempat sadar dan ia melihat semua kecelakaan itu dengan matanya sendiri. Ia histeris melihat kekasihnya dalam keadaan antara hidup dan mati. Sekarang, ia trauma pada kaca pecah karena itu mengingatkannya akan kecelakaan itu.
"Kekasihnya kini sudah meninggal karena tidak sempat tertolong. Baekhyun nyaris berurusan dengan hukum jika saja pihak keluarga kekasih Baekhyun tidak meminta pembatalan pelaporan kasus. Sehingga kasus kecelakaan ini di tutup begitu saja dan Baekhyun harus membayar ganti rugi kepada pihak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya seperti bantuan dana. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya dan aku juga tidak perlu tahu untuk ikut campur urusan itu.
Aku hanya sempat ke makamnya usai gadis itu di makamkan dan aku tidak sempat datang ke rumah duka waktu itu. Baekhyun sendiri tidak datang ke rumah duka dan sampai sekarang tidak pernah ke makam kekasihnya. Dan aku juga tidak menyarankannya untuk datang mengingat keadaan mentalnya."
__ADS_1
Lay mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas.
Perasaan marah dan kesalku akan Baekhyun seakan meluap digantikan dengan perasaan iba dan sedih. Membayangkan kehilangan orang yang kita cintai itu sangat menyedihkan terlebih lagi kau melihat semua kejadian itu dengan mata kepala sendiri.
"Depresinya cukup parah dan itu membuatnya harus vakum dari dunia hiburan dalam beberapa bulan. Selama setahun ini aku menjadi psikolog pribadinya namun tidak ada perubahan berarti darinya. Aku berharap padamu, Sohyun. Tolong bantu Baekhyun sembuh dari traumanya." Lay menatapku dengan penuh harap.
"Bagaimana aku bisa membantunya untuk sembuh jika ia sendiri tidak mau berteman denganku?" gumamku.
Lay menghela nafas lalu tersenyum, "Aku tahu ini tidak akan mudah karena semenjak itu Baekhyun jadi pribadi dingin yang tak peduli. Sebenarnya ia adalah orang yang hangat walaupun predikat dingin itu masih melekat karena Baekhyun orang yang introvert.
"Tapi aku yakin, kau bisa melakukannya, Sohyun. Kumohon, selama dia di sini, kuharap kau mau membantu untuk merawatnya."
Dan entah karena angin apa, aku perlahan menganggukan kepalaku dan itu membuat Lay tersenyum. Ia menepuk pundakku pelan lalu pamit pulang ke rumah Baekhyun.
***
Hujan tadi sore membuat keadaan dingin dan suhu turun lagi menyentuh angka lima derajat. Aku membuka laptopku dan bersiap untuk menulis lagi. Dengan nasi putih dan kimchi, aku mulai menggelitik keyboard dan mencurahkan apa yang ada di kepalaku. Kuintip di seberang rumahku masih terasa ramai karena keempat teman Baekhyun belum kembali ke Korea.
Kabar yang aku tahu dari Kyungsoo ketika ia mengantarkan bubur yang ia buat untukku, mereka akan pulang tiga hari lagi dan itu membuat Baekhyun lebih banyak mengurung dirinya di kamar karena sikap rusuh Chanyeol yang membuat kepala Baekhyun sakit. Ah, ya. Helena juga sedang berada bersamaku kali ini. Gadis cantik ini sedang belajar.
"Kau bilang teman Baekhyun itu adalah dokter psikologi?" tanya Helena yang kini membaca sebuah laporan kedokteran yang ia bawa ke rumahku.
"Ya. Kau tahu gangguan Posttraumatic Stress Disorder?" tanyaku yang dijawab dengan anggukan oleh Helena.
"Itu gangguan mental yang parah menurutku. Wait... apakah Baekhyun menderita penyakit itu?" tanya Helena. Aku hanya menganggukkan kepalaku lalu meraih makananku dan memasukkannya ke dalam mulutku.
"Aku baru mengetahuinya dari Lay, teman Baekhyun yang psikolog itu."
Helena menganggukkan kepalanya pelan, "Pasti sebuah kejadian mengerikan yang sangat mengguncang mentalnya. Wajar saja ia jadi begitu menyebalkan dan terkesan mengisolasi dirinya sendiri dari lingkungan sekitar."
"Apakah penyakit itu tidak bisa diketahui jika kau hanya melihatnya?" tanyaku pada Helena.
Aku menganggukkan kepalaku dan bermaksud untuk melanjutkan tulisanku kembali. Namun suara telepon menginterupsi kegiatanku. Nomor tak dikenal terpampang di handphone-ku.
"Hello?" jawabku.
"Hai, Sohyun! Senang bisa bicara denganmu lagi!" kata suara berat di seberang sana.
"Taehyung?"
"Ya, ini aku," jawab Taehyung.
"Oh, apa kabar?" tanyaku padanya dengan bahasa Korea.
"Baik, seperti biasanya. Kau sedang apa?" tanya Taehyung.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, "Menyelesaikan tulisanku dan kau menggangguku, Mister."
Terdengar suara kekehan kecil di sana, "Benarkah? Kalau begitu aku minta maaf. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan keluar kota dari London. Apa kau mau?" tanya Taehyung.
Aku cukup ragu karena ya, kami baru kenal. Meskipun ia memang dari negara yang sama denganku, tapi tetap saja aku tak bisa mengiyakan ajakan orang yang baru kukenal.
"Hei, kau tidak perlu takut. Di sana ramai dan banyak orang Korea juga. Jika kau ingin mengajak temanmu, ajak saja. Aku hanya kepikiran dirimu yang suntuk mencari ide untuk tulisanmu," katanya lagi.
"Kurasa kau benar-benar cenayang, Mister Kim!" seruku senang. Ia tertawa di seberang sana.
"Kita akan ke Edensor. Desa itu sedang ada festival yang menarik dan banyak wisatawan Korea yang ke sana. Aku mendapatkan kabar itu dari temanku yang kebetulan diajak oleh perusahaannya. Aku akan menjemput di rumahmu nanti. Ajak saja teman jika kau ingin," ujarnya lagi.
__ADS_1
"Ah, baiklah. Kabari saja aku jika kau menjemput, oke?" kataku kembali tersenyum.
"Oke. Selamat malam, Miss!" ujarnya lalu mematikan sambungan.
"Siapa?" tanya Helena menatapku dengan tatapan meledek, "Apakah ia kekasihmu?"
"Aku tidak punya kekasih, Nona. Dia kenalanku yang tinggal di London, dan dia orang Korea. Ia mengajakku ke Edensor besok dan aku boleh membawa teman. Kau bisa besok menemaniku ke sana?" tawarku pada Helena.
"Ah, I'm so sorry. Aku ada jadwal padat besok," jawabnya yang membuatku menghela nafas. Ia tersenyum lalu melanjutkan, "Kenapa tidak kau ajak saja Baekhyun? Ia butuh liburan keluar daripada mendekam di dalam rumahnya."
Benar juga.
Aku terdiam memikirkan pria bernama Baekhyun itu. Ada niatan ingin mengajaknya, namun apakah ia juga mau?
"Aku akan bertanya padanya," ujarku yang dibalas anggukan Helena. Aku pun keluar, mengetuk pintu rumahnya dan Sehun membukakan pintunya. Aku cukup terkejut karena melihat pria tampan itu malam-malam seperti ini.
"Hai, Sohyun. Masuklah dulu," ujarnya mempersilakan aku masuk.
"Aku ingin bicara dengan Baekhyun, bisa?" tanyaku pada Sehun. Pria itu tersenyum lagi, "Ayo ke kamarnya. Ia baru saja sudah makan malam dan ia langsung mengurung diri di kamarnya. Untung saja rumah ini punya dua kamar untuk tempat kami menginap di sini. Jika tidak, mungkin kami tidur di sofa mengingat sikapnya seperti itu."
Ya. Rumah Baekhyun lebih besar daripada rumahku.
Aku pun naik ke atas dan mengetuk kamar Baekhyun. Dari arah berlawanan, keluarlah Chanyeol, Lay, dan Kyungsoo dari dalam kamar mereka.
"Oh, ada apa Sohyun di sini?" tanya Chanyeol menggaruk kepala dan sedikit terkejut. Kutebak ia masih merasa canggung dengan peristiwa tadi siang. Aku sendiri kini tidak merasa kesal lagi entah mengapa. Mungkin ini karena aku sudah tahu apa yang terjadi pada Baekhyun.
"Aku ingin bicara pada Baekhyun. Sekalian kalian juga ikut mendengarkan," jawabku tersenyum.
Aku pun mengetuk kamar Baekhyun, "Baekhyun! Bolehkah aku masuk? Aku ingin bicara padamu."
Tanpa banyak menunggu, tiba-tiba Baekhyun membuka pintu. Wajahnya ya... tetap datar dan dingin seperti biasa.
"Heol... giliran Sohyun yang memanggil, kau membukanya dengan cepat, Baekhyun!" komentar Chanyeol.
"Ada apa?" tanya Baekhyun padaku tanpa menggubris perkataan Chanyeol.
"Aku ingin ke Edensor besok. Kau mau ikut tidak?" ajakku padanya. Namun yang menjawab pertanyaanku adalah keempat pria di sebelahku.
"Mau!" seru Chanyeol antusias.
"Kudengar sedang ada festival menarik di sana!" tambah Kyungsoo.
"Hei, Baekhyun. Kau harus ikut!" kata Sehun.
"Boleh, kan, kami juga ikut, Sohyun?" tanya Lay pada akhirnya.
Aku menganggukan kepalaku, "Nanti ada temanku besok yang menjemput. Ia berkata aku boleh membawa teman."
Kutatap kembali Baekhyun yang tampak berpikir.
"Kau harus liburan di luar rumah. Percuma kau jauh-jauh ke Inggris hanya untuk mendekam di rumah ini. Banyak tempat indah di London dan sekitarannya," ujarku lagi.
Ia menatap manik mataku selama lima detik lalu menganggukan kepalanya.
"Baiklah, aku ikut," jawabnya.
***
__ADS_1