SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 29 [Baekhyun's Eyes 7]


__ADS_3

Jadwal yang Baekhyun miliki ternyata lebih banyak dari yang ia bayangkan. Setidaknya setiap hari ada beberapa iklan yang meminta Baekhyun menjadi modelnya dan beberapa pemotretan untuk majalah. Belum lagi rekaman suara dan lain sebagainya. Beberapa kali juga Baekhyun disibukan mengisi acara televisi bersama dengan Yuri sebagai promosi lagu terbaru, popularitas, dan debut artis baru. Beberapa pemotretan menjadikan mereka pasangan yang bisa dikatakan cukup serasi. Para fans beberapa kali menjodohkan Baekhyun dan Yuri saat itu, namun banyak juga yang sangat menentang hubungan kedua artis tersebut.


Berat bagi Baekhyun. Terkadang setiap hari ia hanya dapat tidur selama dua atau tiga jam. Dan ada beberapa masalah lainnya, seperti insomnia yang kembali kambuh. Lay, Kyungsoo, Sehun dan Chanyeol juga beberapa kali merasa kesal karena susah sekali untuk menghubungi Baekhyun hanya untuk sekedar berbicara. Mereka tidak selalu punya waktu luang juga untuk mengunjungi Baekhyun ke asramanya. Secara, tempat sebenarnya itu adalah sebuah apartemen yang disewa, bisa disebut dengan dorm, dan para artis lain sebenarnya juga tinggal di sana. Tapi Baekhyun menyebutnya asrama. Baginya, tempat ini sangat mengekang kehidupannya.


"Lay, bisakah kau datang malam ini ke asramaku? Insomniaku kambuh dan aku tidak bisa tidur. Aku butuh beberapa obat," ujar Baekhyun melalui telepon di kamarnya setelah seharian ia bekerja. Handphone-nya sedang di isi dayanya sehingga ia menggunakan telepon dan untungnya, ia hafal nomor Lay dan teman-temannya.


Terdengar helaan nafas dari seberang, "Baek, keadaanmu sudah membaik. Kenapa kau tidak mencoba alternatif lain daripada minum obat?"


"Aku lelah sekali dan aku hanya ingin tidur sekarang. Mencoba yang lain akan membuang waktu tidurku yang berharga selama tiga jam ini. Jam tiga nanti aku harus berangkat ke Jepang untuk pemotretan dan syuting iklan. Kumohon kemarilah," ujar Baekhyun dengan suara serak dan ia merebahkan dirinya di tempat tidur.


"Baiklah. Aku ke sana sekarang."


Sambungan terputus dan Baekhyun kembali merebahkan tubuhnya, merentangkan tangannya lebar dan mencoba kembali memejamkan matanya. Sungguh, ia lelah dan benci kenapa insomnia kini kembali menyerangnya? Bukankah jika lelah akan lebih mudah tidur?


Ketika memejamkan mata, terlintas sebuah bayangan di dalam kegelapan.


"Apa kabarmu, Sohyun?" gumam Baekhyun. Wajah gadis itu terbayang jelas di kepalanya.


"Aku merindukanmu," gumamnya lagi.


Baekhyun membuka matanya kembali dan tiba-tiba ia ingin menulis surat untuk Sohyun. Ia ingin mengirim sebuah surat dengan tiket konser di dalamnya. Belum dicetak, tapi Baekhyun menulis terlebih dahulu surat tersebut. Cukup lama pria itu termenung karena banyak sekali yang ingin ia katakan, tapi tidak bisa hanya sekedar dituliskan dengan kata-kata. Setelah sepuluh menit kemudian, surat tersebut jadi, dan Baekhyun merebahkan tubuhnya kembali sambil memeluk kecil surat itu, sembari menunggu Lay.


"Baekhyun! Maaf aku telat karena ada urusan se--"


Lay menghela nafas, antara kesal dan lega. Baekhyun tertidur dengan pulas sembari memeluk sebuah surat di tangannya yang ia dekap sendiri. Ia pikir Baekhyun akan merengek meminum obat malam ini, tapi ternyata tidak. Di sisi lain, Lay bersyukur. Pria itu perlahan mengambil surat itu dan membacanya sekilas. Lay tersenyum, dan meletakan surat itu di atas meja nakas.


"Kurasa Sohyun memang obat bagimu setiap saat, Baek." Lay tersenyum, meletakkan beberapa suplemen dan vitamin di nakas Baekhyun untuk bekal ke Jepang nanti, lalu pergi meninggalkan ruangan dengan hening.


***


Sudah seminggu berlalu. Kegiatan Baekhyun masih sama seperti sebelumnya. Makin banyak pihak yang meminta Baekhyun menjadi model pemotretan, dan ia lakukan bersama dengan Yuri. Kedua orang itu sangat menarik perhatian publik.


Yuri dan Baekhyun sendiri sebenarnya biasa saja, malah terkesan tidak saling mengurusi urusan satu sama lain.


Malam hari, Baekhyun sedikit senang karena ia bisa istirahat dengan tenang, dan ia mengirim pesan pada Sohyun, dan gadis itu membalasnya tidak lama kemudian. Baru saja sebentar ia melepas rindu dengan Sohyun lewat kata-kata, Manajer Yoo datang ke ruangnya dengan wajah sedikit panik.


"Ada apa, Manajer Yoo?"


"Yuri menghilang, Baek. Padahal sebentar lagi ia akan mengisi acara televisi," ujar Manajer Yoo.


Baekhyun diam, namun tidak memberikan respon berlebih. Ia menunggu kalimat selanjutnya dari manajernya itu.


"Ketua Lee meminta kau untuk mencarinya,..." Manajer Yoo terlihat ingin melanjutkan, namun rasanya kelu sekali.


"Lanjutkan," ujar Baekhyun tenang.


Manajer Yoo menghela nafas, "Ini akan jadi batu loncatan untuknya, membuat berita kalian yang berpacaran diam-diam."


Rahang Baekhyun mengeras seketika, digenggamnya handphone miliknya dengan keras.


"Maafkan aku, Baek," ujar Manajer Yoo terlihat menyesal tidak bisa mencegah atasannya melakukan hal demikian kepada Baekhyun.


Baekhyun tersenyum tipis, "Bukan salahmu, Manajer Yoo."


Pria itu lalu bangkit dari posisinya setelah mengirim pesan pamit kepada Sohyun.


***



Baekhyun berpikir mengapa Yuri menghilang begitu saja. Seluruh staf dari agensinya panik mencari Yuri berkeliling hampir seluruh daerah Gangnam. Baekhyun pergi sendiri ke rumah sakit tempat di mana ayah Yuri dirawat. Apakah orang agensi tidak tahu tentang ayah Yuri? 


Dengan mengenakan pakaian tertutup, Baekhyun masuk sendiri ke dalam rumah sakit dan menanyakan ayah Yuri yang menjadi pasien tersebut. Ketika sudah mengetahuinya, Baekhyun menuju kamar itu, namun nihil. Di sana hanya ada seorang pria dengan selang yang ia rasa alat bantu hidup dari pria itu. Kondisinya cukup memprihatinkan. Tubuh pria itu sangat kurus. Baekhyun menghela nafas lalu pergi mencari Yuri di rumah sakit ini.


Ia merasa Yuri itu sama seperti dirinya, dan artis yang lain.


Jika mereka tertekan dengan masalah yang mereka hadapi, apa yang mungkin akan dilakukan?


Entah perasaan dari mana, Baekhyun langsung menuju atap rumah sakit yang bisa diakses oleh siapapun. Ia yakin, Yuri menyendiri di sana. Dan benar saja. Di sudut bagian atap yang terbuka, ia melihat Yuri, dan beberapa kepulan asap kecil yang terbang di dekat tubuh Yuri. Gadis itu tengah membelakanginya dan menatap pemandangan dari atap.


Baekhyun berjalan mendekat tanpa disadari gadis itu, dan matanya cukup terkejut melihat apa yang terselip di antara jari gadis itu.

__ADS_1


"Kau merokok, huh?"


Yuri tersentak dan nyaris terjatuh dari kursinya.


"Kau! Apa yang kau lakukan di sini!" seru Yuri terkejut. Buru-buru gadis itu mematikan rokoknya.


"Seluruh orang di agensi mencarimu karena kau menghilang, Min Yuri. Apa maksudmu melakukan hal ini?" tanya Baekhyun datar.


Yuri tersenyum sinis, "Untuk apa mereka mencariku? Sudah kubilang aku tidak mau mengisi acara televisi hari ini!"


Gadis itu menatap Baekhyun tajam, "Aku tahu kau akan menjadi rekanku dalam memanipulasi publik, tapi bisakah kau tidak terlalu mencampuri urusanku, huh?"


Baekhyun tersenyum miring, "Aku di sini karena di suruh orang gila itu. Ini adalah batu loncatan yang tepat untuk menjalankan rencananya."


Gadis itu terkekeh dengan nada yang sarat akan kemarahan dan kesedihan.


"Terlepas dari apapun pemikiranmu dan batasan-batasan yang kau minta, aku tetap seniormu. Orang lain yang melihatmu sekarang mungkin akan berlaku sama sepertiku sekarang. Dan lagi, kau wanita. Tidak sepantasnya merokok. Itu bisa merusak kesehatanmu," ujar Baekhyun. Tatapannya melembut.


Ya, Baekhyun tidak berbohong. Yuri adalah juniornya sekarang dan sebagai rekan kerja, kendatinya ia harus menegur gadis itu jika bersalah, selayaknya senior. Dulu ia juga merasakan hal yang sama, maka dari itu, ia juga harus berbuat demikian.


"Tinggalkan aku sendiri," ujar Yuri.


Baekhyun tidak mengindahkan permintaan Yuri, dan pria itu malah duduk di kursi di sebelah Yuri.


"Ceritakan padaku, apa yang membuatmu merasa seperti ini. Aku akan menunggumu selesai, dan setelah itu kau harus kembali ke agensi. Mereka pasti akan sangat marah jika kau tidak kembali karena kau akan mengisi acara televisi."


Yuri menatap Baekyun perlahan, dan entah mengapa, ia senang. Yuri senang baru kali ini ada yang peduli padanya.


Seorang Byun Baekhyun yang ia ketahui adalah orang yang dingin dan terkesan tidak peduli. Ia adalah artis yang sedikit sombong karena tersenyum pun jarang ketika ada fansnya. Namun semuanya sedikit berubah karena Yuri sudah mengenal Baekhyun. Seorang pria yang rela melindungi kekasihnya dan membantunya, mengorbankan perasaan bahkan ketenarannya.


Ah, betapa beruntungnya gadis yang berhasil meraih hati seorang Baekhyun...


Yuri tahu, setelah ini hidupnya dan Baekhyun tidak akan tenang karena malam ini mereka harus membuat skandal.


"Akan ada penguntit yang memotret kita nanti. Kuharap kau bisa berakting dengan baik," ujar Yuri.


Baekhyun tersenyum, "Jangan meremehkan seniormu, Yuri. Aku lebih berpengalaman daripada kau."


***


Baekhyun menghela nafas ketika Manajer Yoo menunjukkan salah satu artikel padanya. Fotonya dan Yuri sudah tersebar di internet sekarang. Baekhyun tidak sengaja menggandeng Min Yuri karena gadis itu nyaris menjadi amukan para fans Baekhyun yang memergoki mereka keluar dari rumah sakit waktu itu.


"Bisa kau jelaskan padaku apa maksudnya ini?" tanya Manajer Yoo dengan tidak sabar. Di judul artikel itu menyatakan bahwa mereka berkencan.


Baekhyun bungkam, dan memilih membaca koran paginya di ruang tengah apartemennya.


"Benarkah kau dan Yuri sekarang berkencan?" tanya Manajer Yoo terkejut.


Diam berarti iya, dan Sangjin langsung menghela nafas dengan kasar.


"Bagaimana dengan Sohyun? Bukankah kau mencintai gadis itu?"


Baekhyun mengalihkan pandangannya dari koran, dan kini menatap manajernya.


"Seperti yang sudah kau ketahui, Manajer Yoo. Ini semua kulakukan demi dia, Manajer Yoo. Aku harus menjauh darinya," ujar Baekhyun.


"Aku tidak mengerti apa yang kau rencanakan. Kupikir kau tidak akan mencari Yuri malam itu," ujar Manajer Yoo, "Tapi aku berjanji dengan apa yang kau minta waktu itu di bandara."


Baekhyun tersenyum dengan lega mendengar Manajer Yoo berkata demikian. Namun di dalam hatinya, ia sendiri merasa terluka. Ia yakin sekarang, di tanggal 10 November 2017, Sohyun pasti sudah melihat berita itu.


Ia juga merasa aneh belakangan ini, Yuri bersikap sangat baik dan perhatian dengan Baekhyun entah mengapa. Padahal ia memperlakukan Yuri biasa saja, dan jujur saja ia merasa tidak nyaman. Berbagai spekulasi bermunculan di kepala Baekhyun.


Malam sudah datang sekarang dan Baekhyun berencana untuk bersantai malam ini. Ia membuka handphone-nya dan melihat pesan terakhirnya bersama Sohyun. Gadis itu tidak pernah lagi mengirim pesan padanya. Jujur Baekhyun kini merasa bersalah, ia juga tidak pernah memperhatikan gadisnya lagi karena kesibukannya. Sekarang, dengan adanya berita itu di internet, Baekhyun yakin ini akan semakin membuat keadaan memburuk.


Tiba-tiba sebuah panggilan masuk dan Baekhyun menjawabnya.


"Sohyun sudah ada di Korea sekarang. Kami baru saja bertemu tadi."


Jantung Baekhyun berdegup keras dan ia terlonjak dari duduknya. Sungguh, ia senang sekali gadis itu ke Korea untuk menonton konsernya nanti.


"Be-benarkah?!" seru Baekhyun senang.

__ADS_1


"Eoh. Tapi, ada beberapa hal yang harus aku tanyakan padamu," ujar Lay dengan nada serius di ujung sana.


"Apa maksud artikel di internet itu? Aku baru saja mengetahuinya sekarang."


Senyum Baekhyun pudar, ia kehilangan kata-katanya.


"Jawab aku, Baek. Jelaskan padaku ada apa denganmu belakangan ini?"


Baekhyun menghela nafas. Ia rasa kali ini ia harus cerita pada Lay.


"Temui aku di asrama sekarang. Ajak yang lain jika kau ingin mereka juga mengetahuinya," ujar Baekhyun.


***


Mereka berlima sekarang tengah berkumpul di ruang tengah dari apartemen, atau yang biasa disebut asrama oleh Baekhyun. Manajer Yoo mengizinkan mereka berkumpul malam ini karena jadwal Baekhyun sedang kosong untuk besok. Suasana hening dan Baekhyun terlihat gugup.


"Well, sekarang ceritakan pada kami," ujar Chanyeol dengan mata mengintimidasi Baekhyun. Jujur saja pria Park itu terlanjur kesal dengan Baekhyun karena menyimpan rahasia dari mereka.


"Apa benar isi artikel itu, kau dan Yuri berkencan?" tanya Sehun.


Baekhyun bungkam, membuat Lay mendengus kesal. Alis pria tampan itu nyaris bertemu. Jika seperti ini, mereka semua memilih diam karena Lay sangat menyeramkan jika marah.


"Ada apa denganmu, Baekhyun?! Kenapa kau tidak menceritakan apapun pada kami?! Kau tidak tahu bagaimana perasaan Sohyun saat ia membaca artikel itu!" seru Lay kesal.


"Aku memiliki alasan, Lay," jawab Baekhyun.


"Jelaskan sekarang!"


"Hei, Lay, sabar dahulu. Baekhyun butuh waktu. Kau tidak bisa memaksanya seperti itu," ujar Kyungsoo menasehati.


Baekhyun menelan ludah, mencoba mengubur rasa gugupnya.


"Ini adalah manipulasi publik yang dilakukan Hangeum. Pria itu mencoba menaikkan popularitasku dengan menyuruhku berpacaran dengan Yuri," ujar Baekhyun yang membuat keempat temannya terkejut.


"Wah, tidak kusangka atasanmu sungguh gila, Baek," gumam Chanyeol merendahkan suaranya. Ia melirik Lay yang sekarang wajahnya sekeras patung.


Lay hendak beranjak untuk melabrak ketua agensi Baekhyun jika saja Baekhyun tidak menahan lengan pria itu.


"Jangan bertindak macam-macam, Lay. Ini ada hubungannya dengan Sohyun. Jika sampai aku tidak mengikuti kemauan pria gila itu, Sohyun terancam."


Lay menatap Baekhyun serba salah, dan jujur ia marah. Sohyun sudah ia anggap adik perempuannya sendiri dan masalah ini berhubungan dengan gadis itu. Lay kembali duduk sembari menahan luapan emosinya.


"Aku tahu akan seperti ini jika aku bercerita pada kalian. Aku pikir aku bisa mengatasinya sendirian," ujar Baekhyun.


"Ah, dasar bodoh," celetuk Sehun dengan datar. Pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa, "Baek, apa rasanya jika hidupmu bagai boneka? Diatur oleh orang lain dan kau tidak bisa melakukan apa yang kau inginkan."


"Aku melakukan ini semua demi Sohyun," ujar Baekhyun tidak terima dirinya dikatakan bodoh.


"Apa salahnya kau bercerita pada kami, Baek? Kau pikir kami siapa? Sohyun juga teman kami dan ia berharga sama seperti kau. Kami tidak akan membiarkan hidupmu, dan keadaan Sohyun, menjadi memburuk!


"Kenapa aku berkata kau seperti boneka? Karena kau memilih membisu dan membiarkan orang itu mempermainkanmu!"


Sehun tersulut emosi. Pria itu tidak seperti biasanya kali ini. Sehun yang Baekhyun kenal adalah orang yang santai dalam menghadapi suatu masalah. Sehun juga orang yang terkesan cuek dan tidak mudah tersulut emosinya. Pria Byun itu tersenyum, baru kali ini ia menyadari bahwa Sehun jika marah akan selucu ini.


"Aku sependapat dengan Sehun. Akan lebih mudah menyelesaikan suatu masalah jika kau cerita kepada kami, Baek." Chanyeol kali ini berpendapat. Pria itu terlihat lebih normal jika serius. Chanyeol biasanya tidak pernah serius daripada ini.


"Terima kasih," ujar Baekhyun tersenyum.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?" tanya Kyungsoo. Pria itu melirik Lay yang terlihat diam sekarang.


Lay menatap Baekhyun yang kini menatapnya.


"Apa benar kau mencintai Sohyun, Baek?" tanya Lay. Chanyeol, Sehun dan Kyungsoo melirik Baekhyun. Mereka cukup peka dengan pria bermarga Byun itu walau tidak diberitahu sedikitpun soal perasaannya.


Baekhyun mengangguk.


"Aku rela meninggalkan semua karirku jika hal itu bisa melindungi Sohyun," kata Baekhyun.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2