SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 17


__ADS_3

Sinar matahari pagi ini cukup menyilaukan, membuatku terjaga dari tidurku. Aku mengerjapkan mata dan perlahan membuka mataku. Hal pertama yang aku rasakan adalah aneh. Aku melihat sekelilingku dan langsung kusimpulkan ini bukan kamar tidurku. Perlahan kudengar suara sesuatu yang sedang di tumis, membuatku tersadar akan kejadian semalam. Namun bagaimana aku bisa tertidur di sini? Aku perlahan beranjak dan menyusul ke dapur. Kulihat pria itu sedang menumis sesuatu. Aromanya sangat nikmat, membuat perutku pagi-pagi bergejolak.


"Kau bisa memasak?" tanyaku berjalan mendekat ke arahnya.


Baekhyun menoleh dan ia tersenyum tipis, "Sebentar lagi masakannya akan selesai. Aku harap kau mau bersabar."


Aku cukup tertegun.


Ini adalah sisi dirinya yang tidak pernah sama sekali aku ketahui.


Baekhyun terlihat biasa saja usai kejadian semalam yang membuat traumanya kembali muncul. Baekhyun yang ketakutan dan terlihat tertekan, kini adalah sosok yang berbeda. Senyum tipisnya kembali kulihat pagi ini. Entah mengapa, aku jadi merindukan senyumnya sekali lagi.


"Tidak kusangka kau bisa memasak, Tuan Byun," ujarku ketika ia mematikan kompor listrik dan mengangkat makanannya.


"Karena kau belum pernah melihatku memasak," jawab Baekhyun. Ia membawa piring berisi masakannya ke meja makan. Ada dua porsi makanan yang ia sediakan.


"Untukku?" tanyaku padanya yang dijawabnya dengan anggukkan. Ia kembali tersenyum.


"Selamat makan!" ujarnya lalu mulai menyantap makanannya. Aku hanya terdiam melihat sikap Baekhyun. Seakan dirinya tidak ingat bagaimana rasa takutnya semalam, menunjukkan padaku bahwa ia kuat dan baik-baik saja. Namun itu berlebihan. Sikap ramahnya pagi ini sungguh berlebihan karena ini bukan Baekhyun yang biasanya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan.


"Baek," panggilku. Ia mendongakan kepalanya sambil mengunyah.


"Kau baik-baik saja hari ini?" tanyaku penuh kehati-hatian. Aku tidak ingin membuat situasinya malah menjadi tidak enak.


"Ya. Seperti yang kau lihat." Ia kembali fokus pada makannya lagi.


"Tentang traumamu semalam,... apakah kau baik-baik saja sekarang?"


Baekhyun terdiam dan menghentikan aktivitasnya. Wajahnya yang tadi tersenyum kini menghilang, digantikan dengan wajah datar dan kesal miliknya.


Sial, aku salah bicara!


"Maaf," ujarku berusaha melembutkan suaraku, "Tidak baik menutupi keadaanmu seolah kau baik-baik saja," jawabku lagi.


Baekhyun mengangkat kepalanya dan meletakan sendok dan sumpitnya. Ia menatapku dengan tatapan yang cukup menyeramkan bagiku.


"Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat. Bisakah kau tidak membahas masalah kemarin?" ujarnya. Ia pun berdiri dengan kesal dan berjalan masuk ke kamarnya. Aish! Kenapa aku malah bicara seperti itu jika sudah tahu bahwa Baekhyun adalah orang yang sensitif?!


"Baek!" seruku menyusulnya ke kamar. Ia terlihat duduk memunggungiku di tepi ranjang.


"Baek, aku hanya khawatir padamu. Kumohon jangan marah, ya?" ujarku dengan suara yang dilembutkan untuk membujuknya. Ah, dia seperti anak kecil. Kenapa Baekhyun pagi ini? Dia aneh.


Lama hening menyelimuti kami sampai akhirnya perlahan Baekhyun memutar tubuhnya dan melirikku.


"Apa aku terlihat menyedihkan semalam hanya karena pecahan kaca?"


Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Perlahan aku duduk di sebelahnya dan menatap manik matanya.


"Kurasa memang seperti itu keadaannya, Baek. Kau mengalami trauma dan aku paham akan hal itu. Aku tidak merasa itu menyedihkan." Aku meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat.


"Maafkan aku," ujarnya, "Aku tidak ingin membuatmu khawatir dengan keadaanku semalam. Tapi sikapku pagi ini justru membuatmu merasa sebaliknya."


Aku tersenyum melihat wajah memelasnya. Ah, dia lucu sekali! Tidak kusangka seorang Baekhyun bisa bersikap manis seperti ini.


"Apakah perlu aku pergi agar kau tidak merasa bersalah seperti itu? Lagipula aku harus pulang karena harus bekerja hari ini," ujarku lalu hendak bangkit. Namun genggaman jari Baekhyun pada tanganku mengerat, dan dia menahanku. Aku menoleh dan menatap dirinya yang sedang menunduk. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya ia malu.


"Kenapa?" tanyaku padanya.


Ia perlahan kembali melirikku. Pertama ia melirik tangan kami yang bertautan, lalu menatapku.


"Tinggallah denganku untuk beberapa hari. Kumohon temani aku."


***


Toronto yang cukup cerah hari ini tidak selamanya memberikan kesan hangat. Suhu udara hari ini turun beberapa derajat. Musim gugur sudah memasukki bulan kedua dan menuju pertengahan musim gugur. Udara semakin dingin dan beberapa orang mulai memakai pakaian yang lebih tebal dari biasanya. Sebenarnya jika seperti ini aku lebih memilih untuk tidur di rumah. Namun sekarang aku harus kembali bekerja.


"Kau datang terlambat, Sarah. Tidak seperti biasanya," ujar Mr. Kelly saat aku duduk di kursiku.


"Ada beberapa hal yang harus kuurus," jawabku.


Yah.


Aku pindah ke rumah Baekhyun untuk beberapa hari. Cukup terkejut mendengar permintaannya yang aneh seperti itu.


Maksudku, hei! Aku bukan kekasihnya! Tapi ia memintaku untuk tinggal dengannya. Alhasil, ia menemaniku pulang ke rumah hanya untuk membawa bajuku ke rumahnya yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sekali lagi, sampai sekarang, aku tidak pernah tahu apa maksud tindakannya.


Jika ia menyukaiku, harusnya ia mengatakannya padaku. Bukan dengan sikapnya seperti itu.


Aish! Apa yang aku pikirkan? Menyukaiku? Itu hal yang menggelikan. Kau percaya diri sekali, Sohyun!


Sisi positifnya, mungkin aku bisa mengawasi kegiatannya agar tidak terjadi hal-hal aneh seperti kemarin.


"Untung Mrs. Johnson sedang tidak di kantornya. Jika dia tahu kau terlambat, mungkin gajimu akan dipotong," ujar Mr. Kelly sambil tersenyum. Aku mengedikkan mataku tajam ke arahnya. Enak saja dia bilang seperti itu.


"Jika gajiku dipotong, yang jelas aku akan meminta uang padamu, Mr. Kelly!" ujarku.


"Meminta uang? Nona, selesaikan dulu naskah yang kau tulis. Sampai sekarang aku belum menerima tulisanmu. Jika kau sudah menyerahkannya padaku, aku baru bisa memberikanmu uang." Mr. Kelly mengucapkan itu sambil tersenyum penuh kemenangan karena setelah mendengarnya, aku hanya bungkam. Miris rasanya mengingat tulisanku yang sudah lama tidak kuperbarui.


"Baik, Sir," jawabku.


Ia tertawa kecil, "Well, selamat bekerja kembali!" Pria itu pun pergi meniggalkan ruang kerjaku.


Aku langsung merebahkan kepalaku di meja kerja dengan segunung pikiran yang langsung menerpaku. Ah, rasanya hari ini tidak akan mudah.


Tiba-tiba kurasakan handphone-ku bergetar dan kulihat nama penelponnya. Ah, benar juga. Aku meninggalkan pria itu kemarin saat pesta kembang api. Perasaan bersalah langsung muncul kala mengingat hal itu.


"Sohyun, bagaimana keadaanmu?" tanya Taehyung ketika telepon tersambung.


"Ah, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," jawabku.


"Bagaimana aku tidak khawatir ketika melihatmu semalam? Kau sungguh panik!" kata Taehyung sedikit kesal dan ia menaikkan nada suaranya.


Aku tertegun. Ini pertama kalinya aku mendengar Taehyung marah. Tak lama terdengar helaan nafas berat di seberang sana.

__ADS_1


"Sekarang kau di mana?" tanya Taehyung.


"Di tempat kerjaku."


"Baiklah. Jika ada apa-apa, kumohon kabari aku. Nanti malam, aku ingin mengajakmu makan malam. Bagaimana? Anggap saja sebagai pengganti semalam kau meninggalkanku," ujar Taehyung lagi.


"Baiklah. Kau bisa menjemputku di kantor Great Read," jawabku.


"Oke."


Aku pun mematikan sambungan telepon dan menerawang sikap aneh pria itu. Tiba-tiba aku kembali teringat akan perkataannya semalam.


Ia merindukanku?


Oh, ada apa dengan para pria ini? Baik Baekhyun atau Taehyung, mereka berdua aneh.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Dan kembali seperti kebiasaanku, aku orang yang suka lupa waktu. Aku tidak akan berhenti dari pekerjaanku sampai sebuah telepon membuyarkan kegiatanku.


"Sohyun, aku di bawah sekarang," ujar Taehyung.


Aku membelalakan mataku, "Bukankah kau akan mengajakku makan malam? Kenapa kau sudah menjemputku sekarang?"


Terdengar tawa kecil, "Cepatlah, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Toronto hari ini dingin sekali!"


Aku bergegas mematikan telepon dan membereskan pekerjaanku. Setelahnya aku turun menuju lantai bawah, di mana bisa kulihat Taehyung dengan coat warna hitamnya. Ia sedang duduk di kursi tunggu dan bergegas berdiri ketika melihatku. Tak lupa dengan senyumnya. Melihatnya, entah mengapa membuatku gugup.


"Hai," ujarnya dengan senyum lebar.


"Ada apa kau datang sore-sore begini?" tanyaku.


"Aku hanya bosan menunggu malam. Jadilah aku datang ke sini. Kita bisa jalan-jalan setelahnya kita makan malam," ujar Taehyung. Aku hanya mengendikan bahuku dan mengikutinya untuk masuk ke mobil. Ya, dia membawa mobil hari ini, yang kurasa adalah mobil sewa. Yang aku tahu, menyewa mobil di sini sangat mahal karena tidak setiap orang menggunakan kendaraan pribadi di sini. Sama halnya dengan negara eropa lainnya, mereka lebih suka menggunakan kendaraan umum.


Kami pun berjalan-jalan mengelilingi daerah Toronto yang terkenal. Kebanyakan tempat-tempat ini sudah pernah aku kunjungi bersama Helena waktu itu. Sepanjang jalan, aku hanya menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati. Aku tidak banyak berbicara usai menjelaskan hal itu. Bodohnya, kenapa aku sekarang merasa canggung dengan pria di sebelahku ini?


"Ini sudah pukul tujuh malam. Ayo kita makan?" ajak Taehyung yang kujawab dengan anggukan. Mobil kami melesat melewati gedung-gedung tinggi dan berakhir pada sebuah restoran mewah yang ada di sekitar sini. Pria itu mengajakku masuk dan kami memilih tempat duduk di dekat jendela besar. Mungkinkah ini hanya perasaanku bahwa nuansa di restoran ini sangat,... romantis?


"Kau mau makan apa?" tanya Taehyung.


"Kurasa aku pesan minum saja. Lagipula aku sedang tidak bernafsu makan," jawabku dengan jujur.


"Hei, kau tidak boleh seperti itu. Kau memiliki pekerjaan yang banyak. Setidaknya kau harus makan," ujar Taehyung. Ia memilihkan menu makanan dan memanggil pelayan. Setelah pelayan itu pergi, kami kembali dilanda hening. Sungguh, kenapa suasana ketika aku bersama Taehyung sangat berbeda sekarang?


"Ada masalah apa kemarin sampai meninggalkanku seperti itu?" tanya pria itu memecah keheningan di antara kami.


"Baekhyun," jawabku, membuat salah satu alis mata Taehyung terangkat.


"Kenapa dengannya?" tanya Taehyung.


"Ia memiliki masalah kemarin, jadi aku harus menemaninya,"


"Ada hubungan apa kau dengan Baekhyun?"


Well, kenapa dia jadi mengintrogasi aku?


"Aku hanya meragukan hubungan kalian yang hanya sekedar teman jika kalian sedekat itu," ujarnya, "Ada hal yang ingin aku katakan, Sohyun."


Aku menatap manik matanya kala ia mengatakan itu. Taehyung terlihat gugup dan ia menghembuskan nafasnya sebentar.


"Sohyun, aku--"


Tiba-tiba suara telepon menginterupsi perkataan Taehyung. Dan lagi-lagi, ini bunyi handphone-ku.


"Maaf," ujarku memberi gestur untuk mengangkat telepon yang disenyumi oleh Taehyung dengan senyum tipis.


"Halo?" ujarku.


Hening.


"Halo??"


"Sohyun,"


Aku tertegun mendengar suara Baekhyun di seberang telepon. Aku tidak tahu jika ia memiliki nomor handphone-ku.


"Baek? Ada apa?" tanyaku.


"Kau sedang di mana?" tanyanya lagi.


"Aku sedang berada di luar dengan Taehyung. Ada apa? Apakah perlu aku pulang?" tanyaku lagi.


"Hm, jika kau sempat, bisakah kau temani aku ke restoran milik Hyesung?" tanyanya, "Ia ingin meminta tolong padaku untuk bernyanyi di kafenya, tapi... aku takut."


Aku terdiam mendengar perkataan Baekhyun. Ingin rasanya aku segera pulang saat ini.


"Bisakah kau menemaniku untuk membantuku memulai lagi semuanya dari awal?" tanya Baekhyun.


"Tunggu aku, aku akan segera pulang," ujarku lalu mematikan telepon.


"Baekhyun lagi?" tanya Taehyung. Wajahnya nampak tidak suka kali ini.


"Maafkan aku, aku harus pergi. Dia sedang membutuhkanku,"


"Kalian tinggal bersama sekarang?" tanyanya dengan wajah sinis.


"Aku hanya menginap di tempatnya. Keadaannya sangat tidak baik saat ini, dan ia butuh seorang teman. Aku mohon, maafkan aku, aku harus pergi."


Aku beranjak dari dudukku namun dengan cepat Taehyung menahan lenganku.


"Bisakah kali ini saja, kau memprioritaskan aku diantara seluruh kepentinganmu?" tanya Taehyung. Aku tertegun. Apa maksud pria ini? Nyaliku cukup menciut melihat sikap Taehyung yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Taehyung yang ceria dan kekanakan, kini seolah berganti dengan sosok yang sama sekali tidak aku kenal.


"Apa kau tahu aku juga ingin kau perhatikan sama halnya dengan kau memperhatikan Baekhyun?"

__ADS_1


Aku diam dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku menyukaimu,"


Netraku terbelalak ketika mendengar perkataannya. Aku menatap Taehyung perlahan dan kulihat keseriusan di wajahnya.


"Aku selalu memikirkanmu, Sohyun. Awalnya aku kagum padamu ketika melihatmu menikmati waktumu di Edensor, foto-foto yang kau dapatkan benar-benar indah, dan kau seorang gadis yang multitalenta. Tapi lama-lama perasaan itu berubah menjadi lebih dalam."


Aku tergugu mendengar pengakukannya. Ia mulai menggenggam jari jemariku dengan erat.


"Apakah boleh aku menjadi orang yang selalu kau utamakan? Bolehkah aku memiliki hatimu, Sohyun?"


Aku menghela nafas. Sungguh, aku tidak merasakan apa itu yang namanya bahagia ketika mendengar pernyataan cinta dari seseorang. Aku malah merasa bersalah. Entah mengapa, aku tidak bisa menerima perasaannya. Perlahan aku mengendurkan genggamannya pada jari jemariku dan melepaskannya. Taehyung tertegun melihat sikapku dan kutahu ia terkejut.


Katakanlah aku bodoh karena menolak pria tampan, kaya raya, dan baik hati seperti Taehyung. Namun aku tidak merasakan letupan-letupan kecil kala aku bersama dengannya. Tidak menghayalkan bunga-bunga dan dedaunan yang berguguran, dan degup jantungku tidak bertambah berkali lipat kala melihat senyumnya. Bukan, itu bukan cinta. Aku hanya mengaguminya dan menganggapnya teman.


"Maafkan aku, Tae. Aku tidak bisa," jawabku menunduk, "Aku hanya bisa menganggapmu teman."


Terdengar helaan nafas berat dari Taehyung, tak lama kemudian ia tertawa kecil, membuatku mendongakan kepalaku.


"Rupanya aku kurang gencar mendekatimu. Makanya kau belum bisa kuraih," jawabnya tersenyum, "Baiklah. Aku mengerti."


Aku menundukkan kepalaku dan perlahan meninggalkannya di belakang. Lebih baik aku menolaknya daripada harus mempertimbangkan perasaannya, yang akhirnya malah membuat rasa sakit itu lebih dalam dari pada rasa penolakan.


***


Aku dan Baekhyun kini sedang berada di kafe milik Hyesung, sepupunya. Aku tidak menyangka kafe ini sekarang sudah ramai pengunjung. Hyesung terlihat gelisah sebelum kami datang, dan senyumnya merekah kala melihat kami masuk ke dalam kafenya.


"Penyanyi yang bekerja di sini beberapa hari lalu mengalami kecelakaan, dan aku butuh seorang entertain!" kata Hyesung. Ia menatap Baekhyun dalam, "Aku harap kau mau melakukannya, Baek. Untuk malam ini saja."


Baekhyun diam. Ia sangat ingin bernyanyi lagi, tapi ia sangat takut. Aku tersenyum dan perlahan kugenggam tangannya untuk mengurangi rasa takutnya, menghangatkan jari-jarinya yang mulai mendingin.


"Kau pasti bisa, Baekhyun!" ujarku memberikan semangat. Baekhyun pun menatap mataku meminta dukungan lebih di sana. Dan dalam satu tarikan nafas, Baekhyun berdiri dan menuju panggung kecil yang ada di sudut ruangan. Seluruh mata tertuju pada pria itu, menantikan penampilan yang akan dibawakan Baekhyun. Tidak ada yang tahu di sini bahwa ia adalah seorang penyanyi berbakat, kecuali aku dan Hyesung. Dengan gugup ia menghembuskan nafasnya pelan. Dapat kulihat keringat mengalir di keningnya padahal udara di sini cukup sejuk. Lalu ia berbicara pada pengiring musik untuk membawakan sebuah lagu.


Dan perlahan, kudengar nada indah mengalun di sana.


Lying beside you here in the dark


Feeling your heart beat with mine


Softly you whisper you're so sincere


How could our love be so blind


Aku terpana mendengar suaranya yang merdu. Atensiku terpusat pada setiap lirik lagu yang ia bawakan.


We sailed on together


We drifted apart


And here you are by my side


So now I come to you with open arms 


Nothing to hide believe what I say


So here I am, with open arms


Hoping you'll see what your love means to me


Open arms


"Dia penyanyi yang hebat bukan?" ujar Hyesung tiba-tiba. Aku menoleh padanya yang masih menatap Baekhyun. Matanya berkaca-kaca melihat Baekhyun bernyanyi, "Aku tidak menyangka ia akan kembali bernyanyi. Dia sudah bisa melakukannya lagi."


Aku ikut tersenyum melihat Hyesung terharu. Lalu aku kembali menatap Baekhyun.


Ia seperti malaikat. He is so wonderful. Ia tetap seorang yang luar biasa sekalipun ia menghadapi tekanan hidup yang sangat menyiksanya.


Ia mengajarkanku bagaimana bisa menjadi seorang yang tangguh, dan berani untuk bangkit dari keterpurukan. Walau ia takut, ia memberanikan diri untuk memulai lagi dari hal kecil kembali, melawan rasa takutnya, dan ia menepati janjinya padaku.


Bolehkah aku mengakui?


Kalau aku malah jatuh kepadanya kali ini?


***


Kami berjalan kaki pulang ke apartemen Baekhyun. Sesampainya di sana, aku langsung membersihkan tubuhku di kamar mandi utama, sedangkan Baekhyun di kamar mandi yang ada di kamarnya sendiri. Aku pun berjalan masuk ke kamar untuk mengambil sisir dan kutatap Baekhyun yang sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sehabis mandi. Terlihat wajah bahagianya saat ini sangat terpampang jelas.


"Kau sudah bisa melakukannya. Kau hebat!" seruku ikut senang.


Ia menatapku dan tersenyum. Ia pun beranjak dari posisi sebelumnya, "Terima kasih, semua berkat kau."


Aku menganggukkan kepalaku dan aku sudah selesai bersisir.


"Hei, aku tidur di mana?" tanyaku karena baru menyadari bahwa apartemen ini hanya punya satu kamar.


Ia menggeser posisinya dan menepuk ranjang di sebelahnya, "Kau bisa tidur di sini."


"Bersebelahan denganmu?" tanyaku tidak yakin. Ia menganggukkan kepalanya.


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa selain tidur," ujarnya kini membaringkan tubuhnya lagi di sisi kanan tempat tidur.


Heol, apa yang ia pikirkan memangnya?!


"Aku akan tidur di sofa saja," jawabku.


"Diluar banyak nyamuk dan dingin. Pemanas ruangan di sana rusak," jawab Baekhyun yang membuatku mengurungkan niatku. Aku tidak suka tidur dengan nyamuk dan kedinginan. Karena di kamar ini memang tidak ada sofa, maka akhinya aku ikut membaringkan tubuhku di sebelah Baekhyun. Tidak lupa kuletakkan bantal di tengah-tengah. Baekhyun nampak tidak keberatan dengan apa yang aku lakukan.


Kami pun terdiam dalam hening dan kurasakan mataku mulai memberat. Kantuk menyerangku dan ketika aku setengah tersadar, samar-samar kurasakan benda hangat menyelimuti tubuhku, dan kurasakan pundakku ditepuk-tepuk pelan.


"Selamat tidur, Sohyun."


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2