SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 35


__ADS_3

"Aku ingin memilikimu, Sohyun..."


Jantungku berdegup kencang sekali. Tanpa sadar aku menahan nafasku dan menutup mataku ketika Baekhyun kembali mendekatkan wajahnya.


Pasrah.


Itu yang kurasakan sekarang. Aku tidak bisa berkutik jika Baekhyun melakukan sesuatu padaku.


Namun lama aku menunggu sembari memejamkan mataku, tidak ada kurasakan gerakan apapun dari pria yang masih berada di atasku ini.


Perlahan aku membuka mataku, dan kutatap Baekhyun,... dengan wajah menahan tawanya.


"Buahahahahah!!" tawa Baekhyun tiba-tiba membahana dengan kencang. Ia kemudian bangkit dari posisinya dan memegangi perutnya.


Sialan. Ia menggodaku!


"Yak! Byun Baekhyun! Kau ini!" seruku dengan cepat bangkit lalu mengambil bantal, dan melemparkannya pada Baekhyun.


"Ah, maafkan aku,... tapi kau lucu sekali, Sohyun!" ujarnya, lalu lanjut tertawa.


Aku kini merasa malu sekali. Bagaimana aku tidak berpikiran yang tidak-tidak jika Baekhyun bersikap seperti itu?!


"Aku benci padamu," gumamku kesal lalu bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar.


Kudengar tawa Baekhyun yang mulai reda, dan langkah kaki yang menyusulku.


"Kau marah, hm?" tanya Baekhyun masih berusaha mengendalikan tawanya.


Aku diam tidak bergeming, malas menanggapinya. Aku pun duduk di sofa, begitu juga dengan Baekhyun. Tentu saja aku membelakangi pria itu.


"Maafkan aku. Aku hanya penasaran bagaimana reaksimu jika aku kerjai begitu. Rupanya sesuai ekspetasi!" katanya lagi, membuatku makin kesal.


Ini seperti roller coaster! Perasaanmu diayun-ayun dengan sangat kencang!


Akan malu sekali ketika kau berpikir akan melakukan hal seperti... yeah you know what I mean, namun ternyata kau dikerjai. Seolah-olah, hanya kau yang berpikir seperti itu, namun ternyata kalian dipancing, padahal kalian tidak ingin memikirkan hal itu. Kalian mengerti maksudku? Jika tidak ya sudah. Mengutip kata-kata penulis favoritku, semoga dosa kalian diampuni.


"Hei, kau benar-benar marah, Kim Sohyun?"


Hening kembali menyelimuti kami di larut malam ini. Perlahan dingin terasa menyentuh kulit padahal aku mengenakan pakaian cukup hangat. Hujan masih turun, dan ternyata pemanas ruangan di sini di matikan.


Kurasakan ada pergerakan dari belakangku. Baekhyun bangkit lalu ia menarik tanganku, kembali ke dalam kamar.


"Yak, lepaskan aku!" ujarku berusaha melepaskannya.


Baekhyun hanya diam tanpa berkata apa-apa. Setelah masuk ke kamar, ia menutup pintu. Menarikku ke tepi tempat tidur, dan ia duduk. Aku masih berdiri di depannya, menerka apa yang akan ia lakukan kali ini. Tanpa banyak ba-bi-bu, pria Byun ini menarikku jatuh dipangkuannya. Dengan gerakan cepat, ia menarik kakiku sedikit memutar, dan memposisikan kedua kakiku berada di kedua pinggangnya. Cukup membuat jantungku berdebar kembali.


"Kau benar marah padaku? Maafkan aku," ujar Baekhyun dengan suara yang paling lembut yang pernah kudengar. Sorot matanya lembut menatapku yang kini menunduk malu.


"Habis,... kau membuatku nyaris terkena serangan jantung," ujarku akhirnya.


Kulirik lagi wajahnya, ia tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mau mencobanya? Sepertinya kau ingin mencobanya?" ujar Baekhyun dengan tatapan nakal. Kupukul pundaknya dan ia meringis.


"Berhenti menggodaku, Tuan Byun," ujarku menatapnya tajam. Pria itu terkekeh dan mengeratkan pelukannya pada pingganggku.


"Aku ingin memilikimu, tapi setelah kita menikah. Aku tidak akan melakukan hal itu sebelum menikah. Itu prinsipku, Sohyun. Menjahilimu adalah hal yang paling kuinginkan selama ini, dan akhirnya terkabul."


Baekhyun berucap panjang lebar, membuat mataku sedikit berair. Ah, benarkah ia akan menikahiku?


"Menikahlah denganku, Sohyun. Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi kali ini," ujar Baekhyun. Ia meraih daguku, menuntutku untuk menatap matanya yang hitam itu.


Sungguh, aku terharu. Aku tahu Baekhyun adalah pendiam yang tidak pernah bisa mengutarakan perasaannya dengan baik lewat kata-kata. Ia melamarku dengan cara biasa seperti ini. Tanpa cincin, tanpa makan malam romantis, dan tanpa alunan musik klasik iringan biola. Hanya di kamar ini, dengan memelukku, memangkuku, ia melakukan semua itu dengan caranya sendiri, yang akhirnya memang membuatku untuk kesekian kalinya, jatuh cinta padanya.


Aku mengangguk, lalu memeluk pria itu erat. Mencium aroma unik dirinya yang sangat kudambakan dan ini adalah candu baru untukku selain minuman berkafein itu. Tidak ada kata-kata terucap, kali ini mungkin hati kami yang bercengkrama. Perlahan pria itu melepaskan pelukanku, dan ia mengecup bibirku lagi. Hanya sebuah kecupan singkat yang manis sekali.


"Ayo tidur, jika lama-lama seperti ini, prinsipku bisa runtuh seketika," ujar Baekhyun sembari mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum.


Aku tertawa kecil, dan memukul pundaknya sekali lagi karena gemas dengan seorang Byun Baekhyun. Malam ini, terasa sangat indah. Di dalam pelukannya yang hangat, aku mulai menjelajahi mimpi indahku, bersama dia di dalamnya.


***


Aku dan Baekhyun memutuskan jalan-jalan di pagi hari yang sedikit berkabut. Kabut embun yang cukup tebal, menutup pemandangan danau Hallstattersee yang biru itu. Pegunungan Alpen masih terlihat gagah walau kabut menghalanginya. Siluet raksasa dengan kesan dingin dan misterius itu sekali lagi memukauku. Sungguh, ini desa yang indah selain Edensor. Pagi ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa masyarakat lokal yang berjalan-jalan pagi ini sembari berolahraga, dan bersih-bersih tentunya. Jalan-jalan kecil yang berkelok dan berbatu ini sedikit menggetarkan hati kala melihatnya. Susunannya berantakan, namun letak estetika terpancar jelas pada sebuah jalan sederhana ini.


Baekhyun menggenggam tanganku erat, dan memasukkan salah satu tanganku ke dalam saku mantel cokelatnya. Ia mengenakan kembali syal cream pemberianku dulu. Katanya, itu syal kesayangannya. Aku juga mengenakan mantel cokelat, dan kami sudah seperti pasangan sekarang.


Kami sedikit bercengkrama tentang pemandangan ini, dan tentang pekerjaan Baekhyun. Yah, pria itu kini membantu pamannya, dan ia diam-diam bekerja sebagai designer di perusahaan design yang ada di London. Entah bagaimana kontrak kerja samanya, Baekhyun tinggal mengirimkan design, konsultasi jarak jauh dengan kliennya tanpa bertemu langsung. Hanya dengan video call yang dilakukannya. Dan ia bisa bekerja di mana saja dan kapan saja. Perusahaan itu tidak ambil pusing dengan syarat yang Baekhyun ajukan karena pria Byun ini adalah orang yang sangat pandai menggambar, dengan ide kontruksi brilian tentunya.


Ah, bangganya aku pada calon suamiku ini...


"Bagaimana tidurmu, Nak? Nyenyak? Kau tidak diganggu Baekhyun, bukan?!" seru Bibi Youngil langsung menarikku lembut, menjauh dari Baekhyun.


"Ah, iya, Bi," jawabku sambil tersenyum kaku. Kulihat Baekhyun yang mulai mengambil apron berwarna hitam dan memasukki bilik barista.


Ia sangat tampan dengan kemeja putih dan apron itu. Ah, jika saja fansnya melihat ini, tentunya akan heboh sekali!


"Bibi, bolehkah aku ikut membantu?" tawarku pada Bibi Youngil.


Wanita itu tersenyum, "Tentu saja, sayang. Kau bisa membantuku menjual bunga."


Aku tersenyum senang, dan mengikuti Bibi Youngil ke bilik kasir. Kulirik Baekhyun yang ikut tersenyum senang.


Sinar matahari mulai tampak menyinari. Masih lembut dan hangat kala sinar itu menembus celah-celah dinding kayu dan pintu kaca toko ini. Beberapa orang pelanggan mereka mulai masuk dan memesan kopi dan sarapan. Bibi Youngil juga menyiapkan kopi kesukaanku selagi aku menjaga tokonya.


Kulirik Baekhyun yang mulai membantu Paman Arian bekerja. Ia tampak sangat memukau. Setiap gerakannya, tatapan matanya, senyum ramahnya, caranya meracik kopi, semuanya membuatku tersenyum dan semakin menggilainya.


Seorang wanita turun dari lantai atas tempat ini. Gadis yang cantik, wajahnya perpaduan asia dan kaukasia. Matanya besar dengan rambut hitam yang panjang sampai punggung yang sedikit di re-bonding. Hidungnya sangat mancung, dengan bibir tipis. Dahinya juga tidak terlalu besar. Sekilas ia terlihat dingin sekali dan seperti seorang gadis yang enggan bersosialisasi.


"Oh, Baekhyun. Sudah tiba kau rupanya," ujar gadis itu. Ia pun menatap ke kasir, dan terkejut kala aku sudah berdiri di sini.


"Wah, sepertinya ada yang membantu hari ini," ujar gadis itu lagi tersenyum ramah ke arahku.


"Kenalkan, Hana. Ini Sohyun, calon istri Baekhyun," ujar Bibi Youngil ketika gadis bernama Hana itu tepat di depan kasir.

__ADS_1


"Wah, kau cantik, Sohyun! Wajah asia yang kental sekali! Kenalkan, aku Hana Elle, sepupu si menyebalkan Baekhyun!" ujarnya sembari memajukan wajahnya ke arahku. Penampilan gadis ini modis sekali dengan mantel ungunya, namun ternyata ia sedikit tomboi. Rambut panjang itu tidak bisa menyembunyikan karakternya.


"Salam kenal, Hana. Namaku Sohyun," sapaku balik sambil tersenyum.


"Nah, jika ada Sohyun yang menjaga kasir, bolehkah aku jalan-jalan hari ini?" ujar Hana tersenyum lebar.


"Aih, kau ini," ujar Bibi Youngil kesal, "Ya sudah, pergi sana. Tapi jangan pulang malam!"


"Terima kasih, Eomma! Terima kasih padamu juga, Sohyun. Kapan-kapan kutraktir kau makan daging domba! Dahhh~"


Hana pun keluar dari toko dengan langkah lebar dan percaya diri. Wah, ia gadis yang unik.


"Maafkan anak Bibi, ya. Dia memang seperti itu."


Aku tersenyum dan mengangguk, "Tidak mengapa, Bibi. Hana gadis yang cantik dan sangat bersemangat. Ia menarik."


"Kau berpikir seperti ini, Sohyun? Ah senang sekali! Tapi sayang ia belum punya kekasih," ujarnya lagi, "Bibi senang sekali Baekhyun punya calon istri sepertimu. Jika orang tua Baekhyun bertemu denganmu, mereka pasti akan mencintaimu juga seperti anaknya."


Aku tersenyum, tersanjung akan perkataan Bibi Youngil. Wanita ini sangat baik sampai terkadang berlebihan.


Lanjut membantu, kafe mulai ramai. Beberapa orang mulai memesan kopi, dan juga membeli bunga. Seorang gadis berwajah asia mendatangi toko kami. Ia berdiri di depan sembari melihat-lihat bunga. Kulihat Bibi Youngil yang sedang sibuk. Aku pun akhirnya memberanikan diri keluar untuk menyapa pembeli itu.


"Could I help you, Miss?" tanyaku padanya.


"Ah, aku ingin membeli karangan bunga ini," ujarnya dalam bahasa Inggris, dengan aksen Korea yang kental.


"Kau dari Korea?" tanyaku padanya dengan bahasa Korea. Gadis itu mendongak terkejut dan ia nampak senang.


"Wah, syukurlah kau orang Korea! Aku kesulitan berbahasa Inggris di sini!" ujarnya tertawa kecil.


Aku mengangguk senang, "Senang juga bisa bertemu orang Korea di sini. Jadi kau ingin beli bunga yang ini?"


Ia menganggukkan kepalanya, "Iya, ini untuk atasanku. Entah kenapa ia menggilai bunga belakangan ini. Ia menyuruhku mencarikan bunga yang wangi."


Aku tersenyum, "Ia pasti wanita yang elegan sekali."


Gadis itu menggeleng, "Tidak dia laki-laki." Gadis itu melanjutkan dengan sebuah cerita yang cukup semangat.


"Ia seorang yang menyebalkan. Sok suruh! Aku sebenarnya menyesal telah bekerja dengannya. Namun mau bagaimana lagi, aku tidak punya pekerjaan lain selain menjadi anak buahnya," ujarnya lagi. Wajahnya ekspresif dalam bercerita, membuatku juga ikut tertarik. Gadis ini memiliki soft skill dalam berkomunikasi.


Aku tersenyum dan mengangguk, lalu mulai membungkus bunga yang ia pilih.


"Choi Yoohan!" seru sebuah suara pria dari jauh. Aku cukup terperanjat mendengar suara ini. Rasanya tidak asing.


"Kenapa kau lama sekali?! Aku hanya menyuruhmu membeli bunga, tidak dengan bercerita," ujar pria itu lagi. Aku masih menunduk, berusaha mengingat suara siapa ini. Tepat ketika aku menegakkan tubuhku, aku cukup terkejut. Begitu juga dengan pria yang datang ini. Suara berat itu sangat aku kenal. Kami berdua berpandangan cukup lama. Tak hanya aku yang terkejut, pria di depanku juga menunjukkan sikap serupa. Wajahnya tidak berubah. Ia masih sama seperti waktu itu, seperti dua tahun yang lalu.


"Ah, ini dia atasanku," ujar gadis bernama Yoohan itu,


"Kenalkan, namanya Kim Taehyung, pewaris Home Shopping terkenal di Korea."


***

__ADS_1


__ADS_2