
Hujan turun tadi pagi, menyisakan awan hitam yang masih enggan untuk terberai walau angin cukup kencang menyentuh awan-awan itu. Untuk pertama kalinya, aku kembali mencoba membuat kopi di sini setelah sekian lama tidak mencobanya. Dengan bantuan internet, secangkir espresso panas akhirnya siap untuk disajikan. Ya, aku hanya suka minum kopi tanpa berniat bisa membuatnya sendiri.
"Rumah ini lumayan juga," ujar Mr. Kelly seraya melihat sekeliling rumahku beserta interiornya. Ia menatap beberapa pajangan di rumah ini dengan raut wajah serius seolah dia sedang berada di pameran seni. Kepalanya sedikit manggut-manggut sesekali mengusap dagunya yang ditumbuhi rambut halus itu.
"Kau seperti juri penilai seni, Sir," ujarku tersenyum geli melihat editorku bertingkah aneh. Aku meletakkan kopi buatanku di atas meja. Pria ini juga menyukai kopi. Ia langsung duduk usai aku menyajikannya.
"Apakah ini aman untuk kuminum?" tanya Mr. Kelly melihat kopi buatanku. Aku menatap editorku dengan tatapan tajam.
"Aku belajar membuatnya, Sir. Tolong hargai itu," jawabku lalu duduk di sofa. Sementara Mr. Kelly hanya tertawa kecil dan ia mulai menyesap sedikit.
"Hm... aku hargai usahamu, Sarah. Rasanya sekarang enak. Aku ragu karena lima bulan lalu kau membuatkanku kopi dengan rasa yang sangat aneh!" komentarnya.
Aku menghela nafas. Well, aku tahu dia hanya main-main bicara seperti itu, walau terkadang kenyataan menampar alam sadarku. Aku pernah membuat kopi dan menyuguhkannya kepada Mr. Kelly dan ia harus mengalami sakit perut selama rapat pertemuan dengan penulis lain usai meminumnya.
"So, kau hanya ingin tahu rumahku ini? Ini hanya rumah sewa. Dua minggu lagi aku akan pulang ke Canada,"
"Hei, Sarah, anggap saja aku berkunjung ke sini sebagai temanmu, bukan rekan kerjaku yang harus kutagih pertanggung jawabannya. Apakah salah jika aku ingin tahu keadaanmu di sini?" tanya Mr. Kelly.
Dia benar. Kami sudah setahun kenal dan menjadi mitra kerja dalam kantor penerbitan. Ia memahami karakterku begitu juga sebaliknya. Umur kami yang terpaut lima tahun tidak membuat kami menjaga jarak. Mr. Kelly sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Aku menghela nafas dan menatapnya.
"Baiklah," ujarku padanya.
Perlahan kudengar suara dari rumah seberang. Kulihat dari pintu rumahku yang terbuka, Chanyeol, Sehun, dan Lay sedang tertawa dengan kencang sambil keluar dari rumah dengan terburu-buru, lalu disusul oleh Kyungsoo yang berjalan cepat menghampiri mereka bertiga dengan wajah tak kalah usilnya. Terakhir, kulihat Baekhyun keluar rumah dengan membawa satu kaleng bir yang kosong, dan ia bersiap melempar keempat temannya yang kini pergi dengan cepat sebelum kaleng kosong itu mengenai salah satu dari mereka. Dari pakaian mereka, aku yakini mereka hanya ingin mencari makan atau membeli sesuatu di sini. Wajah Baekhyun merah padam, dan detik berikutnya, ia melirik ke rumahku sebentar, dan berakhir ia memasukki rumahnya. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
"Orang Korea juga?" tanya Mr. Kelly sembari melihat kejadian barusan. Aku menganggukkan kepalaku.
"Wah, itu pasti menyenangkan bertemu dengan teman dari negara asalmu," katanya lagi.
"Ya, itu sangat menyenangkan,"
"Kau tidak berniat pulang ke Korea bulan ini?" tanya Mr. Kelly.
"Kurasa aku tidak pulang. Pekerjaan menumpuk jika aku pulang, Mister," jawabku menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu. Setidaknya kabari kedua orang tuamu," ujarnya lagi. Aku terkekeh kecil mendengar perkataannya.
"Kau ini ingin jadi menantu orang tuaku, ya? Selalu saja membicarakan mereka." Aku tertawa menggodanya. Mr. Kelly hanya menatapku datar dan kembali menyesap kopinya.
"Aku tidak tertarik jadi suamimu. Aku hanya menghormati orang tuamu yang baik padaku," jawabnya yang membuatku kembali tertawa.
Aku hanya bercanda. Mr. Kelly sendiri sudah menikah setahun yang lalu. Aku mengenal istrinya yang sangat cantik dan baik padaku. Mereka berdua sudah seperti keluarga keduaku selama aku tinggal di Canada. Detik berikutnya, kami membicarakan keadaan kantor penerbitan, tentang teman-teman di sana, dan tentang Mrs. Johnson, atasan penerbitan kami yang menyebalkan setiap harinya. Tiga jam berlalu dan kopi di cangkir Mr. Kelly sudah habis dua jam yang lalu. Ia bangkit berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu aku pamit, Sarah. Aku akan langsung pulang ke Canada hari ini," ujarnya.
"Baiklah. Kabari aku jika sudah sampai di Canada," jawabku.
Ia menganggukkan kepalanya, "Aku pergi dulu!"
***
Malam ini cukup hening dan aku mengalami stuck. Aku menghela nafas di depan laptopku. Masih dua halaman sejak kemarin dan aku ingin cepat menuntaskannya menjadi tiga halaman. Namun kembali, otakku tidak mau bekerja sama dengan baik bersama jari-jariku. Ingin sekali aku minta Helena menemaniku malam ini, sekedar memberikanku ide untuk menulis. Namun gadis itu ternyata sedang berada di rumah sakit dengan jadwal padat yang merundungnya.
__ADS_1
Tiba-tiba bunyi bel membuyarkan lamunanku. Aku turun dari kamarku lalu membuka pintu, menampakkan Lay yang berdiri dengan senyumnya.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Ah, begini, aku ingin mengajakmu makan malam di rumah Baekhyun. Kyungsoo memasak banyak sekali makanan dan ia bilang untuk mengajakmu," kata Lay.
Aku menimang-nimang ajakan baik Lay dan Kyungsoo. Niatku sebenarnya adalah memakan kimchi yang kubuat seperti biasanya. Namun, kurasa makan makanan lain secara gratis juga merupakan perbaikan gizi yang kubutuhkan. Tiba-tiba aku teringat suatu hal.
"Baiklah. Tapi tunggu sebentar,"
Aku berjalan menuju dapur dan mengambil kotak makan kecil dan memasukkan kimchi ke dalamnya.
"Kau ingin membawa itu?" tanya Lay. Aku menganggukkan kepalaku.
"Aku ingin minta pendapat Kyungsoo mengenai kimchi buatanku."
Kami pun keluar rumah, dan usai mengunci pintu, Lay mengajakku masuk ke rumah Baekhyun yang berada tepat di depan rumahku.
"Selamat datang, Sohyun!" seru Chanyeol senang kala aku masuk ke rumah Baekhyun. Aroma masakan korea tercium sangat harum ketika aku masuk, membuat cacing di dalam perutku mulai meronta.
"Aku pikir kau tidak mau datang," sahut Sehun. Lagi-lagi aku terkesiap melihat pria putih itu duduk di meja makan dan menatapku dengan mata hitamnya dan senyum menghiasi wajahnya. Entah mengapa sosok Sehun selalu menghipnotisku, dan kurasa Lay sadar akan tingkah lakuku. Ia hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajahku yang terpesona pada wajah titisan Apollo itu.
"Selamat datang," kata Kyungsoo yang keluar dari dapur dan membawa masakan terakhirnya yang masih mengepul lalu meletakkannya di meja makan.
"Terima kasih undangan makannya," ujarku tersenyum, "Tapi... mana Baekhyun selaku pemilik rumah?"
Mereka hanya tertawa kecil kala aku menanyakan si pemilik rumah yang tidak terlihat sejak aku masuk tadi.
"Merajuk? Karena apa?" tanyaku lagi. Well, melihat kejadian tadi siang membuatku penasaran apa yang terjadi.
"Jika kau ingin tahu, kau bisa tanya Baekhyun langsung. Sekalian kau ajak dia turun ke sini untuk makan. Ia belum keluar dari kamarnya sejak tadi siang," jawab Kyungsoo kali ini sambil tersenyum.
Aku menatap keempat pria di depanku dengan tatapan aneh karena mereka tersenyum kepadaku dengan wajah yang ... cukup menyeramkan dalam artian ada pesan tersembunyi di balik senyumnya. Pikiranku men-setting situasi yang kuhadapi, aku bagaikan berada di rumah seorang pembunuh yang ingin membunuhku secara diam-diam.
Oke, ini berlebihan.
Aku meletakkan kimchi yang aku buat di meja makan dan berjalan naik ke atas menuju kamar Baekhyun. Hanya aku yang berjalan sendiri sementara keempat yang lain menunggu di bawah.
"Baekhyun!" panggilku sembari mengetuk pintu kamarnya. Hening, tidak ada jawaban.
"Aku diundang untuk makan malam bersama dan mereka bilang kau belum keluar dari kamar dari tadi siang! Ayo, kita makan bersama," panggilku lagi. Tak lama kemudian, Baekhyun keluar dari kamar dengan wajah khasnya. Anehnya, wajahnya kini sedikit memerah.
"Kau kenapa mengurung diri di kamarmu lagi?" tanyaku padanya. Ia hanya menatapku tanpa berniat menjawab. Sekarang aku yang merasa risih karena ia menatapku seperti itu.
"Ayo turun, kau harus makan sesuatu."
Aku pun berjalan mendahului Baekhyun yang kini mengekoriku. Kulihat keempat teman Baekhyun hanya tersenyum sekarang sembari menatap kami.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa dari tadi memasang wajah seperti itu?" tanyaku mulai tak nyaman.
"Ah, tidak, Sohyun. Kami hanya bercanda. Baekhyun tadi merajuk karena kami selalu membicarakan dirimu." Sehun kini bicara lagi sambil tersenyum. Aku terkejut dan kulirik Baekhyun yang duduk di meja makan. Ia terlihat biasa saja setelah mendengar apa yang dikatakan oleh temannya itu. Aku kini mengabaikannya dan makan malam pun di mulai. Aku menawarkan mereka kimchi yang aku buat.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanyaku pada mereka ketika mereka mencicipinya.
"Ini enak!" seru Chanyeol tersenyum.
"Ya. Rasa dan teksturnya pas," komentar Kyungsoo yang membuatku tersenyum senang.
"Baek, kau tidak mau coba?" tanya Sehun menawarkan kimchi pada pria itu. aku mengernyitkan dahiku.
"Bukankah Baekhyun tidak suka kimchi?" tanyaku pada mereka. Mereka pun saling tatap dengan terkejut dan menatap Baekhyun yang menyantap makanannya dalam hening.
"Baek? Kau tidak suka kimchi? Seingatku kau dulu sangat menyukainya?" ujar Lay. Aku kembali menatap pria itu yang kini meletakan alat makannya.
"Itu dulu. Aku tidak mau makan kimchi lagi," ujarnya.
"Karena Hyerin?"
Detik berikutnya Chanyeol menutup mulutnya karena Baekhyun menatapnya dengan tatapan tajam dan marah. Aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu.
"Bisa kau tidak menyebut nama itu lagi di sini?" tanya Baekhyun penuh nada sinis dalam ucapannya.
"Hei, aku--"
"Aku sudah kenyang." Potong Baekhyun yang kini berdiri. Ia lalu meninggalkan kami. Suasana mulai terasa tak enak sekarang. Chanyeol menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Maafkan aku, Lay," ujarnya pada Lay yang wajahnya juga sedikit keruh saat ini. Semuanya terdiam, menyisakan tanda tanya di kepalaku.
"Siapa Hyerin?" tanyaku pada mereka.
Lay menatapku, "Mantan kekasihnya yang meninggal dalam kecelakaan setahun yang lalu."
Aku tertegun mendengarnya. Baekhyun jadi berubah seperti itu hanya karena seorang gadis?
"Sohyun!" panggil Lay kala aku mulai melangkahkan kakiku naik ke lantai atas untuk bertemu Baekhyun.
"Baekhyun! Buka pintunya!" panggilku padanya sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.
"Izinkan aku bicara sebentar. Ada yang perlu aku sampaikan!" seruku lagi pada Baekhyun. Tak lama kemudian, pria itu keluar dengan wajah merah dan nafas yang tidak teratur. Ia memegangi kepalanya, dan ia terlihat kesakitan.
"Kau tak apa?"
"Cepat katakan apa yang mau kau bicarakan. Setelahnya kau bisa pulang," ujar Baekhyun. Aku sebenarnya bisa saja sakit hati sekarang mendengar ucapannya, namun entah mengapa rasa itu tidak muncul. Khawatirku lebih besar dari perasaan itu.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan besok. Aku ingin mengajakmu ke peternakan sapi di Edensor," ujarku. Baekhyun menatapku dengan tatapan terkejut. Dia pasti berpikir di antara semua percakapan karena situasi yang tidak mengenakan tadi, aku malah mengajaknya jalan-jalan besok.
"Peternakan sapi?" tanyanya. Ia mulai tertarik dan aku mulai tersenyum.
"Ya. Peternakan sapi. Besok jam delapan kita berangkat." Aku pun membalikan badanku dan pamit pulang tanpa menunggu jawabannya karena aku tahu, dia mau pergi ke Edensor lagi.
***
__ADS_1