SILENCE LOVE

SILENCE LOVE
Chapter 19 [Baekhyun's Eyes 4]


__ADS_3

Baekhyun terdiam di apartemen dengan segudang pikiran yang hinggap di kepalanya. Kenapa ia merasa tidak enak usai mendengar Sohyun mengatakan bahwa Taehyung akan datang ke Toronto dan mengajak Sohyun bertemu.


"Kenapa pria itu selalu ada di manapun Sohyun berada?" gumam Baekhyun. Ia sendiri tidak sadar bahwa ia juga sama seperti Taehyung.


Sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar handphone pria itu bergetar.


"Halo?"


"Yak! Baekhyun! Kau ini gila atau bagaimana?! Sekarang kau di Canada, hah?!" seru Chanyeol dari seberang sana. Baekhyun menghela nafas. Sekarang bagaimana pria tinggi itu tahu jika dirinya sedang berada di Toronto?


"Dari mana kau tahu? Apakah Manajer Yoo memberitahumu dan teman-teman yang lain?" tanya Baekhyun.


"Asal kau tahu, Tuan Byun, kau itu susah sekali dihubungi! Kau pasti masih sering mengaktifkan mode silent di handphone-mu itu. Sudah berapa banyak telepon yang sudah tidak kau angkat?!" kata Chanyeol masih terdengar kesal dan sama sekali tidak menanggapi apa yang Baekhyun tanyakan.


"Maaf, aku sibuk."


"Sibuk memperhatikan Sohyun, huh? Seberapa hebat pertengkaran kalian sampai-sampai kau harus menyusulnya ke sana untuk minta maaf?!"


"Hei, kau ini kenapa marah-marah seperti itu?" terdengar suara Lay di sana, dan beberapa suara pria lainnya yang sangat tidak asing di telinga Baekhyun.


"Hei, Baek! Akhirnya kau bisa dihubungi juga!" seru Lay terdengar senang dibalik telepon itu. Baekhyun rasa kali ini Chanyeol mengaktifkan mode loudspeaker.


"Maafkan aku tidak memberi kalian kabar," ujar Baekhyun.


"Baek! Bagaimana kalau kita video call sekarang? Aku ingin lihat bagaimana keadaanmu sekarang," kata Sehun terdengar di sana. Baekhyun pun mematikan teleponnya dan langsung menyambungkan dengan video call. Tak lama, muncul wajah keempat sahabatnya di layar handphone.


"Wah! Kau sedikit berisi ya sekarang!" seru Kyungsoo ketika melihat Baekhyun.


"Kami hampir saja menyusulmu ke London jika Lay tidak memberitahu kami kau sedang di Toronto," kata Sehun.


"Lay?" tanya Baekhyun heran. Bagaimana Lay tahu dirinya sedang berada di Canada?


"Aku menghubungi Sohyun dan menanyakan kabarmu," jawab Lay yang membuat pria berambut blonde itu terkejut.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan nomor handphone Sohyun?!"


Sontak keempat temannya tertawa ketika mendengar pertanyaan Baekhyun.


"Wah, aku tidak menyangka seorang Baekhyun tidak tahu nomor gadis yang disukainya!" goda Chanyeol yang diikuti tawa Sehun dan Kyungsoo.


"Bagaimana bisa kau kalah dengan Lay yang lebih dulu mendapatkan nomor telepon gadis itu?" ujar Sehun.


Baekhyun berusaha setengah mati menyembunyikan wajah kesalnya karena ia merasa kalah dengan Lay yang notabene tidak dekat dengan Sohyun, tapi bisa mendapatkan kontak dari gadis itu.


"Berikan padaku nomor Sohyun!" kata Baekhyun.


"Baiklah. Akan aku berikan. Syukurlah keadaanmu baik-baik saja di sana. Kulihat apartemenmu sungguh menarik," ujar Lay yang mengobservasi background handphone-nya, memperhatikan kamar Baekhyun yang terlihat rapi di belakang tubuh pria itu.


"Seperti yang kau lihat, Toronto lebih menarik daripada London," ujar Baekhyun.


"Bukankah itu karena Sohyun? Jika tidak ada Sohyun di sana, apakah kau masih mau pergi ke Toronto?" kata Chanyeol lagi.


"Wah, aku tidak menyangka kau akan jatuh cinta lagi, Baek!" seru Sehun.


Jatuh cinta?


Apakah benar itu yang Baekhyun rasakan?


"Jangan sembarang bicara," jawab Baekhyun dengan wajah datarnya.


"Aku tidak sembarang bicara. Memang begitu keadaannya. Hanya saja kau tidak menyadari perasaanmu sendiri, dasar bodoh," kata Sehun lagi, membuat Baekhyun menjadi jengkel.


"Jika tidak ada hal penting lain, aku tutup teleponnya," kata Baekhyun. Dengan cepat pria itu mematikan sambungan karena ia merasa terganggu dengan perkataan teman-temannya itu.


Pria itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya menerawang sekali lagi perkataan Sehun.


Apakah Baekhyun sedang jatuh cinta pada Sohyun?


Pria itu sendiri juga tidak bisa menjawabnya.


Ia sudah setahun tidak meraskaan hal itu karena trauma beratnya, membuatnya nyaris lupa apa itu jatuh cinta.


***


"Perkembangan di Korea kali ini cukup menarik. Terutama di dunia entertaiment," kata Lay di balik telepon. Malam itu, Lay menelpon Baekhyun lagi untuk sekedar berbicara dan ia sungguh terkejut dengan keadaan Baekhyun yang sekarang kian membaik. Dalam hati ia bersyukur karena Sohyun yang membuat Baekhyun seperti ini.

__ADS_1


"Ada apa memangnya?" tanya Baekhyun.


"Kau tahu, agensimu menarik artis baru untuk debut. Namanya Min Yuri. Gadis itu cukup cantik dan suaranya bagus," ujar Lay. Baekhyun yang sedang menyiapkan makan malam hanya berdeham saja. Baginya, hal itu sama sekali tidak menarik. Manajer Yoo juga tidak menceritakan hal itu pada Baekhyun, karena pria itu tahu kalau Baekhyun tidak akan mendengarkan dan tidak peduli. Tapi kali ini Baekhyun dengan sabar mau mendengarkan cerita Lay.


"Lay, aku matikan teleponnya sebentar. Aku ada urusan sedikit dengan masakanku," ujar Baekhyun.


"Oh, baiklah. Nanti aku hubungi lagi. Ada hal lain yang harus aku bicarakan denganmu," kata Lay.


Baekhyun pun mematikan sambungan dan berjalan menuju dapur dengan kantung plastik berisi bahan makanan di sana. Tiba-tiba tanpa sengaja, kantung itu menyenggol sebuah piring di atas meja yang letaknya memang sangat pinggir, sehingga piring itu terjatuh. Baekhyun terkejut dan seketika tubuhnya kaku. Ia melihat pecahan kaca itu dan sekelebat ingatan kelamnya setahun lalu muncul lagi di kepalanya.


Bayangan akan kaca mobil yang pecah dan rusak parah, serta Hyerin yang dalam keadaan sekarat terlihat jelas di kepala Baekhyun. Degup jantung pria itu berpacu kencang.


"Arggh!!" seru Baekhyun memegangi kepalanya yang sakit. Nafasnya sesak dan ia berusaha menjauh dari pecahan kaca itu. Baekhyun tampak seperti orang gila sekarang. Ia terduduk di pojok ruangan yang minim penerangan cahaya dan ia memeluk lututnya sendiri. Ia menahan tangisnya untuk tidak keluar. Namun rasanya kenangan itu lebih kuat menghantuinya, membuat tubuhnya menggigil dan air matanya tumpah.


Bunyi handphone-nya sama sekali tidak ia hiraukan. Sepuluh menit Baekhyun menangis dan menggeram karena ketakutannya. Bagi Baekhyun kini semuanya kosong. Ia tidak bisa mendengar apapun, bahkan yang ia lihat sekarang mungkin bukan apartemennya, melainkan sosok Jung Hyerin yang tak berdaya di mobil dengan keadaan tubuh yang hancur.


Samar-samar Baekhyun mendengar suara orang lain mengisi relung kepalanya. Namun ia masih tidak bisa menyadari siapa yang memanggilnya, sampai sebuah tangan hangat menyentuh pipinya. Tangan itu membawa wajahnya untuk menghadap sosok itu. Saat manik mata mereka bertemu, saat itulah Baekhyun sadar.


"Tidak apa-apa, Baek, ada aku. Jangan takut."


Rasa hangat menjalar kala Sohyun memeluk tubuhnya, melindunginya dari rasa takut dan menenangkan dirinya. Baekhyun tersadar dari takutnya, dan ia kembali menangis.


Yah, ia membenci dirinya yang masih mengingat kejadian yang sudah mati-matian ia coba lupakan. Mengapa kenangan akan Hyerin masih sangat melukainya? Kenapa ia masih memikirkan gadis yang jelas-jelas sudah mengkhianati dan melukai Baekhyun?


Pria itu membalas pelukan Sohyun lebih erat, melepaskan seluruh beban yang selama ini ia simpan sendiri.


Jika kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu, setidaknya menangislah, karena itu akan sedikit mengurangi beban pikiran dan hatimu.


***


Baekhyun mengerjapkan matanya perlahan. Hal yang ia lihat pertama adalah posisi ruangan dan keadaan dirinya. Ia terduduk di lantai dengan posisi seperti semalam, dan ia merasakan sesuatu di pundaknya. Ia melirik dan dapat dilihat Sohyun tertidur di sana. Ah, ia baru ingat kalau Sohyun menenangkan dirinya sampai tertidur. Dan gadis itu juga ikut tertidur di sebelahnya. Baekhyun perlahan menggeser kepala Sohyun ke dinding, kemudian ia menggendong Sohyun dengan bridal style. Ia membawa gadis itu ke kamarnya dan merebahkan tubuh Sohyun perlahan. Ia sedikit terkejut karena ketika mengangkat kepala, wajah Sohyun sangat terlihat jelas di depan wajahnya. Baekhyun tersenyum kecil dan perlahan melepaskan tangannya dari bawah tubuh Sohyun.


Pria itu melepaskan sepatu yang masih gadis itu pakai ketika masuk ke rumah karena panik, menyelimuti Sohyun, dan merapikan rambut gadis itu. Baekhyun menatap Sohyun dengan sayang dan mengusap kepala Sohyun pelan.


"Selamat tidur," gumamnya.


Baekhyun pun memutuskan untuk tidur di sofa yang hanya ada di ruang tamu.


***


Entah mengapa Baekhyun sensitif sekali hari ini. Hanya karena Sohyun menanyakan keadaannya saja, pria itu menjadi marah. Entahlah, padahal Baekhyun hanya ingin Sohyun melupakan apa yang terjadi semalam. Ah, memikirkannya membuat Baekhyun malu. Tidak seharusnya seorang pria menangis hanya karena melihat pecahan kaca seperti itu. Sekarang pun Baekhyun duduk membelakangi Sohyun yang menyusulnya ke kamar.


Baekhyun sebenarnya luluh mendengar perkataan Sohyun dan lagi nada bicaranya yang membuat hati Baekhyun tenang. Ia merasa bersalah karena marah pada Sohyun dengan alasan konyol seperti itu. Tapi, di sisi lain, ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Perlahan Baekhyun pun akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Sohyun.


"Apakah aku terlihat menyedihkan semalam hanya karena pecahan kaca?"


"Kurasa memang seperti itu keadannya, Baek. Kau mengalami trauma dan aku paham akan hal itu. Aku tidak measa itu menyedihkan."


Sohyun pun meraih tangan Baekhyun dan digenggamnya, memberikan Baekhyun kehangatan dan ketenangan.


"Maafkan aku. Aku tidak ingin membuatmu khawatir dengan keadaanku semalam. Tapi sikapku pagi ini justru membuatmu merasa sebaliknya." Baekhyun mengatakan hal itu dengan tulus.


"Apakah perlu aku pergi agar kau tidak merasa bersalah seperti itu? Lagipula aku harus pulang karena harus bekerja hari ini," ujar Sohyun. Gadis itu hendak berdiri dan pamit. Namun entah mengapa Baekhyun tidak ingin gadis itu pergi. Ia ingin Sohyun menemaninya. Pria itu pun menahan tangan Sohyun untuk tidak pergi.


"Kenapa?"


Baekhyun ragu, namun akhirnya ia mengatakan apa yang ia ingin katakan.


"Tinggallah denganku untuk beberapa hari. Kumohon temani aku."


***


Malam ini Toronto kembali dingin. Pertengahan bulan di musim gugur membuat suhu udara menurun lagi. Baekhyun sedang duduk menunggu Sohyun yang belum kunjung pulang malam ini. Baekhyun pun meraih handphone-nya dan berniat untuk menghubungi Sohyun. Tapi ia mengurungkan niat itu karena ia berpikir bahwa Sohyun sedang bersama Taehyung sekarang. Ia menghormati urusan kedua orang itu meskipun dalam hati Baekhyun merasa tidak suka. Bayangan akan tawa Sohyun dan Taehyung ketika menghabiskan waktu di Toronto adalah hal yang paling ingin Baekhyun buang jauh-jauh.


Tiba-tiba sebuah panggilan mengganggu imajinasi Baekhyun. Nama sepupunya terpampang jelas di sana.


"Halo,"


"Baek! Kau sedang di mana sekarang?" tanya Hyesung.


"Di apartemen. Kenapa?"


"Kau bisa menolongku untuk menjadi entertain di kafe? Keadaan ramai tapi penyanyi yang bekerja padaku kemarin baru saja mengalami kecelakaan. Pelanggan sepertinya merasa bosan saat ini. Aku bisa kehilangan mereka jika tidak memiliki entertain di kafe!" kata Hyesung. Terdengar gadis itu putus asa tapi ia sendiri merasa tidak enak untuk bicara pada Baekhyun, mengingat keadaan pria itu.


Baekhyun diam. Namun di hatinya terjadi perang yang sangat luar biasa hebat. Ini adalah kesempatannya untuk memulai karirnya lagi setelah beberapa bulan ia meminta cuti. Namun ia merasa takut. Karena setiap ia bernyanyi, bayangan akan komentar pedas dari haters akan kematian Hyerin selalu muncul di kepalanya, membuatnya menyesal mengapa ia harus menjadi public figure.

__ADS_1


"Bagaimana, Baek? Kuharap kau mau," ujar Hyesung dengan penuh harap.


Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepala Baekhyun.


"Baiklah. Aku akan datang bersama Sohyun," ujarnya.


***


Ia berdiri di depan para penonton sekarang. Kafe milik Hyesung cukup luas dan sekarang penuh akan pelanggan yang penasaran akan penampilan Baekhyun. Kebanyakan mereka berwajah kaukasia dan tentunya penasaran dengan pria berwajah asia yang kini tampak takut itu. Baekhyun menarik nafas panjang. Degup jantungnya kencang, dan ia berkeringat padahal cuaca hari ini sangat dingin. Ia menatap Sohyun yang berdiri dari jauh.


Baekhyun melakukan ini semua demi gadis itu. Gadis yang selalu ada untuknya dan selalu memberikan semangat pada Baekhyun. Senyum Sohyun meyakinkan Baekhyun untuk berani melangkah sejauh ini. Genggaman tangan Sohyun masih terasa di indra perabanya, membuat Baekhyun yakin akan keputusan ini. Ia pun berbicara pada pengiring lagu yang juga merupakan orang asia. Dan sebuah lagu ia nyanyikan.


Lagu ini untuk Sohyun.


Untuk gadis yang perlahan mengisi kekosongan hati Baekhyun tanpa pria itu sadari. Ia bernyanyi sembari menatap Sohyun dalam. Begitu pula dengan gadis itu yang juga menatap Baekhyun dengan senyum haru terukir di wajahnya. Sementara Hyesung sudah menangis.


***


Jika bahagia bisa didefinisikan dengan suatu benda, ia ingin membawa jam Big Ben London kemari. Baekhyun tersenyum puas ketika berhasil bernyanyi lagi setelah beberapa bulan lamanya ia ketakutan akan kemampuannya sendiri. Sorakan dari penonton dan senyum bahagia Sohyun dan Hyesung masih terekam jelas di kepalanya.


Dilihatnya Sohyun yang baru saja selesai mandi, rambut yang ia ikat tinggi-tinggi membuat gadis itu nampak manis. Perlahan gadis itu melepas ikatan rambutnya dan berjalan masuk ke kamar Baekhyun.


"Kau sudah bisa melakukannya. Kau hebat!" seru gadis itu dengan senyum lebar. Ia pun meraih sisir yang ada di kamar Baekhyun.


"Terima kasih, semua berkat kau." Baekhyun menjawab itu dengan tatapan yang tidak lepas sedikitpun dari Sohyun.


Gadis itu mengangukkan kepalanya dan ia sudah selesai bersisir. Sohyun berdiri dalam diam untuk beberapa detik.


"Hei, aku tidur di mana?" tanya Sohyun terlihat bingung. Baekhyun yang sudah dalam posisi duduk itu menggeser tubuhnya ke sisi kanan dan menepuk sebelahnya.


"Kau bisa tidur di sini," jawab pria itu.


"Bersebelahan denganmu?" tanya Sohyun lagi, berusaha meyakinkan.


Baekhyun menganggukkan kepalanya. Ia tahu kemana arah pembicaraan yang Sohyun maksud. 


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa selain tidur."


***


Baekhyun menatap Sohyun yang sedang tertidur pulas. Posisi mereka tidur kini saling berhadapan. Pria itu sedari tadi tidak bisa tidur dan hanya memperhatikan Sohyun. Menyeramkan? Baekhyun rasa iya. Dirinya sendiri tidak tahu kenapa selalu memperhatikan Sohyun yang tertidur itu. Tubuhnya lelah namun letupan kebahagiaan itu seolah menjadi cadangan energinya sehingga ia tidak bisa tidur. Wajah Sohyun yang terlelap sangat cantik. Perlahan Baekhyun mendekat, mengambil bantal yang diletakan Sohyun ditengah-tengah mereka dan mengikis jarak itu.


Nafas lembut Sohyun bisa ia rasakan menerpa wajahnya. Posisi mereka sangat dekat dan Baekhyun sengaja karena ia ingin memperhatikan wajah Sohyun, menikmati keindahannya sendirian.


Ia tidak bisa membayangkan jika Sohyun menjadi milik pria lain. Apalagi Taehyung yang ia rasa selalu mendekati Sohyun.


Tunggu,


Kenapa Baekhyun berpikiran seperti ini?


Apakah ia cemburu?


Ia kembali memandang wajah Sohyun dalam diam, mencari jawaban akan perasaannya yang seperti itu.


Perkataan Sehun tadi siang kembali menghampiri pikirannya.


Apakah ini namanya jatuh cinta?


Kau ingin ia selalu ada untukmu, kau menyukai senyumnya, kau menyukai apapun yang ada padanya. Wajah kesal Sohyun, wajahnya ketika cemberut, rambut yang terkadang berantakan bagaikan benang kusut. Baekhyun menyukai semua itu.


Ia menyukai pribadi Sohyun yang apa adanya. Dan ia tidak rela jika Sohyun jadi milik orang lain.


Apakah mencintai seseorang itu akan membuat kita menjadi posesif?


Sohyun sedikit bergerak dari tidurnya dan ia hendak berbalik. Namun entah mengapa Baekhyun menahan tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam dekapan Baekhyun.


Ia harus menelan kata-katanya sendiri barusan bahwa ia tidak akan melakukan apapun kecuali tidur. Ia menegakkan setengah tubuhnya, menopang dengan siku kirinya dan menatap Sohyun lebih dalam lagi.


Ia menatap mata Sohyun yang terpejam, hidung mancungnya, dan terakhir bibirnya.


Degup jantung Baekhyun terasa lebih kencang kala melihat bibir Sohyun yang berwarna merah muda alami itu.


Perlahan, Baekhyun mendekatkan wajahnya pada Sohyun, dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Sohyun.


Dan detik itu ia menyadari,

__ADS_1


Bahwa dirinya sudah jatuh lebih dalam kepada Sohyun.


***


__ADS_2