Simpanan Bos Tampan

Simpanan Bos Tampan
Bab 35


__ADS_3

"Dennis sepertinya aku tahu kemana kita harus mencari mereka"


"Kemana yah, cepat katakan aku takut Jasmine terluka"


"Ke kantormu"


"Apa yah ke kantorku, tidak yah itu tidak mungkin"


"Pasti nenek membawa mereka kesana, Karna nenek ingin menunjukkan bahwa kamu itu cucunya, dan pasti ia akan membuat mereka kecewa kepadamu Karna mereka belum mengetahui kamu keluarga wijaya dan intinya nenek akan menjauhkan kalian"


Mendengar penuturan ayah tirinya itu, Dennis langsung menginjak pedal gas itu dengan kasar. Ia menambah kecepatan mobil itu, ia sudah tidak tahan dengan rasa amarah di dadanya yang sangat berkecamuk.


"Dennis hati-hatilah nak"


"Sudah ayah diam saja, ini semua karena ibunya ayah itu yang terlalu ambisius"


Mendengar Dennis begitu marah Zul merasa tidak enak hati, ia tahu semua ini salah ibunya tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Dennis yang merasa perkataannya keterlaluan sejenak melirik kearah wajah ayah tirinya itu, ia pun melunak.


"Maaf yah aku terlalu emosi, tidak sepatutnya aku bicara seperti itu Karna yang dibawa oleh nenek juga kan anak-anak ayah"


"Iya tidak apa nak, ayah mengerti perasaanmu, ayah juga sebenarnya sangat marah sekarang tapi mau bagaimana lagi ya menyebabkan semua ini ibu ayah sendiri"


mendengar perkataan ayah tirinya itu membuat Dennis semakin tidak enak hati atas ucapannya tadi.


*****


Mereka pun kini telah sampai dikantor Dennis dan benar saja di depan kantor itu telah terparkir bebrapa mobil milik ajudan neneknya dan salah satunya mobil yang tadi ia lihat di ponsel Zul.

__ADS_1


"Yaampun ternyata mereka benar-benar membawa Jasmine dan Aldi kesini"


"Ayo nak sebaiknya kita turun, kita harus menjelaskan semuanya kepada Jasmine dan Aldi"


Dennis dan Zul pun turun dari mobil itu, mereka bergegas memasuki kantor itu. Tetapi mereka dihalangi oleh anak buah neneknya,


"Maaf tuan dan tuan muda dilarang masuk"


"Apa hak mu melarangku aku ini pimpinan di kantor ini, cepat bukakan pintunya sekarang"


Dennis sudah sangat emosi menghadapi anak buah neneknya itu


Tetapi ajudan neneknya itu sangat solid mereka tetap tak bergeming dengan perkataan Dennis dan hal itu membuat emosi Dennis semakin pecah,


"Nenek keluar lah jangan sakiti Jasmine dan Aldi, hei ny Wijaya keluarlah hadapi aku jika kau berani menyakiti Jasmine dan Aldi"


"Kau dengar apa yang dikatakan cucuku itu, dasar wanita penggoda. Kau Dan ibumu sama saja, selalu saja membuat keluargaku membangkang kepadaku"


"Hei Ny. Wijaya yang terhormat bertaubatlah kau sudah sangat tua, sampai kapan kau akan seperti ini. Sebentar lagi kau pun akan mati dan saat mati kau tidak akan membawa apapun dari hartamu atau rasa gengsi yang kau selalu pegang teguh itu" Aldi menyahuti wanita tua dihadapannya itu dengan emosi, dia sudah tak Sudi menganggap wanita itu neneknya.


"Beraninya kau bicara seperti itu" Ny.wijaya sangat murka mendengar perkataan Aldi tersebut.


Tapi ternyata Zul dan Dennis sudah masuk keruangan itu, mereka bisa mengalahkan ajudan ibunda Zul Karna dibantu oleh anak buah Dennis yang datang tepat waktu.


"Iya betul apa yang dikatakan oleh Aldi Bu, sebaiknya ibu bertaubat usia tidak ada yang tahu" Zul yang baru saja tiba langsung memberikan tanggapannya.


"Bagaimana kalian bisa masuk" Ny.wijaya panik melihat Zul dan Dennis bisa masuk ke dalam sana.


Tanpa menjawab pertanyaan ibunya Zul lebih tertarik mendekat anak-anaknya.

__ADS_1


"Jasmine, Aldi maafkan ayah yang tidak bisa melindungi kalian. Maafkan ayah yang tidak bisa menjelaskan semuanya dari awal, mulai sekarang ayah akan bersama kalian"


"Zul kamu tidak bisa mengambil keputusan seperti itu, jika kamu membela mereka maka ibu akan menarik semua yang telah ibu beri kepadamu"


"Terserah ibu, aku sudah tidak perduli dengan itu semua. Mereka ini anak-anak ku darah dagingku sendiri, ibu yang sudah sangat keterlaluan cucu kandung sendiri di sakiti terus menerus hanya karena ibu mereka bukan berasal dari keluarga kaya raya seperti yang ibu harapkan"


"Bukan mereka bukan cucuku, aku tidak mau memiliki cucu dari rahim seorang wanita kampung"


"Ibu stop ibu sudah sangat keterlaluan, istriku sudah meninggal saja ibu masih menghinanya. Ibu asal ibu tau istriku itu wanita terdidik dan memilikinya sopan santun bahkan sampai akhir hayatnya ia tidak pernah membenci ibu walaupun ibu selalu menyakitinya!!"


"Beraninya kamu membentak ibumu sendiri, kamu sudah keterlaluan Zul!!!"


"Sudah ayah sudah cukup, ayah jangan seperti itu bagaimanapun nenek adalah orang yang telah melahirkan ayah jadi ayah tidak pantas berkata seperti itu" Jasmine yang sedari tadi sudah menangis mencoba memberikan peringatan kepada ayahnya agar tidak melewati batas.


"Ibu coba buka mata hati ibu, lihatlah itu orang yang ibu selalu sakiti bahkan membela ibu Sekarang apakah ibu tidak malu"


"Dia hanya wanita simpanan, dimana-mana wanita penggoda sama saja selalu mencari perhatian dengan memperindah kata-katanya"


"Hei Ny. Wijaya tutup mulutmu, sekali lagi kau menyebut wanitaku sebagai wanita penggoda aku akan menghabisi mu" Dennis yang murka menodongkan pistol kearah kepala wanita paruh baya itu.


"Mas tolong jangan seperti itu, turunkan pistol itu mas. Aku tidak mau hanya demi membelaku kau menyakiti nenek" Jasmine memohon kepada Dennis


"Kau sangat berhasil dalam mempengaruhi orang lain ya ternyata, apa itu semua ajaran dari ibumu. Hahh sudah kuduga ibumu yang sudah mati itu menurunkan semua bakat penggoda nya kepadamu"


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut ny. Wijaya membuat Dennis semakin panas, ia akan menarik pelatuk pistol itu.


"Tidaaakkk, mas jangan kamu bukan orang jahat mas. Tolong kontrol emosimu itu mas aku mohon mas" Jasmine Mencoba menenangkan dennis


"Jika bukan karena kamu aku pasti telah menghabisi wanita tua ini" Dennis menurunkan pistolnya dan langsung memeluk Jasmine yang sedang terduduk sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2