
"Halo, kamu dimana bisa kita bertemu sebentar saja"
"Baiklah kita bertemu ditempat biasa"
Aldi pun menutup panggilan telponnya, ia keluar dari rumah itu dengan pelan Karna takut membangunkan ayah dan adiknya itu.
Aldi kini telah sampai di sebuah cafe tidak jauh dari rumahnya, ia menunggu seseorang yang ia telpon tadi. Tak berapa lama datanglah orang tersebut, ternyata itu adalah dennis.
"Ada apa kau memanggilku kemari"
"Dennis jawab pertanyaan ku ini ya, Apa kau menyukai Jasmine"
"Kenapa kau masih menanyakannya, bukan kah aku sudah memberitahumu"
"Iya aku tau, tapi aku harus tau apa kau benar-benar menyukai adikku atau tidak"
"Tentu saja Al, aku sangat menyukai adikmu itu bahkan sekarang bukan hanya sekedar suka aku sudah mulai menyayanginya"
"Lalu bagaimana dengan ibumu"
"Maksudmu bagaimana"
"Dennis, aku tau kamu pasti akan mengalah setelah tahu bahwa ayah ku adalah orang yang menikah dengan mamamu. Tapi Dennis aku mohon jangan menyerah aku tidak mau adikku terluka"
"Lantas aku harus melihat ibuku yang terluka, aku tau kita tidak saudara kandung sah sah saja jika aku mencintai Jasmine. Tapi apa kata orang aku menjadikan adikku sendiri sebagai istriku"
Mendengar ucapan Dennis membuat Aldi terdiam,
"Maaf aku telah terlalu ikut campur, tapi sebaiknya kamu membicarakan hal ini dengan mamamu. Karna bagaimanapun ayahku dan mamamu menikah atas desakan nenek"
Dennis yang merasa semakin pusing hanya mengangguk pelan, dan ia berniat pergi dari tempat itu Karna ia rasa bicara dengan Aldi menambah beban di hati dan pikirannya.
"Aku akan kembali, ini sudah terlalu malam"
"Iya baiklah, oiya mungkin lusa aku, Jasmine dan ayah akan meninggalkan kota ini"
Dennis yang sudah melangkahkan kakinya tiba-tiba terpaku dan membalikan badannya.
"Lalu bagaimana dengan Mamaku"
"Ntahlah aku tidak tahu, itu urusan ayahku mungkin kau bisa menanyakannya sendiri"
Mendengar jawaban Aldi itu Dennis langsung melangkahkan kakinya lagi pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
****
Pagi hari dirumah sederhana itu Jasmine telah menyiapkan sarapan untuk kakak dan ayahnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya mereka berjalan menuju pemakaman, makam ibu Jasmine memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
Kini mereka telah tiba di pemakaman itu, mereka mengirimkan doa untuk ibunya yang sudah tenang disisi sang maha kuasa. Setelah selesai mereka semua kembali kerumah dan bersiap melaksanakan kegiatan mereka hari ini.
Setelah kepergian ayah dan kakaknya, Jasmine merasa bosan dirumah. Ia bingung harus kemana, dan teringat untuk menelpon Nayla.
Tuut,, tuut,,
"Halo Nay, nay Lo lagi sibuk ga gue free ni kita ketemu yuk banyak yang gue mau ceritain sama Lo"
"Sorry Jas gue gabisa kalo sekarang, gue mau urusin pendaftaran. Gimana kalo nanti sore deh gue kesana oke"
"Yaudah deh oke, lancar ya nay"
"Iya jas thanks yaa.. Udah dulu ya nanti gue hubungi lagi Bye"
Panggilan itupun berakhir, jasmine semakin bosan. Ia memutuskan keluar untuk sekedar jalan-jalan.
Saat baru keluar dari rumahnya ia berpapasan dengan Dennis yang sudah berdiri dari sana ntah dari kapan.
"Aku baru saja tiba, tadinya mau masuk tapi melihat keadaan sangat sepi jadi aku memutuskan untuk kembali saja"
"Iya sepi Karna ayah sedang mengurus sesuatu, sedangkan Kaka sedang ke tempat kerjanya dia akan resign hari ini"
"Oh ya kenapa harus resign" Dennis berpura-pura tidak mengetahui apapun.
"Ayah memutuskan untuk mengajak aku dan kakak keluar dari kota ini, kau mau ikut bersama kami pasti ayah akan sangat Senang"
Dennis secara tiba-tiba menarik tangan Jasmine dan membawanya kedalam mobil miliknya,
"Mas pelan-pelan"
"Cepatlah masuk" Dennis membuka pintu mobilnya dan memaka Jasmine untuk masuk ke mobil itu. Dennis pun masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Mas kita mau kemana, tolong mas kendalikan dirimu jangan terbawa emosi"
Dennis menepikan mobilnya dipinggir jalan, dan dengan cepat ia mencium kasar bibir Jasmine..
Jasmine yang terkejut dengan tindakan Dennis tidak bisa berkutik, ia hanya menangis saat Dennis semakin menerkam bibirnya dengan keras dan tangannya mulai meraba-raba bagian dada Jasmine.
__ADS_1
Dennis yang merasakan ada air mata di pipi Jasmine mulai memundurkan dirinya, "Maafkan aku, aku tidak bisa mengkontrol emosiku maaf kan aku sayang. Tolong jangan menangis lagi yaa"
Jasmine semakin mengeraskan tangisannya. "Huaaaaa, kamu anggap aku ini apa si. Aku bukan ******* mas kenapa kamu sangat kasar"
"Tidak sayang aku tidak menganggap mu seperti itu, ini semua karena aku terlalu emosi saja"
"Mas kita tidak bisa bersama, kamu adalah kakakku. Mau bagaimana pun ayah dan Tante Fanny sudah menikah"
"Iya aku tau, maka dari itu aku sangat marah. Aku bingung harus bagaimana, aku tidak bisa jika harus kehilangan mu tapi aku juga tidak mau menyakiti mama"
Mereka berdua kini sama-sama terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Dan kesunyian itu terpecahkan Karna suara dering telpon milik Dennis.
"Halo ma, kenapa"
"Nak pulanglah sekarang, ada hal yang mama akan sampaikan"
"Sampaikan sekarang saja ma, aku tidak bisa pulang sekarang"
"Hemm baiklah nak, Nak ayahmu mengajukan cerai kepada mama"
"Apa ma, cerai???"
"Iya nak, mama bingung harus bagaimana Mama sudah sangat menyayangi ayahmu"
"Terserah mama saja, pikirkan lah dahulu ma tapi tolong jangan beritahu Oma terlebih dahulu kesehatan nya sedang tidak baik"
"Iya nak baiklah, yasudah mama tutup ya sayang jangan terlalu lelah jaga kesehatan. Jika sempat kunjungilah adik dan kakakmu"
"Iya mah baiklah, bye"
Dennis merasa kesal mendengar perkataan mamahnya, satu sisi ia senang jika ayah dan mamanya bercerai. Tapi disisi lain ia tidak mau mamanya terluka. Ia sangat pusing memikirkan nya.
"Aahhh kenapa harus seperti ini" Dennis teriak dengan tangan yang memukul kemudi mobil itu.
Jasmine yang bingung mencoba menenangkan dennis,
"Mas tenanglah, apa harus selalu dengan emosi seperti ini"
Tanpa menjawab Jasmine Dennis kembali melajukan mobilnya itu, ia menuju sebuah tempat karoke tempatnya dulu sering menghabiskan waktunya bersama teman-teman nya.
Saat tiba didepan tempat itu Jasmine kebingungan,
"Mas kenapa kita kesini"
__ADS_1
"Sudah jangan banyak bicara cepat ikut aku" Dennis menarik tangan Jasmine untuk mengikutinya.