
Setelah mengirim pesan kepada Viola, akhirnya keduanya setuju untuk bertemu di gerbang keluar Akademi Golden Nimbus satu jam kemudian.
Menyelesaikan semuanya, Rein segera mengambil peralatan mandinya dan menuju ke kamar mandi Asrama.
Setelah mandi, Rein langsung mengenakan pakaian kasual, baju berwarna cokelat dan celana jeans hitam.
Dia mengambil tas dan memasukkan baju ganti dan barang-barang yang dia perlukan. Dia berencana untuk tinggal selama beberapa hari di panti asuhan.
Menyelesaikan semuanya, dia melihat jam di hp nya, dan masih memiliki banyak waktu.
Karena itu, dia membuka menu penyimpanan, dan di sana, Teknik Tubuh Siluman telah disimpan ke dalam penyimpan.
Tanpa di sangka, Rein ternyata bisa membaca isi konten buku tanpa harus mengeluarkan benda fisiknya ke dunia nyata.
Seperti itulah Rein membaca isi konten Teknik Tubuh Siluman secara perlahan dengan bantuan antarmuka sistem.
Sedang asik membaca buku, alarm handphone berbunyi.
Sebelumnya Rein menetapkan alarm untuk mengingatkan dia untuk pergi ke Gerbang keluar Akademi Golden Nimbus dan bertemu dengan Viola.
Menutup antarmuka sistem, Rein mengantongi Handphonenya di saku celananya, dan membawa tas hitam yang berisi keperluannya di sana.
Akademi Golden Nimbus memiliki ukuran yang sangat luas, dan Rein membutuhkan waktu 15 menit hanya untuk sampai di Gerbang Akademi dengan berjalan kaki.
Dia mengirim pesan kepada Viola bahwa dia sudah sampai.
Dan seperti yang diharapkan, namanya seorang wanita dasarnya sama saja, Rein menunggu 30 menit lagi sebelum Viola datang ke Gerbang Akademi.
Dengan perasaan bersalah, Viola meminta maaf, dan Rein tidak mempermasalahkannya dan menuju ke Stasiun kereta terdekat bersama Viola.
Menggunakan kereta, mereka berdua bisa sampai ke tempat tujuan dalam waktu 10 menit.
Perjalanan berjalan lancar, tidak ada masalah yang terjadi selama perjalanan mereka.
Keluar dari Stasiun kereta, Rein dan Viola bergegas ke pasar jalanan yang menjual banyak hal dan beraneka ragam.
"Kamu akan membeli apa?" Viola bertanya pada Rein saat berjalan berdampingan dengannya.
"Apa lagi? Kakek Sion menyukai Martabak, paling-paling aku membelikannya martabak. Dan untuk hal lainnya, aku akan membeli beberapa makanan kesukaan anak-anak di panti asuhan... Benar, Melina mengatakan kepadaku bahwa dia suka Kue manis yang sedang populer? Uhhh... Aku tidak mengetahui Kue apa yang dia bicarakan, apakah kamu tahu?" Rein menjelaskan apa yang ingin dia beli dan bertanya pada Viola.
Viola memegang dagunya dan berpikir, dia juga tidak begitu akrab dengan trend yang terjadi di internet, jadi dia hanya menjawab : "Aku akan bertanya pada teman-temanku jika seperti itu."
"Terima kasih." Rein mengucapkan terimakasih.
Kakek Sion yang dibicarakan oleh Rein adalah pemilik panti asuhan. Di masa lalu, Kakek Sion adalah Tentara garis depan yang melawan musuh di dunia luar. Namun kecelakaan terjadi dan mengharuskannya pensiun dari ketentaraan dan menciptakan panti asuhan untuk mengasuh anak-anak yang tidak memiliki orang tua dan kerabat.
Dan Melina adalah adik Rein... Sebenarnya Melina bukan adik kandung Rein, namun hubungan keduanya sangat dekat seperti adik dan kakak, dan seperti itu saja hubungan adik dan kakak antara keduanya terjadi secara alami.
__ADS_1
Segera Rein dan Viola membeli semua yang mereka butuhkan, dan tangan mereka penuh dengan Tas belanjaan.
Namun yang tidak Rein harapkan adalah, Viola membeli Bubble Magic Gum!
Bubble Magic Gum adalah sebuah permen pada umumnya. Namun permen itu memiliki energi Spiritual yang lembut dan bisa dikonsumsi oleh manusia biasa.
Saat seseorang memakan Bubble Magic Gum, energi Spiritual yang tersimpan bisa mereka alirkan keluar dan bisa mengeluarkan pemandangan yang mirip dengan Teknik Spiritual.
Jadi dengan Bubble Magic Gum, anak-anak yang memakannya bisa mengeluarkan teknik magis dan ajaib! Tentu saja itu hanya untuk pertunjukan dan tidak memiliki kekuatan yang nyata.
Dan Harga Bubble Magic Gum sangat mahal! Rein khawatir dia tidak akan mampu membeli satu kantong Bubble Magic Gum dengan tabungannya saat ini.
Membawa semua barang belanjaan di tangan mereka, keduanya segera menuju ke panti asuhan.
Dengan kekuatan mereka saat ini, membawa barang belanjaan yang banyak tidak melelahkan sedikitpun.
Menghabiskan waktu 10 menit berjalan kaki, akhirnya Rein dan Viola sampai di gerbang panti asuhan.
"Eh? Nak Rein dan Nak Viola datang berkunjung? Selamat datang!"
Penjaga gerbang segera mengenali keduanya dan menyambut Rein dan Viola.
Rein tersenyum kecil dan menjawab : "Tahun lalu, aku hanya datang ke sini sekali. Jadi sekarang aku memutuskan untuk sering datang ke sini di masa depan."
Penjaga gerbang tersenyum dan berkata : "Bertahan di dalam Akademi cukup sulit, tidak perlu terbebani jika kamu tidak memiliki waktu untuk datang ke sini. Di masa depan, saat kamu sudah sukses dan menjadi orang besar, tidak terlambat untuk berkunjung ke sini lagi."
Segera penjaga gerbang membukakan pintu gerbang bagi keduanya, Rein dan Viola segera masuk ke dalam panti asuhan.
Memasuki panti asuhan, Rein melihat tempat yang akrab di depan matanya.
Rerumputan hijau, taman bermain anak-anak, berbagai meja dan kursi yang berada di atas rerumputan hijau yang dikhususkan untuk orang dewasa menjaga anak-anak. Tanpa disadari Rein tersenyum kecil melihat pemandangan ini.
"Kakak!"
Tiba-tiba suara gadis kecil terdengar di telinga Rein dan Viola.
Mereka berdua menoleh, dan melihat gadis kecil yang berusia sekitar 13 atau 14 tahun yang berlari ke arah mereka.
"Halo, Meli... Ukh!!!"
Sebelum Rein menyebutkan namanya, Melina langsung bergegas dan melompat memeluk Rein, dan tanpa sengaja, lutut Melina menyerang perutnya dengan keras dan membuatnya agak terkejut.
Walaupun dia kuat saat ini, bukan berarti dia bisa mengabaikan pukulan yang mengenai bagian Vitalnya! Apalagi Melina sudah berada di level Beyond Mortal Stage 1 saat Rein mengunjungi tempat ini tahun lalu. Bakat Kultivasi Melina jauh lebih baik daripada dirinya sendiri.
"Kamu menyakiti kakakmu." Viola tersenyum masam saat melihat Melina yang bersemangat menghampiri Rein.
"Eh? Apakah itu benar? Ah, lupakan! Bukankah kakak Rein itu kuat!?" Melina merasa bersalah untuk sesaat, namun dia segera ingat bahwa Rein pernah berkata padanya bahwa dia adalah orang yang kuat, jadi rasa bersalahnya hilang dalam sekejap.
__ADS_1
Rein hanya bisa tersenyum masam dan membiarkan Melina melakukan sesuatu sesukanya.
Akhirnya setelah Melina puas, dia melepaskan Rein dan bertanya padanya tentang kehidupannya di Akademi Golden Nimbus.
"Bagaimana keadaanku di dalam akademi? Hmm... Itu baik-baik saja, dan beberapa waktu yang lalu, aku membuat ketenaran kecil di dalam Akademi. Bisa dikatakan aku cukup terkenal di sana, dan tidak kalah dengan Kakak Viola." Rein menjawab dan merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Apakah itu benar, kakak Viola?" Mata Melina segera bersinar terang dan bertanya pada Viola untuk memverifikasi kata-kata Rein.
"Itu benar, kakakmu melakukan hal yang baik dan sangat keren! Apakah kamu ingin mendengarkan kisahnya?" Viola berkata sambil tersenyum.
Segera mata Melina menjadi cerah, dan setuju untuk mendengarkan cerita Viola.
Rein menggelengkan kepalanya sedikit.
Dia memberikan banyak bingkisan kepada Melina untuk membagikannya dengan anak-anak yang lain, dan tentu saja hadiah khusus untuk Melina sendiri.
Dengan itu, Viola lah yang menemani Melina untuk berbagi dengan anak-anak yang lain.
Memegang bingkisan terakhir yang di tangannya, Rein pergi ke tempat lain, dan datang ke sebuah meja dan kursi yang saat ini sedang di duduki oleh pria paruh baya yang memiliki warna rambut putih dan hitam yang tercampur.
Menghampiri pria paruh baya itu, Rein membungkuk sedikit dan berkata sambil tersenyum
"Kakek Sion, maaf aku jarang datang ke sini setelah masuk Akademi."
Kakek Sion melihat Rein dari atas ke bawah dengan pandangan lembut sebelum berkata dengan senyum di wajahnya : "Aku tahu kesulitan bertahan di dalam Akademi. Kamu tidak perlu mempermasalahkan hal kecil seperti ini."
Rein tersenyum dan mengambil tempat duduk dan memberikan bingkisan yang ada di tangannya : "Seperi biasa, kesukaan Kakek Sion."
Kakek Sion mengangguk berulang kali : "Jika kamu sudah menjadi orang besar, jangan lupa membawakan aku Martabak Spiritual yang trending beberapa tahun yang lalu."
"Tentu, tentu. Martabak adalah nomor satu bagi Kakek Sion." Rein menjawab sambil tersenyum.
Membuka bingkisan yang dibawakan oleh Rein dan memakan satu potong martabak, Kakek Sion menutup matanya seolah meresapi rasa martabak yang dia makan.
Beberapa saat kemudian, Kakek Sion membuka matanya perlahan.
Dia menatap Rein yang ada di depannya dengan lebih teliti.
Di tatap oleh Kakek Sion, Rein merasa tidak nyaman. Dia ingin bertanya apakah ada cabai di giginya?
Namun sebelum dia bertanya, Kakek Sion membuka mulutnya.
"Kultivasimu... Memiliki peningkatan yang tidak buruk."
Kakek Sion mengatakan kalimat itu secara perlahan, dan membuat Rein terkejut.
Apakah Kakek Sion bisa melihatnya dengan mudah hanya dengan menatapnya?
__ADS_1