Sistem Simulasi

Sistem Simulasi
Chapter 35


__ADS_3

Sosok pria muda itu tentu saja Adoro, dia tidak segan-segan untuk menunjukkan auranya kepada Rein dan David.


Rein dengan tenang memandang Adoro tanpa merasa tertindas dengan auranya.


"Hm? Menarik." Adoro tersenyum kecil saat melihat Rein bisa berdiri dengan tenang.


Jika itu murid jenius lainnya, Adoro merasa itu adalah hal yang normal, tapi Rein yang adalah seniornya hanya murid biasa.


Seorang guru datang kepadanya untuk berdebat dengan Rein untuk memberikannya pengalaman.


Adoro juga cukup tertarik dengan seniornya Rein, jadi dia mengeluarkan auranya yang menindas kepada Rein dan ingin melihat reaksinya.


Tanpa di sangka reaksi yang diberikannya agak mengejutkan Adoro sendiri.


"Aku Adoro, murid baru akademi Golden Nimbus. Salam, Kakak Senior." Adoro menganggukkan kepalanya sedikit saat menarik auranya kembali.


Walaupun Adoro merasa bangga pada dirinya sendiri, dia tetap menghormati generasi yang lebih tua dan memanggil Rein dan David sebagai senior.


"Junior Adoro memang seperti yang dikatakan rumor. Seperti seekor Naga yang tak terbendung." Rein tersenyum, dia agak merasa senang saat melihat sikap Adoro yang rendah hati dengan memanggilnya Senior.


"Baiklah, karena kita berdua sudah ada di sini, bagaimana jika kita langsung menuju ke ruangan duel? Nona, tolong siapkan satu ruangan duel untuk kami berdua." Adoro segera berkata kepada petugas wanita yang menjaga meja resepsionis.


"Baik." Wanita itu mengangguk dan segera melihat layar laptopnya untuk melihat ruangan duel mana yang kosong.


Tidak lama kemudian, Adoro mendapatkan nomor ruangan duel yang kosong.


Ruangan duel terletak di beberapa daerah Akademi, dan salah satunya kebetulan berada di dekat Dojo murid Jenius akademi.


Adoro mengajak Rein dan David menuju ruangan duel. Walaupun David tidak ada hubungannya dengan ini, Adoro tidak sungkan membawa David untuk menonton pertempuran mereka.


Memasuki Ruangan Duel, Rein dan Adoro segera bersiap dan menggunakan pelindung di tubuh mereka berdua dan mengambil senjata kayu yang telah disediakan di dalam ruangan duel.


Rein mengambil pedang satu tangan, sedangkan Adoro mengambil sebuah tombak.


Tombak yang digunakan Adoro memiliki ujung yang tumpul, teknik tombak lebih fokus pada tusukan, walaupun ujungnya tumpul, jika mau, Adoro masih mampu menusuk lawan seolah-olah ujung tombaknya adalah benda tajam.


Kekuatan Adoro yang paling mengerikan adalah teknik tombaknya, gelar jenius bukan hanya tentang level kultivasi, tapi juga kekuatan tempur seseorang.


Akhirnya Rein berdiri berhadapan dengan Adoro, di sisi lain, David menonton dari samping.


"Bagaimana kita harus memulai?" Adoro bertanya pada Rein.


"Aku juga tidak yakin, bagaimana jika kita bertanding terlebih dahulu sebelum memutuskan hal lainnya?" Rein menjawab.


"Tentu." Adoro tersenyum.


Rein mengangkat pedang di tangan kanannya dan berkata : "Bersiaplah, aku akan menyerang."

__ADS_1


Adoro mengangguk.


Segera Rein bergerak maju ke depan, dan dengan cepat menuju Adoro.


Adoro menyipitkan matanya dan memegang tombak di tangannya dengan kuat, bersiap untuk menerima serangan Rein.


Saat Rein mendekati Adoro, dia segera mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menyerang.


Melihat Rein akan menyerang, Adoro segera mempersiapkan langkan defensif, namun tiba-tiba, sosok Rein yang ada di depannya dalam posisi menyerang tiba-tiba menghilang.


Adoro segera merasakan ancaman dari sisi kirinya, dan segera melambaikan tombaknya ke samping dan menangkis pedang kayu Rein yang dalam posisi menyerang.


Boom!


Serangan Rein di tangkis dengan mudah oleh Adoro, dan Rein segera mundur ke belakang untuk menghindari jangkauan serangan tombak Adoro.


Melawan pengguna tombak cukup sulit dan menyusahkan, karena jangkauan serangan tombak jauh lebih luas daripada senjata lainnya.


"Tidak buruk." Adoro tersenyum.


"Reaksi mu cukup cepat." Rein menghela nafas : "Itu hanya salah satu trik yang aku miliki, coba yang lain!"


Rein segera bergerak lagi, tapi tidak seperti sebelumnya, dia berputar mengelilingi Adoro, dan mencoba mencari celahnya.


Adoro menyipitkan matanya, gerakan Rein bisa dikatakan cukup mahir, namun tidak memiliki level yang sama seperti jenius lainnya. Tapi Adoro merasa walaupun gerakan Rein tidak begitu berkualitas tinggi seperti jenius lainnya, gerakan Rein sendiri sepertinya sangat berkordinasi dengan alami sesuai dengan tubuhnya.


Ini aneh, dia tidak terlihat begitu mahir, tapi kenapa aku merasa gerakannya seolah-olah sempurna? Adoro berpikir dengan bingung.


David yang menonton dari samping kagum dengan Adoro, selama ini hanya Rein yang menyerang, dan Adoro hanya bertahan dan memblokir semua serangan Rein dengan indah!


"Aku akan menyerang!" Adoro mengingatkan Rein.


Rein menyipitkan matanya saat gerakan kakinya jauh lebih cepat dan mencoba untuk menjauh dari jangkauan serangan tombak Adoro.


Saat Adoro menyerang dengan tombaknya, Rein melihat sosok Adoro dengan cepat mendekati tubuhnya, dan tubuhnya dengan tepat berada dalam jangkauan serangan tombak Adoro.


Melihat tombak tumpul yang menyerang tubuhnya, Rein melihat serangan yang datang itu dengan tenang, menghitung serangan lawan, Rein menggunakan pedangnya untuk menyerang bagian samping tombak untuk melemahkan serangannya.


Boom!


Tombak mengenai tubuh Rein dan membuatnya terlempar ke belakang, tapi Rein mampu membawa tubuhnya mendarat di lantai dengan kedua kakinya.


"Tidak buruk, serangan tombak memang sulit di blokir, apalagi oleh senjata pedang. Pilihanmu untuk melemahkan serangan tombak bisa dikatakan pilihan yang bijak." Adoro memuji Rein.


Rein menggelengkan kepalanya sedikit : "Serangan tombak mu mengenai tubuhku. Jika ini pertarungan nyata, aku sudah mengalami cedera."


Serangan tombak memang sangat sulit untuk diblokir karena inti dari senjata tombak adalah menusuk. Bahkan jika itu di blokir, tubuhnya masih akan terkena ledakan kekuatan tombak dan menyebabkan tubuhnya terlempar ke belakang.

__ADS_1


Adoro memang seorang jenius, jika ini pertarungan nyata, Rein belum memiliki solusi bagaimana untuk menghadapinya. Teknik tombaknya seperti Naga, itu tidak terbendung dan musuh hanya bisa menerima serangan tombak Adoro.


"Sekali lagi." Rein tidak merasa tertekan, namun semangat juangnya semakin membara!


Ini adalah latihan sederhana, paling-paling tubuhnya akan terluka, selagi dia tidak mati, dia tidak takut.


Lagipula dia sudah mengalami kematian dua kali akibat Simulasi Individu Viola dan Gavi.


Segera pertarungan kembali terjadi.


Tidak seperti sebelumnya, Rein tidak lagi mengelilingi Adoro, tapi secara langsung berhadapan dengan Adoro.


Serangan Adoro sebelumnya sangat kuat, tapi saat berhadapan langsung dengannya, Rein merasakan serangan tombak Adoro tidak sekuat sebelumnya.


Akhirnya dia sadar bahwa serangan Adoro sebelumnya membutuhkan waktu untuk mengumpulkan momentum dan kesempatan untuk mengeluarkan kekuatan yang besar.


Tubuh Rein berulang kali di serang oleh tombak Adoro, dan pedangnya sampai sekarang tidak mampu mengenai tubuh Adoro sedikitpun.


Secara bertahap, Rein segera menggunakan Esensi River Children. Tubuhnya segera merasakan sungai yang mengalir dari nadinya, dan tubuhnya perlahan menjadi lebih kuat.


Suatu ketika, ketika Adoro menyerang bahu kanannya, Rein segera mendapatkan suatu perasaan.


Sekarang!


Rein segera memutar tubuhnya ke samping dan menghindari tombak Adoro, dan saat tubuhnya berputar, Rein menggunakan Teknik Pedang Siluman dan menyerang Adoro saat tubuhnya berputar 360 derajat.


Boom!


Tubuh Adoro terkena serangan pedang Rein, dan membuat tubuhnya terlempar ke samping.


Saat berada di situasi kritis sebelum pedang Rein menyerangnya, Adoro telah menggunakan ujung tombak lainnya untuk memblokir serangan pedang Rein dan mengurangi dampak serangannya.


"Tidak buruk." Adoro tersenyum. Namun di dalam hatinya, dia cukup terkejut!


Ini adalah pertama kalinya serangan Rein mengenai tubuhnya di bahu kanannya, dan kekuatannya bukan omong kosong!


Adoro ingat perasaan saat pedang Rein menyerang tubuhnya, dia samar-samar merasakan hal yang sama seperti Teknik tombaknya dari serangan Rein, yaitu tak terbendung!


Adoro merasakan bahu kanannya agak berdenyut kesakitan saat ini.


Rein tersenyum dan tidak menjawab. Segera dia menyerang Adoro lagi.


Pertarungan terus berlanjut.


David yang menonton dari samping merasakan perbedaan jenius dan murid biasa, di depan matanya, setiap serangan Rein di blokir dengan mudah oleh Adoro, dan situasi pertempuran sepenuhnya berada dalam kendali Adoro.


Tapi Adoro berpikir hal lain.

__ADS_1


Saat pertempuran terus berlanjut, walaupun dia awalnya memegang kendali pertempuran, semakin lama mereka bertempur, Adoro merasa bahwa dia semakin tenggelam dalam ritme pertarungan Rein.


Walaupun dia masih bisa dengan mudah memblokir serangan Rein, semakin lama mereka bertarung, Adoro memiliki perasaan bahwa dia tidak bisa lagi memastikan kemenangannya!


__ADS_2