Sistem Simulasi

Sistem Simulasi
Chapter 37


__ADS_3

Pertarungan terus berlanjut selama lima menit tanpa hasil yang jelas.


Gavi dengan jelas menekan Rein dari waktu ke waktu, tapi serangannya tidak mampu melukai Rein dan hanya membuatnya mundur.


Satu persatu penonton akhirnya sadar bahwa Rein tidak sederhana menghindar. Bertahan selama 5 menit dalam serangan beruntun seperti itu tidak sederhana sama sekali.


Di atap bangunan sekolah, tidak jauh dari platform duel, terlihat dua sosok pria Dewasa yang sedang menonton pertempuran Gavi dan Rein.


Salah satunya adalah Guru Suni yang membantu Rein sebelumnya, dan di sampingnya adalah kepala sekolah Akademi Golden Nimbus.


"Bagaimana menurutmu?" Kepala Sekolah bertanya pada Guru Suni.


"Walaupun anak itu tidak begitu menonjol dalam pertarungan ini, tapi jika dilihat dari bagaimana dia mengendalikan jalan pertempuran selama 5 menit ini, cukup layak untuk memberinya perlakuan yang sama seperti Jenius." Guru Suni menjawab sambil memegang dagunya dan tersenyum.


"Apa yang dikatakan Adoro tentang anak itu?" Kepala Sekolah bertanya lagi.


"Adoro sebelumnya mengatakan kepadaku bahwa dia juga tidak yakin bagaimana harus menilai Rein. Dan setelah dia berlatih dengan Rein beberapa hari, walaupun Rein tidak mampu melawan Adoro secara langsung, dia semakin mahir dan bertahan jauh lebih lama saat melawan Adoro." Guru Suni menjawab.


Setelah memikirkannya selama beberapa saat, Guru Suni menambahkan : "Adoro menilai murid Rein memiliki bakat pertempuran yang sangat baik, dia dengan cepat belajar cara menghadapi serangan musuh."


Kepala sekolah diam dan tidak segera menjawab.


Alasan Guru Suni meminta Adoro untuk berlatih dengan Rein bukan hanya untuk membantunya, tapi itu juga untuk menguji Rein sendiri. Kebetulan terdapat satu slot kosong untuk menuju suatu tempat yang akan membantu Murid Akademi meningkatkan level kultivasi mereka.


Melihat bagaimana Rein berkembang selama beberapa bulan ini, pihak sekolah memutuskan untuk memberinya kesempatan.


"Dia berlatih Teknik Siluman kan? Apa bentuk sejati dari tubuh Silumannya?" Kepala Sekolah bertanya.


"Aku tidak begitu yakin tentang bentuk sejatinya. Jika dilihat dari luar, bentuk sejatinya memiliki kemiripan dengan Bentuk Siluman, tapi ada banyak perbedaan mendasar antara keduanya." Guru Suni menjawab.


"Tubuh Siluman hanya nama, dan salah satu bentuk terkuat adalah Tubuh Siluman. Tapi selama beberapa ratus tahun ini, banyak orang yang memiliki bentuk sejati yang berbeda, bahkan sangat menjauh dari Esensi Siluman.


"Dari luar, dia memang terlihat seperti memiliki bentuk sejati Tubuh Siluman, tapi saat dia bergerak, banyak perbedaan dengan Tubuh Siluman yang kita ketahui. Kemungkinan besar itu adalah bentuk sejati baru yang dia temukan." Kepala sekolah berkata dengan lembut.


Bentuk Sejati Siluman sangat tidak cocok untuk berhadapan satu lawan satu dengan musuh, apalagi jika musuh sudah mengunci tubuhnya. Efek Siluman sangat berkurang.


Tapi Rein berbeda, dari luar, dia memang terlihat seperti memiliki Bentuk Sejati Siluman, yang menyembunyikan taringnya di kegelapan. Namun saat Rein bertarung, ciri-ciri Silumannya tidak terlihat.


Ciri-ciri Tubuh Sejati Siluman adalah setiap serangan yang dikeluarkan akan memiliki kekuatan yang besar, seolah-olah sebuah Bom telah meledak saat Rein meletakkan pedangnya di tubuh musuh.


Namun Serangan Rein sangat terkendali, tidak ada ledakan kekuatan seperti Siluman, dan Rein sepertinya tenggelam dalam situasi pertempuran 1v1 yang sangat tidak cocok dengan Tubuh Siluman.


"Namun, ada sesuatu yang unik dari Bentuk Sejati anak ini. Aku merasa aura yang keluar dari tubuhnya telah menyelimuti lawan dan membantunya untuk memahami kekuatan serangan lawan dan mampu menghindarinya tanpa terluka." Kepala Sekolah berkata.


Kembali ke Platform Duel.


Rein dan Gavi masih bertarung, seperti seekor kucing dan tikus.


Pada awalnya Gavi percaya diri atas kemenangannya, tapi selama pertempuran ini, dia tidak mampu melukai Rein sedikitpun, dia merasa Rein seperti seekor kecoa yang pandai berlari dan bertahan hidup.


"Kamu akan terus berlari seperti tikus!? Jika kamu percaya diri menghindari seranganku, coba hindari yang satu ini!" Gavi berkata dengan kesal, dan dalam sekejap, pedang di tangannya segera di selimuti oleh api merah.


Melihat api merah yang menyelimuti pedang Gavi, Rein mengerutkan kening.

__ADS_1


Itu adalah Teknik Spiritual!


Hanya seorang True Master atau seorang Jenius yang mampu mengeluarkan Teknik Magis seperti itu di level Beyond Mortal.


Api yang menyelimuti pedang di tangan Gavi membuat kecepatan serangannya dan kekuatannya meningkat, bahkan jarak serangan pedang Gavi akan jauh lebih luas.


Dengan ini, Rein tidak yakin untuk terus menghindari serangan Gavi selanjutnya karena kecepatan dan jangkauan serangannya telah meluas.


"Mati!"


Gavi dengan cepat sampai di depan Rein dan melambaikan pedang di tangannya saat ekor api berkobar mengikuti di belakang pedangnya.


"Tidak ada pilihan lain." Rein bergumam dengan lembut, dan menyerang serangan pedang api Gavi dengan pedangnya.


Boom!


Segera ledakan terjadi saat kedua pedang saling bertabrakan dan mengakibatkan debu dan batu kerikil di Platform duel berterbangan keluar.


Untuk pertama kalinya, Rein berhasil memblokir serangan penuh Gavi dan membuat pedangnya berhenti!


Kepala Sekolah yang menonton pertempuran menyipitkan matanya, dan melihat pedang Rein.


Saat ini, bilah tajam pedang Rein di tutupi oleh energi cyan yang redup.


Energi Cyan di pedangnya sangat redup dan lemah, seolah-olah akan menghilang di detik berikutnya. Tidak seperti pedang Gavi yang diselimuti api merah yang membara dan tidak akan pernah redup.


"Dia..." Guru Suni menyadari bahwa ada warna Cyan redup yang menyelimuti pedang Rein.


"Ya, dia menggunakan Teknik Spiritual. Walaupun kekuatan Spiritualnya lemah dan tidak memenuhi standar bawah, tapi itu adalah fakta bahwa dia menggunakan Teknik Spiritual." Kepala Sekolah mengangguk dan segera mengkonfirmasi hal itu.


Dia menatap Rein dengan tatapan terkejut di matanya.


"Jangan menatapku dengan kaget, walaupun aku berhasil menahan serangan mu sekarang, aku memiliki kekuatan yang terbatas dan tidak bisa menggunakannya berulang kali." Rein tersenyum kecil, setelah mengatakan itu, dia segera melompat mundur ke belakang, dan menjauh dari Gavi.


Apa yang dia katakan sebelumnya adalah kebenaran, dia memiliki kekuatan spiritual tapi sangat kecil dan terbatas. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan Spiritual seperti Jenius pada umumnya.


Dia hanya bisa menggunakan kekuatan Spiritual dalam waktu dan kondisi yang tepat.


Walaupun dia mengalahkan Gavi di Simulasi Individu, tapi Simulasi tetaplah Simulasi. Tindakan Gavi di Simulasi dan di Dunia nyata berbeda.


Di Dunia Simulasi, Gavi langsung menggunakan serangan yang kuat, dan Rein menghindari setiap serangan Gavi berulang kali, bertujuan untuk menguras energinya.


Tapi di Dunia nyata, Gavi hanya menggunakan serangan Normal, yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menguras energinya.


Walaupun skripnya berbeda dari Simulasi, tapi Rein masih yakin akan kemenangannya.


Dia telah berhasil membuang banyak energi Gavi sebelumnya, dan dia saat ini masih memiliki kekuatan Spiritual yang cukup dan jauh lebih banyak daripada di Simulasi!


"Aku meremehkan mu, tapi kemenangan tetap ada di tanganku!" Gavi berkata dengan percaya diri. Kekuatan spiritual di tubuhnya melonjak dengan ganas, dan api merah yang menyelimuti pedangnya semakin kuat dan ganas.


Gavi melaju ke depan dengan cepat, menuju Rein.


Tanpa di sangka, tidak seperti sebelumnya, Rein tidak menjaga jarak saat ini, tapi dia juga maju dan langsung berhadapan dengan Gavi.

__ADS_1


"Mati!"


Saat Rein berada dalam jarak 5 meter darinya, Gavi menebas pedangnya ke depan dan membuat serangan energi api menyerang ke depan, menuju ke tempat Rein berada.


Sayatan api dengan cepat menghampiri Rein, menggunakan kekuatan spiritualnya, Rein melapisi kaki dan tangannya menggunakan kekuatan Spiritual.


Rein membawa pedangnya ke depan, dan memblokir serangan api Gavi saat pedangnya diselimuti dengan cahaya Cyan.


Tsing!


Syuuuuu ~


Rein membelah serangan Api menjadi dua, saat dua bilah api melewati kedua sisi tubuhnya.


Dengan kekuatan Spiritual yang menyelimuti kakinya, Rein segera bergerak dengan cepat menghampiri Gavi dalam sekejap.


Melihat Rein datang menghampirinya, Gavi menyeringai.


"Ledakan Api!"


Api yang menyelimuti pedang di tangan Gavi semakin berkobar, dan menenggelamkan Rein yang datang mendekatinya.


"Sword River : Flow."


Rein berkata dengan lembut saat Energi spiritual di kedua tangannya bergegas naik dan menyelimuti pedangnya.


Ting!


Rein menyerang Pedang Gavi yang berkobar dengan api dengan pedangnya, dan dalam sekejap, api yang menyelimuti pedang Gavi menghilang.


Gavi terkejut saat melihat api di pedangnya tiba-tiba menghilang. Namun dia tidak bisa memikirkan kenapa hal seperti itu bisa terjadi karena Rein sudah berdiri tepat di depannya.


"River : Explosion."


Rein bergumam dengan lembut, dan membawa gagang pedangnya untuk menyerang dada Gavi dan menciptakan ledakan energi dari ujung gagang pedangnya!


Boom!


Gagang pedang Rein menyerang dada lawan dan membuat Gavi terlempar ke udara saat satu suap darah keluar dari dalam mulutnya.


Gavi merasakan rasa tidak percaya dimatanya saat rasa sakit melanda tubuhnya akibat serangan Rein.


Gedebuk!


Tubuh Gavi jatuh terlentang di lantai Platform duel, pedang di tangannya telah terlempar ke samping, dan dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat ini.


"Selesai."


Rein menghela nafas lega dan menyarungkan kembali pedangnya di pinggangnya.


Semuanya terjadi begitu cepat, tidak bisa mengikuti dengan apa yang terjadi.


David melihat Gavi yang berbaring di lantai platform dan tidak bisa lagi bangun. Dengan perasaan bingung, dia mengatakan satu kalimat dengan mulutnya.

__ADS_1


"Pe-pemenang duel ini adalah... Rein dari Akademi Golden Nimbus!"


Semua orang segera bersorak dan tidak menyangka dengan hasil seperti ini!


__ADS_2