
“Mereka akan lari?”
Viola mengatakan itu tanpa merasa ada yang salah.
“Apa yang membuatmu berpikir mereka akan lari?” Kira menepuk dahinya karena arah pembicaraan ini tidak sesuai dengan perkiraannya.
“Uhh... Maaf, aku takut dengan Babi.” Viola tersenyum malu dan menggaruk kepalanya.
"Aku lupa kamu memiliki ketakutan dengan Babi. Tapi tetap saja, aku mengatakan 'Jika mereka para pria' dan bukan kamu, Viola." Kira menggelengkan kepalanya.
Selagi mereka berdua mengobrol, keduanya sudah sampai di tempat berkumpulnya orang-orang yang menonton Gavi yang berada di luar gerbang Akademi.
Saat Viola datang, kerumunan murid langsung memberikan jalan kepada Viola dan Kira, itu terlihat seperti seseorang membelah lautan dan membentuk jalan daratan.
Setelah Viola datang, Gavi agak tertegun dan melihat sosok cantik Viola yang dia impikan di dalam tidurnya.
Viola dan Kira maju ke depan dan berdiri berhadapan dengan Gavi.
"Kenapa kamu menantang Rein untuk berduel? Bukankah banyak murid lainnya yang jauh lebih layak untuk kamu ajak berduel?" Viola berkata dengan nada tidak senang.
"Viola, kamu harus tahu, jangan tertipu dengan kata-kata manis orang lain. Jika dia tidak memiliki kekuatan, bagaimana dia bisa menjagamu di masa depan? Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa kata-kata manis tidak berarti di dunia ini." Gavi berdiri dengan tegak dengan nada suara penuh kebenaran.
Mendengarkan kata-kata Gavi, Viola memasang wajah heran, apa sih yang dikatakan orang itu?
"Kamu menyukai Viola kan? Jadi kamu ingin mencari masalah dengan Rein dan menunjukkan kekuatanmu kepada Viola?" Kira yang berdiri di samping Viola berkata dengan nada main-main.
"Tidak, aku datang ke sini hanya untuk membuka mata Viola yang telah dibutakan dengan kata-kata manis orang lain." Gavi menggelengkan kepalanya dan masih memiliki citra penuh kebenaran.
Viola menghela nafas dan menggelengkan kepalanya : "Kamu lebih baik pergi dari sini daripada membuat masalah yang tidak perlu. Jika tidak, aku akan menantangmu untuk berduel, aku tidak akan menahan diri walaupun kamu adalah murid baru."
Mendengar kata-kata Viola, Gavi agak tertegun, dia berpikir apakah Rein benar-benar sangat mampu sampai membuat Viola melindunginya?
Dia adalah murid baru, kecepatan kultivasi seseorang akan sangat meningkat ketika usia mereka menginjak usia 15 tahun. Jadi Gavi saat ini berada di level Beyond Mortal Stage-8, tapi Viola berbeda. Dia adalah murid tahun kedua, dan karena dia jenius, kultivasinya sudah berada di level True Master.
Sehebat apapun dia, tidak mungkin untuk mengalahkan seorang True Master! Dia tidak akan berani untuk menerima tantangan dari Viola.
__ADS_1
"Minggir-minggir, pemeran utama telah tiba!"
Tiba-tiba suara seorang pria datang dari belakang mereka, dan Gavi mengangkat kepalanya dan melihat dua pria muda yang berjalan maju menuju ke tempatnya berada.
Orang yang meneriakkan kata-kata itu tentu saja David, dan Rein yang disebut sebagai pemeran utama menutupi wajahnya dengan tangan kanannya karena merasa malu.
Apa-apaan kalimat pembuka yang kamu katakan!? Rein mengeluh di dalam benaknya. Dalam dua kehidupan, ini adalah salah satu kejadian yang paling memalukan yang pernah dia alami!
Pemeran utamanya adalah Rein, tapi David lah yang berada di depan Rein dengan tubuh tegak dan angkuh, dan berhadapan langsung dengan Gavi.
"Kamu Rein? Tidak ada yang luar biasa darimu, entah itu kekuatan atau penampilan, semuanya biasa saja." Gavi berkata dengan nada mengejek, tapi dia mengatakan hal itu kepada David, bukan Rein yang berdiri di belakangnya.
"Terus meremehkan orang lain, aku ingin tahu berapa lama kamu bisa terus sombong!" David juga tidak ingin kalah dan membalas dengan keras.
“…” Rein.
Permisi, apakah kamu yang akan bertarung atau aku? Kenapa kamu menambahkan minyak ke dalam kobaran api!? Rein mengeluh di dalam benaknya.
"Sungguh sombong! Dengan Level Kultivasi Beyond Mortal Stage-5, apa yang membuatmu memiliki keberanian untuk bersikap sombong di hadapanku!?" Gavi marah dengan kata-kata David.
"Dia bukan Rein, aku adalah Rein." Rein melangkah maju di depan David, dan membuat sosok David dihalangi olehnya.
"Kamu Rein?" Gavi mengukur Rein dari atas ke bawah.
Sial! Dia memiliki penampilan yang lumayan... Dan aku tidak bisa melihat level kultivasinya! Bukankah informasi yang aku dapatkan mengatakan bahwa dia hanya murid biasa!? Gavi merasa ragu dengan informasi yang dia dapatkan.
"Kamu di sini." Rein menoleh dan melihat Viola yang tidak jauh di sampingnya dan tersenyum.
"Kenapa kamu datang ke sini?" Viola bertanya dengan ragu, Rein yang dia kenal tidak akan meladeni hal seperti ini.
Walaupun Viola menahan murid Jenius yang ingin menantang Rein, tapi banyak murid biasa juga menantang Rein karena mereka ingin tahu apakah ada hal yang unik dari Rein karena bisa dekat dengannya. Tapi Rein menolak, dan tidak pernah menerima tantangan orang lain karena dia tahu bahwa ini ada hubungannya dengan Viola.
"Yah, lihat saja anak ini. Lagipula aku juga agak bosan terus berlatih di dalam Dojo." Rein berkata.
"Ingat apa yang kamu janjikan sebelumnya, kamu perlu beristirahat setidaknya satu minggu sekali. Dan minggu ini kamu berjanji untuk meluangkan waktu di hari sabtu dan minggu kan?" Viola bertanya.
__ADS_1
"Ya ya, aku tidak lupa. Kita juga perlu mengunjungi panti asuhan lebih sering di masa depan." Rein menjawab.
"Tentu, tapi tidak minggu ini, kita bisa pergi ke sana saat kita memiliki banyak waktu luang. Ada sebuah Restoran yang baru dibuka tidak lama ini, kita akan pergi ke sana untuk mencicipinya." Viola berkata.
"Tidak, bagaimana jika pergi ke tempat lain?" Rein mengusulkan.
Setelah itu, Rein dan Viola mulai mengobrol di antara mereka sendiri, dan mengabaikan Gavi.
David dan lainnya hanya bisa memandang Rein iri karena bisa mengobrol bahagia dengan Viola.
Melihat keduanya mengabaikannya, Gavi merasakan amarah di dalam hatinya!
"Lihat! Dia hanya menggunakan kata-kata manis! Bagaimana kamu bisa ditipu oleh orang rendahan seperti ini!?" Gavi menunjuk Rein dengan jari telunjuknya, dan meneriakkan kata-kata itu kepada Viola.
"Ah! Aku hampir lupa alasan kenapa aku datang ke sini." Rein menggaruk kepalanya dengan malu.
"Tingkat kehadirannya memang hampir transparan dan membuat orang lain mudah mengabaikannya." Viola mengangguk setuju.
Tidak ada yang salah dengan Gavi, tapi kalian berdua yang terlalu asik mengobrol! Orang-orang yang ada disekitarnya memiliki pemikiran ini di dalam benak mereka.
"Aku Van Rein, Murid Tahun Kedua Akademi Golden Nimbus." Rein berhadapan dengan Gavi dan memperkenalkan dirinya sendiri.
"Gavi Rons, keturunan langsung Keluarga Rons, murid baru Akademi Akadia sekaligus murid Jenius." Gavi memperkenalkan dirinya sendiri dengan bangga.
"Aku mendapat kabar bahwa kamu ingin menantangku berduel, apakah itu benar?" Rein bertanya pada Gavi.
"Ya, itu benar. Apakah kamu menerimanya?" Gavi menyeringai kejam.
Walaupun dia tahu bahwa Rein tidak sederhana, tapi perbedaan Jenius dan murid biasa terlalu mencolok. Jadi dia masih percaya diri dengan kekuatannya sendiri.
"Jenius melawan murid biasa, itu tidak adil." Rein menggelengkan kepalanya.
Gavi mengira Rein akan menolak tantangannya dan ingin meremehkannya di depan Viola. Tapi kata-kata Rein selanjutnya memberinya sedikit kejutan.
"Tapi, aku bisa saja menerima tantanganmu jika kamu memenuhi permintaan yang aku sebutkan." Rein tersenyum indah saat mengatakan itu.
__ADS_1