
Keluar dari Lexus LS 500 milik Shila yang hari ini sengaja mengantarnya ke sekolah, Chandra langsung berdiri gamang di ambang gerbang. Wakil kepala sekolah menghampiri istrinya yang masih berada di kursi belakang mobil, menyapa khas basa-basi meski mendapat balasan seadanya.
“Tolong jaga suami saya, ya, Bu!” ujar Shila kemudian, ketika si wakil kepala sekolah memberi jeda pada obrolan mereka.
“Siap, Bu Shila. Siap! Pasti itu mah.” Perempuan berumur itu terkekeh ringan lagi, tampak santai karena tidak menyadari perubahan ekspresi Chandra yang kaku.
Shila lalu memberikan sebuah anggukan beserta senyum simpulnya.
“Saya permisi, Bu. Harus berangkat ke kantor sekarang,” kata Shila pamit.
“Ah, iya, Bu. Silakan, silakan.” Wakil kepala sekolah itu mundur, memberikan ruang untuk mobil mewah tersebut meninggalkan area depan gerbang sekolah.
“Mari, Pak Chandra!” sapa perempuan bernama Lastri itu, seraya memberikan anggukan hormat.
Atas dasar sopan santun, Chandra membalas dengan hal serupa. Meski ia sejujurnya segan, karena ucapan Shila tadi bukan hanya sekadar basa-basi. Perempuan itu benar-benar meminta Lastri untuk mengawasinya, dan sebagai imbalan, Lastri akan dapat bonus tambahan yang setara membeli cash iPhone 13.
Tidak langsung memasuki pekarangan sekolah, Chandra terlebih dahulu mengedarkan pandangan. Mencari-cari sosok yang membuatnya kesulitan tenang semalaman. Sedikit berharap, bekerja baik-baik untuk Mishall bisa membuatnya lebih disiplin. Namun, Chandra seakan tidak diizinkan untuk berharap lebih pada perempuan itu di hari pertamanya berubah lebih baik.
Pria itu melangkah, memasuki pekarangan sekolah mengikuti Lastri yang sudah menghilang dari pandangan. Meski tampak dingin dalam menyapa beberapaapa rekan kerja sesama guru, Chandra sebetulnya sedang berusaha menyembunyikan gusarnya. Dia mungkin tidak akan bisa tenang sebelum bertemu, dan berkomunikasi dengan murid istimewanya.
Barulah, ketika pria itu akan memasuki ruangannya, perempuan yang selalu ia cari-cari tampak memasuki gerbang dengan keadaan lebih baik. Datang setengah jam sebelum jam pelajaran dimulai, dengan penampilan yang lebih terjaga sekarang. Kemarin-kemarin, perempuan itu mungkin hanya menyisir sebentar rambutnya—sudah. Tidak ada merapikan dasi, rok, atau bentuk seragamnya.
Mishall lebih bercahaya pagi ini.
Ketika pandangan mereka bertemu—Mishall tanpa sengaja melarikan tatapannya ke lantai dua gedung sekolah bagian tengah, Chandra tersenyum tipis. Namun, balasan Mishall tidak sebaik yang diharapkan. Gadis itu membuang pandangannya ke arah lain, dan melangkah terus dengan bibir terkatuo rapat.
Ada apa?
Chandra merasakan keanehannya, tetapi kesulitan untuk menemui Mishall secara leluasa seperti kemarin. Pria itu harus memutar otak ... mendapatkan ide.
Ah ya!
Secara asal, Chandra memilih salah satu siswa yang kebetulan melewatinya.
“Panggilkan Aksa ke ruangan saya!” titahnya, yang langsung diiyakan oleh siswa tersebut.
Sepertinya, Chandra menemukan cara terbaik agar bisa berkomunikasi dengan Mishall, tanpa ada yang mencurigai.
***
Aksa datang kedua kalinya menemui Chandra ketika jam istirahat tiba. Dia tidak sendiri—membawa tiga siswa-siswi lain untuk menghadap Chandra yang ketika itu tengah memegang buku catatan mengenai perilaku anak didik. Salah satu dari ketiganya, adalah Mishall.
Chandra tersenyum tipis.
__ADS_1
Chandra memberikan izin untuk Aksa meninggalkan keempatnya dalam ruangan. Namun, sebelum ketiga siswa-siswi itu duduk di masing-masing kursi, Lastri mendadak muncul.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu Lastri?” tanya Chandra, tanpa mengalihkan tatap dan senyum basa-basinya pada sang wakil kepala sekolah.
“Tidak papa, Pak Chandra. Silakan lanjutkan, saya tadi mengira ada Pak Hendri di sini.”
Chandra tahu, itu dusta. Perempuan ini hanya ingin mencari-cari bukti kedekatan berlebihan Chandra terhadap perempuan lain, yang kemudian ia akan jual pada Shila. Chandra sudah hafal, meski awal pernikahan, ia cukup kaget dengan fakta ini. Namun, karena sudah mengetahui dan menemani Shila sejak ia dalam masa pemulihan trauma, Chandra membiarkan saja.
Efeknya baru terjadi sekarang. Chandra jadi kesulitan bergerak mengawasi lebih dekat para siswi perempuan, terutama Mishall.
Pria itu menyerahkan kepada ketiganya masing-masing selembar kertas.
“Silakan isi. Usahakan berpencar, jangan ada yang saling mempengaruhi. Isi sesuai realita kalian!” pinta Chandra. Ketika ia sudah diangguki oleh ketiganya, pandangan Chandra mengarah pada Mishall. “Kamu tetap di sini, Mishall Afifah. Ada banyak pertanyaan yang ingin saya ketahui dari kamu. Kalian berdua, silakan cari tempat lain, tetap di ruangan ini!”
“Baik, Pak!” Jawab siswa-siswi itu nyaris bersamaan.
Setelah keduanya menjauh, dan Mishall mulai mengisi data-data di kertas, Chandra membuka laci. Mengeluarkan beberapa lembar kertas untuk ia tulisi.
“Jadi, boleh kamu beritahu saya, alasan kenapa kamu sering telat beberapa pekan kemarin, Mishall?” tanya Chandra, tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas berukuran 5 Senti persegi di depannya.
Sebelum sempat Mishall menjawab, kertas yang ditulisi Chandra diberikan pada perempuan itu. Mishall menengadah pada sang guru sebentar hanya untuk membaca isyarat perintah agar Mishall menjawab pertanyaan lain yang Chandra sampaikan melalui tulisan. Pria itu juga memberi isyarat, agar Mishall menjawabnya di balik kertas.
[ Kamu baik-baik saja kemarin? ]
Begitu pertanyaan pertama di kertas. Mishall tanpa pikir panjang langsung mencatat sesuatu, sambil mulutnya mengutarakan jawaban atas pertanyaan Chandra tadi.
Ah, tentu saja! Chandra melihat ke arah dua siswa-siswi yang ada di ruangan ini. Mishall di sini memerankan siswi kaya raya. Jelas, tidak akan mengatakan sejujurnya bahwa dia bekerja sampai lembur tengah malam.
“Apa game kamu itu bisa menghasilkan sesuatu, Mishall?” tanya Chandra, seraya menerima kertas dari perempuan itu.
[Nggak papa]
Jelas, jawaban di kertas sangat berbanding terbalik dengan yang Chandra rasakan kemarin. Dia menulis lagi di lembaran baru.
“Menghasilkan kesenangan, Pak,” jawab Mishall. “Terpenting kan, saya masih sekolah. Masih mau belajar. Ada kalanya seseorang muak sama hidup, milih pelampiasan lain supaya bisa mengendalikan dirinya.. Syukur-syukur, dapat pengalaman hidup.”
Mata Chandra terangkat untuk melihat gadis di depannya. Itu bukan jawaban bijak, hanya alasan agar penyelewengannya diterima. Bagaimanapun, hal buruk tetap buruk—menurut kamus Chandra.
“Tapi, sepertinya kamu lebih mengutakan game daripada sekolah. Apa kamu tidak merasa ... rugi? Kamu abaikan modal masa depan kamu hanya untuk kesenangan sesaat?” tanya Chandra lagi, seraya menjulurkan kertas pada si siswi.
[Untuk apa kamu minta tolong kalau masih baik-baik saja?]
Mishall segera menulis di atas kertas. “Tidak ada kerugian sama sekali, Pak. Sekolah hanya untuk mendapatkan ijazah. Sementara kesenangan, untuk mewaraskan otak.”
__ADS_1
[Iseng.]
Chandra tahu, jawaban di kertas hanyalah alasan asal. Ada sesuatu yang terjadi pada Mishall kemarin, yang tidak akan Chandra ketahui penyebabnya jika tidak dijawab oleh Mishall, atau Arfan nanti.
“Untuk dapat kesenangan, rasanya tidak butuh waktu banyak, dan tidak perlu mengabaikan sekolah, kan, Mishall?”
[Saya sudah janji sama kamu, untuk bantu kamu. Kalau kamu tidak jujur, bagaimana saya bisa bantu?]
Dua pertanyaan Chandra tersodor nyaris bersamaan.
“Ada waktu untuk serius, ada waktu untuk bermain, Pak. Masa muda waktunya untuk perbanyak bermain, dan waktu serius, nanti ... kalau sudah sedewasa Pak Chandra,” balas Mishall.
[Saya rasa, saya nggak butuh bantuan Pak Chandra lagi.]
Kenapa? Padahal, Mishall sudah menunjukkan perkembangan yang lebih baik kemarin. Perempuan ini malah kembali ke mode lamanya: keras kepala, pembangkang, dan angkuh.
“Apa saya pernah minta izin untuk bantu kamu, Mishall?”
Astaga! Chandra merutuk dirinya sendiri yang kurang fokus, sehingga pertanyaan yang seharusnya diajukan di kertas, malah ia ucapkan.
Beruntungnya, dua siswa-siswi itu tidak terkecoh dengan balasan Chandra, dan masih sibuk mengisi data.
Mishall tanpa izin merampas selembar kertas sebelum Chandra. Ekspresinya tidak terbaca ketika mulai menorehkan tinta di atasnya.
[Selama saya nggak pake seragam, itu di luar tanggung jawab sekolah. Pak Chandra udah melampaui batas antara guru-murid, sadar, nggak?]
Lalu Mishall membalik kertas untuk lanjut memberikan jawabannya.
[Istri Pak Chandra aja masih kacau, sok-sok an ngurusin perempuan lain! Kecuali kalau Pak Chandra mau selingkuh, saya nggak tau.]
Dan, yeah. Mishall bisa memprediksi ekspresi gurunya saat membaca dua pesan di kertas barusan. Meski wajahnya tampak tenang, sikap Chandra yang meremas kertas menunjukkan berapa tingkat kekesalannya.
Sementara Mishall hanya menunjukkan tarikan kedua sudut bibirnya secara paksa.
Chandra tahu. Perempuan ini mengalami sesuatu kemarin, sehingga kembali bebal sekarang. Dari sini juga, Chandra tahu. Menanyakannya pada Mishall tidak akan berakhir memuaskan. Dia harus mencari tahu sendiri mengenai si siswi ini.
“Silakan keluar!” titah Chandra, yang langsung dilakukan oleh Mishall dengan senang hati. “Anara!” panggil Chandra selanjutnya.
...***...
...Kalah Debat, Pak?...
__ADS_1
...Kapan saya pernah menyerah? Saya suka main secara hati-hati. Jadi, waspada, Mishall!...