Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 15


__ADS_3

Memohon pada sahabat bangsatnya adalah hal yang terlalu najis untuk Chandra lakukan, tetapi kali ini, ia melakukannya. Demi Mishall, yang sejak kemarin terasa seperti ancaman baginya.


Dari sejak kemarin sore, hingga pagi ini, jawaban Arfan tetap sama mengecewakannya.


"Please, Bro. Dia itu pinter, kok. Gampang belajarnya. Yakin gue, dia nggak bakalan ngecewain pelanggan khusus lo. Plis ... taro dia sebagai pelayan khusus tamu VVIP, biar dia sibuk, dan nggak perlu berinteraksi sama banyak orang sembarangan. Please, Fan. Masa' hal kecil kayak gini nggak bisa lo bantuin buat gue?" Chandra sungguhan frustrasi, jika perempuan ancamannya itu tidak disibukkan dengan bekerja normal, karena akan ada dua konsekuensi: Mishall kembali ke pekerjaan lamanya, atau ... Mishall akan mengganggu hubungannya bersama Shila.


Chandra tidak bisa mengambil resiko lain.


"Gue nggak bisa, Chandra. Lo ... Lo harusnya lihat gimana dia kemarin! Nggak profesional banget langsung pergi di luar jam kerja. Semua pekerja gue wajib profesional, atau bakalan jadi contoh buruk buat pekerja lainnya kalau gue lembek sama siswi lo itu. Gue ... sorry, kali ini nggak bisa bantu. Soalnya, ini tentang usaha gue yang bisa hancur reputasinya cuman karena ... siswi 'istimewa' lo itu." Sekali lagi, jawaban mengecewakan diutarakan oleh Arfan. "Lagian, lo kenapa harus ribet banget urusin pekerjaannya segala? Lo padahal tinggal laporin dia aja ke kepala sekolah, nanti mereka yang urus Mishall, karena dia masih di bawah umur. Lo nggak seharusnya ikut campur. Dia cuman teman kencan semalam, Chandra. Lo ... Lo kenapa malah baper sama siswi sendiri?"


"Nggak gitu." Chandra mengusap wajahnya frustrasi. "Gue bukannya anggap dia istimewa, apalagi baper-baper segala macam kek yang lo tuduhin. Gue ... sumpah! Serius! Ini murni bantuin dia ... sama yang kayak gue lakuin ke Shila dulu. Gue ... beneran cuman kasihan sama dia." Decak malas Chandra keluar, ketika ia tidak mendapatkan simpati apa pun dari lawan bicaranya via sambungan telepon sekarang ini. "Lo nggak bisa gitu? Jadiin dia percobaan dulu, sebagai pelayan VVIP gitu? Sepekan aja deh, percobaan. Kalau dia beneran gagal, baru deh ... kalau lo mau pecat, silakan."


"Masalahnya gini, ya, Chandra. Gue jelasin sekali lagi." Pria di seberang sambungan juga sama frustrasinya. "Semua pekerja gue ... bukan sembarang orang. Mereka seenggaknya trainee dulu, baru gue pekerjakan, dan semuanya orang terpilih aja. Jadiin Mishall pekerja tanpa pelatihan aja, gue udah dianggap nggak adil, apalagi setelah dia bikin masalah, terus langsung gue naikin statusnya. Lo coba tebak, gimana perasaan pelayan lainnya yang mulai dari nol, terus malah disaingi sama Mishall dengan gampangnya? Lo 'kan guru, harusnya paham situasi gue."


"Arfan ... demi gue ...." Chandra memelas lagi. Matanya tiba-tiba menyipit ketika menyadari seorang perempuan dalam balutan dress ungu datang mendekati ruangannya.


Chandra tidak perlu melihat dua kali, karena aura angkuhnya sudah bisa terbaca jelas.


"Oke. Gue matiin telponnya." Chandra memberitahu, dan tanpa menunggu balasan, segera memenuhi apa yang ia katakan.


Shila datang, dengan senyumnya ketika ia baru saja membuka pintu.


"Telepon dari siapa?" tanya Shila, ketika ia mendekat, dan meletakkan kantongan di atas nakas. Mengisi keranjang buah, dengan yang baru. Menyibukkan diri dengan penataan, sembari menunggu jawaban dari Chandra.


"Arfan. Dia juga tahu keadaan aku. Ngotot mau jenguk, tapi aku larang." Chandra memberitahu, sembari itu meletakkan ponselnya ke atas nakas dengan segenap ketenangan yang ia kumpulkan.


"Oh ... si berisik itu, ya?" Shila menarik sudut bibirnya, setelah ia menukar semua buah di atas nakas.


Shila tipe manusia yang mudah lupa nama seseorang, kecuali penting—dan hampir tidak ada. Ia mudah mengingat seseorang melalui karakternya. Meski baru sekali bertemu dengan sahabat-sahabat Chandra, ia sudah bisa memberikan gelar pada masing-masing mereka.


"Memang seharusnya nggak perlu datang." Shila meletakkan kantongannya yang berisi buah semalam di dekat kaki nakas, untuk ia buang nantinya. "Dia cuman nambah polusi suara di sini."


Chandra menanggapinya dengan kekehan ringan, yang secara perlahan memudar, ketika Shila mengizinkannya meletakkan telapak tangan di pipi perempuan itu. Shila bahkan merasa menikmatinya, dengan memejam perlahan, ketika Chandra mengusapnya menggunakan jempol.


"Aku cinta kamu .... Kamu percaya?" tanya Chandra dengan suara berbisiknya.


Kerutan di kening Shila menandakan ketidaksukaan, dan seketika, Chandra seolah ingin memutar waktu ke beberapa detik sebelumnya. Ia terlalu terpengaruh dengan ucapan Mishall, sampai harus menanyakan hal sensitif ini. Sekarang, bagaimana jika Shila ...?


Namun, tidak terjadi. Shila memperbaiki duduknya, kemudian memegang tangan Chandra di wajahnya, menjaga agar tangan itu tidak menjauh.


"Aku percaya ... untuk sekarang ini. Tapi, aku nggak bisa abai, kalau kamu itu laki-laki. Rentan. Kapan aja ... kamu bisa tertarik ke perempuan mana pun ... dan mulai sekarang, aku sudah siap, kalah itu sampai terjadi." Shila mengakhiri penjelasannya dengan senyum lembut. Padahal, ia baru saja memberikan ancaman secara tersirat.

__ADS_1


Kesiapan yang dimaksud perempuan ini ... hanya pikiran anehnya dan Tuhan yang tahu.


Chandra, secara kaku memberikan anggukan patuhnya. Ketika Shila menyibukkan diri dengan memotong-motong buah, pandangan Chandra dialihkan ke arah pintu. Memejam kuat, agar Mishall sibuk entah melakukan apa pun, supaya tidak muncul di sini selama dirinya sakit.


...***...


Harapan Chandra dikabulkan. Ia sungguhan tidak pernah bertemu dengan Mishall selama 10 hari pemulihan. Sekarang, ketika ia dibantu oleh Shila duduk di sofa ruang tamu, pria itu mengembuskan napasnya dengan lega.


Namun, di sisi lain. Apa perempuan labil itu bisa bertahan di jalan lurus selama Chandra tidak ada?


Chandra jelas ragu dengan pertanyaannya sendiri. Karena, Arfan sendiri tidak mau membantu. Sementara perempuan itu pastinya butuh barang-barang baru, mewah—untuk dipamerkan pada teman-temannya. Nyaris mustahil, Mishall tidak kembali ke dunia lamanya.


Hal itulah, yang membuat napas Chandra berubah berat ketika ia hela, kemudian embuskan.


"Masih sakit?" tanya Shila, ketika ia datang dari dapur membawa sebuah mangkuk putih dan gelas berisi air.


Bubur tersebut diserahkan pada Chandra, karena Shila meletakkan telapak tangannya di perut Chandra. Memeriksa, tetapi ia hanya menemukan perban putih di sana.


"Nggak, Sayang. Cuman kepikiran masalah tugas sekolah." Chandra mulai menyuapkan bubur ke mulutnya. "Kalau terlalu lama nggak masuk, siswa-siswi bermasalah nantinya malah seenak mereka."


"Tapi keadaan kamu?"


"Aku bisa hati-hati, kok. Lagian, minum obat anti nyeri, bisa bantu ngurangi sakitnya. Jadi ... nggak masalah."


"Sayang ...." Chandra melemahkan suara, tetapi tetap memelas. "Mereka belum tentu paham bagaimana metode pengajaran aku, ke siswa-siswi bermasalah itu. Gimana kalau mereka malah ngerusak kepercayaan yang berusaha aku bangun sama siswa-siswi lainnya? Untuk orang bermasalah, mereka butuh seenggaknya seseorang buat ... mengerti mereka, supaya bisa tuntun mereka. Aku nggak bisa percaya ke guru lainnya."


Shila mengangguk kaku dua kali. Ia menipiskan bibir, sembari mengerutkan kening. Seolah sedang berpikir. Chandra buru-buru, mengubah posisinya menghadap Shila, bahkan harus meletakkan mangkuk ke atas meja agar tidak ada yang bisa menghalangi mereka. Ia membingkai wajah Shila dengan telapak tangannya, membuat perempuan itu tidak bisa melarikan pandangan ke arah lain.


"Kamu nggak percaya aku?" tanya Chandra.


"B—bukan. Aku malah ... paham banget, cuman kamu yang bisa dipercaya sama orang-orang bermasalah itu." Shila tersenyum tipis. "Karena aku juga salah satu perempuan bermasalah, yang cuman kamu bisa perbaiki aku. Tapi ... keadaan kamu?"


"Ini nggak papa." Sekali lagi, Chandra meyakinkan. Ia memajukan tubuh, yang membuat Shila mau tidak mau harus merebahkan separuh tubuhnya di sofa panjang tersebut. "Mau aku buktikan?"


Shila mengangguk dua kali, dan langsung menyambut ketika Chandra ******* bibirnya. Bahkan memberikan pelukan erat, ketika dadanya ditimpa oleh tubuh besar di atasnya.


***


Ketika berjalan, Chandra masih harus memegangi perutnya, tetapi ia tetap memaksakan diri meski sakit terus mengiringi langkahnya. Ia lebih banyak menyimak hari ini, memperhatikan beberapa siswa-siswi, demi mencari siswi istimewanya.


Meski sudah berusaha meyakinkan Shila kemarin, sang istri tetap melarang Chandra melakukan hal berat. Ia bisa dengan mudah meminta tolong pada Lastri, untuk memberikan pengawasan. Maka dari itu, si wakil kepala sekolah lebih sering memperhatikannya, daripada siswa-siswi lainnya.

__ADS_1


Chandra tidak acuh—seperti biasa. Ia tetap diam, memperhatikan sekitarnya. Kali ini, berdiri di pinggiran pembatas lantai tiga gedung sekolah, demi bisa memperhatikan lapangan. Ia diam di tempat, menyimak salah seorang perempuan berambut sepunggung, yang asing me-review gadget baru di tangannya. Sebuah smartwatch, entah merek apa.


Hal itu membuat Chandra harus memijit keningnya sendiri. Berpikir, bahwa usahanya kemarin mungkin saja sia-sia.


"Pak Chandra sakit kepala? Duh, ayo istirahat, Pak. Pak Chandra emang seharusnya duduk baik aja, di ruangan. Yang penting, 'kan, isi absensi. Biar dapat gaji aja." Lastri yang datang menghampiri dengan kepanikannya, mendadak diam—berpikir. "Tapi, Pak Chandra nggak butuh gaji, sih." Ia terkikik geli. "Nggak tau. Kok ada manusia sebaik Pak Chandra? Padahal masih sakit, masih ... aja, pikirin anak-anak bermasalah ini."


Mungkin Lastri menyadari bahwa Chandra sudah tidak memijit kening, jadi merasa tenang. Ia turut melirik ke bawah, dan matanya juga tertuju pada Mishall, yang duduk di pinggir lapangan, dikelilingi beberapa gadis lainnya.


"Klop banget gitu, loh, Pak Chandra sama Bu Shila. Sama-sama sempurna di fisik. Pak Chandra kelebihan baik, Bu Shila kelebihan harta." Lastri melanjutkan ucapannya, kemudian menggeleng-geleng disertai decak takjub. "Pak Chandra nggak perlu lah, pikirin mereka-mereka ini. Fokus aja sama Bu Shila, yang utama. Mereka-mereka ini masih punya orang tua, masih bisa diajarkan sama keluarga mereka. Sementara Bu Shila cuman punya Pak Chandra."


Sepanjang penjelasan Lastri, tidak ada satu pun yang didengar oleh Chandra, karena ia malah fokus pada leher Mishall ketika rambut panjang perempuan itu disampirkan seluruhnya ke bahu kanan. Ia meneguk ludah sekali, ketika mendapati lebam di sana. Terlalu kentara. Ia segera berdeham, sampai para perempuan di bawah sana melirik padanya. Chandra memberi isyarat dengan mengusap leher, yang langsung sigap terbaca oleh Mishall.


"Saya permisi dulu, Bu. Mau istirahat."


"Silakan. Silakan, Pak."


Chandra tersenyum tipis. Sebelum melangkah, ia membawa kedua tangannya ke dalam saku, menyembunyikan kepalan yang menguat di sana.


Lihat, bagaimana mudahnya perempuan di bawah umur itu mempengaruhi emosi Chandra dengan mudahnya.



...Hai, ini Es Pucil!...


...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...


...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...


...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...


...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...


...🔺🔺🔺...

__ADS_1


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2