Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 30


__ADS_3

Tubuh Shila diletakkan dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur, seolah Chandra tengah membawa gelas kaca yang mudah pecah. Setelah Shila sudah dalam posisi setengah berbaring, ia meluruskan kaki istrinya untuk ditutupi selimut.


Sejak tadi, setelah amukan Shila di halaman, perempuan ini tidak pernah lagi mengatakan apa pun. Namun sebagai gantinya, untuk sesuatu yang ia tidak suka, Shila akan memberitahu Chandra dengan gigitan di tubuh pria itu. Seperti ketika perempuan itu dipeluk paksa, Shila digendong ke kursi roda, dan saat perempuan itu dipindahkan ke ranjang pasien.


Ada tiga titik luka baru di balik kaus Chandra, tetapi pria itu sama sekali tidak memedulikannya. Fokus Chandra sering terarah di kedua kaki sang istri yang masih tampak mulus. Entah di bagian paha Shila, karena celana panjang longgar milik perempuan ini membatasi pandangan Chandra.


Untuk bertanya lebih lanjut, Chandra masih segan. Satu kesimpulannya sekarang adalah ... Shila tidak bisa berjalan. Efek kecelakaan cukup parah hingga membuat perempuan ini lumpuh, tetapi yang menakjubkan, Shila bisa kembali seperti semula hanya dalam hitungan hari. Atau mungkin ... perempuan ini hanya terlalu hebat dalam menyembunyikan semua rasa sakitnya.


Chandra merotasi tubuh, lalu menarik kursi agar semakin dekat pada ranjang pasien. Ia melipat kedua tangan di samping tubuh Shila. Tidak berani menyentuh lebih, karena perempuan ini masih terus menatapnya tajam.


Lebih dulu, Chandra menarik napas panjang untuk diembuskan secara perlahan. Kebingungannya sulit untuk dihilangkan, apalagi ketika tahu bahwa Shila sudah tahu semuanya. Segalanya ... hingga kesalahan kemarin, perempuan ini juga tahu.


Jadi ... apa ada cara untuk mengelak dari masalah ini sekarang?


Pria itu hanya bisa bersyukur, karena keterbatasan Shila sekarang, perempuan ini tidak langsung menerjangnya. Kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan Shila, sudah tertutup sepenuhnya.


Apa ini ... waktunya untuk melepaskan sang istri yang susah payah ia bantu sembuh?


"Shila ...." Chandra memanggil dengan suara lirih. Ia menatap lembut pada sang istri selama beberapa saat, sebelum melanjutkan, "Apa aku nggak bisa dikasih kesempatan kayak Tristan? Apa yang terjadi kemarin ... semuanya murni kesalahan. Tristan yang kenalin aku sama Mishall, dan aku pikir dia memang sudah rencanakan semuanya. Supaya aku sibuk urus Mishall, karena dia tahu ... aku paling nggak bisa nggak peduli sama orang sekitar aku. Dia bikin hubungan kita rusak, dan ... hasut kamu buat milih dia. Kamu percaya sama aku, Shila, dia ... yang mengatur semua ini."


Namun, bagaimanapun Chandra berusaha menjelaskan, Shila sama sekali tidak mengubah cara pandangnya. Pria itu mendecakkan lidah, merasa frustasi dengan apa yang terjadi sekarang ini.


"Oke ... kalau misal kamu beneran marah sama aku, dan nggak ada kesempatan buat hubungan kita diperbaiki, aku mohon sama kamu ... jangan Tristan. Dia playboy. Dia cuman penasaran sama kamu yang susah didapetin. Dia cuman ... mau main-main sama kamu. Please ... yang satu ini ... dengerin aku, Shila. Jangan ... jangan pilih Tristan. Aku ... beneran sayang sama kamu, dan aku nggak mau hal-hal buruk terjadi sama kamu. Cukup aku ... yang nggak bisa jaga kepercayaan dan buat kamu lagi-lagi kecewa sama sebuah hubungan."


Sekaoi lagi, permohonan panjang Chandra tidak meredupkan aura tajam dari mata Shila. Sekarang, Chandra benar-benar buntu. Ia berdiri, menyugar rambutnya frustasi, dan hal itu menyebabkan luka di sana kembali terbuka. Tetes darah mulai menuruni keningnya, tetapi Chandra hiraukan. Ia hanya mengusap dahinya secara asal.


"Chandra ...." Nada pelan, Shila memanggil suaminya. Ia masih dalam posisi yang sama. Hampir menyerupai patung secara sempurna, andai Shila tidak berbicara atau bernapas. Sementara Chandra, karena merasa ucapannya akan direspons, ia begitu antusias mendengar lanjutan ucapan dari sang istri.


"Mandi!" lanjut Shila. Kali ini, ia tidak terpaku pada wajah Chandra saja, tetapi menuruni tubuh pria itu dari kepala hingga ujung kaki dengan tatap jijik.


Chandra mendengkus geli. Ia berusaha menghirup dirinya sendiri, lalu mengusap wajah secara kasar.


"Sorry. Aku nggak bisa mikir apa pun sejak kemarin," kata Chandra. "Aku pulang—"


"Siapa bilang kamu bebas dari hukuman?" potong Shila, masih tanpa adanya penaikan intonasi sejak panggilannya tadi. "Atau kalau kamu mau kabur lagi kayak kemarin ... silakan. Aku tetap bakal kejar."

__ADS_1


"Aku ...." Chandra menggantung ucapannya karena masih ragu. "Mandi di sini?" Lalu, bertanya hati-hati.


Shila mengangkat kedua bahunya tidak acuh. "Aku telpon Pak Anwar buat bawa pakaian kamu."


Chandra memasuki kamar mandi. Masih kebingungan. Sikap Shila jauh lebih tenang dari apa yang diperkirakan. Mungkin juga karena kaki perempuan itu bermasalah, tetapi ... Shila tidak pernah sesantai ini.


Tidak pernah.


Bahkan ketika ia baru menuduh selingkuh saja sudah bisa membuatnya kalangkabut ingin membunuh Chandra, tetapi sekarang ... aneh.


...***...


Shila sudah tidur ketika Chandra keluar dari kamar mandi dalam kondisi sekujur tubuh basah. Tetesan air masih berjatuhan dari rambutnya. Pria itu dilanda kebingungan, karena ia masih mengenakan celana kemarin sebab pakaian yang istrinya maksud belum datang.


Chandra memilih mendekati tempat Shila berbaring. Perempuan ini terlalu cepat tidur, padahal beberapa menit lalu masih tampak galak. Chandra memanfaatkan kesempatan ini untuk duduk secara hati-hati di kursi. Mengambil sebelah tangan Shila untuk digenggam. Merasakan kehangatan kulitnya di tangan Chandra yang dingin.


Tidak peduli pada apa pun, Chandra memusatkan fokus hanya pada Shila selama beberapa saat. Sesekali menyentuh wajah perempuan dingin itu, lalu membawa anak-anak rambutnya ke belakang telinga. Kesempurnaan wajah Shila sekarang tidak ada yang mengganggu.


Chandra masih sibuk dengan pemujaannya, ketika mendengar pintu terbuka. Widya yang masuk, dan perempuan itu langsung memelankan langkahnya. Chandra segera bangkit, ingin mengambil paper bag yang Widya bawa.


"Kondisi Shila ... katanya baik-baik saja, Dok, tapi kenapa dia nggak bisa gerakin kakinya?" tanya Chandra.


"Pak Chandra belum ketemu langsung sama dokter yang menangani Bu Shila?" tanya Widya, dan sebelum Chandra menjawab, ia sudah melanjutkan. "Ada sedikit masalah di kepalanya, kelumpuhan Bu Shila hanya sementara. Kata dokternya, Bu Shila hanya perlu beberapa pekan untuk sembuh total. Selama itu ... Pak Chandra tidak berniat untuk ... melindungi diri?"


Chandra melirik sebentar pada Shila yang masih memejam nyaman. "Dia mulai berubah, Dok. Kayaknya pengobatan kemarin berhasil. Dia udah nggak separah sebelumnya."


"Lumayan," kata Widya menimpali. "Kondisi Bu Shila memang tidak separah saat kasus kedua orang tuanya, tapi tetap, Anda sebaiknya berhati-hati. Hanya Tuhan dan Bu Shila sendiri yang tahu apa isi kepala istri Anda, Pak."


Chandra mengangguki ucapan Widya. Ia bersiap pergi, tetapi dicegah oleh si dokter lagi.


"Anda ... serius mau memperbaiki hubungan dengan Bu Shila, Pak?" tanya Widya.


"Iya. Dokter sudah berjanji mau bantu saya, 'kan?"


"Sebelumnya, iya, Pak. Tapi setelah saya lihat ... video yang teman Anda ... tunjukkan—" Widya menjelaskan secara terbata, agar Chandra tidak tersinggung, "Saya jadi ragu, Pak. Saya mau membantu Anda untuk memperbaiki hubungan, karena percaya Anda adalah satu-satunya obat untuk Bu Shila, tapi ... setelah apa yang saya lihat, saya jadi khawatir pada kondisi Bu Shila nantinya. Bu Shila memang kejam, tapi setelah tahu latar belakangnya, saya kagum pada beliau. Masih bisa bertahan sampai sekarang ini, di tengah keadaan psikisnya yang terus terganggu. Saya ... tidak mau Bu Shila kembali ke masa-masa ini lagi, Pak Chandra."

__ADS_1


Chandra hanya bisa meneguk ludah secara kasar mendengar penuturan Widya. Kesalahan kemarin sangat fatal, tetapi Chandra sekali lagi ingin memperbaikinya—jika bisa.


"Pasti masih bisa diperbaiki kan, Dok?" tanya Chandra penuh harap. Pisah dari Shila adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.


"Bisa," kata Widya. "Tapi, apa Anda benar-benar sudah memutuskan hubungan dengan perempuan kedua itu, Pak? Anda benar-benar tidak melakukan pendekatan apa pun dengan perempuan itu, Pak? Anda ... tidak lagi berhubungan dalam hal sekecil apa pun dengan si perempuan, Pak?"


"Saya ...." Chandra menggaruk kepalanya dengan telunjuk karena ragu. "Masih ada yang harus saya selesaikan, Dok. Saya belum bisa lepas tangan begitu saja, sebelum dia mandiri. Perempuan itu juga sama buruknya dengan kondisi Shila. Ayahnya meninggal, ibu angkatnya tidak peduli, sementara ibu kandungnya ... penjaja diri. Dia mau berubah, dan saya sangat berat jika harus meninggalkan perempuan itu begitu saja."


"Lupakan rencana Anda dan Bu Shila," kata Widya. Ia menunduk, tidak lagi tertarik pada lawan bicaranya. Kemudian melirik Chandra lagi dengan senyum ramah basa-basi. "Seseorang, saat mencintai dua perempuan sekaligus, ia harus melepas wanita pertamanya. Karena jika memang masih mencintai si wanita pertama ... cinta pada perempuan kedua itu tidak seharusnya ada."


"Saya nggak cinta sama perempuan itu, Dok ...." Chandra memelas. Ia ... hanya peduli. Cinta dan peduli itu sangat berbeda jauh. Namun, kenapa semua orang menghakiminya seperti ini?


"Anda juga mengatakan kepedulian itu ketika Anda menemani Bu Shila mengunjungi saya beberapa tahun lalu, Pak Chandra," balas Widya, telak. Chandra berhasil dibungkam. "Lagipula ... Anda yang bisa berhubungan dengan perempuan dalam keadaan sadar, sangat diragukan untuk melanjutkan pernikahan ini, karena saya hanya bisa menyimpulkan dua hal: Anda selingkuh, atau ... Anda seorang pemain. Dua-duanya tidak bisa cocok dengan Bu Shila."


Lidah Chandra kelu. Ia tidak bisa membalas lagi.


Karena dua malam istimewa yang ia habiskan dengan Mishall ... semuanya dalam kondisi sadar.



...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...


...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil, follow supaya nggak ketinggalan info!...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III...


...🔺🔺🔺...


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku....

__ADS_1


__ADS_2