
Acara makan malam beruntungnya selesai dengan baik. Ketika Chandra dan Shila sudah memasuki lift hendak turun ke lantai dasar, pria itu merasa tidak bisa bersabar untuk menunda mengajukan semua pertanyaan dalam benaknya sampai besok. Harus sekarang! Ia harus tahu maksud dari Arfan, yang seolah mempermainkan Chandra.
"Sayang, aku kayaknya harus bicara sama Arfan dulu," ucap Chandra memberitahu, saat Shila baru ingin menekan tombol lift.
"Oke. Kita ketemu sama Arfan dulu," jawab Shila.
"Ng—nggak. Biar aku sendiri aja, Sayang. Kamu ke mobil aja, ya?"
"No. Aku mau ikut sama kamu ke mana pun kamu pergi, malam ini." Shila semakin memperjelas keinginannya dengan memeluk posesif lengan sang suami. Bersama dengan senyum manis, Chandra tidak punya alasan untuk menolak istrinya.
"Oke."
Chandra hanya bisa mengiyakan. Tetap memasang wajah yang terlihat tidak acuh, walau dalam hati mulai ketar-ketir khawatir jika Shila bertemu dengan Mishall. Diam-diam, pria itu memalingkan wajah ke arah lain agar Shila tidak menyadari bahwa Chandra sedang memejam kuat sekarang.
Ting!
Mendengar bunyi lift, Chandra cukup kesulitan mengendalikan paniknya. Ia menyentuh jemari Shila yang memeluk lengannya, kemudian mengikuti sang istri keluar dari lift. Terlebih dahulu, mereka menghampiri salah seorang pelayan terdekat. Shila tersenyum, sembari menelengkan sedikit kepalanya ke arah Chandra, sebagai isyarat meminta sang suami untuk bertanya.
Butuh beberapa saat bagi Chandra baru bisa berbicara, karena kegugupannya sangat sulit dikendalikan. Pria itu menghela napas, lalu bertanya, "Arfan ada di mana?"
Pelayan itu tersenyum, dan menunjukkan arah di mana Arfan berada. Wanita asing itu mengangguk pamit dengan sangat sopan.
Chandra benar-benar kebingungan sekarang.
Bagaimana jika Mishall ada bersama Arfan sekarang ini? Namun, bukankah mustahil gadis itu bersama atasannya? Mishall—jika benar-benar bekerja di sini—seharusnya mendekam di dapur atas area para pelayan berada, bukan bersama atasannya!
Untuk satu hal, Chandra mulai berdamai dengan ketakutannya. Ia sedikit percaya diri sekarang ini. Bersama sang istri, Chandra memasuki ruangan yang ditunjuk pelayan tadi. Benar saja, sosok Arfan ada di salah satu kursi, duduk dengan santai sembari mengecek ponsel.
"Eh, kalian ke sini?" tanya Arfan basa-basi sembari berdiri dari kursinya. Ia mengentak jas yang membalut tubuhnya, sebelum menjulurkan tangan menyambut keduanya bersalaman.
Chandra yang masih curiga pada sahabatnya itu menerima salaman secara ragu. Lalu disusul Shila yang tampak mengembangkan senyum.
"Saya ke sini buat bilang ... makasih udah bantu persiapan anniversary saya sama istri saya." Chandra berbicara semi-formal kaku, yang membuat Arfan tersenyum geli sampai matanya menyipit membentuk bulan sabit.
"Sama-sama. Lo kayak ... sama siapa aja! Kaku amat bicaranya!" tegur Arfan dengan nada bercanda, seperti biasa.
Chandra melihat bahwa sahabatnya masih tidak berubah, tetapi keberadaan Mishall di sini mustahil tanpa sepengetahuan Arfan. Apa yang harus diyakini Chandra sekarang? Sahabatnya berkhianat, atau ....
Pria itu masih dilanda dilema, ketika pintu di belakang Chandra tiba-tiba terbuka. Ia, Shila, serta Arfan mengarahkan fokus ke sana, dan sekali lagi ... Chandra mendapatkan kejutan yang membuat mulutnya sedikit terbuka.
Perempuan itu datang lagi: Mishall, membawa nampan di tangan, dengan kepala tertunduk dalam saat melewati Chandra.
Pandangan menuntut jawaban diarahkan Chandra pada Arfan. Sang sahabat hanya menggeleng seolah tidak tahu, kemudian mempersilakan Mishall untuk kembali ke tempatnya.
__ADS_1
Namun ... Chandra tahu. Arfan benar-benar sudah membodohinya sekarang. Hanya karena keberadaan Shila sekarang, Chandra bersusah payah menahan amarah agar tidak meluap dan memukuli Arfan hingga babak belur.
"Dia pelayan di sini, Arfan?" Shila tiba-tiba angkat suara di sela kecemasan Chandra.
Saat istrinya bertanya penasaran, ketika itulah Chandra mulai dipenuhi keringat dingin di sisi wajahnya. Ia melotot ke arah Arfan, sementara temannya juga menunjukkan keterkejutan sama.
"Iya, Shila. Kenapa? Kamu kenal?" tanya Arfan, sembari melirik takut-takut ke arah Chandra.
"Kalau nggak salah, kemarin dia juga bukan sih, yang di rumahnya Tristan? Matanya ... nggak asing. Aku gampang hafal sama orang baru, dan dia ... udah pernah aku lihat beberapa kali," kata Shila dengan ragu, seolah bermonolog. Lalu, ia menengadah pada Chandra, yang membuat pria itu semakin mati kutu. "Dia juga salah satu siswi yang jenguk kamu pas di rumah sakit, 'kan?"
Mampus! Chandra benar-benar buntu dan membatu sekarang. Suasana dalam ruangan berubah senyap selama beberapa saat, sampai Arfan angkat suara.
"Dia emang siswi di sekolah sana, Shila. Anaknya baik banget, butuh biaya buat kebutuhan keluarganya karena ayah dia udah meninggal. Ibunya nggak bisa kerja, jadi terpaksa karena dia anak tunggal, dia yang harus jadi tulang punggung keluarga." Arfan mengembuskan napas gusar, seolah ingin menunjukkan betapa iba dia pada Mishall. "Emang, udah digaji dari rumah Tristan. Cuman, baru aja tadi dia curhat kalau ibunya ternyata terlilit utang, makanya harus cari kerjaan sampingan, jadi ya ... saya terima di sini, karena kebetulan, kalian juga butuh dijamu istimewa, sementara restoran saya tiap malam akhir pekan selalu rame."
Chandra tampak sedikit lega, meski belum sepenuhnya bisa bernapas lega, sementara Arfan menatapnya seolah sudah memberikan sisa-sisa kemampuan untuk melindungi Chandra. Shila diam sebentar setelah mendengar penjelasan itu, kemudian tersenyum miring yang tampak seperti meledek.
"Punya ibu beban, kenapa nggak dibunuh aja?" gumam Shila, disusul senyumnya. Ia menengadah pada Chandra dengan wajah berbinar. "Pulang, yuk?"
Pria itu mengiyakan dengan sigap. Pamit ala kadarnya pada Arfan, lalu keluar dari ruangan. Chandra tidak lupa memberikan tatap peringatan pada sahabatnya sebelum sepenuhnya keluar dari ruangan, seolah memberikan peringatan pada Arfan bahwa ia belum sepenuhnya percaya jika Arfan tidak berniat buruk di balik diterimanya Mishall secara mendadak di tempat ini.
Apa pun itu, Chandra tanpa sadar mulai meningkatkan rasa awasnya pada sekitar.
...***...
Terbilang cukup sulit bagi Chandra untuk menemui Mishall di sekolah. Ia sempat meminta Aksa untuk memanggilkan perempuan itu agar bertemu dengannya, tetapi ia bahkan tidak bisa mengatakan apa pun karena ruang guru begitu ramai ketika jam istirahat. Jadi, terpaksa ia hanya bisa membahas hal-hal biasa mengenai perkembangan kedisiplinan Mishall yang mulai meningkat.
Dari situ, Chandra mengerti. Ia tidak bisa mengandalkan waktu sekolah untuk mengonfirmasi masalah kemarin pada siswinya itu. Jadi, Chandra menghentikan pengamatannya. Hanya untuk sementara. Tatap pria itu masih sama tajamnya ketika ia datang ke sekolah pagi tadi. Tampak tidak tersentuh sedikitpun, sehingga beberapa siswi yang hendak menyapa genit, langsung membatalkan niatnya.
Pria itu memperbanyak stok sabarnya dengan susah payah, karena keinginan untuk tahu alasan keberadaan Mishall kemarin begitu besar menggebu dalam dirinya. Pria itu lalu menyibukkan diri dengan pekerjaan, sampai waktunya pulang.
Tidak ingin membuang waktu, Chandra menjadi yang pertama keluar dari ruangan guru setelah pemberitahuan jam pulang. Ranselnya baru bisa dipakai sempurna selama perjalanan menuju parkiran. Ia menaiki motornya, lalu keluar melewati gerbang. Pria itu berhenti di bawah pohon tempat di mana ia biasa mengangkut Mishall pulang. Pria itu menunggu setidaknya hampir 10 menit lamanya, sampai perempuan yang ia tunggu datang juga.
"Naik!" pinta Chandra dengan nada tegas. Ia tidak mau menerima segala macam protes yamg Mishall tunjukkan melalui raut wajahnya.
Chandra bersiap. Mesin motor dinyalakan ketika Mishall sudah duduk tepat di belakangnya. Perempuan itu menyentuh pundak Chandra, sesaat sebelum motor mulai meninggalkan tempat mereka bertemu tadi.
Untuk sesaat, Chandra menunda dirinya untuk tidak membahas apa pun. Mungkin nanti, di rumah Mishall ia bisa mendengarkan dengan baik alasan perempuan ini muncul mendadak di acara anniversary-nya. Pria itu mulai muak dengan masalah yang melandanya sekarang ini, tetapi belum menemukan solusi untuk menyelesaikannya.
Setelah beberapa puluh menit perjalanan yang diisi kebisuan di antara keduanya, Chandra menghentikan motornya tepat di depan rumah Mishall. Perempuan itu dengan cepat turun dari motor, dan Chandra tahu bahwa siswinya ini tampak selalu menghindar, jadi ia yang bahkan belum melepas helm langsung menahan tangan Mishall agar tidak pergi terlalu jauh.
"Saya mau bicara!" kata Chandra dengan nada tegas. Karena takut Mishall berkhianat, pria itu melepas helm dengan sebelah tangan. Setelah terbebas dari pelindung kepala itu, Chandra sedikit menarik Mishall untuk mendekat padanya. "Kamu ngapain ada di restoran Arfan kemarin malam? Bukannya kamu sudah dipecat? Ngapain nunjukkin diri?"
Sebenarnya, alasan utama Chandra untuk mencecar siswinya adalah mendapatkan kepastian apakah Arfan benar-benar berkhianat dan ingin merebut istri Chandra, atau sekadar kebetulan saja Mishall ada di sana.
__ADS_1
Namun, terlalu aneh jika kebetulan.
"Saya butuh uang tambahan, Pak. Ibu saya punya utang di rentenir, dan kemarin udah tenggat waktunya buat bayar."
"Dan Arfan yang sebelumnya ngotot pecat kamu, tiba-tiba menerima kamu dengan mudah?" balas Chandra.
Mishall mengangguk ragu. "Iya, Pak."
Chandra merotasi bola matanya. Sekarang, ia tidak punya alasan untuk tetap berpikiran positif pada sang sahabat.
"Lagian, saya juga nggak dikenali sama istri Bapak, harusnya Pak Chandra tenang aja."
"Tenang, tenang! Shila udah hafal sama proporsi wajah dan mata kamu! Dia bisa kenali kamu dengan mudah!" jawab Chandra sepersekian detik setelah Mishall menyelesaikan ucapannya.
"Nah, Shila ... itu mereka!" Sebuah seruan dari rumah membuat guru-murid itu menoleh cepat. Ibu Mishall yang berbicara dengan senyum tenangnya, sementara di samping wanita tua itu, sudah ada Shila yang berdiri mematung. "Kan saya udah bilang, suami kamu itu sempurna ... banget. Udah rawat kamu sampai sembuh, sekarang mau tuntun Mishall .... Kamu beruntung banget, deh!"
Ketiganya saling berpandangan secara bergantian. Khususnya Shila, wanita itu menatap lebih lama pada Mishall yang memutus tatapan dengan tundukan kepala. Sementara Chandra ... ia tidak bisa bereaksi sama sekali.
"Anak Tante ... pernah main film dewasa?" tanya Shila sembari menolehkan wajahnya pada ibu Mishall, tetapi tatapnya masih belum terputus dari si rival.
Ibu Mishall belum menjawab, tetapi Shila sudah melanjutkan saat ia bersedekap dengan tangan gemetarnya di depan dada.
Sudut bibir kanan Shila terangkat bergetar, "dia jadi pemeran utama di film dewasa itu ... sama suami saya."
...Hai, ini Es Pucil!...
...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...
...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...
...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...
...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
__ADS_1
...🔺🔺🔺...
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...